
[Keesokan harinya]
Terkadang setiap manusia pasti memiliki cobaan hidup, Tidak pandang bulu anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa. Termasuk Chloe Watson, Gadis yang sudah lama ini tinggal di dimensi ini atau lebih sering disebut dunia paralel. Chloe tidak berpikir untuk terus hidup di dunia ini namun tekadnya untuk terus berusaha menyelesaikan misi serta keinginan bertemu keluarga aslinya membuat Chloe terus berusaha agar dirinya bisa kembali ketubuh aslinya.
Tapi tentu saja semua usaha itu tidak mudah karna dia harus menghadapi semua cobaan yang datang padanya seperti saat ini.
BRAK!
"Apa-apaan ini?! Chloe, Aku sudah bilang jangan biarkan mereka menganggu Ivy! Kenapa kau tidak bisa datang tepat waktu sama sekali?!"
Suara bentakkan Revan menggema memenuhi penjuru ruangan, Dia menggebrak meja didepannya marah. Sedangkan Ivy disamping Revan hanya menunduk muram.
Chloe menghembuskan napas sesaat. "Maaf kak Revan, Tapi saat aku menjemputnya dia sudah seperti itu. Aku tidak tahu kalau dia dibully sebelum aku datang,"
"Ya seharusnya kau usahakan datang secepatnya! Aku tidak mau tahu, Kalau besok kau terlambat lagi. Aku benar-benar akan membuatmu menderita!" Revan menatap nyalang, Netra hijaunya berkilat marah.
Chloe tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya, Menahan rasa kesal yang akan memuncak. Kedatangan Ash yang tiba-tiba ke ruang dapur membuat suasana semakin tegang.
"Revan!" Kata Ash nyaring dengan ekspresi seriusnya. "Ada apa denganmu?! Chloe itu baru bekerja disini sehari, Dia bilang kan Ivy sudah dibully sebelum dia datang. Kenapa kau jadi menyalahkannya?!"
"Jangan ikut campur Ash! Aku begini demi keselamatan Ivy! Kalau kerjanya sehari saja tidak becus, Untuk apa dia dipekerjakan disini! Hanya menyusahkan keluarga kita tahu!"
"REVAN! Jaga ucapanmu!" Nada suara Ash meninggi, Dirinya tersulut emosi ketika Revan menatap tajam dirinya. "Kak Eli lah yang mempekerjakan Chloe disini! Kalau kau tidak terima, Protes saja padanya. Kau sama saja seperti paman Zoe, Sama-sama muka dua!"
Deg!
Raut wajah Revan berubah terkejut, Netra hijaunya membulat sempurna. Tak lama ekspresinya berubah muram dengan gigi yang bergemeletuk marah. Kedua tangannya terkepal erat, Sebelum akhirnya memberikan bogem mentah secara tiba-tiba pada Ash.
BUAK!
"Jangan pernah kau menghina ayahku, Dasar Bre****k!"
Ash terdorong mundur saat mendapat pukulan tiba-tiba dari Revan. Ivy dan Chloe yang melihat kejadian itu terkejut panik.
"Kak Ash!" Seru Chloe.
"Kak Revan, Hentikan!" Seru Ivy mencoba menarik Revan menjauhi Ash.
Revan tidak mendengarkan ucapan Ivy, Dia menyentak tangannya dari genggaman adiknya itu dan kembali memukul Ash.
BUAK!
"Aku muak denganmu Ash! Justru kau lah yang bermuka dua!" Revan yang dikuasai amarah mencengkeram kerah pakaian Ash erat, Dia kembali memukul Ash.
BUAK!
Ash hanya membiarkan Revan memukulnya tanpa membalas ataupun menjauhinya balik. Disaat yang bersamaan Azura dan Rafael serta Al yang mendengar suara perkelahian itu bergegas menuju dapur dan melihat Revan yang memukul Ash secara bertubi-tubi.
"Revan! Berhenti!" Rafael bergegas menuju Revan dan memeluk adiknya itu hingga menariknya menjauhi Ash. Begitu pun dengan Azura, yang langsung menarik Ash guna melerai perkelahian keduanya.
"Kalian berdua kenapa sih?! Kenapa malah berkelahi begini?" Seru Al yang kesal ditambah penasaran kenapa kedua saudaranya bisa berkelahi.
"Ash! Dia membela Chloe! Jelas-jelas Chloe yang salah karna membiarkan pembully itu menyakiti Ivy!" Kata Revan emosi.
"Aku tidak membelanya! Itu kenyataan karna dia disini kan atas perintah Kak Eli," Bela Ash balik, Mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Wajahnya kini dipenuhi lebam biru akibat pukulan dari Revan.
"Apa kalian berkelahi gara-gara Chloe? Apa hanya karena dia telat menolong Ivy kalian jadi begini?" Rafael mengerutkan keningnya, Melirik Chloe yang diam membisu.
"Itu kenyataannya, Dia bahkan tidak becus dalam bekerja!" Revan mendelik, Kini tatapannya beralih menatap tajam Chloe.
"Aku tidak ingin memperkeruh suasana, Tapi kalau dia tidak becus dalam bekerja. Kenapa Chloe harus bekerja di perusahaannya Direktur? Bukannya menjadi OG juga ada tantangnya?" Jelas Al sembari ikut menoleh pada sang gadis.
Revan terdiam seketika, Mulutnya terkunci rapat tanpa ingin mejawab pertanyaan Al. Sedangkan Chloe hanya diam tertunduk.
Ivy sejak tadi diam mulai membuka suaranya dengan ekspresi merasa bersalah. "Jangan salahkan Chloe, Aku yang salah karna tidak melawan mereka,"
Mendengar suara Ivy semua pandangan tertuju padanya termasuk Chloe yang memilih diam. Kemudian Ivy menunduk kecil.
"Aku minta maaf, Tapi tolong jangan salahkan Chloe. Dia sudah membantuku membersihkan mejaku, Bahkan Chloe juga membersihkan rambutku dari serat potongan penghapus. Dia juga membantu membawa tasku,"
Ivy menatap Chloe disampingnya lalu menggenggam tangan gadis bersurai biru itu masih dengan ekspresi merasa bersalah. "Chloe, Aku minta maaf. Andai aku bisa melawan mereka sendiri, Kau tidak akan dimarahi Kak Revan,"
Melihat ketulusan permintaan maaf dari Ivy sekaligus wajah imut gadis bersurai ungu potongan pendek itu membuat Chloe teringat dengan adik kembarnya di dunia asli. Tangannya terangkat mengusap surai milik gadis itu dengan gemas.
__ADS_1
"Tidak apa Ivy, Aku sudah biasa mendapat bentakkan kayak gitu. Lagipula ini bukan pertama kalinya Kak Revan memarahiku," Chloe tertawa pelan.
Sedangkan Revan yang mendengarnya berdecih kesal, Sebelum akhirnya dia menyadari Rafael masih memeluknya dengan pandangan menatap interaksi antara Ivy dan Chloe.
"Kak Rafael, Sedang apa kau memelukku?" Kata Revan yang merasa terganggu.
Mendengar suara Revan otomatis membuat Rafael tersadar, Ia lantas menoleh menatap Revan dan refleks melepas pelukannya sekaligus mendorong Revan menjauh sedikit darinya.
"Ih najis!" Kata Rafael sontak bergidik jijik sekaligus menjauh dari Revan, Sedangkan Revan ikut bergidik sembari mengusap pakaiannya, Berusaha menghilangkan bekas pelukan Rafael yang mungkin menempel di pakaiannya.
"Apa sih, Biasa aja dong!" Sahut Al datar melihat sikap Revan dan Rafael yang masih bergidik jijik.
"Hm...Padahal saudara sendiri," Kata Azura sedangkan Ash hanya tertawa pelan.
Tak lama datang Leo dan Leon yang berniat membuat makan siang dikejutkan dengan berkumpulnya semua anggota keluarga Michelle yang berada di dapur. Keduanya saling pandang sebelum membuka suara.
"Kenapa kalian semua berkumpul disini? Apa kami melewatkan sesuatu?" Tanya Leon dengan pandangan heran.
"Ah, Tidak. Hanya masalah kecil, Sekarang sudah selesai," Jawab Azura tersenyum ramah seperti biasa.
Leo dan Leon mengangguk mengerti, Tak lama keduanya melihat interaksi antara Ivy dan Chloe.
Selesai dengan percakapan mereka, Chloe menjauhkan tangannya dari Ivy lalu memandang balik para Michelle brother. Senyum tipis terpatri di bibirnya.
"Oh, Ya. Apa kalian melihat Nona Michelle?"
"Dia ada dikamarnya di lantai 2, Langsung kesana saja jika ingin bertemu dengannya," Balas Rafael sambil mendudukkan dirinya di kursi.
Chloe menggangguk pelan sambil membungkuk kecil pada semua Michelle brother yang berkumpul. "Terima kasih, Aku permisi,"
Gadis itu bergegas keluar ruangan untuk bertemu Eli di lantai atas.
Setelah kepergian Chloe. Leo dan Leon mulai mengerjakan tugas mereka, Lalu Rafael dan Al memutuskan untuk duduk sembari menunggu makan siang mereka datang, Sedangkan Azura mengobati lebam Ash yang didapat dari pukulan Revan.
Revan selaku kakak ke-3 dari Ivy mendekati gadis bersurai ungu potongan pendek itu, Tanpa aba-aba Revan segera menarik adiknya sedikit jauh dari para saudaranya yang lain agar mereka tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Ivy.
Ivy hanya pasrah saat Revan menariknya, Mereka berhenti didekat lemari piring. Kemudian Revan berbisik pelan pada Ivy.
"Ivy, Jangan mudah percaya pada Chloe sedikit pun. Dia bisa saja hanya berakting baik didepanmu, Kalau dibelakangmu dia pasti diam-diam merencanakan sesuatu untuk mencelakakanmu," Kata Revan serius, Dia mencengkeram pundak Ivy erat membuat Ivy sedikit meringis.
"Jangan percaya dengan tampangnya! Kamu ingat kan terakhir kali apa yang terjadi padamu saat dijaga bodyguard dulu?! Dia bisa saja seperti bodyguard itu!" Desis Revan menekan setiap kata-katanya.
Pandangan Ivy merubah takut, Dia menunduk tanpa memandang Revan lagi. "I-Iya kak, Aku paham,"
"Kau harus hati-hati dengannya. Oke?"
"Iya, Aku akan hati-hati," Ivy mengangguk takut.
"Bagus! Ayo kembali," Revan mengacak kecil surai ungu milik adiknya, Sebelum menarik Ivy kembali ketempat para saudaranya berada.
**************
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah!"
Cklek!
Chloe memutar kenop pintu, Menyembulkan kepalanya memastikan apakah Elizabeth berada didalam atau tidak. Dia kembali menutup pintu setelah menemukan Elizabeth yang tampak sibuk dengan laptopnya.
Blam!
"Apa aku mengganggu Nona Michelle?" Chloe mendekati Elizabeth dan berdiri disampingnya.
"Tidak, Ada apa kesini?" Balas Elizabeth tanpa menoleh, Tak lama dia menutup layar laptopnya. "Duduklah!"
Mendengar Izin dari Eli, Chloe langsung duduk didekat gadis bersurai coklat itu. Dia sedikit menjaga jarak.
"Aku ingin tahu, Kenapa kalian segitu protektif nya pada Ivy. Apakah dia selemah itu?" Chloe menyadari saat perkelahian antara Revan dan Ash terjadi, Disana Revan mengatakan bahwa dia begitu demi kebaikan Ivy. Artinya mereka semua menyayangi Ivy, Hanya saja keprotektifan mereka membuat Ivy terlihat seperti dikekang.
Eli memandang diam sejenak, Sebelum membuka suara. "Kamu ternyata memperhatikan dengan cermat ya,"
"Maksudnya?" Chloe memiringkan kepalanya kesamping dengan satu alis terangkat, Memandang penuh tanya.
__ADS_1
Eli mengalihkan pandangannya menatap bingkai jendela sembari bertopang dagu. "Kami memang agak protektif pada Ivy, Tapi tidak semuanya. Hanya Revan, Azura, dan aku. Sedangkan sisanya memperlakukan Ivy secara normal seperti orang-orang diluar sana,"
"Kami begini agar Ivy terhindar dari ancaman kejahatan di luar sana. Orang-orang tahu di keluarga Michelle hanya Ivy lah yang paling lemah, Makanya dia sering menjadi incaran para penjahat sebagai tahanan,"
Elizabeth menghembuskan napas pelan. "Ivy sebenarnya lahir prematur, Hal itu mempengaruhi fisiknya. Itulah mengapa fisiknya sangat lemah, Dia juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan berat, Makanya dia lebih sering terlihat berdiam diri dibanding mengerjakan aktivitas di luar. Kami juga tidak memperbolehkannya keluar kecuali saat sekolah,"
"Pantesan kulit Ivy pucat kaya mayat, Kurang paparan sinar matahari ternyata," Pikir Chloe speecheles.
Elizabeth memandang Chloe setelah mengakhiri ceritanya. "Sekarang kau mengerti kan kenapa aku mempekerjakan kamu disini?"
Chloe mengangguk cepat dengah senyum ceria. "Iya, Aku paham. Terima kasih sudah terbuka padaku Nona Michelle,"
"Ya, Kamu jangan kayak bodyguard Ivy dulu ya. Tolong jangan kecewakan aku," Pinta Elizabeth tersenyum tipis.
"Tentu, Aku juga sudah mendengar cerita tentang mantan bodyguard Ivy dari kak Ash. Aku gak nyangka dia nekat melakukan itu untuk memeras keluarga kalian," Sahut Chloe menatap prihatin dan disambut senyum kecut Elizabeth.
"Yah, Begitulah manusia. Terkadang memiliki sifat jahat dan terkadang sifat baik," Elizabeth menggidikkan pundaknya. Kemudian pandangannya beralih menatap tas belanjanya yang tergeletak di atas kasur.
Elizabeth berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia menyerahkan sebuah apel pada Chloe.
"Nih ambil, Setelah itu kembalilah ke dapur. Mereka pasti sudah menunggu,"
Chloe menatap heran, Menerima buah apel itu ragu-ragu. "Terus Nona Michelle gimana?"
"Nanti aku nyusul, Bilang aja ke mereka begitu,"
"Baiklah," Chloe menunduk menatap buah apel yang kini berada ditangannya. "Terima kasih, Aku pergi dulu,"
"Hm...,"
Chloe berbalik melangkahkan kakinya keluar kamar Eli dan menutup pintunya rapat-rapat.
Blam!
******************
[Malam harinya]
Hewan malam terdengar bersahut-sahutan dari balik kegelapan, Semilir angin berhembus pelan menerbangkan dedaunan di sekitarnya. Terpaan angin dingin mengenai pipinya tidak ia hiraukan, Pemuda itu hanya mengeratkan syal biru bergaris putih yang melingkar di lehernya.
Netra biru miliknya terus memandang hamparan kebun dihadapannya dengan kosong, Ia yang terkenal dengan senyum ramahnya kini senyum itu tidak terpatri dibibirnya. Hanya menunjukkan ekspresi penuh kehampaan.
Sebuah tepukan tiba-tiba dipundaknya membuat sang pemuda kembali kekenyataan, Tersentak kaget sebelum menoleh pada sang pelaku.
"Azura, Kenapa duduk diluar. Hawa malam ini kan dingin sekali, Tanganmu bahkan sampai membeku begini," Ash sang kakak ke-4 memegang tangan Azura, Memeriksa suhu tubuh adiknya itu dengan pandangan khawatir.
"Kak Ash..." Azura menatap sendu, Membiarkan Ash memegang tangannya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali menatap hamparan kebun.
Ash diam sejenak, Dia melepas pegangannya lalu duduk disamping adiknya. Ia menatap lembut Azura.
"Ada apa? Kau lagi galau? Atau karena mantan pacarmu?" Tanya Ash sabar menunggu jawaban adiknya.
Azura menunduk membiarkan semilir angin menerbangkan ujung syalnya. "Pagi tadi aku mendapat telepon darinya, Dia bilang menyesal sudah memutuskanku dan meminta diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami,"
"Tapi aku...Bayang-bayang saat dia selingkuh tepat didepan mataku membuat ku ragu, Aku bingung harus apa. Perasaan sakit itu masih ada. Dia bahkan memintaku menemuinya besok untuk membicarakan hubungan kami," Azura menatap cemas kebun didepannya.
Sedangkan Ash memejamkan matanya sejenak. Ternyata Azura gelisah karna hubungan dengan mantan pacarnya, Dia pikir Azura kenapa-napa ternyata hanya masalah hubungan percintaan. Kenapa juga dirinya harus ikut campur masalah percintaan adiknya, Tapi sebagai kakak yang baik dia akan memberi saran pada Azura.
"Hei Azura!" Ash menepuk pundak adiknya membuat Azura menoleh. "Pertama, Ikuti kata hatimu. Jika kau merasa ragu dengan perasaanmu sendiri, Kenapa kau tidak bilang padanya bahwa kau perlu waktu untuk mempertimbangkan permintaannya,"
"Kedua, Seperti yang kukatakan tadi. Ikuti kata hatimu, Dari sana kau akan tahu jawaban yang akan kau putuskan. Jangan gegabah dan terburu-buru, Kakak tidak ingin kau menyesal lagi untuk yang ke-2 kalinya," Tambah Ash tersenyum ramah pada adiknya.
Azura termenung memikirkan saran Ash, Dia masih bingung akan perasaannya. Disisi lain dia masih terluka karna mantan pacarnya mencampakkannya begitu saja bersama lelaki lain dan disisi lain masih ada sadikit perasaan yang tersimpan untuk mantan pacarnya itu.
"Aku...Aku akan mempertimbangkan dulu," Kata Azura menunduk.
Ash yang paham kondisi Azura hanya mengangguk kecil lalu meraih tangan adiknya itu untuk ikut bersamanya. "Kalau begitu, Ayo masuk. Tubuhmu sudah menggigil begini,"
"Iya,"
Azura dan Ash bergegas memasuki mansion, Tanpa menyadari ada sesosok lain berdiri disana tak jauh dari mereka, karna sejak tadi sosok itu memperhatikan interaksi antara Ash dan Azura.
"Fufufu, Michelle Family ya. Sepertinya mereka akan menjadi korban selanjutnya. Hebat juga gadis kecil itu bisa bersama keluarga terkaya ke-2 didunia ini, Kau beruntung sekali Chloe Amberly. Tapi disini akulah yang paling diuntungkan,"
__ADS_1
Sosok itu menyerigai seram dengan tawa psikopatnya, Sebelum hilang diantara kegelapan.
TBC