System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Dilema


__ADS_3

Semilir angin menerpa wajahnya, Chloe tersenyum bahagia asyik bermain dengan skateboardnya. Skate miliknya terus meluncur mengitari kolam, Chloe tidak bisa membelokkan skatenya karna belum di ajari Ezra. Jadi dirinya hanya bisa meluncur lurus, Sesekali netra beriris biru itu memandang pohon-pohon sekitar kolam.


Saat pandangannya kembali fokus disaat itulah Chloe melihat Ezra yang meluncur ke arahnya, Dengan jarak yang terpaut semakin dekat membuat Chloe panik, Apalagi Skate milik Ezra meluncur cepat dan parahnya si pemuda terlihat melamun.


Alhasil Chloe berteriak agar menyadarkan sang pemuda. "Pak! Hentikan Skateboardnya!"


Tampak Ezra tersentak, Sesaat terlihat bingung dengan gerakan mulut yang seakan sedang mengatakan sesuatu namun Chloe tidak mendengarnya sama sekali. Tak lama Ezra berusaha menghentikan skate miliknya, Begitu pun dengan Chloe yang masih panik tapi dirinya tidak sempat menghentikan skateboardnya.


Akhirnya tabrakan itu terjadi tanpa bisa dihindari Ezra maupun Chloe.


BBRRAAKK!


"Akh!"


"Ugh!"


Seketika keduanya merasa linglung, Ezra agak meringis sembari mendudukkan dirinya. Tidak ada luka hanya saja dia heran tidak merasakan sakit apapun. Ezra menunduk hingga dia menyadari telah tak sengaja menindih tubuh Chloe.


"Pak, Bisa menyingkir dulu gak? Punggungku sakit nih," Chloe meringis merasakan rasa nyeri dipunggungnya saat terbentur lantai kolam.


Bukannya menyingkir, Ezra malah menahan tawa ketika memandang wajah Chloe. "Pfft!"


Secara perlahan Ezra menyingkir dan mendudukkan dirinya, Masih menahan tawa.


Berbeda dengan Chloe, Gadis itu buru-buru duduk sambil mengusap punggungnya. Keningnya mengerut setelah memperhatikan Ezra yang menahan tawa.


"Apanya yang lucu?"


Bukannya menjawab Ezra malah tertawa geli sambil menunjuk wajah sang gadis. "Lihat tuh! Masa banyak daun di rambutmu gak nyadar,"


"Eh?" Chloe refleks memegang rambutnya dan menarik selembar daun yang terselip, Dirinya seketika resah saat mengambil daun lainnya. "Banyak banget ya daunnya?"


"Iya," Tawa Ezra mereda, Kini ia hanya mengulum senyum tipis. Tangannya terulur ikut membantu membersihkan daun-daun kecil yang terselip di rambut Chloe.


"Si tengil ini, Ada-ada saja tingkahnya. Selalu bisa membuat suasana hatiku berubah-ubah," Batin Ezra masih tersenyum tipis.


Setelah merasa bersih, Ezra merapikan rambut Chloe yang sedikit berantakan. Ia menepuk pelan surai biru milik sang gadis.


"Udah rapi nih,"


"Makasih Pak Ezra," Chloe tersenyum lebar dan langsung berdiri. Setelahnya dia mengulurkan tangannya pada Ezra yang masih duduk.


Tanpa berkata apa-apa, Ezra meraih uluran tangan Chloe. Berdiri sambil memegang skateboardnya. Tak lama kepalanya mendongak menatap matahari yang semakin terik.


"Sudah siang. Ayo makan dulu baru kita pulang," Ajak Ezra, Berjalan menuju tangga.


"Iya," Chloe mengikuti Ezra dari belakang sambil memegang skateboardnya.


Sesampainya di sisi kolam. Ezra dan Chloe memutuskan untuk makan di sisi danau tak jauh dari tempat mereka. Tak lupa Chloe membawa keranjang berisi bekal milik mereka.


***************


"Ini tempat yang bagus juga untuk piknik," Komentar Chloe sesekali mengunyah sandwichnya.


Ezra hanya mengangguk setuju, Pandangannya tertuju pada beberapa angsa yang berenang di hadapan mereka. Melihat danau ini membuat Ezra teringat dengan upaya bunuh diri yang dia lakukan dulu di danau ini.


Saat itu dirinya sudah putus asa dan tidak ada harapan lagi, Entah kenapa dia saat itu malah ingin mengakhiri hidupnya disini. Ezra tidak tahu, Tapi dia tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Sekarang dirinya hanya ingin hidup sesuai pilihannya tanpa harus mengingat kenang-kenangan buruknya di masa lalu.


"Pak, Aku kesana dulu ya," Suara Chloe menyadarkan Ezra.


"Buat apa?"


"Kasih makan angsa,"


"Hm, Hati-hati,"


"Siap!"


Dengan ceria dan antusias, Chloe berlari menghampiri angsa-angsa yang sedang berenang. Dia membawa remahan roti di tangannya, Lalu melemparkan remahan roti itu pada angsa-angsa.


Ezra hanya memandang aktivitas Chloe sembari menghabiskan sandwich di tangannya. Sejujurnya sejak kehadiran Chloe di asrama, Semuanya berubah bahkan dirinya yang awalnya memiliki sikap mudah emosi dan kasar kini sikap itu sudah jarang muncul.


Semakin lama dirinya tinggal bersama Chloe, Semakin dirinya sadar bahwa Chloe tidak seburuk yang dia kira. Namun terkadang sikap gadis itu terlalu polos dan menjengkelkan membuat emosi Ezra naik turun karna sikapnya. Meskipun begitu Ezra bersyukur masih memiliki satu anggota yang tersisa setelah tragedi yang menimpa anggota lainnya termasuk Justin.


Tapi terkadang terbesit pertanyaan yang masih terpikirkan oleh Ezra akhir-akhir ini, Apakah Chloe masih tetap bertahan tinggal bersamanya ataukah akan meninggalkannya setelah bertemu keluarga kandungnya?


Sesungguhnya dalam dirinya merasa takut hal itu terjadi, Seandainya jika Chloe akan meninggalkan maka Ezra hanya punya dua pilihan yaitu merelakan atau mengurungnya di asrama dan tidak boleh tahu apapun lagi soal dunia luar.


Pikiran-pikiran itu berkecamuk di benak Ezra, Membuat sang pemuda memegangi kepalanya. Rasa cemas, gelisah, takut semuanya bercampur jadi satu dalam dirinya. Pertanyaannya, Mengapa dirinya merasa khawatir jika Chloe akan meninggalkannya. Bukankah gadis itu bukan siapa-siapa baginya? Lantas mengapa akhir-akhir ini dia terus memikirkan gadis itu? Selalu khawatir jika Chloe meninggalkannya?


Tujuan Chloe di asrama kan karna kesepakatan untuk mencari keluarga kandungnya bukan untuk menjadi teman seatapnya. Jadi wajar kan kalau suatu saat nanti Chloe akan meninggalkannya, Dan seharusnya dirinya membantu Chloe. Bukan merasa cemas, gelisah, dan takut seperti ini.


Ezra pusing, Perasaannya campur aduk. Sejenak kepalanya menunduk sembari bergumam pelan.


"Apa karena hubungan partner kami atau kah karena kami tinggal bersama selama hampir setahun?" Ezra mengerang kecil, Mengacak rambutnya gusar. Sesaat pandangannya beralih menatap Chloe yang masih asyik memberi makan angsa-angsa.


Lihatlah, Bahkan saat dirinya memandang Chloe meski dari jauh. Ezra merasa seperti ada ribuan kupu-kupu berada di perutnya, Begitu menggelitik seakan ingin dirinya terus bahagia saat memandang ataupun berdekatan dengan sang gadis.


Sejenak Ezra terpaku menyadari perasaan yang dia rasakan selama ini, Dirinya bergumam dengan nada tak percaya. "Mungkinkah...Ini karma yang dimaksud mereka?! Karma yang dimaksud Ian?!"


Ezra mengalihkan pandangannya dengan cepat lalu menggeleng sambil menepuk kedua pipinya. "Tidak! Tidak mungkin! Mana mungkin aku jatuh cinta pada si tengil itu! Dia hanya bocah yang bisanya cuma membuatku repot, Lagipula umurnya lebih muda dariku,"


Plak!


Ezra masih menepuk kedua pipinya, Perlahan Ezra merasakan wajahnya memanas. "Dia bukan tipeku, Ayolah! Sadarlah Ezra! Dia bukan siapa-siapa bagimu!" Kata Ezra mencoba menyadarkan dirinya.


Setelah menetralkan wajahnya, Ezra menggeram marah, Dia mengucapkan sumpah serapah pada para anggota asrama kecuali Justin dan Chloe dalam hati. "Tch! Kusumpahin kalian gak akan tenang disana! Ian, Felix, Raizel, Rion, Aiden, Devian. Kalian benar-benar gak akan tenang! Gara-gara karma kalian, Aku jadi kepikiran si tengil itu terus!"

__ADS_1


***************


(Balik layar:


Anggota asrama be like:


–Raizel: "Woi! Kami udah mati begini masih aja disumpahin! Sialan kau Ezra!".


–Felix: " Karma berlaku bro, Gak ada yang gak mungkin🙃".


–Rion: "Emang gak ada akhlak si Ezra, Dikira enak apa matinya?! Sekarang malah disumpahin😤".


–Devian: " Tau! Bukannya di kasih sumpah yang baik-baik malah yang jelek-jelek,".


–Aiden: "Kalau ceritanya aku masih hidup, Sudah kujadikan makanan hiu si Ezra😑,".


–Ian: " Kenapa gak di mutilasi aja sekalian😏,".


–Devian: "Sadis amat?"


–Raizel: "Sadisan mana sama waktu kepalamu dipenggal sama Liam?"


–Devian: "Oh iya ya," *Refleks megang leher*.


–Justin: "😑 Untung Ezra sahabatku, Jadi aku no commend tentang dia,".


Author: "Stop! Stop! Balik ke cerita!" ).


***************


Usai puas memaki-maki para anggota asrama, Ezra menghembuskan napas menenangkan pikirannya yang kacau. Tak lama sang pemuda merasakan tepukan pelan di pundaknya.


"Pak Ezra," Chloe menundukkan kepalanya sedikit agar bisa memandang wajah Ezra.


"Apa?!" Ezra melirik ketus, Entah bagaimana tiba-tiba mood nya menjadi down.


Chloe terkesiap merasa heran dengan sikap Ezra yang tiba-tiba berubah dalam sekejap mata, Padahal tadi dia merasa Ezra kalem-kalem aja. Tapi sekarang sikap galak kaya singa itu kembali lagi.


Sang gadis tersenyum kikuk, Dirinya berniat untuk mengajak Ezra memberi makan angsa-angsa tadi namun diurungkan karna melihat perubahan Ezra tampaknya kurang baik.


"Mau pulang sekarang Pak?"


Ezra diam sejenak memandang langit cerah di atas mereka, Lalu langsung membuang pandangannya dari Chloe.


"Terserah! Lagian bentar lagi sore," Ezra meranjak dari duduknya. Dia melipat kain yang mereka pakai untuk duduk.


Chloe menganggap jawaban dari Ezra artinya 'iya' jadi dia segera membereskan bekal yang tersisa dan menyimpannya dalam keranjang.


Mereka berjalan pergi dari sana namun Ezra terlihat buru-buru berjalan cepat di depan Chloe seolah tak membiarkan celah sedikit pun untuk Chloe berjalan disampingnya, Jarak langkah mereka kini terpaut agak jauh. Chloe merasa tampaknya Ezra seakan menyuruhnya untuk tidak terlalu dekat, Jadi netra biru sang gadis hanya bisa memandang punggung Ezra dari belakang.


****************


Suara keramaian terdengar di penjuru ruangan kantin, Para pegawai sibuk menikmati masa-masa istirahat mereka ditemani dengan berbagai macam makanan yang disajikan.


Gracia selaku senior Chloe tengah menyiapkan makanan khusus untuk para tamu VIP mereka, Sedangkan Chloe sibuk mencuci beberapa piring dan OG lainnya sibuk melayani para karyawan.


Selesai dengan pekerjaannya, Chloe menghampiri Gracia sembari menatap sajian khusus yang sedang disiapkan Gracia.


"Kak, Butuh bantuan?" Tawar Chloe tersenyum ceria seperti biasa.


"Oh, Iya. Tolong bantu bawa makanan-makanan ini ke ruang meeting ya," Gracia menoleh sekilas sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Baik kak," Tanpa protes, Chloe segera mengambil nampan berisi sajian di atasnya. Tak lama Gracia ikut membawa nampan.


"Ayo,"


Gracia melangkah lebih dulu dengan Chloe yang mengekorinya dari belakang.


************


Tok! Tok! Tok!


"Permisi,"


Secara perlahan Gracia dan Chloe memasuki ruang meeting agar tak mengganggu para tamu VIP itu, Kehadiran mereka rupanya menarik perhatian para tamu. Dengan senyum ramah, Gracia dan Chloe meletakkan minuman tepat masing-masing dihadapan para tamu meski keduanya merasa canggung karna mendapat berbagai macam pandangan.


Sejenak Chloe menatap sekitar ruangan, Dia tidak melihat Ezra dimanapun selain para tamu. Tak lama pandangan Chloe berhenti pada sesosok wanita berkacamata hitam yang berada di sana diantara kolega Ezra.


Ya, Chloe sangat mengenali penampilan wanita itu. Tidak salah lagi dia adalah Nona Michelle yang dia temui dulu.


"Nona Michelle?! Dia disini?!" Pikir Chloe agak terkejut.


Sekilas netra Chloe menangkap senyum tipis yang terpatri di bibir wanita itu sebelum dia melangkah pergi keluar ruangan mengikuti Gracia.


***************


[Siang hari]


Tak!


"Ini kopinya pak,"


"Makasih,"


"Sama-sama,"


Chloe berbalik dengan riang, Dia memeluk nampan di dekapannya sembari berjalan menuju kantin. Sebentar lagi waktu kerjanya habis, Jadi Chloe tak sabar untuk menghabiskan waktu istirahatnya di asrama.

__ADS_1


Sesampainya di kantin, Chloe meletakkan nampan di meja. Dirinya berniat pergi menuju ruang staff namun terhenti saat netranya menangkap salah satu pegawai menghampirinya dengan tergesa-gesa. Pegawai itu memandangnya sejenak.


"Kamu, Chloe Amberly kan?"


"Iya kak, Kenapa ya?"


"Tadi kau dicariin sama Pak Ceo, Kurasa ada hal yang penting. Kulihat dia kayak gelisah gitu, Makanya dia menyuruhku mencarimu," Jelas pegawai wanita itu dengan raut takut.


"Oh, Baiklah. Makasih kak,"


Chloe buru-buru pergi setelah mendapat anggukan dari pegawai itu. Ia bergegas menuju lift sebelum mendapat ceramah dari Ezra.


Saat perjalanan menuju kesana Chloe berpapasan dengan para kolega Ezra yang baru saja keluar dari lift, Buru-buru sang gadis menekan angka 20 setelah memasukinya.


*************


Tok! Tok! Tok


"Pak, Saya masuk,"


Tidak ada respon apapun dari dalam sana, Chloe memutuskan memasuki ruangan Ezra. Perlahan ia mengintip sebelum masuk kedalamnya.


Blam!


Chloe mendapati Ezra terlihat murung dan gelisah, Pemuda itu bahkan tidak menoleh pada Chloe meski sekedar melihat saja. Merasa ada yang tidak beres dengan Ezra, Chloe mendekati meja pemuda merasa cemas dengan keadaan Ezra.


"Pak, bapak kenapa?"


"Duduklah, Aku ingin membicarakan suatu hal yang penting," Kata Ezra lirih namun masih bisa Chloe dengar dengan jelas.


Chloe mendudukkan dirinya senyaman mungkin, Ia memilih diam membiarkan Ezra melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa kau tidak bilang soal pendonoran darah itu?!" Sekilas Chloe mendengar nada marah terselip dari suara Ezra.


"Ma-Maksud bapak apa?" Jantung Chloe mulai berdegup kencang, Melihat ekspresi Ezra yang tampaknya mulai tak terkendali. Rasa takut mulai menyelimutinya.


Tangan Ezra terkepal, Berusaha mengendalikan emosinya yang meluap-luap. Setelah kejadian yang menimpa para anggota asrama, Kini dia dihadapkan dengan rasa kehilangan lagi. Ezra sontak berdiri, Tanpa peringatan menarik kerah pakaian yang dikenakan Chloe hingga jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa cm.


"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau sebenarnya paham dengan apa yang kumaksud kan? tengil!" Bentak Ezra marah. Bahkan sampai membuat Chloe bungkam karenanya.


"Kenapa kau tidak jujur padaku yang sebenarnya?! Kau mau aku kehilangan lagi?! Kau ingin aku tidak tahu apapun seperti orang bodoh?! Kita sudah tinggal bersama hampir setahun, Dan aku mulai terbuka padamu tapi kenapa kau malah memilih memendamnya sendiri hah!"


Chloe tersenyum pedih, Sesaat ia menunduk kecil. "Untuk apa bapak tahu apapun tentangku? Soal donor darah itupun hanya keberuntungan bagiku, Dialah yang menolongku bagaimana pun aku harus balas budi padanya. Tidak ada yang gratis di dunia ini,"


Chloe mendongak menatap netra hijau Ezra serius. "Lebih baik bapak tidak tahu apapun kan tentangku. Jika aku pergi atau menghilang, Bapak tidak akan mengingatku lagi,"


Ezra yang mendengarnya semakin merasa kesal, Dia semakin mencengkeram kerah pakaian Chloe erat. "Kau! Benar-benar gadis tengil menyebalkan yang pernah kutemui! Sama saja kau akan meninggalkan ku bodoh! Aku melindungimu saat kita diculik, Aku mengajarimu bermain skateboard, Aku membantumu saat memasak, Aku membantumu saat mengangkat kardus-kardus waktu itu, Dan aku membantumu menyelesaikan misi,"


"Semua itu kulakukan karna aku peduli padamu! Kenapa kau tidak pernah peka sialan!" Tubuh Ezra agak gemetar, Pemuda itu perlahan melepas cengkeramannya dengan netra hijau miliknya yang semakin meredup. Sedangkan Chloe terpaku dengan kata-kata Ezra, Suaranya bahkan tercekat tanpa bisa berkata-kata dengan netra birunya yang membulat sempurna karna terkejut.


"Kenapa kau tidak pernah peka?!" Ezra mundur sembari memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri setelah mengeluarkan semua emosinya. "Semua ini salahmu! Gara-gara kehadiramu di asrama. Semua pikiranku hanya selalu dipenuhi tentangmu, Semuanya tentangmu!"


Tangan Ezra kembali terkepal. "Karna itulah aku benci padamu. Sangat-sangat BENCI padamu Chloe Watson!"


"Aku..." Chloe menunduk menatap Ezra dengan pandangan sedih, Namun Ezra lebih dulu memotong ucapannya.


"Aku tidak suka perasaan ini, Hanya membuatku menderita! Sakit, Pedih, Sesak. Semua ini karnamu, Karna kehadiranmu dihidupku," Ezra mencengkeram pakaiannya, Raut menderita terlihat jelas di wajahnya. Tangan satunya mencengkeram meja dengan erat. Dia membuang pandangannya tanpa menatap Chloe.


"Aku harus bagaimana agar bapak tidak seperti ini lagi?" Lirih Chloe menunduk, Dia merasa sangat sedih melihat Ezra yang tampaknya sangat membencinya sekarang.


"Pergi!"


Chloe mendongak ketika suara Ezra kembali terdengar.


"Pergi dari sini! Mulai sekarang kau dipecat. Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi dihadapanku, Dan jangan kembali lagi ke asrama!"


DEG!


Seketika Chloe merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat, Netra birunya membulat tak percaya.


"Pak! Kenapa aku harus pergi?! Jangan libatkan perasaan bapak dengan pekerjaanku!" Bentak Chloe tak terima dirinya dipecat secara tiba-tiba, Bahkan selama dirinya bekerja di perusahaan ini. Chloe tidak merasa dirinya melakukan kesalahan.


Ezra menoleh cepat, Netra hijau miliknya berkilat marah. "Kau tidak dengar apa yang kukatakan?! Aku tidak ingin melihatmu lagi!"


Tangannya membuka laci dan meletakkan setumpuk dokumen dengan map merah di mejanya bersama amplop putih.


BRAK!


"Bawa benda-benda ini dan semua barang-barangmu di asrama pergi! Kau tidak perlu menjejakkan kakimu di perusahaan ini lagi ataupun asrama. Dia akan menjemputmu sebentar lagi,"


"Pak Ezra–"


"Pergi!"


Kini Ezra membentak dengan nada yang cukup tinggi seolah memberitahu bahwa dia tidak menerima penolakan. Bentakan itu membuat Chloe menutup mulutnya rapat-rapat, Netra birunya mulai berkaca-kaca memberitahu cairan bening itu akan tumpah kapan saja. Dia pernah dibentak seperti itu oleh orang lain tapi Chloe masih kuat, Namun kenapa saat Ezra yang membentaknya, Dirinya menjadi lemah seperti ini? Mengapa Ezra begitu sangat jahat padanya? Padahal dia hanya ingin mempertahankan pekerjaannya di perusahaan ini dan tempat tinggalnya di asrama.


Chloe meraih dokumen dan amplop di meja Ezra, Sambil menahan tangisnya yang masih tergenang kemudian sang gadis balik membentak Ezra.


"AKU SANGAT BENCI PAK EZRA!"


TAP! TAP! TAP!


BLAM!


Chloe berlari pergi dari ruangan Ezra, Menutup pintu dengan kencang, Meninggalkan Ezra yang diam terpaku di tempat.


Pemuda itu menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang campur aduk. Dia mendudukkan dirinya sembari menenangkan diri, Sekelebat ingatan saat dirinya memandang ekspresi Chloe yang terluka tadi terlintas di benaknya. Sesaat dadanya berdenyut nyeri ketika mengingatnya.

__ADS_1


Ezra mengacak-acak rambutnya gusar, Mengeluarkan semua keresahannya selama ini. "Aaarrgg! Ada apa denganku?! Sialan, Aku BENCI SEKALI padamu Chloe!"


TBC


__ADS_2