
CCRRAASS!
DOR!
Suara tembakan bergema dan mengudara, Membiarkan asap mengepul dari pistol yang digenggam Ezra. Tak lama disusul suara jatuh dari tubuh yang sudah terbujur kaku.
BRUK!
Darah segar mengalir dari kepala Victor hampir mengotori semua pakaiannya, Kepalanya terlihat berlubang dengan peluru yang menancap disana. Sedangkan singa milik Victor juga mati berubah menjadi abu dan tersapu semilir angin.
Sulur-sulur tanaman itu menghilang, Ezra memandangi tubuh Victor yang tak bernyawa. Dia menyimpan pistolnya di balik jas lalu menoleh pada Chloe yang tengah mengatur napasnya usai melenyapkan singa milik Victor.
"Pinjam pedangmu!" Pinta Ezra dingin.
"Buat apa?"
"Berikan saja!"
Walau bingung Chloe tetap memberikan pedangnya pada Ezra, Pria bernetra hijau itu lantas mendekati tubuh Victor yang tergeletak lalu menancapkan pedang Chloe di tubuh Victor berkali-kali, Mengeluarkan semua kekesalannya selama ini.
"Inilah akibat telah melenyapkan tuan Justin!"
CRAS!
"Gara-gara kau juga sebagian anggota asrama terbunuh!"
CRAS!
"Andai kau tidak ikut campur dan berkomplot dengan Red Devil, Semua ini tidak akan terjadi!"
CRAS!
"Kau membuat kami berdua menderita sialan! Victor Garfield sialan!" Maki Ezra marah dan penuh emosi.
Kini tubuh Victor tak berbentuk lagi, Kedua tangannya terpotong, Kepalanya dipenggal, Dan tubuhnya terbagi dua dengan bagian dadanya berlubang dimana tempat jantungnya berada.
[Author: Yah, Jadi kiko sama donat dong Victornya. Upss! Bagi dua😂]
Setelah meluapkan semua kekesalannya, Ezra melempar pedang Chloe kesembarangan arah. Napasnya tak terkendali, Dia mengusap wajahnya kasar, Merasa frustasi. Tak kuat menopang tubuhnya, Ezra terjatuh bertumpu pada lututnya.
BRUK!
Chloe yang melihat Ezra jatuh, Segera mendekati si pria. Menatap cemas dan khawatir, Dia bersimpuh disamping Ezra.
"Pak, Apa ada yang sakit?" Tanya Chloe cemas.
Ezra tak menjawab, Dia memilih menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya. Rasa Penyesalan, dan lega bercampur jadi satu dalam dirinya.
Menyesal karna waktu penculikan red devil terjadi dia tak bisa menolong teman-temannya tepat waktu, Bahkan tidak menyadari lebih awal kalau ada penyusup di asrama yang menyamar jadi Devian. Dan rasa lega karna berhasil membalas dendam pada salah satu musuh mereka.
Chloe ikut diam setelah tak mendapat respons apapun dari Ezra, Meski merasa ragu perlahan Chloe mengulurkan tangannya dan merangkul pundak Ezra. Menyandarkan kepala pria bernetra hijau itu ke pundaknya, Dia memeluk lembut agar Ezra merasa nyaman.
Ezra tersentak, Refleks ia menurunkan tangannya.
"Apa yang kau–"
"2 menit saja...Aku membiarkan pak Ezra seperti ini selama 2 menit," Potong Chloe lirih, Seketika membuat kalimat yang ingin dilontarkan Ezra tadi terhenti.
Ezra memeluk Chloe balik, Dia mencengkeram pakaian belakang sang gadis. Menyembunyikan wajahnya di leher Chloe. Chloe merasakan tubuh Ezra bergetar kecil, Sebelum merasa pakaian di pundaknya agak basah. Sepertinya pria itu tengah menangis kecil sekarang.
__ADS_1
"Pasti berat jadi pak Ezra. Memendam semuanya sendiri," Pikir Chloe mengusap lembut punggung Ezra, Berusaha menenangkan si pria.
Netra Chloe memandangi langit malam yang ditemani bulan dan ribuan bintang di atas mereka. Dia tak bersuara sama sekali sejak Ezra memeluknya balik, Membiarkan si pria menangis sepuasnya sampai tenang.
Disisi Alex, Xavier, dan Vallen. Mereka berhasil mengalahkan semua anak buah Victor. Bercak darah menempel dimana-mana, Bahkan Alex, Xavier, dan Vallen terlihat kelelahan karna mengalahkan puluhan anak buah Victor.
Xavier menyimpan pistolnya, Menyeka keringatnya dengan sapu tangan yang dibawanya. Dia menatap serius tubuh-tubuh anak buah Victor yang tergeletak disekitar mereka.
"Kita harus membawa mereka, Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos!" Perintah Xavier datar.
"Mana mungkin lolos kak, Mereka kan sudah kalah telak~" Vallen terkekeh kecil, Ikut menyimpan pistolnya dan tak sengaja netra coklat mudanya melihat Chloe yang sedang memeluk Ezra, Tengah menenangkan pria itu.
"Ara ara~, Lihatlah mereka. Disaat kita sibuk bertarung dengan orang-orang ini. Mereka malah asyik mesra-mesraan, Aduh aku jadi iri~" Vallen tersenyum miring.
Xavier hanya menatap datar, Sedangkan Alex yang ikut memandangi Ezra dan Chloe langsung berapi-api menahan rasa kesal.
"Gadis itu! Berani-berani nya dia mendekati Ezra!" Kata Alex kesal sembari mengepalkan tangannya.
Berbeda dengan Ivy yang sudah keluar dari persembunyiannya, Dia berdiri disamping Vallen dan menatap sedih ke arah Chloe dan Ezra.
"Sepertinya lebih baik aku mundur saja, Benar kata kak Ash. Chloe lebih dekat dengan pria itu karna sudah kenal dekat sebelumnya dibanding Chloe yang baru mengenal keluarga Michelle dan Maximillian," Pikir Ivy murung.
Alex yang berapi-api termakan rasa cemburu berniat menghampiri Ezra dan Chloe agar menjauhkan keduanya, Namun di tahan oleh Xavier yang merangkul lehernya, Membuat Alex terlihat seperti orang tercekik.
"Akh! K-Kak Xavier ap-apa yang kau lakukan?! Kau mau membunuhku?!" Kata Alex terbata-bata karna lengan Xavier yang mengunci lehernya.
"Hah~ Sudahlah, Lebih baik kau bantu aku dan Vallen mengurus orang-orang berjubah ini sebelum sebagian dari mereka siuman. Kita harus membawa mereka ke kantor polisi," Xavier menghembuskan napas sesaat sebelum menyeret Alex bersamanya untuk mengurus para anak buah Victor.
"Ta-Tapi aku harus menjauhkan gadis itu dari Ezra dulu!" Alex memegangi lengan Xavier yang mengunci lehernya, Berusaha lepaskan diri.
"Hehehe, Ditahan dulu ya Alex," Vallen terkekeh kecil sebelum memandang Ezra dan Chloe kembali. "Karna kita juga harus mengintrogasi mereka lagi atas kemampuan mereka yang luar biasa itu, Mereka sepertinya bukan orang biasa," Tambah Vallen disertai senyum misteriusnya.
Disisi Chloe dan Ezra, Setelah Ezra mulai tenang. Si pria melepas pelukannya, Ia menunduk menyembunyikan wajah kacaunya. Chloe yang paham segera mengambil sapu tangan dari saku jaketnya dan menyerahkan pada Ezra.
Ezra menerimanya, Mengusap wajah sesaat. Sedangkan Chloe berdiri dan memandangi tubuh Victor yang sudah tak terbentuk lagi, Dia meraih pedangnya yang tergeletak tak jauh dari sana kemudian perlahan pedang itu menghilang.
"Masih ada waktu untuk mencari tempat persembunyian Red Devil, Mungkin kau perlu memulihkan tenagamu dulu beberapa hari,"
Suara Aiden yang muncul tiba-tiba di kepalanya membuat Chloe agak terkejut sejenak.
"Ah, Ya aku memang perlu istirahat dulu sepertinya. Victor sudah dikalahkan tinggal Red Devil yang belum," Balas Chloe dalam hati sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket.
"Ya, Sepertinya tuan Justin akan menghukum Victor karna perbuatannya. Kalian fokuslah dengan red devil sekarang, Urusan Victor sisanya serahkan pada kami,"
"Baiklah, Aku senang setidaknya kita masih bisa berkomunikasi meski aku hanya bisa mendengar suaramu Aiden," Chloe tersenyum tipis.
"....Aku juga...Tapi yang terpenting selesaikan misimu, Aku tidak ingin kau nanti masih merasa terbebani dengan misi yang diberikan oleh Chloe Amberly itu,"
"Baiklah baiklah, Aku akan melakukannya. Tak apa Aiden, Aku pasti bisa menyelesaikan semuanya secepatnya,"
"....Kuharap begitu,"
Setelahnya suara Aiden tak terdengar lagi, Chloe menoleh saat merasakan sebuah tepukan di pundaknya.
"Sapu tanganmu akan kubawa pulang dan ku cuci dulu," Kata Ezra menyimpan sapu tangan Chloe di saku jas nya.
"Oh iya, Gak apa-apa pak. Lagian aku juga jarang pakai kok," Chloe tersenyum kecil sembari mengangguk.
__ADS_1
Ezra kembali menatap tubuh Victor lalu menghela napas. "Akan kuhubungi rumah sakit untuk mengubur jasadnya. Biar para dokter itu yang mengurusnya,"
"Iya, Semoga saja pak Victor menyadari kesalahannya saat bertemu pak Justin disana," Chloe berjongkok lalu menutup mata Victor yang terbuka, Memberi penghormatan terakhir.
Ezra hanya diam memperhatikan tindakkan Chloe, Lalu kembali membuka suara. "Aku harus pulang sekarang, Jaga diri baik-baik," Tangan Ezra terulur menepuk surai biru milik Chloe yang masih berjongkok di bawahnya.
Ia melangkah pergi meninggalkan area itu menuju mobilnya, Sedangkan Chloe berdiri dan memperhatikan kepergian Ezra.
Blam!
"Hei! Jangan pergi begitu saja! Kami masih perlu bicara denganmu!" Xavier yang melihat Ezra memasuki mobilnya langsung menutup pintu mobil agak kencang usai memasukkan orang-orang berjubah yang masih hidup kedalam mobilnya.
Dia berniat menghentikan Ezra yang sudah menyalakan mesin mobil namun langkahnya langsung dihalangi oleh Chloe, Gadis itu berdiri tepat di depan mobil Ezra. Menghadap Xavier dengan mengeluarkan aura hijau di sekelilingnya, Membuat Chloe dilindungi pelindung transparan bersama mobil Ezra. Agar Xavier tidak bisa lewat se inchi pun.
"Minggir!" Kata Xavier serius, Menatap dingin gadis di depannya.
"Tidak akan sampai pak Ezra pergi dari sini!" Balas Chloe tak kalah serius. Merentangkan satu tangannya menghalangi Xavier.
Sesaat Chloe melirik Ezra. "Pergilah pak, Aku yang akan mengurusnya,"
Ezra hanya mengangguk kecil lalu memundurkan mobilnya dan pergi dari area itu meninggalkan Chloe bersama Maximillian brother dan Ivy.
Vallen bergegas menembakkan pelurunya pada ban mobil yang dikendarai Ezra sebelum mobil itu semakin jauh, Tapi Chloe dengan gesit menangkis dengan pedangnya.
Dor!
Tring!
Sang gadis bersiaga kalau-kalau Vallen kembali menembak.
"Kamu benar-benar waspada ya," Vallen hanya tersenyum kecil, Menyimpan pistolnya kembali. Percuma saja jika dia menembak lagi karna mobil Ezra sudah jauh dari pandangannya.
"Ya, Aku hanya waspada pada orang yang berniat mencelakai kami," Balas Chloe ikut menyimpan pedangnya, Merasa Ezra sudah jauh dari kawasan mereka.
Vallen tetap mempertahankan senyumnya sedangkan Xavier berdecak kesal kehilangan jejak Ezra. Pria bersurai silver itu mendekati pintu mobil.
"Ayo kita ke kantor Vallen, Masih banyak yang harus kita kerjakan,"
"Oke~,"
Vallen dan Xavier memasuki mobil mereka lalu menyalakan mesin dan pergi meninggalkan kawasan itu.
Chloe menghilangkan pelindungnya, Menatap Ivy yang tampak murung dan Alex yang menggerutu karna ditinggal oleh kakaknya.
"Ivy, Ayo kita pulang," Ajak Chloe tersenyum tipis.
"Uh, Baiklah,"
"Pulangnya mau naik bis atau teleport?"
"Teleport saja, Aku mau cepat-cepat sampai mansion," Ivy memilin ujung bajunya sembari menunduk.
"Baiklah, Kak Alex bagaimana? Mau pulang bareng?" Tawar Chloe menoleh ke Alex.
"Gak! Mana sudi aku pulang bersama orang yang sudah merebut sahabatku!" Balas Alex geram. Sesaat kening Chloe berkedut kesal mendengar perkataan Alex namun ia masih mempertahankan senyum tipisnya.
"Oh begitu, Ya sudah. Sampai nanti kak Alex,"
Chloe memegang lengan Ivy, Sedangkan Ivy refleks memegang pundak Chloe takut jatuh saat teleport nantinya. Setelahnya mereka menghilang dari pandangan Alex dengan cepat bahkan si pria belum sempat berkedip.
__ADS_1
"Huh?! Aku baru tahu di zaman ini masih ada manusia yang memiliki kekuatan. Benar-benar abnormal," Alex mendengus, Ia memilih jalan kaki menuju halte bus.
TBC