System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Keputusan Justin


__ADS_3

[Asrama, Malam hari]


Sunyi, Senyap, Dan hanya terdengar sayup-sayup suara hewan malam yang saling bersahutan. Beberapa langkah kaki bergema memenuhi sebuah ruangan dengan cahaya lampu yang minim.


Sesaat keheningan tercipta di ruangan itu, Terdapat beberapa anggota Asrama sudah berkumpul disana bersama dengan sang pemilik Asrama (Kecuali Chloe). Salah satu dari mereka menendang kaki tawanan mereka hingga berlutut, Lalu melepaskan lakban dan penutup mata sang tawanan tanpa melepaskan tali yang mengikat tangan tawanan itu.


Ya tak lain tawanan itu adalah Ethan William. Sesaat matanya mengerjap hingga kepalanya mendongak menatap para anggota Asrama yang kini sudah berdiri tepat dihadapannya. Aura suram dan mencekam menguar dari masing-masing tubuh mereka, Seakan siap menelan Ethan hidup-hidup.


Dengan susah payah sang pria menelan selivanya yang terasa kering, Keringat dingin tanpa sadar mengalir dari pelipisnya. Semua tatapan tajam itu tertuju untuknya seakan bisa menembus kedua matanya.


Justin selaku pemilik Asrama memutar kursi yang di dudukinya menghadap Ethan, Ia bersidekap sembari memutar-mutar pisau di tangannya seolah-olah pisau itu adalah mainan. Netra beriris orange menatap tajam netra milik Ethan tanpa terkecuali.


Di sudut ruangan Devian tampak santai menyandarkan punggungnya pada tembok, Menatap datar tawanan mereka. Di sisi sofa lainnya terdapat Felix yang tengah mengutak-atik laptop miliknya dengan serius, Entah apa yang dicari pemuda bersurai coklat itu.


Lalu di sofa lain nya Ian seperti biasa tengah membaca buku novel miliknya acuh tanpa memperhatikan kondisi Ethan, Dan disamping Ian terdapat Raizel yang sedang mengukir kayu kecil dengan pisau di tangannya, Sesekali terdengar suara decitan pisau beradu dengan kayu dari Raizel.


Rion yang berada di sudut ruangan bersama Devian ikut menyandarkan tubuhnya pada tembok, Ia bersidekap sembari memejamkan mata. Entah sedang merasa ngantuk atau tidak. Dan Ezra seperti biasa berdiri diam di belakang Justin tanpa ekspresi, Sedangkan Aiden duduk tenang di sofanya.


Sesaat hanya terdengar suara ketikan laptop dari Felix yang memenuhi ruangan, Tidak ada yang berniat membuka suara sama sekali bahkan Ethan sekalipun.


TAK!


Justin meletakkan pisau di tangannya membuat suara itu memecah keheningan mereka, Sontak Ethan mendongak memandang satu persatu anggota Asrama.


"Jadi...Kuberi dua pilihan...," Serentak semua pasang mata menatap tajam Ethan setelah suara Justin bergema memenuhi ruangan.


"Beritahu siapa yang menyuruhmu untuk menghancurkanku atau...," Justin kembali mengambil pisau nya sambil menyodorkan ujung pisau itu tepat ke wajah Ethan. "Kau mau bicara dengan koleksiku?"


Keringat dingin masih mengalir dari pelipis Ethan, Dirinya terdiam bungkam saat netranya menangkap seringai kejam terpatri di bibir Justin. 5 Cm lagi jika kepalanya menunduk maka ujung pisau itu akan menusuk matanya, mungkin bisa lebih buruk dari itu.


"Jika aku tidak ingin mengatakannya bagaimana?!" Tantang Ethan menutupi rasa takutnya, Menatap netra orange milik Justin tanpa ragu.


WWUUSSHH!


Sejenak keheningan kembali tercipta saat sebuah benda tajam melayang melewati kepala Ethan, Hampir membuat kepala sang pria putus dari tempatnya. Ethan terdiam membeku, Netranya melirik pipi kirinya yang terdapat bekas goresan, Perlahan darah segar mengalir dari sana. Kemudian netra itu melirik sebuah pisau yang tertancap tepat di tembok belakangnya.


"Ups! Maaf tanganku licin,"


Pandangannya beralih menatap Raizel yang sedang mengelap tangannya dengan sapu tangan seolah membersihkan sisa ukiran kayu yang menempel pada lengan bajunya, Tampak pemuda bersurai hitam campur coklat itu tersenyum sinis.


Justin berdehem pelan kembali menatap Ethan yang masih berlutut dihadapannya. "Jadi apa pilihanmu, Ethan? Kau tidak bisa mengelak lagi,"


Giginya bergemeletuk kecil, Kepalanya masih tertunduk dalam. Disaat kondisi begini sudah jelas bahwa ia sudah terpojok dan tidak bisa mengelak. Namun kesetiaannya bahkan lebih tinggi dari harga dirinya sekalipun.


"Aku lebih baik mati! Dari pada memberitahukannya padamu Justin! Tidak ada gunanya juga jika kau tahu siapa dalang dibalik kekacauan itu!"


Mendengar bentakan dari Ethan membuat Ian mengalihkan fokusnya, Netra merahnya melirik datar sesaat lalu menutup novelnya sembari menghela napas jengah.


"Sepertinya percuma saja,"


"Mati ya?" Devian tersenyum miring ikut menatap Ethan. "Nyalimu besar juga Tuan keras kepala,"

__ADS_1


"Kalian tidak akan berani memaksaku! Jika Dia mengetahui hal ini, Kalian akan kalah!" Sahut Ethan lagi, Kini dengan emosi yang meluap-luap.


"Sok tau! Seharusnya kau ngaca dulu. Lihatlah kondisi mu saat ini, Sudah tertangkap basah masih keras kepala saja!" Decih Rion masih bersidekap dengan tatapan sinis.


"Meski kalian memaksaku bagaimana pun, Aku tetap tidak akan pernah mengatakannya!"


"Kau tahu, Setiap pelaku yang kami tangkap selalu mengatakan hal yang sama. Aku sudah bosan mendengar kata-kata itu, Dan kau sama membosankannya dengan mereka," Celetuk Felix tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Ethan kembali menggertakkan giginya kesal, Netranya menatap balik para anggota Asrama. Sedangkan Aiden dan Ezra memilih diam menyimak pembicaraan itu tanpa ikut campur.


Justin meranjak dari kursinya melangkah mendekati Ethan, Ia berjongkok sesaat sambil menatap netra Ethan.


"Sayang sekali, Kalau saja kau tadi tidak keras kepala. Mungkin hukumanmu akan lebih ringan,"


"Cih! Apa pedulimu, Kau juga tetap akan menghukumku," Decih Ethan sinis menatap nyalang.


Pemuda bernetra orange itu menyerigai sesaat usai mendengar Ethan yang masih kukuh dengan pendiriannya, Ia menoleh pada Aiden yang masih duduk di sofa.


"Aiden, Kuserahkan sisanya padamu. Lakukan rencana B dan pastikan jangan sampai mati," Perintah Justin sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan itu diikuti anggota lainnya.


"Hm...,"


Devian yang pergi paling terakhir menoleh sejenak pada Aiden dan Ethan sebelum meninggalkan ruangan itu, Sambil melambai pelan.


"Bersenang-senanglah Aiden," Pandangan Devian beralih pada Ethan dengan senyum misteriusnya. "Dan untukmu good luck Tuan keras kepala,"


BLAM!


TAP! TAP! TAP!


Ethan tanpa memperdulikan keberadaan Aiden berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya, Dirinya susah payah memberontak dari ikatan tali itu. Sedangkan Aiden hanya memperhatikan dalam diam sembari memainkan mawar di tangannya, Ia penasaran seberapa kuat Ethan bisa melepaskan diri.


Dalam keheningan itu semua usaha Ethan sia-sia, Tali yang mengikat tangan dan kakinya tidak ada satupun yang terlepas. Tentu saja dirinya kesal dan geram, Terlebih selama beberapa menit itu tidak ada pergerakan sama sekali dari Aiden selain memperhatikan tindakkannya.


"Bagus, Sekarang aku malah terlihat seperti orang bodoh!" Maki Ethan dalam hati, Ia menatap tajam Aiden yang masih diam di tempatnya.


"Apa yang kau tunggu?! Justin memerintahkanmu untuk membunuhku kan? Lakukan sekarang!"


"Tidak ada, Aku hanya menunggu seberapa kuat keinginanmu untuk lolos. Tapi nampaknya sia-sia," Sahut Aiden datar meranjak dari duduknya mendekati Ethan, Ia menjajarkan tubuhnya dengan tinggi Ethan.


"Lolos katamu?! Kalau tali ini lepas sudah sejak tadi aku pergi dari sini, Kau hanya buang-buang waktu!"


"Hm, Kau benar...," Aiden mendesah lelah, Ia memejamkan mata sejenak. Perlahan mawar di tangannya menghilang menjadi butiran-butiran abu membuat netra Ethan membola kaget.


"Bagaimana bisa mawarnya menghilang?!"


"Anggap saja sulap,"


"Tidak mungkin!"


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini," Aiden kembali menghela napas, Lalu ia menarik rambut Ethan hingga membuat kepala Ethan mendongak padanya. Netra beriris ungu tua itu menatap dalam.

__ADS_1


"Maaf, Mungkin ini akan terasa sangat sakit. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain memaksamu dengan cara ini,"


keningnya mengerut mendengar permintaan maaf Aiden, Mulutnya terbuka ingin membalas perkataan sang pemuda namun niat itu terkurung saat netra nya bersitatap dengan netra ungu tua milik Aiden. Seolah-olah kesadarannya direnggut secara paksa.


Kejadian selanjutnya hanya terdengar teriakan pilu dan kesakitan dari ruangan itu tanpa ada yang tahu apa yang dilakukan Aiden pada Ethan.


***************


[Keesokan harinya]


TAP! TAP! TAP!


Ramainya para karyawan kantoran yang berlalu lalang tak menghentikan langkah seorang gadis yang tengah berlari membelah lautan manusia, Dirinya kini sedang terburu-buru menuju Aula kantor setelah mendapat kabar dari Gracia bahwa ada pengumuman penting dari sang CEO.


Sesampainya di Aula sudah banyak ratusan karyawan yang berkumpul, Beberapa dari mereka berbisik-bisik penasaran pengumuman apakah yang akan diberitahukan oleh Justin. Tak lama suara langkah kaki meredakan keriuhan itu perlahan hingga keheningan melingkupi ruang Aula.


Justin berdiri menghadap semua karyawannya sedangkan Ezra tetap setia berada di belakang sang pemuda, Disamping Justin terdapat Ethan yang menatap kosong seolah tak memiliki jiwa.


Sesaat netra birunya mengerjap bingung, Chloe mempertajam pendengarannya agar menangkap jelas pengumuman itu. Suasana berubah tegang dengan afmosfer yang tiba-tiba memanas.


Sesaat terdengar deheman pelan dari Justin sebelum memulai kata-katanya, Netra orange itu menatap para karyawannya satu persatu.


"Hari ini aku mengumpulkan kalian semua untuk menunjukkan bahwa si penghianat ada di sekitar kita, Dan hari ini si penghianat itu sudah tertangkap bersama para anak buahnya,"


Justin menoleh memandang Ethan yang di dorong maju oleh salah satu karyawan bersama anak buah Ethan, Tidak terlihat ada pemberontakan dari Ethan hanya tatapan kosong saja yang diberikan. Lalu tak lama seorang pria paruh baya datang dengan wajah penuh malu dan lebam, Dia berdiri di sisi Ethan.


"Mereka adalah para penghianat itu, dan Tuan yang disana adalah dalang dibalik kekacauan yang dia buat di kantor ini. Dia berpura-pura sebagai klien agar bisa memantau sekaligus memprovokasi karyawan lainnya untuk menjatuhkan saya,"


Tatapan Justin berubah tajam memandang para karyawan yang mulai berbisik-bisik pelan. "Intinya jika ada yang berani macam-macam pada saya ataupun mencoba menjatuhkan saya maka kalian akan bernasib sama dengan mereka!"


Suara bisik-bisik pelan kembali memenuhi sekitar Chloe, Sesaat dirinya bisa merasakan aura ketakutan dari para karyawan di sekitarnya setelah mendengar ancaman Justin. Bahkan klien dari perusahaan lain juga dibuat tak berkutik saat aura suram Justin menguar memenuhi ruang Aula.


Setelahnya tidak ada lagi yang berani membuka suara, Merasa tidak ada yang menyela Justin kembali buka suara.


"Dan satu lagi, Mulai besok dan seterusnya saya Justin Garfield menurunkan jabatan saya kepada Ezra Miracle sebagai Head Manager dan CEO. Dia akan menggantikan tugas-tugas saya selama di kantor dan saya hanya akan bekerja di balik layar,"


Serentak semua orang di ruangan itu menatap tak percaya termasuk Ezra sendiri, Keriuhan kembali terjadi disana. Chloe sampai ternganga mendengar keputusan Justin tanpa mempertimbangkan keputusan Ezra dan karyawan lainnya.


"Astaga, Apa yang sebenarnya Pak Justin pikirkan?! Tiba-tiba ngasih tugas sebesar itu pada Pak Ezra?" Pikir Chloe dalam keterkejutannya, Masih tak percaya ia salah dengar atau tidak.


Berbeda dengan Ezra yang terdiam membeku sama terkejutnya dengan Chloe, Saking terkejutnya ia tak bisa berkata apa-apa untuk menyela ataupun membantah perintah itu. Padahal setahunya tugas itu tidak bisa diberikan ke sembarangan orang tanpa persetujuan dari pihak yang bersangkutan.


Merasa tidak ada yang protes dengan keputusannya, Justin tersenyum kecil. "Jika tidak ada yang protes, Saya anggap kalian semua setuju dengan keputusan saya dan keputusan ini bersifat mutlak, Mulai besok dan seterusnya Ezra akan menjadi Head Manajer baru kalian,"


Usai selesai dengan pengumumannya Justin melangkah pergi meninggalkan area Aula dengan keriuhan yang terjadi di sekitar sana. Ezra dengan patuh mengikuti langkah Justin meninggalkan aula.


Sedangkan Chloe perlahan meringsut mundur menjauhi kerumunan, Kadang dirinya tak habis pikir dengan jalan pikiran Justin. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja membuat keputusan seenaknya tanpa persetujuan pihak lain.


"Apa lagi yang sedang direncanakan Pak Justin? Kadang pikirannya tak bisa ditebak," Kepalanya menggeleng pelan, Lalu Chloe ikut melangkah pergi menjauhi area aula berniat melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


TBC

__ADS_1


__ADS_2