
[Keesokan harinya]
Chloe bangun lebih pagi dari pada biasanya, Hari ini festival di kampusnya akan dilaksanakan. Maka dari itu sebagai salah satu pengurus yang memasang hiasan Chloe harus bergegas ke kampusnya. Dia juga bantu-bantu disana meski pun festival baru akan dimulai jam 5 sore.
Usai memakai pakaian kasual dan menguncir rambutnya ponytail, Chloe bergegas memakai jaket dan ranselnya tak lupa dia juga menambahkan pita kupu-kupu pemberian Ezra di kunciran rambutnya, Entah mengapa Chloe jadi menyukai pita itu sejak Ezra memberikan padanya.
Setelah merasa siap, Si gadis buru-buru pergi keluar kamarnya tak lupa menutup itu dan bergegas menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
Tap! Tap! Tap!
*****************
Sesampainya di dapur ruangannya begitu sunyi dan senyap, Hanya ada Leon dan Leo yang baru mulai masak. Keduanya tampak sibuk dengan tugas masing-masing, Chloe buru-buru meletakkan ranselnya di kursi. Sejujurnya masih ada 1 jam lagi sebelum sarapan pagi bersama, Namun Chloe yang sudah buru-buru memutuskan untuk membantu Leo dan Leon.
"Kak Leo, Kak Leon. Masak apa?" Tanya Chloe usai mendekati keduanya sambil memperhatikan bahan-bahan yang akan dimasak.
"Telur gulung dan Miso," Jawab Leo singkat tanpa menoleh.
"Chloe bantu ya?"
"Gak usah! Nanti yang ada dapurnya berantakan," Sindir Leon jutek masih mengerjakan aktivitasnya yang mengaduk telur sebelum menambahkan penyedap rasa.
"Ya udah, Chloe bantu potong sayurnya aja gimana?" Chloe tak menyerah masih menawarkan bantuan.
TAK!
"Dibilangin gak usah! Dengar gak sih?!" Leo mengernyitkan alisnya, Menghentakan pisau di tangannya ke meja karna merasa kesal aktivitasnya terganggu.
"Aku cuma nawarin bantuan lho, Lagian kalau dikerjakan bertiga lebih cepat. Lihat, Setengah jam lagi mau sarapan pagi sedangkan Kak Leo dan Kak Leon baru mau mulai masak," Bela Chloe sambil menunjuk jam dinding di sudut ruangan, Keningnya agak mengerut karna tawaran bantuan darinya ditolak mentah-mentah.
"Tetap gak usah! Kamu duduk aja sana! Jangan ganggu pekerjaan kami!" Leon dengan kesal menunjuk meja makan, Dia pikir tanpa bantuan Chloe dirinya dan Leo bisa memasak tepat waktu sebelum sarapan pagi dimulai. Lagipula ia tak suka jika Chloe mulai mengganggu mereka.
Chloe hanya bisa pasrah, Dia mengangkat kedua pundaknya acuh. Ya sudah kalau mereka menolak bantuannya, Bukan Chloe juga yang rugi. Malah dirinya bisa santai-santai sambil menunggu sarapan tiba.
Dengan langkah santai akhirnya Chloe memilih duduk di kursinya, Dia meletakkan ranselnya di lantai lalu memainkan handphone nya sembari menunggu. Beberapa menit kemudian Chloe menyimpan handphone kembali dan berinisiatif menuangkan air mineral ke beberapa gelas, Ia tahu Leo dan Leon pasti tidak akan sempat membuat jus, Teh, atau semacamnya karna masih sibuk dengan masakan masing-masing. Jadi gadis itu hanya membantu menyiapkan minuman meski hanya air mineral saja, Dia meletakkan gelas yang sudah diisi sebelumnya di setiap sisi meja.
Usai melakukan tugasnya, Chloe kembali bersantai. Menunggu kedatangan para Michelle lain sekaligus menunggu masakannya matang.
Beberapa menit kemudian satu persatu para Michelle brother berdatangan, Mereka mengambil tempat duduk masing-masing. Sekilas Ivy melirik kedua kakak kembarnya yang masih memasak, Kemudian beralih pada Chloe yang asyik memainkan handphonenya.
"Chloe, Sarapannya belum mateng?" Tanya Ivy memandangi Chloe yang menyimpan handphonenya.
"Belum, Soalnya tadi mereka kutawarin bantuan gak mau. Padahal biar lebih cepat, Ya udah aku bantu menyiapkan minuman saja," Kata Chloe menggidikkan kedua pundaknya acuh.
"Mereka gak mau diganggu, Makanya menolak tawaran bantuan darimu. Biarkan saja mereka begitu," Kata Al sambil memandangi si kembar.
"Yah, Nunggu lagi dong. Padahal aku udah lapar," Rengek Ivy meletakkan kepalanya ke meja dengan lesu. Chloe terkekeh kecil melihatnya.
"Sabar Ivy, Paling bentar lagi mateng kok," Azura tersenyum memandangi adiknya yang bersurai ungu potongan pendek itu.
"Chloe, Temanmu itu sudah pulang?" Tanya Rafael datar sambil mengancing lengan jasnya.
"Udah,"
"Baguslah,"
Chloe melirik kecil pada Rafael, Sepertinya pria bernetra biru safir itu merasa lega karna Ezra sudah kembali ke asrama.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Eli datang sembari duduk di kursinya, Seperti biasa gadis bersurai coklat itu memakai kacamata hitam dengan pandangan angkuhnya. Dia melepas kacamatanya dan meletakkan di meja.
"Aku dan Ray memutuskan mempercepat pernikahan kami, Jadi kalian hanya punya 3 hari lagi untuk bersiap-siap," Kata Eli tiba-tiba yang membuat semua pasang mata memandangnya kecuali Leo dan Leon.
"Lho bukannya Kak Eli dan Kak Ray yang mau nikah, Kenapa jadi kami yang diberi batas waktu?" Kata Revan mengernyit.
"Iya, Batas waktu untuk menyiapkan pakaian yang akan kalian pakai di acara pernikahan kakak nanti. Kalian akan jadi tamu VIP tau," Elizabeth membersihkan sendok dan garpu yang akan ia pakai dengan tisu.
"Terserah lah, Lagian aku masih banyak jas dan kemeja di lemariku," Kata Rafael cuek.
"Dan aku sepertinya harus membeli beberapa kemeja," Ash ikut membersihkan sendok dan garpunya.
Setelahnya ruangan itu menjadi hening usai perkataan terakhir Ash, Beberapa saat kemudian Leo dan Leon pun menyiapkan makanan yang sudah matang dan meletakkan tepat didepan Michelle lain termasuk Chloe. Mereka segera memakan sarapan masing-masing dalam diam.
*******************
[Kampus Jurusan hukum]
Chloe memasang hiasan lampu kerlap-kerlip di sekitar dinding dibantu temannya yang lain, Setelah memasang lampu Chloe juga memasang spanduk bertuliskan 'Welcome Festival bunga' di sudut ruangan kelas agar terlihat.
Usai menyelesaikan aktivitasnya, Gadis itu memandangi teman-temannya yang masih sibuk dengan tugas masing-masing. Tak lama dia menatap jam arlojinya yang menunjukkan pukul 4 sore.
"Ah, Gak kerasa udah sore aja. Aku harus jemput Ivy dulu sebelum balik lagi kesini," gumam Chloe pelan.
Dia pun mendekati salah satu teman sekelasnya, Menepuk pundaknya sesaat hingga temannya tersentak kecil dan menoleh padanya.
"Aku pergi dulu ya, Mau jemput seseorang. Nanti balik lagi kesini," Kata Chloe tanpa basa-basi.
"Oke, Jangan lama-lama. 1 jam lagi festivalnya mulai,"
Chloe pun buru-buru pergi setelah mendapat Izin.
****************
[Sekolah Ivy]
"Ivy,"
Kkkreeeiiitt!
Chloe membuka pintu dan seperti biasa melihat Ivy selalu duduk di kursinya, Sedang menggambar sesuatu di buku tulisnya. Mendengar suara Chloe, Ivy seketika menghentikan aktivitasnya sesaat lalu mendongak. Pemuda bersurai ungu potongan pendek itu bergegas menyimpan buku dan peralatan tulisnya lalu memakai ransel sembari mendekati Chloe.
"Aku sudah siap pulang," Kata Ivy semangat membuat Chloe tersenyum tipis.
"Ya udah, Ayo," Ajak Chloe menutup pintu setelah Ivy keluar kelas.
Dia dan Ivy berjalan menuruni anak tangga sampai lantai dasar dan melewati taman sekolah.
Saat mereka berjalan di halaman depan menuju gerbang sekolah, Tiba-tiba Ivy menarik ujung jaketnya pelan. Meski begitu dia dan Ivy tidak menghentikan langkah.
"Ada apa Ivy?"
"Aku rasanya jadi ingin makan ramen, Kita mampir ke toko ramen sebentar ya,"
"Okelah, Aku tahu toko ramen didekat sini. Mau coba?"
"Boleh,"
__ADS_1
Chloe mengangguk kecil, Dia sedikit mempercepat langkahnya agat cepat sampai.
****************
Mereka hampir sampai di toko ramen yang mereka tuju, Namun sayangnya Chloe dan Ivy melihat kericuhan yang terjadi di toko ramen itu. Para pelanggan tampak berteriak dan berlarian keluar toko ramen, Bahkan tak sedikit yang Chloe lihat barang-barang di toko ramen itu terlihat hancur dan berantakan. Kacanya pun pecah.
Ivy seketika memegangi lengan Chloe dan sedikit merapat, Dirinya memandangi toko ramen itu dengan takut.
"Chloe lebih baik kita cari toko ramen yang lain saja, Toko itu sedang dirampok. Aku tidak ingin kita terlibat juga nanti kalau kesana," Kata Ivy menatap memelas.
"Iya, Lebih baik kita buru-buru pergi dari sini," Sejujurnya Chloe juga merasa was-was, Dia menggenggam tangan Ivy dan berbalik. Namun baru saja ingin melangkah, Sosok asing berjubah hitam sudah berada di belakangnya. Sosok asing itu menggenggam sebuah pisau dan pisau itu tertodong tepat di depan wajahnya.
Hampir saja, Jika Chloe melangkah sedikit saja kemungkinan pisau itu akan menusuk wajahnya. Sang gadis menelan selivanya kasar, Saat tatapan menusuk sosok itu tertuju padanya.
"Ada saksi mata ya. Kau harus memilih, Pilih mati ditanganku atau bola matamu itu kucongkel? Sepertinya lebih menarik jika bola mata indahmu itu kucongkel dan kujadikan koleksiku," Sosok itu menyerigai seram, Pisau itu masih tertodong. Dan Ivy disampingnya gemetar takut.
"Bisa kau lepaskan kami, Kami janji akan tutup mulut," Kata Chloe tenang berusaha menutupi ketakutannya.
"Gak mau~, Memangnya kau pikir bisa lepas semudah itu," Sosok berjubah hitam di depannya masih menyerigai, Dia menarik pisaunya dan langsung menyerang Chloe.
Chloe kaget dan refleks menarik Ivy mundur, Dia langsung menghindar ketika pisau itu hampir mengenainya. Sang gadis langsung menendang perut sosok itu kencang hingga melangkah mundur beberapa meter.
DUK!
"Ivy! Tetap dibelakangku!" Chloe bersiaga, Merentangkan satu tangannya melindungi Ivy. Ia menatap waspada sosok di depan mereka.
"I-Iya," Ivy di belakang Chloe hanya bisa pasrah namun juga merasa takut.
Sosok itu kembali menyerang, Chloe yang sudah mengambil sebuah pipa besi dengan ujung yang runcing didekatnya ikut menyerang.
SRAT!
BUAK!
SRING!
CCRRAASS!
Chloe berhasil memukul kepala sosok itu hingga penutup kepala dan topengnya terlepas, Namun Chloe mendapat goresan kecil di lengannya akibat pisau dari sosok itu. Sayangnya Chloe juga tak sengaja membuat lengan sosok itu tergores bahkan goresannya lebih besar dan lebar hingga membuat darah segar terus mengalir dari luka itu.
Sosok tersebut menutupi separuh wajahnya dengan tangannya yang terluka, Bukannya merasa kesakitan atau perih, Sosok itu malah tertawa kencang dengan netra merahnya yang seakan menyala.
"HAHAHA! HEBAT! HEBAT SEKALI! AKU TIDAK PERNAH SESEMANGAT INI SEBELUMNYA!"
Chloe sedikit menyipitkan matanya, Entah mengapa dia merasa familiar dengan wajah dan suara itu. Dia kembali bersikap waspada, Setelah sosok itu menurunkan tangannya. Memperlihatkan rupa wajahnya secara jelas.
Seketika Chloe menatap kaget, Tatapan tak percaya dia berikan pada sosok didepannya. Genggaman pada pipa besi ditangannya menguat.
"Kau....Pak Justin?!" Kata Chloe dengan nada sedikit gemetar karna kaget.
Sosok didepannya kembali menunjukkan seringai. "Kita bertemu lagi nona kecil,"
"Dan panggil aku Victor, Justin yang asli...Sudah mati menyatu denganku," Victor tersenyum miring.
"......Vi-Victor?!"
TBC
__ADS_1