System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Memory Ian


__ADS_3

[Asrama]


Suara detak jarum jam terus berbunyi keras di sebuah ruangan, Sunyi dan senyap tanpa seorang pun disana selain Justin yang tengah fokus dengan pekerjaannya.


Detik demi detik telah berlalu begitu cepat, Ia terlihat tak berniat menghentikan aktivitasnya meski ekspresinya sudah menunjukkan rasa lelah. Ketika semua pekerjaannya sudah selesai ia menutup layar laptopnya sembari menghela napas lelah.


Tak!


"Hah~...akhirnya sudah selesai,"


Justin mengambil gelas kopinya yang sudah tersedia disana, Menyesap perlahan sambil menikmati aroma kopi yang begitu memikat. Itu membuat pikirannya rilex sejenak.


tubuhnya menyandar pada sandaran kursi, Menatap meja kerjanya yang agak berantakan penuh dengan dokumen-dokumen baru maupun lama.


TING!


Netra orange nya melirik telpon genggam miliknya yang berbunyi ketika sebuah pesan masuk dari agen mata-mata suruhannya. Ia melepas kacamata kerjanya, Memperhatikan pesan masuk itu dengan serius.


From: Agen mata-mata


To: Justin Garfield


...Tuan, Kami sudah berusaha mencari identitas dari Nona Chloe selama beberapa bulan ini. Hanya beberapa informasi yang kami dapatkan dari latar belakang keluarga kandung Nona Chloe. Untuk memastikannya lebih jelas kami membutuhkan tes DNA dari Nona Chloe agar pihak keluarga percaya nantinya....


"Begitu ya, Jadi sudah mendapat informasinya," Gumam Justin masih menatap layar handphone nya. Ia menekan link dokumen yang diberikan oleh agen mata-matanya, Link itu berisi semua informasi tentang keluarga kandung Chloe.


"Tinggal sedikit lagi maka kesepakatan ini akan berakhir," Justin menghembuskan napas nya pelan. "Aku hanya butuh DNA nya saja,"


Sesaat netra orange nya membaca informasi tentang keluarga kandung Chloe dengan seksama tanpa ada satu kalimat pun yang terlewatkan. Sedetik kemudian netra beriris orange itu membulat terkejut.


"I-Ini..." Justin diam sejenak masih memproses informasi yang didapatkannya. Kemudian ia berkata lirih. "Aku sangat tidak menyangka dia terlahir di keluarga seperti ini. Jika aku bertemu dengan keluarganya lagi mungkin dia akan sangat marah padaku,"


Justin kembali menyesap kopinya sembari memikirkan cara agar bisa menjelaskan soal keluarga kandung Chloe pada sang gadis. Tak lama sebuah pesan masuk kembali muncul di layar handphone sang pemuda.


Ting!


Ia meraih handphone nya membaca pesan masuk itu, Berharap mendapatkan informasi lebih lengkap dari agen mata-matanya.


From: Unknown


To: Justin Garfield


...Kami sudah membawa mereka ke markas, Sisanya urusanmu....


Kening Justin mengerut setelah membaca pesan itu, Mencoba memproses maksud dari kata-katanya. "Dari orang yang tidak kenal? Apa-apaan ini?! Markas apa? Mereka sedang mengerjaiku ya?!"


Dirinya tidak mengerti kenapa pesan aneh itu ditujukan padanya, Lagipula siapa 'Mereka' yang dimaksud pesan itu?


"Ukh....," Tiba-tiba Justin merasakan sesak napas, Ia mencengkeram pakaiannya dimana letak jantungnya berada. Berusaha menahan rasa sakit.


"Sial, Kenapa sakitnya kambuh secara mendadak?!" Justin hampir tak bisa bernapas dengan benar, Dengan susah payah tangannya mencari-cari obat penangkalnya di dalam laci meja kerjanya.


Tangannya mulai gemetar, Ia meraih botol obat diantara tumpukan kertas kecil. Perlahan Justin meminum satu kapsul, Namun rasa sakit dan sesak di dadanya tidak berkurang malah semakin menjadi-jadi.


PPRRAANNGG!


"Ti-Tidak...!" Seru Justin lirih menatap botol obatnya yang pecah hingga hancur berkeping-keping karna tubuhnya sudah gemetar hebat.


"Uhuk...Uhuk...," Netranya mulai berkunang-kunang, Justin mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Samar-samar dirinya mendengar suara dengan nada serak dan berat dalam benaknya sebelum pandangannya menjadi buram.


"Percuma saja, Kau tidak akan bisa menghentikanku!"


Kepala Justin hanya bisa terbaring di atas meja kerjanya tanpa bisa melakukan apa-apa lagi, Netra orangenya menatap sayu ambang pintu dengan napasnya yang mulai tak beraturan sembari berbisik pelan.


"Ai...den...To...long...,"


Perlahan kelopak matanya menutup hingga pandangannya menjadi gelap.


Beberapa menit setelahnya kelopak mata itu kembali terbuka menampakkan netra beriris merah darah, Ia menjauhkan kepalanya dari meja lalu memandang kedua tangannya. Perlahan sudut bibirnya tertarik membentuk senyum smirk.


"Butuh beberapa jam untuk mengambil alih tubuhnya, Sekarang waktuku untuk bebas," Victor masih menyerigai, Ia berucap pelan pada dirinya sendiri seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang. "Justin, Aku pinjam ragamu sebentar ya. Tenang saja, Ragamu aman bersamaku kok. Mungkin saja...."


Kemudian netra merahnya memandang sekeliling ruangan Justin. "Jaa, Baiklah sekarang apa yang sedang kau kerjakan ya? Mari kita lihat,"


Tangannya menekan-nekan tombol keyboard mencari-cari sesuatu yang menarik baginya di laptop Justin. Sejenak ekspresinya berubah datar.


"Hm, Pekerjaanmu sungguh membosankan Justin. Semua file nya hanya berisi tentang tugas, tugas, dan tugas. Lalu proyek yang tidak penting juga ada disini," Victor mendengus pelan masih memandangi layar laptop.


Setelahnya ia mengalihkan pandangannya menatap arah lain karna pekerjaan Justin sangat membosankan menurutnya. "Cih! Mentang-mentang jadi penerus keluarga Garfield. Memangnya hanya kau yang bisa membuat proyek itu. Aku juga bisa bahkan aku lebih hebat darimu Justin!"


Victor berdecih sinis sesaat lalu pandangannya tertuju pada handphone Justin yang masih menyala, Ia meraih handphone tersebut membaca pesan dari nomor yang tak dikenal.


senyum smirk kembali tercetak di bibirnya. "Sudah tertangkap ya, Hm...Aku tidak sabar menemui mereka,"


Ia menunduk kembali berbicara pada dirinya sendiri. "Kau sudah membaca pesannya kan Justin? Lihatlah apa yang akan kulakukan pada para anak didikmu itu. Aku tidak main-main dengan perkataanku tempo lalu,"

__ADS_1


Victor berjalan meninggalkan ruangan sambil tertawa senang tak lupa memembawa handphone Justin.


***************


[Dapur]


"Chloe!"


Aiden agak terkejut saat layar hologram milik nya menampilkan tulisan 'not connected'. Dia tidak tahu apa yang terjadi di seberang sana karna koneksinya dengan Chloe terputus.


"Chloe! Chloe! Kau mendengarkanku?!"


Aiden menekan tombol jam arlojinya berusaha menghubungkan koneksi nya kembali, Namun usaha nya sia-sia. Layar hologramnya tetap menampilkan tulisan itu.


Keningnya mengerut merasa ada yang tidak beres dengan keadaan Chloe. Aiden bergegas keluar dari ruang dapur menuju ruangan Justin, Bagaimana pun dia harus melaporkan semua yang dia dengar dari Chloe pada pemilik Asrama.


***************


Tok! Tok! Tok!


"Tuan, Anda didalam?"


Beberapa detik Aiden menunggu jawaban dari dalam ruangan namun tak ada tanggapan dari sana. Ia membuka pintu memeriksa apakah Justin berada disana atau tidak.


Sejenak netra ungu tua nya menatap sekeliling ruangan tanpa adanya Justin disana, Hanya ruangan kosong dengan dokumen-dokumen yang acak-acakan dan layar laptop yang terlihat masih menyala.


"Dia tidak ada disini, Kemana tuan Justin?"


Aiden mendekati meja kerja Justin, Menatap layar laptop dalam diam. Beberapa menit dirinya mengutak-atik laptop tersebut mencari informasi tentang keberadaan Chloe dan anggota lainnya.


Netranya menatap beberapa titik merah yang berada dalam layar laptop tersebut, Menunjukkan dimana posisi Chloe dan lainnya berada.


"Tempat asing? Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan para Red Devil itu?" Aiden diam sesaat mencoba mengingat perkataan Chloe sebelum koneksi mereka terputus. "Ini tidak bisa dibiarkan, Aku harus menyusul mereka,"


Aiden langsung mengambil sebuah kunci dalam laci di meja kerja Justin dan bergegas keluar dari ruangan.


**************


Ian Pov


Sakit, Kepalaku sangat sakit. Aku tidak bisa bergerak, Dan disini sangat gelap aku tidak bisa melihat apa-apa. Keluarkan aku dari sini!


Tes! Tes! Tes!


Kudengar suara tetesan air disekitarku tapi aku tidak melihatnya. Suara tanpa wujud tiba-tiba terdengar menyapu pendengaranku begitu saja.


Aku mendongak mencari asal suara itu. "Tolong...aku..." Kataku lirih dengan suara terputus-putus.


Tapi suara itu tidak terdengar lagi dan hanya keheningan yang menyahutku. Sekitarku berubah secara tiba-tiba dan cahaya putih melesat ke arahku membuatku harus memejamkan mata karna silaunya.


***********


"Dasar sombong! Seharusnya kau tidak mengacuhkan kami!"


Aku membuka mataku, Melihat beberapa anak kecil sedang menatap benci padaku, Mereka melempariku dengan kerikil menyuruhku untuk menjauh dari sana.


"Hentikan! Tolong hentikan!" Mulutku bergerak dengan sendirinya tanpa kuperintah. Aku tidak bisa bergerak dan hanya bisa diam melihat anak-anak itu melempariku.


"Pergi sana dasar pecundang!"


Kata-kata kasar terus mereka lontarkan padaku, Jujur kurasakan tubuhku sangat sakit tapi hatiku lebih sakit dibanding luka di tubuhku.


"Tubuhku benar-benar tidak bisa bergerak, Dan mulutku seakan bergerak sendiri. Ini bukan diriku, Siapa saja tolong aku,"


Tap! Tap! Tap!


"Berhenti!"


Kulihat seorang gadis kecil berlari ke arahku sembari membelakangiku dan dia merentangkan kedua tangannya, Menghalangi agar para anak-anak itu tidak melempariku lagi.


"Jangan ganggu dia! Dia tidak punya salah pada kalian!" Gadis kecil didepanku berteriak marah.


"Kau merusak kesenangan kami, Kau sama pecundangnya dengan dia!"


Mereka kembali melempariku dengan batu bersama gadis kecil di depanku.


Tuk!


"Akh...Sakit," Aku menunduk saat kurasakan satu kerikil mengenai keningku.


Gadis kecil di depanku menoleh dia terlihat terkejut lalu mengambil segenggam kerikil dan melempari anak-anak itu balik.


"Kalian yang harusnya pergi!"


"Aahh...Dia melempari kita balik. Ayo pergi!"


"Awas saja kalian, Akan kuadukan ke ibuku!"

__ADS_1


Anak-anak itu berlarian pergi menjauhi kami, Salah satu dari mereka menangis karna terkena lemparan gadis kecil didepanku.


"Kau baik-baik saja?"


"Ya, Terima kasih," Cicitku pelan. Lagi-lagi mulutku bergerak sendiri. Kutatap wajahnya yang begitu dekat.


Gadis kecil di depanku tersenyum teduh, Dia terlihat ceria untuk ukuran anak kecil.


"Aku Chloe Watson, Umurku 7 tahun. Namamu siapa?"


"Chloe Watson?" Ini adalah masa kecilku, Aku sekarang ingat. Pertama kali aku bertemu dengan Chloe adalah saat di taman ini.


"Ian Salvatore, Umur ku 8 tahun,"


"Ian?" Dia memiringkan kepalanya sedikit kesamping, Senyum cerahnya kembali terbit. "Nama yang bagus, Oh iya sebentar,"


Dia mengambil sesuatu dalam tas kecil yang dibawanya, Menunjukkan sebuah perban lalu dia menempelkannya di keningku.


"Lain kali kalau kau bertemu mereka, Lari saja ya,"


"Hu'um, Makasih," Kepalaku mengangguk dengan sendirinya.


Lalu tak lama kulihat seorang wanita muda berdiri tak jauh dari kami, Wajah wanita muda itu begitu mirip dengan Chloe. Dengan senyum ramah dia memanggil nama gadis kecil di depanku.


"Chloe, Ayo pulang,"


"Iya, Sebentar mama," Gadis kecil itu kembali menatapku masih tersenyum. "Aku pulang dulu ya, Besok kita ketemu lagi disini, Nanti aku bawa masakan mama buat makan bersama. Bye,"


Gadis kecil itu melambaikan tangannya padaku sembari berlari kecil menuju ibunya. Syal merah yang dipakainya melambai pelan mengikuti pergerakannya.


"Chloe, Jangan pergi..."


Aku menatap kepergian Chloe dalam diam seiring cahaya putih kembali menyilaukan pandanganku.


***************


"Ibu, Lihat! Ian lulus ujian terus dapat A+,"


Kubuka mataku pemandangan yang kulihat pertama kali adalah seorang wanita muda bersurai hitam dengan netra merah berdiri dihadapanku. Dia tersenyum manis sambil sedikit membungkuk.


"Wah, Ian hebat. Anak ibu memang pintar. Sebagai perayaan ibu bakal masakin makanan favorit Ian,"


"Yeyy! Ian mau Tempura,"


"Okey, Tempura favorit Ian bakal dateng," Ibu mengusap rambut milikku.


Aku sangat merindukan kehangatan ini, Dia selalu tersenyum tulus untukku. Sebagian dalam diriku memberontak ingin menangis saat melihat wajah teduhnya.


Tap! Tap! Tap!


"Ayah pulang!"


Suara seseorang di ruang tamu membuat usapan ibuku terhenti, Kepalaku menoleh dan kaki kecilku berlari dengan sendirinya mendekati seorang pria muda yang baru saja selesai melepas sepatunya.


"Ayah!" Aku merentangkan kedua tanganku.


Ayahku tersenyum dia ikut merentangkan kedua tangannya selagi aku masih berlari menghampirinya.


Hup!


Dengan sigap Ayah menangkap tubuhku saat aku melompat kepelukannya.


"Ya, Jagoan Ayah dateng. Kangen gak sama ayah?"


"Kangen banget," Aku memeluknya erat, Surai hitam nya terlihat berkilau dimataku. Wajahnya begitu rupawan dengan netra merah yang sangat serasi dengan warna rambutnya. Tidak heran ibuku sampai jatuh cinta dengan ayah.


"Katanya janji bakal main bareng Ian,"


"Iya, Ayah ganti pakaian dulu ya. Setelah itu baru kita main,"


Ayah menurunkanku dari dekapannya sambil tersenyum. Kepalaku mengangguk mengiyakan.


Kembali sebagian diriku semakin memberontak, Aku sudah tidak tahan dengan kenangan ini.


Hentikan! Aku ingin keluar dari sini!


Tiba-tiba sekitarku menjadi gelap, sosok ayah dan ibuku lenyap bak ditelan bumi. Sekarang yang kudengar hanyalah suara rusak memenuhi pendengaranku.


"Keluarkan aku dari sini!" Racauku mulai tak terkendali. Kepegangi kepalaku yang semakin sakit seakan ingin meledak, Kenangan masa laluku menerjang bagai ombak. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.


"Maaf, Sudah membuatmu depresi. Aku akan mengembalikanmu sekarang,"


Suara itu kembali muncul disaat bersamaan cahaya putih bersinar terang menghalangi pandanganku.


Ian Pov End


TBC

__ADS_1


__ADS_2