
Matahari mulai menampakkan wujudnya, Sinar cahaya menyinari sebuah rumah yang cukup besar dan luas. Burung-burung kecil berkicau ria sembari terbang melintasi rumah besar tersebut. Pagi yang cukup berembun disertai udara segar.
Disebuah kamar terdapat seorang gadis yang tengah tertidur nyenyak begitu pulas seolah tak memiliki beban. Namun beberapa detik setelahnya dia merasakan pergerakan dari sisi tempat tidurnya yang lain.
Pergerakan itu membuat tidur nyenyak si gadis terganggu, Merasa tak nyaman dia membuka kelopak matanya perlahan. Dan menemukan sosok Aiden tengah tiduran disampingnya sembari menatap dengan senyum tipis.
"Selamat pagi Nona,"
Karna saat ini Chloe masih dalam pengaruh ngantuknya, Jadi sang gadis hanya mengangguk kecil sebagai jawaban untuk sapaan Aiden.
"Oh pagi Aiden,"
Matanya kembali terpejam usai menjawab, Berniat kembali masuk ke alam mimpi namun beberapa detik kemudian matanya refleks kembali terbuka lebar-lebar untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat.
Sontak Chloe terbangun dan langsung melempar selimut miliknya tepat mengenai wajah Aiden disaat bersamaan ia berteriak histeris.
"GGYYAA!"
BRAK!
Secepat kilat sang gadis menjauhkan tubuhnya sembari nunjuk-nunjuk wajah Aiden dengan panik, Sedangkan Aiden menjauhkan selimut yang mengenai wajahnya tanpa ekspresi.
"Aiden! Ngapain kau tiduran di kamarku? Tanpa permisi lagi!" Protes Chloe masih nunjuk-nunjuk Aiden dengan kesal.
"Niatnya saya kesini cuma mau bangunin nona tadi tapi saat saya liat nona masih tidur jadi gak tega banguninnya, Ya udah saya ikut tiduran aja sambil nunggu nona bangun," Jelas Aiden tanpa merasa bersalah, Ia meranjak dari kasur Chloe sambil meletakkan selimut itu ke tempat semula.
Mendengar penjelasan Aiden membuat Chloe menghela napas sembari mengacak rambutnya pelan dan bergumam pelan. "Hah~, Padahal aku masih agak mengantuk. Hari ini entah kenapa rasanya pengen malas-malasan aja,"
SREK!
Sinar mentari masuk menerangi seisi kamar Chloe disertai hawa dingin dan embun pagi saat Aiden membuka gorden dan jendela kamar sang gadis. Kepalanya menoleh setelah tak sengaja mendengar gumaman sang gadis.
"Bukankah hari ini nona ada ujian semester? anda tidak boleh terlambat,"
"Iya iya, Aku mengerti. Masih ada 3 jam lagi sebelum mulai," Chloe melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 6.00 pagi yang terpasang di sudut kamarnya.
"Cepatlah bersiap-siap, Saya harus membangunkan anggota yang lain dulu,"
Aiden segera melangkah pergi dari kamar Chloe menuju kamar Ian yang berada disamping kamar sang gadis, Sedangkan Chloe hanya mengangguk kecil sembari netranya terus memperhatikan langkah Aiden hingga sang pemuda tak terlihat lagi dikamarnya.
BLAM!
*****************
[Dapur]
CKLEK!
Aroma harum masakan tercium jelas saat langkah Chloe memasuki area dapur, Netra birunya menangkap sosok Felix sedang memasak seorang diri. Pemuda bersurai coklat itu terlihat serius dengan aktivitasnya seolah tak merasa terganggu dengan kehadiran Chloe disana.
Penasaran dengan masakan sang pemuda dirinya segera menghampiri Felix sembari mengintip apa yang dimasak kakak angkatnya itu.
"Pagi Kak Felix, Lagi masak apa?" Sapa Chloe sambil tersenyum, netranya melirik masakan Felix sesaat.
Felix menoleh sebentar membalas senyum dan sapaan adiknya itu. "Pagi, kakak masak tempura kesukaannya Ian. Yah sekali-sekali bantuin Aiden,"
"oh, Tapi kayaknya ada yang kurang," Chloe memperhatikan masakan Felix yang membuat Felix ikut menatap masakannya dengan heran.
"Benarkah?"
"Iya, Tuh sayur sama udangnya belum dimasukin. Ian paling suka kalau banyak sayur sama udangnya,"
"Benar juga, Pengennya sih kakak masukin sayur sama udangnya tapi gak jadi takutnya kelamaan. Apalagi sebentar lagi anggota lain bakal kesini," Jelas Felix agak cemas, Tangannya terus mengaduk masakannya sesaat menambahkan penyedap rasa.
Chloe segera meletakkan ranselnya di kursi lalu kembali mendekati Felix sambil mengambil beberapa undang mentah dari kulkas bersamaan dengan beberapa sayur dan membersihkannya di wastafel.
"Aku bantu ya kak, Biar cepat selesai,"
"Boleh,"
Keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing, Usai mencuci udang dan sayur Chloe segera menambahkan ke masakkan Felix sesuai arahan sang kakak.
"Chloe, Kau aduk-aduk dulu ya. Kakak mau buat tehnya dulu," Pinta Felix sambil menyerahkan centong di tangannya pada Chloe.
"Oke kak,"
Ia segera mengaduk tempura itu sesuai arahan Felix dan sang kakak langsung beralih membuat teh untuk semua anggota.
"Kak, Ini kayaknya udah mateng,"
Felix menoleh setelah selesai membuat teh untuk mereka dan meletakkannya di meja. Lalu bergegas mendekati adiknya.
"Belum, Kalau sisi udangnya belum coklat tandanya belum mateng,"
Satu tangannya terulur memegangi tangan Chloe yang masih memegang sendok, Secara perlahan ia menuntun tangan Chloe untuk membalik udang tersebut agar masak secara merata. Jadi posisi mereka terlihat seolah-olah Felix sedang memeluk Chloe dari belakang.
Mungkin posisi ini adalah hal biasa bagi Felix tapi tidak untuk Chloe, Jujur sebenarnya gadis bersurai biru itu mendadak merasa gugup dan canggung saat tangan Felix memegang tangannya untuk menuntun membalik udang di wajan. Apalagi kini tubuh sang pemuda begitu dekat dengannya sehingga Chloe bisa mendengar detak jantung Felix dengan jelas.
__ADS_1
"Nah, Sudah matang. Tinggal pindahkan ke piring aja,"
Dengan senyum mengembang Felix mematikan kompor namun dirinya masih belum meranjak dari posisi mereka saat ini, Tangannya pun masih memegang tangan Chloe. Felix mengambil alih sendok di tangan sang gadis dan meletakkannya di mangkok.
Ia membalikkan tubuh Chloe hingga berhadapan dengannya, Tanpa peringatan langsung mengecup pipi sang gadis singkat. Tindakkan Felix membuat Chloe terlonjak kaget disaat bersamaan rona merah samar menghiasi kedua pipinya.
Begitu pun dengan Felix, Usai mengecup pipi adik angkatnya ia segera mengalihkan pandangannya sembari menutupi kedua pipinya yang merona tipis dengan punggung tangannya.
"M-Maaf, Kakak tidak bisa menahannya. Ang-Anggap saja Morning kiss," Kata Felix agak terbata-bata, Netra aquanya masih memandang arah lain. Pipinya juga masih merona tipis.
Sejenak Chloe memilih diam untuk menetralkan rona di pipinya, Ia menunduk kecil sembari mengangguk pelan.
"Iya, Gak apa-apa kak. Aku paham kok,"
Sejenak keduanya memilih diam lalu Chloe bergegas mengambil beberapa mangkok dan menuangkan tempura yang sudah matang ke sana, Berusaha agar tidak larut dalam kecanggungan mereka.
Setelah merasa tenang Felix ikut membantu meletakkan teh yang barusan ia buat ke meja, Walau tidak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Tak lama suara derap langkah mulai terdengar mendekat, Para anggota lain satu persatu bermunculan mendekati meja makan.
Ian menarik kursi miliknya dan duduk disana sembari menatap makanan favoritnya yaitu tempura. Netra merahnya melirik Chloe yang sudah duduk disampingnya.
"Apa kau yang memasaknya?"
Kepalanya menoleh setelah mendengar suara Ian. "Tidak, Kak Felix yang masak. Aku cuma bantu saja,"
"Oh,"
Sejenak Ian kembali menatap tempura di hadapannya lalu mulai memakan sarapannya dengan tenang. Yang lain satu persatu ikut menyantap sarapan masing-masing tanpa bersuara lagi.
Usai sarapan bersama mereka pergi dari dapur, melakukan pekerjaan masing-masing.
**************
[Malam harinya]
Chloe Pov
CKLEK!
Kulangkah kan kakiku keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutku yang masih basah, Aku menuju meja rias dan duduk disana sambil menyisir rambutku.
Kutatap pantulan bayanganku dari cermin, Sepertinya rambutku mulai semakin panjang saja.
"Untungnya ujian hari ini lancar-lancar saja, Sungguh hari yang melelahkan," Gumamku masih memandang bayanganku sendiri.
Kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur sambil bergelung dengan selimutku yang hangat, Perlahan mataku semakin berat hingga akhirnya terlelap dalam gelap.
***************
Wuuusshh!
Kurasakan hawa dingin menerpa tubuhku, Sesaat aku menggigil kecil karenanya. Seingatku aku tidak menyalakan AC di kamar, Tapi hawa ini bahkan lebih dingin dibanding AC seakan aku berada sangat dekat dengan freezer.
Kubuka mataku karna tak tahan dengan hawa dingin ini, Saat bangun tahu-tahu aku sudah berada di tanah. Alisku mengerut sebentar menyadari keanehan ini, Lantas aku bergegas berdiri untuk memperhatikan sekitarku.
"Pantes aja dingin, Tiba-tiba aja aku tiduran di halaman depan Asrama," Kataku sambil mendengus kecil.
Saat ini aku sedang berada di halaman depan Asrama alias tidur diluar, Bagaimana caranya aku bisa tidur disini? Entahlah aku sendiri pun tak tahu. Rasanya kayak tidur berjalan saja, Eh tapi aku kan gak pernah tidur sambil jalan.
"Selimutku hilang lagi," Gerutuku menyadari selimut yang kupakai untuk tidur hilang entah kemana. Hawa dingin semakin menusuk kulitku, Membuatku semakin menggigil.
Buru-buru kulangkahkan kakiku mendekati pintu Asrama berniat masuk kedalamnya, Namun langkahku terhenti saat tiba-tiba debu pasir mengenai mataku, Sontak aku mengucek kedua mataku saking perihnya karna debu pasir tadi.
Setelah merasa lebih baik aku kembali menatap pintu Asrama namun tiba-tiba saja sekitarku sudah berubah menjadi penuh genangan darah, Bahkan cat tembok Asrama dipenuhi bercak-bercak merah.
Sekitarku berubah suram dan mengerikan, Aroma amis mulai menusuk-nusuk penciumanku. Perutku bergemuruh ingin mual, Tubuhku bergetar kecil dan secara perlahan aku menjauhi pintu Asrama yang sudah dipenuhi warna merah pekat.
"Ke-Kenapa bisa jadi begini?!" Kataku dengan terkejut dan suaraku hampir bergetar saking tak percaya dengan pemandangan di hadapanku.
Aku berbalik ingin lari menjauh dari sana tapi sosok asing muncul dari kegelapan menghentikan langkahku, Dia berjalan mendekat dengan menenteng sebuah kapak ditangannya. Hanya matanya yang berwarna merah saja yang terlihat olehku, Dia berdiri di antara kegelapan sambil menunjukkan seringai mengerikannya padaku.
"Siapa?" Kataku menatapnya penuh waspada, Jarak kami hanya terpaut beberapa meter dari posisi masing-masing.
Dia tidak menjawabku tapi tangannya yang memegang kapak terangkat di udara mengarah padaku. Samar-samar kudengar dia mengucapkan sesuatu.
"Mati...!"
Matanya yang berwarna merah darah menatapku tajam, Tak lama dia berlari menghampiriku sambil mengayunkan kapaknya.
"KALIAN SEMUA HARUS MATI!"
Aku tak sempat menghindar saat dia berteriak dan menyerangku secara tiba-tiba, Refleks kusilangkan kedua lenganku di depan wajah sebagai temeng sambil memejamkan mata.
"Aku tidak ingin mati sebelum bertemu mama dan adik-adikku," Pikirku sedih.
TING! TING! TING!
"Setiap manusia pasti akan mati, Chloe...Bahagiakan lah mereka sebelum waktunya,"
__ADS_1
Tubuhku membeku mendengar suara yang sangat familiar muncul dibenakku walau aku tidak melihat wujudnya.
"Holy!" Balasku dalam hati kaget.
"Bangunlah dan semuanya akan baik-baik saja,"
TING! TING! TING!
Wuusshh!
****************
PATS!
Sontak mataku terbuka cepat, Kurasakan peluh membasahi pakaianku. Tubuhku agak gemetar, Lantas aku segera mendudukkan diri dan menyadari sekarang aku berada di tempat tidurku kembali.
Napasku memburu tak beraturan layaknya habis lari maraton. Buru-buru aku memeriksa tubuhku sendiri kalau-kalau terjadi sesuatu setelahnya aku bernapas lega.
"Untunglah cuma mimpi," Gumamku lega.
Mimpi itu seolah-olah begitu nyata bagiku apalagi saat banyaknya bercak dan genangan darah disana. Lalu di saat-saat terakhir aku yakin sekali suara yang kudengar adalah suara Holy tapi entah kenapa dia tidak menunjukkan wujudnya.
Aku masih kepikiran dengan maksud perkataan Holy, Siapa yang harus ku bahagiakan? Keluarga lamaku di dunia asli atau keluargaku di Asrama ini?
Entah kenapa rasanya firasat ku mengatakan hal buruk akan terjadi berhubungan dengan mimpi tadi, Rasa cemas dan takut merasuki pikiranku.
"Aku tidak mengerti, Apa yang perlu kutakutkan dari mimpi tadi? Rasanya sangat cemas Tapi tubuh ini tidak bisa berbohong," Gumamku sambil memeluk tubuhku sendiri yang agak gemetar.
Rasanya sangat takut dan cemas memenuhi pikiranku sampai-sampai aku tidak bisa tidur lagi gara-gara mimpi tadi, Padahal ini masih pukul 2 dini hari dan besok aku masih harus kerja. Sayangnya aku tidak bisa terlelap lagi meski sekeras apapun aku berusaha untuk tidur.
Akhirnya kuputuskan untuk keluar kamar sekaligus menyegarkan pikiranku yang kacau.
Chloe Pov End
**************
[Rooftop]
Kerlap-kerlip bintang memenuhi langit malam ditemani cahaya bulan, Seseorang tengah duduk termenung di sisi rooftop sambil menatap punggung tangannya yang terdapat bekas luka memanjang dan cukup lebar. Sejenak dirinya mendengus kecil usai menatap bekas luka itu.
"Huh! Luka ini meninggalkan bekas, Untungnya sekarang tidak gatal lagi," Gerutu sosok itu sembari meminum kopinya yang sudah tersedia. Cukup menghangatkan tubuhnya di saat dirinya sedang menjalankan tugas.
TAP! TAP! TAP!
Suara langkah kaki yang mendekat membuatnya terdiam namun dirinya tak ada niatan untuk sekedar menoleh.
"Devian, Boleh aku ikut bergabung?"
"Hm...,"
Chloe mendudukkan dirinya disamping Devian setelah izin sebelumnya, Ia meletakkan coklat panasnya di sisi lain agar tak jatuh. Ikut menatap rindangnya pepohonan sekitar mereka dari jauh.
"Tidak tidur?" Tanya Devian memecah keheningan mereka.
"Lebih tepatnya gara-gara mimpi buruk aku gak bisa tidur lagi," Chloe meraih coklat panasnya sembari menyesapnya perlahan.
"Seburuk itukah?"
"Begitulah, Aku perlu menenangkan diri dari mimpi itu,"
Sejenak Devian memilih diam, Dia memang bertugas sebagai keamanan Asrama namun baru kali ini dirinya ditemani sambil ngobrol oleh anggota lain selain Rion. Apalagi disaat semua anggota lain sudah terlelap dalam mimpi masing-masing.
"Kak Chloe, Jika misalnya kau sedang dalam keadaan terdesak dan keluargamu terancam, sedangkan di Asrama ini juga terdapat ancaman disaat bersamaan. Mana yang kau pilih, Menyelamatkan keluargamu atau menyelamatkan para anggota Asrama ini?"
Sang gadis agak tersentak saat mendapat pernyataan yang menurutnya sulit dari Devian. Baginya keluarga dan anggota Asrama sama-sama berharga untuknya, Tangannya memegang erat gelas di tangannya.
"Aku tidak tahu, Tapi jika bisa menyelamatkan mereka semampu kita kenapa tidak? Menurutku keluarga dan para anggota Asrama sama-sama berharga, dimanapun kita tinggal kadang kalanya kita teringat dengan mereka apalagi dengan orang tua yang sudah membesarkan kita seperti sekarang, Benar bukan?"
Chloe menoleh sembari tersenyum tipis, Sesaat Devian kembali terdiam dalam renungannya dan mengangguk kecil.
"Iya, Kau benar kak Chloe,"
Sang gadis kembali menyesap coklat panasnya hingga habis, Lalu meranjak dari sana tak lupa pamit pada Devian yang masih betah berada di rooftop.
"Kalau begitu aku duluan ya, Jangan lama-lama diluar entar masuk angin,"
"iya,"
Chloe segera melangkah pergi dari sana kembali menuju kamarnya, Sedangkan Devian tertunduk kecil sambil menatap jam arloji pemberian Justin yang melingkar manis di lengan kirinya.
"Maaf Justin...Mereka mengancamku dan aku terpaksa," Gumamnya lirih dan pelan saking pelannya hanya terdengar gemuruh angin kecil menemaninya malam itu.
TBC
Holla akhirnya Update setelah beberapa bulan gak dilanjutin plus kena block writerðŸ˜ðŸ˜¢, Entah udah berapa bulan author pun gak ingat. Maaf ya buat para readers yang udah nungguin cerita ini Up, Biasa tugas-tugas di RL (Real Life) yang mulai berdatangan membuat cerita author terhambat.
Sekali lagi makasih lho buat para readers yang masih setia nungguin cerita ini😘🤗.
Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya.
__ADS_1