System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Dilema (2)


__ADS_3

"Sekian pertemuan hari ini. Terima kasih atas kedatangan kalian, Saya merasa terhormat bisa bertemu kalian secara langsung untuk pertama kalinya," Ezra membungkukkan tubuhnya sedikit sambil tersenyum tipis, Memandang satu persatu para koleganya.


Suara riuh tepuk tangan menggema di ruangan itu, Salah satu kolega Ezra membuka suaranya. "Tidak, Seharusnya kami yang berterima kasih atas kontribusi yang Pak Ezra berikan pada kami. Dengan begitu kerja sama kita akan terus berlanjut dan berkembang,"


"Benar," Celetuk kolega lainnya dengan senyum sumringah. "Justru kami merasa kagum dengan ide yang bapak berikan, Ide itu akan semakin membuat saham-saham kita semakin untung,"


Ezra hanya tersenyum tipis menanggapinya. "Saya hanya meneruskan kerja sama Ceo sebelumnya dengan kalian dan menjaga kepercayaannya, Sekali lagi terima kasih masih terus bekerja sama dengan kami,"


"Tidak apa, Kami memakluminya. Terima kasih juga, Kalau begitu kami undur diri Pak Ezra,"


"Silakan,"


Satu-Persatu para kolega Ezra berjalan pergi dari ruangan meninggalkan Ezra disana, Kemudian Ezra membereskan map-map dokumen dan laptop miliknya yang dia pakai untuk presentasi tadi tanpa menyadari masih ada salah satu koleganya yang belum meninggalkan ruangan.


Wanita itu mendekati meja yang dipakai untuk presentasi dimana Ezra berada, Dia membenarkan letak kacamata hitamnya sesaat.


"Tuan Miracle, Bisa bicara sebentar?"


Mendengar suara asing didekatnya membuat Ezra mendongak, Menatap wanita asing yang kini sudah berdiri dihadapannya dengan pandangan angkuh.


Satu-satunya wanita diantara para koleganya hanyalah wanita ini yang setia dengan penampilan kacamata hitamnya, Kesan pertama yang dilihat Ezra dari wanita ini adalah tatapan angkuhnya seolah sedang menyombongkan diri.


"Ada apa Nona Michelle?" Balas Ezra dingin, Tidak ada senyum yang tertampang di wajahnya saat berhadapan dengan wanita ini.


"Aku ingin bertanya beberapa hal, Ini tentang OG baru itu,"


"OG baru?" Ulang Ezra mengerutkan keningnya. "Aku tidak tahu OG baru mana yang kau maksud, Tapi banyak OG yang bekerja di perusahaanku,"


"Yah, Aku tidak tahu dia termasuk baru atau tidak. Kutebak dia baru bekerja beberapa bulan disini anggap saja hampir setahun. Aku sering melihatnya berkeliaran di sekitar kantor akhir-akhir ini setelah kunjungan terakhirku,"


Ezra menghembuskan napas pelan, Dia mengalihkan pandangannya berusaha sabar menghadapi kolega dihadapannya. "Nona Michelle, Sudah kubilang banyak OG yang bekerja di perusahaanku. Jadi aku mana tau OG mana yang kau maksud, Lagipula mereka semua selalu berkeliaran di sekitar kantor. Bukan hanya satu,"


Nona Michelle berdecak sebal, Dia bersidekap dengan ekspresi seriusnya. "Baiklah, Intinya OG yang kumaksud adalah Chloe Amberly. Dia bekerja disini kan? Jika benar, Panggilkan dia! Aku ingin bertemu dengannya,"


Sontak Ezra menoleh cepat, Ia agak terkejut namun kembali mengekspresikan wajah datarnya. Bersikap tenang sembari memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. "Dia memang bekerja disini, Tapi sebelumnya kau harus memberitahuku alasan kenapa kau ingin bertemu dengannya?!"


"Huh?! Buat apa? Ini urusan antara aku dan dia. Kau tidak perlu tahu!"


"Dia pegawaiku dan aku berhak tahu! Aku tidak akan memperbolehkan orang luar menemui pagawaiku tanpa alasan yang jelas!"


"Benar-benar keras kepala, Kau persis seperti pria itu (Justin)," Nona Michelle kembali berdecak sebal. "Kuberitahu saja ya, Dia itu punya hutang padaku. Dia sendiri yang bilang ingin balas budi karna aku sudah menolongnya, Jadi sekarang aku ingin menagih hutang itu,"


"Apa yang sudah kau perbuat padanya sampai-sampai dia ingin balas budi padamu?" Perasaan gelisah Ezra kembali muncul, Ketakutan yang dia takuti akhirnya terjadi juga.


"Aku mendonorkan darahku padanya, Karna kulihat dia terluka sangat parah dan hampir diambang kematian. Aku ingat saat aku mendonorkan darah, Dia terlihat seperti bocah SMA biasa yang kerjaannya hanya jadi pembuat masalah tapi saat itu entah kenapa firasatku mengatakan akan bertemu lagi dengannya. Dan terbukti sekarang,"


"Jadi bisakah kau panggil dia? Aku ingin cepat bertemu dengannya," Tambah Nona Michelle sambil membenarkan letak kacamatanya yang hampir merosot jatuh.


Ezra diam sejenak memproses cerita Nona Michelle, Sesaat pandangannya berubah murung lalu kembali menatap nona Michelle tajam sambil berseru.


"Tidak! Aku tidak percaya dengan ceritamu. Kau pasti hanya mengada-ngada agar bisa bertemu dengannya!" Tuding Ezra.


Nona Michelle menggeram kesal karna Ezra berpikir ceritanya hanya bualan semata, Padahal dirinya sudah menceritakan dengan jujur.


"Baik! Jika kau tak percaya. Aku akan membawa bukti pendonoran darah itu dari rumah sakit! Tunggu saja!"


Dengan kesal selesai mengatakan kalimatnya, Nona Michelle langsung melengos pergi tanpa menunggu jawaban Ezra. Dia bertekad membawa bukti itu kehadapan Ezra agar Ezra percaya dan bisa menemui Chloe untuk menagih janjinya.


Sedangkan Ezra setelah ditinggal Nona Michelle, Dia terdiam beberapa detik lalu bergegas membereskan laptop dan dokumennya. Setelahnya buru-buru pergi dari ruangan untuk menemui Chloe diluar.


****************


Wuuusshh!


Semilir angin berhembus melewati celah-celah jendela memasuki ruangan yang tampak sepi. Setelah kejadian pertikaian antara Ezra dan Chloe, Ezra memilih berdiam diri sambil menatap bingkai jendela dengan pandangan kosong.


Aura suram begitu kental terasa dari dalam dirinya, Jika ada orang yang mendekatinya maka orang itu mungkin akan berpikir dua kali sebelum berani mendekati Ezra. Suasana hatinya pun sangat buruk, Bahkan lebih buruk dari kemarin.


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan bergema memenuhi ruangannya, Namun Ezra tak bergeming sedikit pun meski sekedar menoleh pun tidak.


Merasa tidak ada jawaban, Pintu perlahan terbuka memperlihatkan seorang wanita muda dengan kacamata hitamnya. Ia berjalan angkuh mendekati meja Ezra, Ditangannya menggenggam sebuah map berwarna coklat.


Sesampainya dihadapan sang pemuda, Wanita itu terdiam sejenak merasa hawa diruangan itu begitu suram.


"Kenapa rasanya ruangan ini tiba-tiba jadi pengap ya? Aku hampir gak bisa napas," Pikir wanita itu bingung, Walau dirinya sudah berada di dekat Ezra. Ezra sama sekali tidak menoleh padanya sedikit pun, Wanitu itu memperhatikan tatapan Ezra yang terus menatap bingkai jendela dengan pandangan kosong.


"Ada apa dengannya? Ekspresinya kayak seseorang habis putus cinta," Sang wanita kembali fokus pada tujuan, Menepis rasa penasarannya pada sikap sang pemuda.


Sejenak wanita itu berdehem lalu meletakkan map yang dipegangnya tadi.

__ADS_1


SRAK!


"Ini bukti yang kau inginkan!" Kata Wanita itu angkuh sambil bersidekap, Dia melanjutkan perkataannya. "Sekarang dimana OG itu?"


"Aku tidak tau!" Balas Ezra ketus tanpa menoleh, Menghiraukan keberadaan wanita tersebut diruangannya.


"Apa?! Kau Ceo nya kan? Masa minta panggilkan dia saja kau tidak bisa?!" Sang wanita menggeram marah, Menggebrak meja Ezra namun Ezra masih mengacuhkan sikapnya.


"Kau pikir aku punya waktu untuk menghafal setiap nama dari para pegawaiku?!" Ezra melirik sinis.


"Kalau begitu cari namanya di laptopmu! Pasti datanya tersimpan disana! Gitu doang apa susahnya sih?!"


"Cari saja sendiri!"


Kesabaran sang wanita mulai habis, Wajahnya merah padam menahan amarah. "Oke, Aku akan mencari nya sendiri! Tapi jangan harap perusahaan kita akan saling bekerja sama lagi!" ancam sang wanita, Memukul meja Ezra untuk melampiaskan amarahnya.


BRAK!


Dia menghentak-hentakkan sepatu hak nya lalu melangkah pergi dengan marah. Sedangkan Ezra terdiam sejenak, Tatapannya masih fokus pada bingkai jendela lalu tak lama suaranya kembali terdengar.


"Cari di ruangan staff khusus OG,"


Langkah sang wanita terhenti sesaat lalu kembali melangkah meninggalkan sang pemuda sendirian.


Tap! Tap! Tap!


Blam!


Ezra tidak tahu apakah Chloe benar-benar ada diruangan staff atau tidak, Dia masa bodo dengan gadis itu sekarang. Perlahan Ezra melirik map yang diletakkan wanita tadi, Lalu mengambilnya sambil membaca sebuah kertas yang menunjukkan rekam pendonoran darah dari pihak rumah sakit.


Tangannya memegang erat kertas itu hingga tak sadar hampir meremukkannya hingga tak terbentuk. Wanita tadi tidak berbohong soal pendonoran darah itu, Dan bodohnya dia malah membuat Chloe terluka dengan perkataannya. Hanya karna tidak ingin gadis itu meninggalkannya, Padahal belum pasti apa yang akan diminta Nona Michelle pada Chloe.


"Dia...Tidak berbohong, Golongan darah mereka sama," Gumam Ezra lirih, Netra hijaunya kembali meredup sendu.


Selama beberapa menit Ezra diam dalam keheningan, Hingga suara yang familiar di telinganya bergema di ruangan itu.


"Jadi kau memutuskan untuk melepaskannya ya Ezra?"


Ezra sontak mendongak, Netra hijaunya membulat kaget saat melihat sosok Justin berdiri dihadapannya dengan senyum tipis. Ezra tercengang merasa tak mempercayai penglihatannya, Meragukan apakah sosok dihadapannya ini nyata atau tidak.


"Tuan Justin...Kau..." Suara Ezra tercekat, Seakan sulit baginya untuk merangkai kata-kata selanjutnya.


Suara Justin semakin samar, Ezra mengerjapkan matanya sambil mengusap wajah untuk memastikan penglihatannya sekali lagi. Saat ia mengembalikan fokusnya, Sosok Justin sudah menghilang bagai ditelan bumi.


"Ilusi?" Ezra kembali mengerjap lalu mendesah lirih, Dia membaringkan kepalanya di meja menjadikan lengannya sebagai bantal. Mungkin dirinya masih perlu istirahat lebih lama lagi, Terlepas dari tekanan batin dan mental yang dia rasakan. Belum lagi perasaan nya yang seperti permen nano-nano.


Perlahan kelopak matanya terpejam, Menikmati belaian angin yang membuatnya masuk ke dalam dunia mimpi.


***************


[Ruangan Staff]


"Hiks...Hiks...Pak Ezra jahat! Padahal aku gak ngelakuin kesalahan apapun!" Chloe terisak dalam sebuah toilet, Air matanya terus mengalir tanpa henti meski Chloe berusaha menyekanya berkali-kali.


Tidak sekali Ezra membuatnya menangis begini, Tapi kali ini Ezra benar-benar keterlaluan yang membuat Chloe sakit hati. Susah payah dia mendapat pekerjaan ini tapi malah dipecat begitu saja seenak jidat, Kan ga'ada akhlak!


Setelah menangis bermenit-menit dalam toilet, Chloe mulai tenang. Sesekali dia menepuk dadanya pelan berupaya mengurangi sesegukan yang masih tersisa. Wajahnya pasti sangat berantakan, Apalagi matanya yang sembab sehabis menangis akan mudah terlihat orang lain.


Chloe tidak bisa keluar begitu saja dengan penampilan yang berantakan, Sang gadis mengambil tisu yang tersedia. Dia mengusap wajahnya dengan tisu itu lalu membuangnya ke tempat sampah.


KKRREEIITT!


Perlahan Chloe keluar dari toilet, Dia menuju wastafel lalu membasuh wajahnya disana, Setidaknya untuk menghilangkan jejak sehabis menangis. Setelah mengeringkan wajah dengan tisu, Tak lupa Chloe merapikan rambut serta pakaiannya.


Dia akhirnya keluar dari sana, Namun dikejutkan dengan kehadiran sosok Gracia dan wanita asing disampingnya Gracia. Mereka terlihat membicarakan sesuatu mungkin sekedar basa-basi. Sikap Gracia yang supel dan mudah berteman pasti membuat dia dan wanita asing itu cepat akrab.


"Kak Gracia," Chloe mendekati keduanya dengan ragu, Takut mengganggu obrolan mereka.


Merasa terpanggil Gracia menghentikan obrolannya, Ia dan wanita asing itu menoleh sama-sama memandang Chloe. Tak lama Gracia tersenyum lebar.


"Eh,Chloe. Akhirnya keluar juga, Lama amat di toilet,"


"Hehehe, Ano...Tadi sakit perut makanya agak lama," Bohong Chloe tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk.


"Oh pantesan," Gracia kemudian memperkenalkan wanita disampingnya. "Eh, Kenalin ini Nona Michelle. Dia dari tadi mencarimu, Karna gak sengaja bertemu denganku jadi kuanterin aja kesini,"


"Lho? Nona Michelle, Ngapain dia kesini?!" Chloe agak tersentak saat memandang Nona Michelle yang tersenyum tipis padanya, Keringat dingin tanpa sadar mengalir di keningnya.


"Chloe Amberly kan?" Tanya Nona Michelle.


"I-Iya..."

__ADS_1


"Bisa minta waktunya sebentar?"


"Bisa Nona Michelle," Toh setelah ini Chloe gak kerja lagi, Jadi dia punya banyak waktu luang meladeni Nona Michelle.


Merasa tak ingin mengganggu obrolan yang menurut Gracia penting, Gracia lantas meranjak dari sana.


"Eh, Chloe. Aku kerja lagi ya, Nanti di marahin senior," Gracia cecengesan sesaat.


"Iya kak, Nanti aku nyusul,"


"Oke,"


Gracia pun bergegas pergi dari sana meninggalkan Chloe dan Nona Michelle berdua. Setelah kepergian Gracia, Chloe mendudukkan diri berhadapan dengan Nona Michelle.


"Nona kesini pasti ingin menagih janji itu kan," Mulai Chloe membuka obrolan setelah mereka hening beberapa detik. "Jadi apa yang nona Michelle inginkan?"


Senyum manis perlahan terpatri di bibir nona Michelle, Dia menautkan jari-jarinya. "Sejujurnya permintaanku sangat mudah, Aku hanya ingin kau ikut bersamaku dan tinggal denganku. Soal kenyamanan dan lainnya sudah tersedia disana, Jadi bagaimana?"


Chloe terkejut, Memastikan pendengaran berfungsi dengan baik. Apa dia tidak salah dengar tadi? Memintanya tinggal dengan Nona Michelle?!


"Hanya itu?!" Tanya Chloe tak percaya.


"Oh tentu saja tidak, Sejujurnya ada pekerjaan khusus untukmu disana. Aku akan membayarmu jadi tenang saja,"


"Apa aku akan jadi pelayan?"


"Tidak, lebih dari pelayan. Pekerjaan ini special untukmu,"


"Heh?" Chloe memiringkan kepalanya sedikit, Merasa bingung pekerjaan apa yang dikatakan special oleh Nona Michelle.


Paham akan kebingungan Chloe, Nona Michelle hanya tersenyum misterius lalu dia mengambil sesuatu dalam tas selempangnya. Sebuah kartu disodorkan padanya dengan tulisan yang tertera disana.


"Datang ke alamat ini besok, Jika kau datang maka kuanggap balas budimu sudah terbayar,"


Chloe meraih kartu yang disodorkan padanya, Membaca setiap baris kalimat dengan teliti.


...Alamat: Jl.Golden Flower No.xx...


...Family: Michelle's Family...


"Apa anda serius menawarkan pekerjaan ini pada saya?" Entah keajaiban atau hoki, Chloe langsung mendapat pekerjaan secara tiba-tiba padahal baru saja dirinya didepak oleh Ezra dari perusahaan. Mungkin ini sebuah keberuntungan baginya.


"Ya, Tentu saja saya serius,"


Netra biru Chloe seketika berbinar senang, Dia mengangguk cepat tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Baiklah, Saya pastikan besok akan datang secepatnya,"


Nona Michelle kembali tersenyum, Dari matanya dia memperhatikan setiap sudut penampilan Chloe sampai akhirnya netra miliknya tak sengaja menangkap sebuah kalung dengan liontin berlogo C.M yang terpasang di leher Chloe. Tatapannya terpaku pada kalung itu.


"Tentu, Kalau boleh tahu kalung itu beli dimana?"


Chloe menatap Nona Michelle sesaat lalu menyentuh liontin kalungnya. Sembari tersenyum lebar. "Oh, Kalung ini ya. Saya gak beli, Tapi dikasih sama ibu saya. Warisan soalnya,"


"Oh gitu, Saya kira beli. Soalnya terlihat bagus kalungnya," Nona Michelle kembali tersenyum misterius.


"Hehehe makasih,"


"Kalau dijual harganya berapa kira-kira?"


"Eh, Maaf nona Michelle. Tapi kalung ini gak saya jual, Ini berharga bagi saya,"


"Begitu ya," Nona Michelle terdiam sejenak, Senyum di wajahnya luntur seketika. Lalu ia berkata lirih sampai Chloe tidak bisa mendengarnya. "Kamu menjaga kalung warisan itu dan menyimpannya dengan baik,"


"Nona Michelle, Anda mengatakan sesuatu?"


"Ah tidak, Saya berpikir harus pulang sekarang. Masih banyak pekerjaan yang menunggu," Nona Michelle meranjak dari tempat duduknya diikuti Chloe, Lalu Chloe membungkuk sedikit.


"Terima kasih atas pekerjaan yang anda tawarkan,"


"Sama-sama senang bisa mengobrol dengan anda agak lama. Saya pamit pergi,"


"Iya, Hati-hati dijalan Nona Michelle,"


Nona Michelle hanya tersenyum tipis menanggapinya lalu melangkah keluar dari ruang Staff.


Blam!


Chloe segera menyimpan kartu itu dalam ranselnya lalu buru-buru menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, Setidaknya dia harus tetap profesional di hari terakhirnya bekerja di perusahaan ini sampai jam kerja berakhir.


TBC

__ADS_1


__ADS_2