
[Malam hari di kantor]
"Chloe, Kakak pulang duluan ya," Kata Gracia yang saat itu selesai mengganti seragamnya.
"Oh iya kak, Hati-hati di jalan,"
"Yo'i,"
Sejenak Chloe memperhatikan kepergian Gracia dari ruang Staff, Setelah pintu itu tertutup rapat dia memakai jaket nya tak lupa menutupi kepalanya dengan tudung jaket. Memasukkan Id Card nya dalam ransel setelahnya memakai ransel itu.
Chloe mematikan AC dan seklar lampu di ruangan tersebut, Dia melangkah keluar dari sana.
Blam!
"Mungkin ini sudah saatnya memulai rencanaku," Pikirnya sambil menatap waspada sekitarnya guna memastikan apakah Ethan berada disana atau tidak.
Perlahan Chloe mulai melangkah pergi menaiki lift, Suasana kantor yang mulai sepi akan memudahkan dirinya melakukan rencana yang sudah dia susun sejak tadi. Disaat tangannya sudah terulur hampir menekan tombol lift, Tiba-tiba saja jam arjolinya berkedip-kedip menandakan seseorang tengah mencoba menghubunginya.
Chloe segera menerima panggilan itu setelah menyadari bahwa yang menghubunginya adalah Justin.
Klik!
"Ada apa Pak?" Sejenak netranya menatap layar hologram yang menampakkan wajah pemuda bersurai hitam itu.
"Chloe, Kau masih di kantor kan?"
"Iya, Emangnya kenapa?"
"Tolong kau periksa di ruangan Ezra. Sampai sekarang dia belum pulang. Aku pulang duluan tadi karna masih ada yang diurus, Jadi tidak pulang bersamanya. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya. Tolong ya Chloe,"
Nada Justin terdengar cemas di sebrang sana apalagi saat sang pemuda meminta padanya. Kepala Chloe refleks mengangguk kecil.
"Baik Pak, Saya akan segera mencari Pak Ezra,"
Sesaat terdengar helaan napas lega dari Justin, Pemuda itu tersenyum simpul senang mengetahui masih ada yang mau membantunya.
"Makasih, Berhati-hatilah disana,"
"Oke Pak,"
Layar hologram itu pun menghilang usai obrolan keduanya selesai. Chloe segera menekan tombol lift hingga pintu lift itu terbuka. Sang gadis segera masuk sembari menekan tombol tujuannya.
*************
[Lantai 20]
Ting!
Langkah kaki membawanya menuju sebuah ruangan cukup besar, Chloe mengetuk pelan pintu dihadapannya.
"Pak Ezra, Bapak ada didalam?"
"Masuklah!"
Mendengar sahutan dari dalam Chloe segera membuka pintu memasuki ruangan Ezra, Tak lupa menutupnya kembali. Chloe mendekati meja Ezra perlahan disaat pemuda dengan netra hijau emerland itu sibuk mengerjakan beberapa dokumen di mejanya.
"Ada apa mencariku?" Tanya Ezra tanpa menoleh, Netra nya sibuk memperhatikan dokumen yang sedang dia kerjakan.
"Saya cuma disuruh Pak Justin buat mastiin kondisi Pak Ezra, Soalnya Pak Justin bilang. Pak Ezra belum pulang sejak tadi, Makanya Pak Justin khawatir kalau Pak Ezra kenapa-napa," Jelas Chloe sesaat mengangkat kedua pundaknya.
Mendengar nama 'Justin' Membuat aktivitas Ezra terhenti sesaat. Sejenak ia memejamkan matanya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Bilang pada Tuan Justin kalau malam ini aku lembur, Aku bisa nginap di kantor aja. Bilang juga padanya tidak perlu mengkhawatirkan ku," Balas Ezra dingin tanpa menatap.
Chloe memiringkan sedikit kepalanya, Merasa heran dengan sikap Ezra yang tampak semakin berbeda menurutnya.
"Tumben Pak Ezra bilang kayak gitu, Biasanya nempel terus sama Pak Justin," Walau sejujurnya Chloe agak penasaran kenapa Ezra seolah sedang menghindari Justin, Namun dia segera menepis pemikiran itu. Chloe tak ingin ikut campur urusan kedua sahabat itu.
"Baiklah, Nanti saya kasih tahu Pak Justin, Saya permisi kalau gitu,"
"Hm,"
Ezra terdiam sejenak merasa dia melupakan sesuatu, Tak lama dia langsung menoleh kembali memanggil sang gadis yang hampir pergi dari ruangannya.
"Oi Tengil! Tunggu dulu!"
"Kenapa Pak?" Chloe kembali menoleh walau sebenarnya dia agak kesal karna dipanggil tengil oleh Ezra.
Ezra meranjak dari duduknya mendekati Chloe hingga tepat berdiri di hadapan sang gadis. Tatapannya berubah penuh keseriusan.
"Aku mendengarnya dari Justin kalau kau masih perlu satu bukti lagi untuk membongkar kejahatan si penghianat itu, Beritahu aku apa yang kau rencanakan untuk mengambil bukti nya?!"
Chloe hanya diam menatap netra hijau Ezra yang penuh keseriusan, Dalam hati sejujurnya dia ragu untuk memberitahu Ezra. Namun dari tatapan Ezra yang begitu serius membuat rasa ragunya sedikit hilang.
"Apa Pak Ezra juga mendengar rekaman yang kuberikan pada Pak Justin?"
"Ya, Justin sendiri yang memberikan rekaman itu padaku," Sejenak netranya berubah sendu. "Aku tidak percaya bahwa ternyata selama ini dia pelakunya. Aku tidak bermaksud mengambil posisinya, Justin sendiri lah yang mengangkatku sebagai Road Manajer. Tapi ternyata tindakkan itu malah membuatnya dendam padaku,"
"Bukan hanya itu alasan Pak G.M tapi dia juga bekerja sama dengan orang luar untuk sama-sama merusak reputasi Pak Ezra dan Pak Justin. Agar mungkin perusahaan ini mendapat penilaian buruk dari perusahaan lain dan akhirnya gulung tikar,"
"Lalu bagaimana langkah mu selanjutnya?"
"Aku ingin ke ruang CCTV, Tapi sebelum itu aku perlu obat bius agar bisa melewati penjagaan," Chloe bergaya ala detektif sambil berpikir lalu kepalanya menoleh menatap Ezra yang memasang ekspresi datar. "Bapak punya obat bius?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Hm...Sepertinya aku perlu beli obat dulu, Baru balik lagi kesini. Ya sudah, Aku pergi dulu Pak," Chloe melambai pelan dengan senyum kecil, Membalikkan badannya ingin pergi dari ruangan Ezra.
Ezra menghembuskan napasnya sembari menggeleng pelan. Dia memijit keningnya sejenak, Melirik Chloe yang melangkah pergi dari ruangannya.
"Anak ini masih perlu bimbingan, Dia tidak tahu cara menangani sebuah misi dengan benar,"
Pemuda bersurai hitam itu menuju meja kerjanya, Dia mengambil sebuah kunci dalam laci tak lupa membereskan berkas-berkasnya.
Setelah itu dia segera menyusul Chloe yang sudah pergi lebih dulu.
Tap! Tap! Tap!
"Oi Tengil! Kau tidak bisa melakukannya sendirian!" Ezra menahan pundak sang gadis disaat gadis itu hampir menaiki lift.
Sesaat alisnya mengerut mendengar hal itu. Chloe menoleh pelan, Menghadap Ezra.
"Maksud Pak Ezra apa?"
"Aku tidak yakin rencanamu akan berhasil, Lalu mencari obat bius itu juga membutuhkan banyak waktu. Ini juga sudah malam, toko obat juga mungkin sudah tutup. Aku punya rencana yang lebih baik dibanding rencanamu,"
"Pak Ezra mau membantuku?"
Sesaat Ezra mendengus sinis sembari bersidekap. "Tch! Mau bagaimana lagi! Kau masih perlu bimbingan dan pengawasan dariku untuk melakukan misi seperti ini! Aku juga ingin si Ethan penghianat itu bersama para bawahannya mengakui perbuatan mereka di depan semua karyawan lainnya!"
"Ah aku mengerti, Sepertinya dendam bapak lebih besar dibanding dendam Pak G.M,"
Ezra mendelik kesal pada Chloe, Membuat sang empunya sesaat bergidik ngeri.
"Kau tidak tahu rasanya selama bertahun-tahun dijadikan bahan bullyan dan dibenci para karyawan hanya karna ada yang memprovokasi mereka!"
"Yang mulai duluan kan Pak Ezra, Makanya mereka jadi benci sama bapak. Sadar diri Pak!" Pikir Chloe sweetdrop, Sebenarnya dia ingin menjawab sesuai yang ia pikirkan. Namun gak jadi karna takut nanti si Ezra malah ngamuk dan gak jadi bantuin dia.
"Emm...Pak, Jadi gak kita kerja samanya? Soalnya ini masalah waktu. Nanti kita dicurigai karyawan lain kalau kelamaan di kantor," Sahut Chloe mengalihkan topik agar Ezra sadar dari dendam kesumatnya pada Ethan.
Seketika Ezra diam sesaat lalu berdehem kecil untuk menenangkan dirinya. Dia melangkah lebih dulu memasuki lift.
"Ikuti saja rencanaku,"
"Siap Pak!"
*****************
[Ruang CCTV]
Disebuah ruangan cukup besar terdapat dua orang pria yang sedang duduk sembari menikmati beberapa cemilan dan segelas kopi, Sesekali netra mereka memperhatikan layar monitor yang menunjukkan aktivitas di luar sana.
"Wah bahaya, Kita harus meningkatkan kewaspadaan kita. Bisa saja OG itu akan menghancurkan rencana kita," Celetuk pria lainnya.
"Heh, Tenang saja. Selama rekaman ini aman, Kita tidak akan ketahuan,"
"Benar juga, Kita tunggu sampai waktu yang tepat. Maka perusahaan ini akan berpindah tangan,"
Kedua pria itu terkekeh senang tanpa menyadari dua sosok berdiri di belakang mereka, Tiba-tiba salah satu lelaki itu merasakan sebuah pukulan yang sangat kencang mengenai kepalanya hingga membuat pria itu langsung jatuh dan pingsan seketika.
BUGH!
BBRRUUKK!
Sedangkan pria satunya yang melihat temannya pingsan terperanjat kaget, Belum sempat menoleh. Pria itu merasakan seseorang memukul tengkuknya hingga membuatnya ikut pingsan.
BUGH!
BBRRUUKK!
Pelakunya tak lain adalah Ezra dan Chloe. Keduanya diam sesaat menatap dua karyawan yang pingsan dihadapan mereka.
"Berapa lama mereka pingsan?"
"Entahlah, Kalau mereka bangun. Bunuh saja," Balas Ezra enteng sambil melempar sapu yang digunakan untuk memukul salah satu karyawan itu kesembarangan arah.
Ezra meraih salah satu tubuh karyawan tersebut lalu ia menyeretnya menuju toilet.
"Bantu aku membawa mereka!"
Tanpa bertanya Chloe mengikuti perintah Ezra, Dia meletakkan sapu di tangannya dan menyeret tangan karyawan satunya menuju toilet meski agak kesusahan. Mereka berdua meletakkan dua karyawan itu disana setelahnya Ezra mengunci pintu toilet dengan senyum iblis.
"Rasakan kalian berdua, Berani macam-macam dengan Tuan Justin. Menginaplah disana sampai besok," Pikir Ezra masih tersenyum iblis usai mengunci pintu toilet itu.
Berbeda dengan Chloe yang hanya bisa spechless ngeliat senyum iblis Ezra, Tatapan datar ia layangkan pada Partner nya itu.
"Pak Ezra benar-benar punya dendam kesumat sama Pak Ethan dan anak buahnya. Ngeliat dari senyum Pak Ezra, Sepertinya dulu Pak Ezra jelmaan iblis," Pikir Chloe masih spechless.
Netra birunya beralih memandang layar monitor yang masih menyala, Chloe menuju layar monitor itu. Sejenak ia memperhatikan dalam diam aktivitas dari CCTV dengan serius.
Menyadari Chloe tak berada di sampingnya, Ezra menoleh mendekati layar monitor sambil berdiri disamping Chloe. Ikut memperhatikan dalam diam.
"Apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan disana?"
"Untuk rekaman hari ini tidak ada yang mencurigakan," Kata Chloe sambil menekan mouse monitor, Mencari rekaman yang ia butuhkan.
"Coba cari pelaku yang merusak jas ku hari itu, Aku yakin tindakkannya pasti terekam kamera,"
__ADS_1
Dengan fokus Chloe mencari rekaman yang dimaksud Ezra, Selama beberapa menit keduanya berdiam diri disana. Namun hasilnya nihil, Rekaman itu tidak ada disana sama sekali. Chloe menghela napas gusar.
"Pak sepertinya mereka sengaja mematikan CCTV agar tidak ada yang tahu siapa pelaku yang merusak jas bapak," Jelas Chloe setelah berulang kali ia mencari rekaman itu.
DUK!
Ezra dengan kesal memukul meja monitor tersebut, Ia berdecih kesal sambil memandang layar monitor itu tajam.
"Cih, Sialan! Lihat saja, Cepat atau lambat pasti semuanya akan terbongkar! Mereka harus membayarnya!"
Chloe memilih diam dimana saat Ezra bergumam marah, Ia lebih fokus kembali memperhatikan layar monitor dibanding meladeni sang pemuda.
Tak lama netra birunya menangkap sebuah rekaman yang menarik perhatian, Chloe menyenggol pelan lengan Ezra tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Alhasil Ezra menoleh karna merasakan senggolan pelan dari Chloe.
"Pak lihat deh rekaman ini! Apa bapak gak ngerasa familiar?"
Ezra memperhatikan lekat dengan ekspresi datar. "Bukankah rekaman itu berada di ruangan Tuan Justin?"
"Ya, Kalau tidak salah sebelum aku memberi laporan tentang perkembangan misiku,"
"Jadi benar-benar dia ya...," Ezra mengambil alih mouse monitor dari Chloe. Mulai mengutak-atik beberapa rekaman.
"Pak nanti kalau rekamannya hilang gimana? Mereka bisa curiga," Sela Chloe agak panik saat Ezra mengubah beberapa data rekaman itu dan menyimpannya dalam sebuah memory.
"Kau diam saja! Aku punya rencana lain. Anggap saja misimu sudah selesai, Sisanya serahkan padaku. Kau butuh rekaman ini untuk bukti terakhir kan?" Tanya Ezra tanpa menoleh, Sibuk dengan kegiatannya.
"Iya sih,"
Sang gadis akhirnya memilih diam memperhatikan kegiatan Ezra, Sesekali netranya memandang jam arloji yang melingkar manis di lengan kirinya. Selagi Ezra mengurus misinya, Chloe memilih mengirimkan pesan pada Justin lewat jam nya.
From: Chloe
To: Justin
...Aku menemukan Pak Ezra, Dia baik-baik saja di kantor. Hanya saja dia bilang akan lembur malam ini....
Jemarinya menekan tombol 'Send' dari layar hologram itu. Tak lama balasan dari Justin muncul disana.
From: Justin
To: Chloe
...Baguslah, Kalau begitu cepatlah pulang. Akan sangat berbahaya jika kau pulang terlalu larut....
Chloe hanya tersenyum tipis usai membaca pesan Justin, Ia menoleh saat suara Ezra menyapu pendengarannya.
"Ini salinan rekamannya, Besok kau serahkan ke Justin. Misimu sudah selesai sekarang," Ezra menyerahkan sebuah memory yang langsung diterima oleh Chloe. "Pulanglah sekarang,"
"Makasih Pak udah bantuin," Chloe tersenyum senang sesaat menatap memory di tangannya. "Bapak bagaimana, Jadi lembur?"
Ezra menghembuskan napas pelan. "Tentu saja jadi, Kerjaanku masih banyak. Aku harus menyelesaikan berkas-berkas itu sebelum deadline besok,"
Chloe manggut-manggut mengerti lalu menuju keluar ruangan itu, Sebelum pergi ia menoleh sesaat pada Ezra.
"Aku duluan Pak,"
Ezra tak menjawab perkataan Chloe, Netra nya hanya menatap kepergian sang gadis.
Blam!
Sejenak gadis bermarga Amberly itu terdiam ditempat usai keluar dari ruangan CCTV, Ia menatap memory ditangannya sesaat. Menyimpan memory itu dalam ransel, Tak sengaja netranya menangkap sekaleng kopi dan sebungkus roti dalam ranselnya.
Chloe mengambil dua makanan itu, Seketika sebuah ide muncul dalam benaknya. Kakinya melangkah pergi menuju ruangan lain sebelum pulang.
****************
[Ruangan Ezra]
Blam!
Ezra menutup pelan pintu ruangannya, Sesaat helaan napas kembali meluncur dari bibirnya. Tubuhnya mulai agak lelah namun pekerjaan masih menunggunya di depan sana.
Dengan langkah gontai Ezra menuju meja kerjanya, Melirik sebentar ruangannya yang dipenuhi cahaya lampu. Pemuda itu menghempaskan tubuhnya di kursi.
Tangannya terulur berniat meraih tumpukan berkas disana, Namun niat itu terhenti saat netranya tak sengaja menangkap sekaleng kopi dan sebungkus roti berada di mejanya.
Sesaat ia mengerutkan alisnya, Mengambil sekaleng kopi itu dengan perasaan bingung.
"Sejak kapan kopi dan roti ini berada di mejaku?" Pikirnya masih bingung.
Terdapat secarik kertas tertempel di kaleng itu, Netranya dengan fokus membaca setiap tulisan disana.
...Semangat kerjanya Pak Ezra, Sebagai terima kasih aku punya sedikit hadiah. Semoga kerjanya cepat selesai sebelum deadline besok. Jangan marah-marah lagi ya Pak, Semangat :-)...
^^^Chloe Amberly^^^
Ezra terdiam sejenak usai membaca tulisan itu, Perlahan sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Perasaannya sesaat terasa hangat mendapat perhatian itu.
"Dasar si tengil itu, Selalu tidak terduga," Gumamnya pelan masih tersenyum.
Setidaknya malam itu Ezra lembur dengan tenang di temani sekaleng kopi dan sebungkus roti pemberian Chloe.
TBC
__ADS_1