
"......Vi-Victor?!"
Chloe seketika menodongkan senjatanya, Raut wajah gadis itu berubah marah.
"Bohong! Wajahmu pasti hanya mirip dengan Pak Justin, Gak mungkin pak Justin mati! Pasti jasadnya sudah kami temukan sejak lama kalau dia mati!" Bentak Chloe tak percaya.
Victor tertawa kencang, Padahal tidak ada yang lucu dari perkataannya barusan. "Nona kecil, Mengapa kau begitu bodoh? Jelas-jelas yang berdiri didepanmu ini adalah raga Justin asli, Yah aku hanya meminjamnya sampai tujuanku tercapai,"
Pria bernetra merah itu ikut menodongkan pisaunya, Tersenyum miring. "Sepertinya kau ingin bertarung ya, Baiklah akan kuladeni sampai aku puas,"
Dia kembali menyerang Chloe, Dan sang gadis refleks bersiaga.
TRING! TRING! TRING!
Pisau beradu dengan pipa besi menimbulkan suara yang cukup memekakkan telinga, Ivy bahkan terpaksa semakin mundur menjauhi area pertarungan Victor dan Chloe sambil menutup kupingnya.
Andai Ivy tidak ada disana, Chloe bakalan sudah memanggil senjata pedangnya. Namun ia rasa cukup kekuatan healing dan teleport nya saja yang diketahui Ivy.
PRANG!
BRAK!
Chloe kembali memukul kepala Victor dan melempar pipa nya tepat ke wajah pria itu, Membuat si pria menutup wajahnya dengan tangan sembari menggeram marah.
Tanpa membuang waktu, Chloe bergegas menarik Ivy menjauhi Victor. Berlari sekuat tenaga, Sebelum Victor mengejar mereka.
"Lari Ivy!"
"E-Eh?!"
Ivy yang mendapat tarikan tiba-tiba pasrah dan terpaksa mengikuti lari Chloe.
****************
Tap! Tap! Tap!
Tik! Tik! Tik!
Selama berlari Chloe mengutak-atik jam arlojinya berusaha menghubungi Ezra, Sesekali kepalanya menoleh ke belakang memastikan Victor mengejar mereka atau tidak. Sayangnya tak jauh dari dirinya dan Ivy, Victor terlihat mengejar dengan beberapa anak buahnya. Lari mereka bahkan lebih gesit dibanding Chloe dan Ivy.
"Chloe, Mereka mengejar," Kata Ivy dengan napas yang terputus-putus. Hampir kehabisan tenaga untuk berlari.
"Aku tahu," Napas Chloe juga tak terkendali, Sebenarnya ia pun mulai kelelahan.
Akhirnya tak lama jam arlojinya terhubung dengan Ezra, Hologram wajah Ezra terlihat di sana. Mirip seperti vidio call.
"Ada apa memanggilku?" Suara Ezra terdengar di sebrang sana.
"Pak! A-Aku bertemu Victor!" Kata Chloe agak terbata-bata, Oksigen di paru-parunya mulai menipis.
Ezra tampak mengernyit, Tak lama terdengar suara deru mobil di sebrang sana. "Kirim lokasinya, Aku akan segera kesana. Bertahanlah sebisa mungkin sampai aku tiba,"
"B-Baik,"
Sambungan itu terputus secara sepihak, Sesampainya di perempatan Chloe langsung menarik Ivy bersembunyi di sebuah gang kecil tepat disamping tempat sampah. Ivy hanya bisa mengikuti kemana Chloe membawanya, Ia tak bisa protes karna saat ini pun nyawa mereka berdua terancam.
Chloe bergegas mengirim lokasinya pada Ezra, Usai melakukannya ia mengintip dari balik tembok memastikan Victor dan anak buahnya tidak menemukan mereka.
Victor dan anak buahnya berhenti mengejar tak jauh dari lokasi Chloe dan Ivy sembunyi, Pria bernetra merah itu menggeram kesal karna kehilangan jejak Chloe. Samar-samar Chloe mendengar perkataan Victor dan anak buahnya.
"Lari mereka cepat sekali, Tidak mungkin secepat itu!" Kata salah satu anak buah Victor.
Victor memukul tembok disampingnya melampiaskan amarah.
BRAK!
"Berpencar! Cari mereka berdua sampai ketemu! Jangan ada yang pulang sebelum mendapatkan hasil!" Teriak Victor pada anak buahnya.
"Baik!"
Anak buah Victor langsung berpencar mencari keberadaan Chloe dan Ivy.
"Sial! Awas saja kalau ketemu, Akan kucongkel mata mereka berdua dan kuambil organ-organ mereka sampai tidak bersisa. Cih, Berani-beraninya kabur dariku!" Kata Victor geram kemudian tertawa ala psikopat.
Chloe dan Ivy yang mendengarnya seketika merinding. Ivy sampai ingin menangis.
"Chloe, Aku takut. Pria itu seperti orang gila. Dia menakutkan, Apa dia psikopat?" Kata Ivy memegangi lengan baju Chloe.
__ADS_1
Chloe mendelik memandang tajam Victor dari kejauhan, Dia balik memegang tangan Ivy.
"Sepertinya begitu, Dilihat dari keinginannya yang ingin mencongkel mata kita. Psikopat ala Victor. Entah kenapa aku curiga pak Justin punya dua kepribadian," Kata Chloe masih memandangi Victor dari jauh.
Tak lama Chloe dan Ivy mendengar suara langkah kaki didekat mereka, Disusul suara asing yang bergema.
"Ketemu! Kalian akan habis di tangan Tuan Victor,"
Chloe dan Ivy sontak menoleh ke asal suara dan menemukan anak buah Victor sudah berada disana, Anak buah Victor tersenyum penuh kemenangan.
Dia mengayunkan balok kayu ditangannya, Berniat menyerang Ivy.
Chloe refleks menarik Ivy kesampingnya, Menggantikan posisi Ivy. Disaat bersamaan sebuah tendangan meluncur mengenai anak buah Victor itu.
BUAK!
BRUK!
Chloe menoleh dan menyadari pelakunya adalah Ezra, Pria bernetra hijau itu menurunkan sedikit posisi topinya. Dia melirik sesaat pada Chloe sambil bersiaga dengan pistol di tangannya.
"Tuan Justin memang memiliki dua kepribadian, Yang kita hadapi sekarang adalah kembaran sekaligus kepribadiannya yang lain. Victor Garfield," Kata Ezra masih bersiaga, Dia menghadap anak buah Victor yang perlahan bangun dari jatuhnya.
"Hah? Jadi pak Ezra sudah tahu?"
"Ya, Sejak aku SMA," Ezra kembali melayangkan pukulan keras hingga membuat anak buah Victor pingsan.
BRUK!
Anak buah Victor yang lain pun berdatangan karna mendengar suara pukulan itu, Merek dikepung oleh 4 orang sekaligus. Chloe bersiaga sambil menjaga Ivy tetap di belakangnya, Sedangkan Ezra semakin mengeratkan genggamannya pada pistol.
Salah satu anak buah Victor bergerak maju menyerang Chloe, Si gadis segera berkelit dan melayangkan tendangan memutar hingga mengenai leher sosok berjubah itu. Seketika membuatnya pingsan di tempat.
Berbeda dengan Ezra, Saat salah satu sosok berjubah itu mendekatinya. Dia langsung menembak kaki dan pundak orang itu.
Dor! Dor!
Setelahnya sebelum sosok itu berteriak, Dia langsung memukul kepalanya hingga berdarah dan pingsan.
BUAK!
Tanpa membuang waktu, Chloe langsung menyerang dan memukul salah satu dari mereka. Sedangkan sosok berjubah satunya menyerang Ezra dari belakang, Belum sempat menyerang sebuah tendangan tiba-tiba mendarat di punggungnya, Membuat sosok itu terpental menghantam tembok.
BRAK!
Ezra sampai menoleh karna mendengar suara tendangan di belakang punggungnya, Menemukan sosok seorang pria bersurai hitam disana.
"Berani-beraninya mendekati Ezra," Kata pria itu geram, Menatap tajam sosok berjubah yang barusan di tendangnya.
"Alex? Apa yang kau lakukan disini?" Ezra mengernyit, Tak habis pikir bagaimana Alex bisa menemukannya dalam waktu singkat.
"Tentu saja membantumu Ezra, Bagaimana mungkin aku membiarkan kau terluka dan menghadapi orang-orang aneh itu sendirian," Alex menatapnya, Sangat terlihat jelas sirat khawatir dari netra orange nya.
"Aku tidak sendirian, Ada si tengil itu yang membantuku," Ezra memandang datar.
Alex melirik sejenak pada Chloe yang masih bertarung dengan sosok berjubah hitam. Dan kembali menatap Ezra.
"Tetap saja mengkhawatir kan,"
Ezra hanya merotasikan matanya bosan, Tak lama terdengar suara benturan keras di dekat mereka. Ivy sampai terpekik kaget karenanya.
BRAK!
KRAK!
Terlihat Chloe yang barusan membanting sosok itu hingga menghantam tanah, Sang gadis juga mengunci tangan sosok tersebut sehingga menimbulkan suara patah. Sampai-sampai sosok itu memohon ampun untuk dilepaskan, Tak lama Chloe memukul tengkuknya sampai sosok itu pingsan.
Tangan Chloe terkepal, Kemudian mengibaskan kedua tangannya yang agak kebas habis bertarung.
"Mereka cukup mudah dikalahkan," Kata Ezra mendekat sambil memandangi sosok-sosok berjubah yang sudah pingsan.
"Victor menghilang, Apa dia kabur selagi kita bertarung?" Tanya Chloe masih mengibaskan tangannya.
Ezra mengernyit, Dia tak menjawab sama sekali. Kemudian menatap Alex yang ikut mendekat.
"Bagaimana bisa kau tahu aku ada disini?"
"Yah, Aku ikut dengan mereka. Sejak tadi mereka mengikutimu," Jawab Alex santai.
__ADS_1
"Mereka?"
Beberapa saat kemudian suara klakson mobil terdengar, Dan sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Mesin mobil seketika mati dan dua orang keluar dari sana menampakkan diri.
BLAM!
"Alex, Dimana orang-orang itu?" Xavier mendekati mereka setelah mengunci dan menutup pintu mobil diikuti Vallen.
"Mereka ada disana, Kalian tinggal membawanya," Alex menunjuk sekelompok orang-orang berjubah hitam yang sudah mereka buat pingsan sebelumnya.
Xavier dan Vallen menoleh sesaat. Ezra kembali mengernyit karna bertemu dua polisi itu.
"Jadi kalian yang mengikutiku sejak tadi?! Dasar penguntit!" Kata Ezra kesal.
"Ingat Ezra Miracle, Kau itu masih dalam pengawasan kami. Jangan kau pikir bisa kabur begitu saja," Kata Xavier serius.
Vallen terkekeh kecil, Netra coklatnya melirik pistol yang dipegang Ezra. "Oh, Lihatlah. Kau bawa pistol juga ternyata, Padahal legal lho kalau orang yang sedang dalam pengawasan bawa senjata,"
"Bukan urusanmu! Jangan sok mengawasiku!" Ezra mendelik tajam.
Vallen ingin menyahut perkataan Ezra, Namun suara langkah kaki dan suara tepuk tangan mengintrupsi obrolan mereka.
Plok! Plok! Plok!
"Wah wah wah, Lihat siapa ini," Victor muncul dari balik tembok sambil bertepuk tangan, Dia menyerigai menatap Chloe dan lainnya. "Anggota polisi juga ada disini rupanya, Kukira one by one ternyata malah bawa teman. Mengecewakan sekali,"
Chloe dan Ezra langsung bersiaga, Mereka menatap serius. Sedangkan Alex, Xavier, dan Vallen masih berdiri tenang. Hanya Ivy yang gemetar dan memutuskan sembunyi di balik tembok.
"Siapa kau?" Tanya Xavier tenang, Diam-diam tangannya bersiaga mengambil pistol yang tersampir di pinggangnya.
"Hehehe, Perlukah aku memperkenalkan diri ditengah keseruan ini?"
Victor masih menyerigai, Sedangkan Alex terdiam membeku memandangi Victor. Sosok yang selama ini tidak pernah ia lihat lagi sekarang sedang berdiri dihadapan mereka. Tangan Alex terulur tanpa sadar berniat menggapai Victor, Perlahan dia mendekati pria bernetra merah itu.
"Justin, Kau kah itu? Apa kau ingat padaku? Aku juga sahabatmu," Setetes air mata menetes dari mata Alex, Dia menahan rasa haru sekaligus rindu pada sahabatnya itu.
"Justin? Maksudnya Justin Garfield?" Gumam Xavier mengernyit setelah tak sengaja menangkap nama yang dilontarkan adiknya itu.
"Ceo di J.G Entertainment itu kan yang menjabat sebelumnya?" Tanya Vallen yang diangguki Xavier.
Victor yang melihat Alex mendekat ke arahnya langsung merentangkan tangan dengan senyum miring, Ia pikir Alex ingin memeluknya.
"Alex ya, Kemarilah! Kau ingin memelukku bukan?"
Alex tersenyum tipis, Dia mempercepat langkahnya tak sabar memeluk Victor yang dia kira sebagai Justin. Ezra yang menyadari hal itu lantas segera menahan tangan Alex sebelum hampir mendekati Victor.
Ezra mengguncangkan tubuh Alex sambil berteriak kesal.
"Alex sadarlah! Dia bukan Tuan Justin! Tuan Justin sudah mati! Dia yang dihadapan kita ini adalah Victor Garfield, Kembaran sekaligus kepribadian lain tuan Justin. Kau jangan tertipu dengan sikapnya, Dia sudah mengambil raga tuan Justin!" Kata Ezra kesal masih mengguncangkan tubuh Alex.
Plak!
"Bohong! Kau pasti berbohong Ezra! Justin gak mungkin mati! Dia ada dihadapan kita! Kalau Justin mati, Pasti jasadnya bakal ketemu!" Alex menepis tangan Ezra, Menatap balik penuh amarah.
BUAK!
Ezra memukul pipi Alex hingga Alex mundur beberapa langkah, Pria bernetra orange itu menatap tak percaya pada sahabatnya. Alex memegangi pipinya yang barusan mendapat pukulan dari Ezra, Tak lama Ezra mengcengkeram kerah Alex erat dengan tatapan tajam.
"Kubilang sadar bodoh! Tuan Justin sudah mati! Dan dia, Victor Garfield mengambil raga tuan Justin untuk kepentingannya sendiri, Dia menyingkirkan tuan Justin dari raganya sendiri!" Ezra menekan setiap kalimat yang dia lontarkan pada Alex.
"Gak mungkin kan?!" Alex masih tak percaya, Dia menyeka sudut matanya yang berair. Mengepalkan tangan menahan emosi.
Ezra tidak berkata apa-apa lagi, Dia melepas cengkeramannya dari Alex dan memutuskan fokus pada Victor yang masih merentangkan tangan.
"Ezra, Jadilah milikku! Kau pasti akan lebih bahagia bersamaku dibanding dengan Justin dulu. Kau pasti merindukannya bukan? Kemarilah dan anggap aku sebagai Justin bagimu," Victor masih merentangkan tangannya menyerigai.
Mendengar perkataan Victor, Kemarahan Ezra semakin memuncak. Dia menodongkan pistolnya tepat dihadapan pria bernetra merah itu.
"Gak sudi! Tuan Justin berbeda denganmu, Dia lebih baik dibanding kau! Jangan samakan dirimu dengan tuan Justin! Aku akan tetap setia dengan tuan Justin apapun hambatannya!" Balas Ezra tajam, Chloe disamping Ezra hanya mengangguk kecil menyetujui perkatan pria bernetra hijau emerland itu.
Victor menurunkan tangannya, Meski begitu seringai di bibirnya masih belum luntur.
"Begitu ya, Ini kesekian kalinya kau menolakku Ezra. Kau akan menyesal tidak memilihku," Victor mengambil senjata pisaunya dari balik jubah.
"Ayo, Kita mulai pestanya sekarang!" Victor kembali menyerigai disusul tawa psikopat darinya.
TBC
__ADS_1