System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Kenangan yang terlupakan


__ADS_3

PLUK!


Sebuah kerikil kecil terlempar ke danau yang dalam, Membuat gelombang kecil tercipta dari danau itu. Sesosok anak laki-laki duduk termenung di sisi danau sembari menatap pantulan bayangannya sendiri, Beberapa detik kemudian netra hijau emerland miliknya mengerjap tak kala sebuah ice cream tersodor tepat dihadapannya. Membuat surai hitam miliknya ikut bergoyang seiring kepalanya menoleh.


Sesosok gadis kecil dengan surai hitam panjang dan netra merah semerah batu ruby berdiri tepat disampingnya, Tersenyum manis seolah mengalahkan hangatnya sinar mentari. Anak laki-laki itu menerima ice cream yang disodorkan padanya, Membiarkan sang gadis kecil duduk disampingnya.


Rasa manis coklat seketika menjalar di lidahnya tak kala ia mengecap rasa ice cream tersebut, Sang anak laki-laki mendongak menatap pantulan danau yang menggambarkan wajah mereka berdua.


"Sudah berapa lama kau berada disini?" Tanya sang anak lelaki tanpa menoleh.


"Entahlah, 3 Minggu atau 4 minggu mungkin. Aku pun sudah tidak ingat lagi berapa lama aku disini," Sahut gadis kecil disampingnya, Sesekali gadis kecil itu mengecap Ice Cream Vanilla miliknya.


"Sudah sangat lama kau disini, Apa kau tidak dicari oleh orang tuamu?"


"Aku tidak tahu, Sebenarnya aku juga ingin pulang. Tapi aku tidak tahu caraku kembali, Makanya aku mencari paman itu biar bisa pulang lagi," Raut sedih tergambar jelas dari gadis kecil disampingnya, Membuat sang anak lelaki sontak menepuk surai milik sang gadis kecil dengan lembut.


"Tenang, Pasti ada ada jalan keluarnya kok. Nanti biar kubantu cari ya," Kata anak lelaki itu sembari tersenyum tipis. Menenangkan gadis kecil disampingnya.


"Iya, Tapi kakak janji ya," Senyum manis kembali terbit dari sang gadis kecil, Gadis kecil itu menunjukkan jari kelingkingnya seolah meminta sang anak lelaki untuk membuat janji dengannya.


"Aku janji," Anak lelaki mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sang gadis kecil.


"Oh iya kak, Nama kakak siapa sih? Dari pertama bertemu aku tidak pernah tahu nama kakak," Dengan tatapan polos gadis kecil itu memiringkan kepalanya ke samping, Terlihat menggemaskan di mata sang anak lelaki.


"Ezra Miracle, Panggil aku Kak Ezra,"


"Kak Ezra!" Sang gadis kecil tersenyum ceria, Lalu mengulurkan tangannya seolah ingin berjabat tangan. "Aku Chloe Watson, Sering dipanggil Chloe. Makanan kesukaanku adalah Ice Cream dan hobiku main bersama Jessi," Chloe kecil menunjukkan boneka teddy bear kecil berwarna coklat di tangannya.


"Jessi? Nama bonekamu lucu juga," Ezra kecil terkekeh pelan, Menatap boneka milik Chloe kecil.


"Hehehe, Iya. Soalnya Jessi teman sepermainanku sih," Chloe kecil memeluk bonekanya dengan erat, Senyum ceria kembali mengembang di wajahnya.


Kemudian Chloe kecil menatap langit biru diatas mereka, Memperhatikan awan-awan seputih salju yang seolah-olah bergerak mengikuti arah angin.


"Nanti kalau Chloe sudah besar, Chloe bakal cari Kak Ezra sampai ujung dunia. Biar gak terpisah lagi,"


"Pffft...," Mendengar perkataan polos dari Chloe kecil membuat Ezra kecil tertawa pelan. "Kenapa harus sampai mencari ke ujung dunia? Kan Aku ada disini. Kau bisa datang ke rumahku kapan pun kau mau,"


"Umm...Tapi kalau Chloe gak bisa ketemu Kak Ezra lagi gimana, Atau Chloe gak bisa kesini lagi gimana dong?" Chloe kecil menunduk murung, Bulir-bulir air mulai perlahan keluar dari pelupuk matanya.


"Gak kok, Kalau Chloe gak bisa kesini lagi. Biar kakak yang mencari Chloe sampai ke ujung dunia, Suatu saat nanti kalau kita sudah besar. Semoga kita bisa ketemu lagi ya," Ezra kecil menangkup kedua pipi Chloe kecil, Mengusap bulir-bulir air mata itu dengan ibu jarinya. Senyum lembut mengembang di wajah tampannya.


"Iya...Hiks...Semoga bisa ketemu lagi...Hiks...," Chloe kecil berusaha menghentikan tangisnya walau masih agak sesegukan.


Sejenak Ezra kecil terdiam, Ia mengusap pelan surai hitam milik Chloe kecil. "Kalau begitu sebagai janji pengingat kita berdua, Bagaimana kalau kita mengucapkan janji suci?"


"Janji suci?" Chloe kecil mendongak mulai merasa tertarik dengan perkataan Ezra kecil, Tangisannya mulai berhenti.


"Iya seperti ini," Ezra kecil mengambil beberapa bunga di dekatnya lalu membentuk bunga-bunga itu menjadi mahkota bunga, Satu untuknya dan satu lagi untuk Chloe kecil.


Ia memakaikan mahkota bunga itu diatas kepala Chloe kecil dan memakai mahkota bunga satunya untuk dirinya sendiri.


Netra merah milik Chloe kecil berbinar senang, Senyum ceria terbit di bibirnya sembari memegangi mahkota bunga diatas kepalanya.


"Wah~ Keren~," Katanya terpana dengan mahkota bunga buatan Ezra kecil.



Ezra kecil tak kalah senang setelah memakai mahkota bunga buatannya sendiri, Tidak sia-sia ia belajar skill seperti merangkai bunga dari ibunya.



"Bagus kan rangkaian bunga buatanku?"


"Iya, Rangkaian ini sangat cantik," Chloe kecil mengangguk setuju.


Kemudian Ezra kecil meraih tangan Chloe kecil, Ia menggenggam erat sembari menatap langit diatas mereka. Rona tipis menghiasi wajah tampannya, Dan Chloe kecil yang tersenyum gembira.


"Aku Ezra Miracle bersumpah akan menemukanmu dimanapun kau berada setelah kita besar nanti, Menjadikanmu sebagai bagian dari keluargaku. Menjadi Kakak yang baik dan teman yang baik selamanya," Ezra kecil menoleh sembari tersenyum lembut. "Sekarang giliranmu,"


"Aku Chloe Watson berjanji menerima Kak Ezra Miracle sebagai bagian keluarga, Dan akan menjadi adik serta teman yang baik selamanya. Kalau bisa kita menjadi partner yang terhebat didunia,"


"Partner? Apa kalimat itu termasuk janji suci kita?" Tanya Ezra kecil kebingungan.


"Entahlah, Kata Mamaku partner itu artinya rekan kerja. Mungkin juga termasuk," Jawab Chloe kecil dengan polosnya.


"Oh baiklah, Sekarang sebagai ritual janji suci terakhir. Aku memberikanmu ini," Ezra kecil merogoh sesuatu dalam saku celananya, Menunjukkan sepasang anting perak dengan liontin burung merpati di tengahnya.


"Wah cantiknya~" Netra merahnya yang lucu kembali berbinar setelah menatap sepasang anting itu. "Kak Ezra dapat anting itu darimana?"


"Ini pemberian ibuku, Kata ibuku aku bisa memberikan anting ini kepada orang yang berharga bagiku," Jelas Ezra kecil tersenyum lebar.


"Kalau begitu anting ini untukku?"


"Ya, Biar kupasangkan,"


Chloe kecil mengangguk antusias, Ia membiarkan Ezra kecil memasang sepasang anting perak itu di kupingnya. Setelah selesai Ezra kecil memandangi wajah Chloe kecil sejenak, Tersenyum puas.


"Kamu jadi lebih cerah setelah pakai anting itu,"


"Benarkah? Kalau begitu akan kupakai terus-terusan setiap hari,"


Ezra kecil hanya menertawakan tingkah lucu Chloe kecil, Tak lama Chloe kecil menyodorkan setangkai bunga anggrek berwarna ungu pada Ezra kecil.


"Umm...Aku tidak punya apapun untuk diberikan ke Kak Ezra sebagai janji suci terakhir. Aku cuma punya bunga anggrek yang kutanam sendiri disini," Jelas Chloe kecil menatap sungkan. "Maaf ya Kak Ezra,"

__ADS_1


Sejenak Ezra kecil terpaku menatap bunga anggrek di tangan Chloe kecil, Tak lama senyum manis mengembang di bibirnya. Ia meraih bunga itu dan menggenggamnya erat.


"Kenapa minta maaf? Gak apa-apa kan. Bunga ini juga cantik, Akan kuawetkan dan kujadikan penanda buku nanti," Kata Ezra kecil dengan senyum mengembangnya, Mengusap surai hitam milik Chloe kecil.


"Hehehe, Makasih Kak Ezra. Jaga bunga itu baik-baik ya,"


"Tentu, Kau juga," Ezra kecil melirik sepasang anting yang ia berikan pada Chloe kecil tadi. Kemudian menyimpan bunga anggrek itu dalam saku celananya.


"Iya~"


Semilir angin menerbangkan helai-helai rambut keduanya, Dedaunan bergoyang mengikuti arah angin. Mentari bersinar sangat terik, Seakan ikut bahagia. Sesaat kedua anak kecil itu diam menikmati suasana damai di sekitar mereka.


Hingga tiba-tiba gemerisik semak-semak yang saling bergesekan mengagetkan keduanya. Ezra kecil menoleh dan sontak berdiri diikuti Chloe kecil. Dibalik semak-semak sesosok pria muncul dengan senjata crossbow ditangannya, Tatapan pria itu begitu tajam bagai elang yang siap menerkam mangsanya.


Chloe kecil lantas menyembunyikan diri dibalik punggung Ezra kecil, Tubuhnya gemetar ketakutan saat melihat tatapan menyeramkan dari pria itu. Tanpa sadar Chloe kecil menggenggam erat pakaian Ezra kecil. Sedangkan Ezra kecil merentangkan tangannya sebagai pelindung dengan tatapan waspada.


Pria itu menyerigai seram, Ia menodongkan crossbownya tepat dihadapan Ezra dan Chloe kecil.


"Wah Wah Wah! Lihat ini, Aku sangat beruntung mendapatkan dua mangsa sekaligus," Kata pria itu dengan nada seram.


"J-Jangan mendekat!" Teriak Ezra kecil masih merentangkan tangannya ketika Pria itu mulai melangkah mendekati mereka. Merasakan mereka dalam bahaya.


Sang pria tak menggubris perkataan Ezra kecil, Senyumnya semakin lebar. "Kalau kujual organ dalam kalian, Berapa uang yang bisa kudapatkan ya?" Katanya menatap liar.


"Ka-Kak Ezra...hiks...," Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata Chloe kecil, Tubuhnya semakin gemetar.


Sang pria mulai tertawa kencang, Menatap wajah gemetar dan ketakutan dari dua anak kecil dihadapannya. "MATI KALIAN!"


SSYYUUTT!


Sebuah anak panah melesat dengan cepat, Ezra kecil refleks menundukkan diri bersama Chloe kecil. Untungnya anak panah itu meleset sehingga Ezra kecil langsung menarik Chloe kecil lari bersamanya.


"Lari Chloe!"


"Huuuaa!"


Tap! Tap! Tap!


"MAU LARI KEMANA KALIAN?!"


Sang pria langsung mengejar sembari melesatkan beberapa anak panah, Berusaha menghentikan lari kedua anak kecil didepannya.


SSYYUUTT!


CCRRAASS!


BBRRUUKK!


"Akh...!"


"Kak Ezra...hiks...Ayo lari kak...!"


Ezra kecil meringis, Ia mencoba berdiri menahan rasa perih di kakinya. Tangannya menggapai tangan Chloe kecil. Namun sayang, Kakinya seakan mati rasa tak bisa digerakkan, Ia refleks mendorong Chloe kecil menjauh darinya.


"Lari Chloe! Cepat lari!"


"Enggak...hiks...Aku gak bisa ninggalin kak Ezra sendiri...hiks...," Meski di dorong, Chloe kecil tetap bersikukuh berada di sana bersama Ezra kecil.


Tak lama pria itu datang ia menatap marah pada Ezra dan Chloe kecil. "Huh! Akhirnya tertangkap juga kalian! Dasar bocah-bocah nakal!"


Ezra kecil menggeleng sembari memeluk Chloe kecil disampingnya, Begitu pun dengan Chloe kecil yang balas memeluk. Tubuh keduanya gemetar hebat.


"Jangan! Jangan mendekat!" Kata Chloe kecil dengan sesegukan.


"Bocah seperti kalian bisa apa? Mana menang melawanku," kata pria itu angkuh, Ia mengulurkan tangannya memegang tangan Chloe kecil. Memaksa melepaskan pelukan Chloe kecil dari Ezra kecil.


"Tidak mau! Hentikan!" Chloe kecil memberontak.


"Lepas! Lepaskan Chloe!" Ezra kecil ikut memberontak, Ia memukul-mukul tubuh pria itu dengan tangan kecilnya.


"AH! BERISIK!" Bentak sang pria, Mendorong Ezra kecil dengan kencang. Mengakibatkan Ezra kecil kembali jatuh.


Chloe kecil menangis sejadi-jadinya, Berharap dalam hati seseorang menolong mereka. Disaat itu nama Aiden terlintas di benaknya, Chloe kecil terus menerus memanggil nama Aiden disela-sela isak tangisnya.


"Hiks...Paman Aiden...Tolong kami...Paman Aiden...," Racau Chloe kecil.


"Hah! Jangan konyol! Ditengah hutan begini mana ada yang menolong kalian! Kalian diam saja bocah-bocah nakal!" Seru pria itu sembari menyeret tangan Ezra kecil dengan kasar.


"Paman Aiden...hiks...," Chloe kecil masih menangis, Dirinya sudah mulai pasrah karna diseret oleh pria itu.


Sang pria hanya tersenyum senang, Merasa dirinya sangat beruntung mendapatkan dua anak kecil yang akan dia jual nantinya.


"Hehehe, Hari ini untung besar," Pikir pria itu senang.


Suara semilir angin bergemuruh menghiasi suasana hutan, Suara-suara hewan liar pun terdengar bersahut-sahutan. Tapi tak lama suara-suara hewan liar mereda dan perlahan mulai tidak terdengar lagi, Semilir angin mulai berubah kencang, Dedaunan pohon bergoyang cepat membuat si pria mulai merasakan adanya sesuatu yang tidak beres.


Ia menatap waspada, Sesekali ia kembali melangkahkan kakinya. Setengah perjalanan si pria mulai merinding merasa seolah-seolah sesuatu tak kasat mata sedang mengawasinya saat ini.


Chloe kecil masih menangis sedangkan Ezra kecil merintih menahan sakit di kakinya, Darah segar terus mengucur keluar dari sana.


Muak mendengar tangisan Chloe kecil, Si pria menatap tajam dan menutup mulut gadis kecil itu dengan tangannya.


"AH! BISA DIAM GAK SIH! REWEL BANGET!" Bentaknya marah.


WWUUSSHH!

__ADS_1


GREP!


Hembusan angin kencang menerjang si pria hingga terpental secara tiba-tiba, Chloe dan Ezra kecil jatuh karna tak bisa menahan beban berat mereka.


"Uhuk...!Uhuk...!" Pria itu terbatuk-batuk, Memuntahkan segumpal darah segar dari mulutnya.


Ia mendongak mencari pelaku yang menyerangnya barusan, Sesosok pria bersurai ungu campur hitam dengan netra ungu tua menatapnya dingin tepat berdiri dihadapannya.


"Paman Aiden!" Pekik Chloe kecil kaget sekaligus gembira menyadari bahwa Aiden lah yang menolong mereka barusan.


Aiden hanya melirik datar, Disaat itu tanpa membuang-buang kesempatan pria tersebut mengambil crossbownya dan langsung menembakkan ke arah Aiden.


"MATI KAU!"


SSYYUUTT!


GREP!


KKRRAAKK!


Si pria terdiam mematung, Netra nya melebar terkejut. Aiden dengan santainya menahan anak panah itu, Padahal hampir mengenai matanya namun dengan sekali genggam anak panah tersebut langsung hancur berkeping-keping.


"T-Tidak mungkin!" Kata si pria tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.


GREP!


Aiden mencekik leher si pria dengan satu tangan, Ia mengangkat tubuh pria itu hingga kakinya menjuntai tak menapak tanah. Si pria berusaha melepaskan cekikan Aiden dari lehernya, Namun usaha itu sia-sia belaka.


"Ini wilayah kekuasaanku, Siapa yang menyuruhmu kesini?!" Kata Aiden dingin, Sorot netra ungu tuanya memancarkan kekosongan.


"A-Aku...Ti-Tidak...," Suara pria itu bergetar mencoba mengeluarkan pita suaranya. Lehernya mulai membiru karna tercekik dalam waktu yang lama.


"Baiklah, Lupakan saja. Aku juga tidak peduli kau diperintah oleh siapa,"


SRING!


Senjata kuku runcing muncul di sela-sela jari Aiden, Sesaat Aiden melirik keberadaan Ezra dan Chloe kecil yang masih berada di sana. Kedua anak kecil itu masih gemetar ketakutan, Angin kencang tiba-tiba berhembus menerbangkan dedaunan kering di sekitar mereka.


Seketika menghalangi pandang Ezra dan Chloe kecil, Keduanya refleks menutup mata masing-masing agar terhindar dari debu tanah yang terbawa angin. Tanpa membuang waktu lama, Aiden menusukkan senjata cakarnya tepat di kedua bola mata pria itu, Seketika membuat sang pria menjerit kesakitan.


Untuk merendam jeritan si pria, Aiden secepat kilat menebas kepala pria itu hingga terpisah dari badannya. Cipratan darah mengenai wajah serta pakaiannya, Aiden menjatuhkan tubuh pria itu mengusap wajahnya yang terkena noda darah dengan tangan.


Perlahan senjata cakarnya menghilang tergantikan dengan tangannya yang normal, Bergegas ia membuang jasad itu sedikit jauh dari posisi Ezra dan Chloe kecil. Saat kembali dalam hitungan detik pakaian serta wajahnya sudah bersih tanpa noda, Seolah dirinya tidak melakukan pembunuhan apapun. Aroma anyir yang sempat tercium pun sudah hilang dalam sekejap.


Hembusan angin berhenti, Chloe kecil membuka matanya. Menemukan Aiden yang melangkah mendekati mereka, Seketika senyum sumringah terbit dari wajah si gadis kecil.


"Paman Aiden!" Pekiknya girang.


Aiden hanya menatap dalam diam, Sesampainya di tempat Ezra dan Chloe kecil. Aiden lantas menundukkan tubuhnya, Menjajarkan tinggi dengan dua anak kecil dihadapannya.


Netra ungu tuanya melirik luka yang didapat Ezra kecil, Ia membuang anak panah yang sempat menancap membuat Ezra kecil meringis menahan perih. Aiden merobek sebagian pakaiannya sendiri dan membalut luka Ezra kecil dengan kain itu. Tak lupa Aiden juga sedikit mengurangi rasa sakit yang didapat Ezra kecil dengan kekuatan healingnya.


"Kalian aman sekarang, Lukanya juga akan sembuh sebentar lagi," Kata Aiden datar, Sedangkan kedua anak kecil dihadapannya terdiam.


Tak lama Chloe kecil mulai menangis lagi sedangkan Ezra kecil menunduk menahan tangis karna kesakitan sekaligus ketakutannya.


"Huuuaaa...hiks...hiks...," Chloe kecil mengusap-usap matanya yang berair.


"Ukh...," Ezra kecil masih menunduk menahan tangis.


Sejenak Aiden menghembuskan napas, Ia mengusap-usap surai kedua anak kecil didepannya.


"Sudah, Sudah. Paman disini, Tidak perlu takut," Nada Aiden merendah, Mencoba menenangkan keduanya.


"Terima kasih sudah menolong kami paman...hiks...," Kata Chloe kecil disela-sela sesegukannya.


"Terima kasih...," Cicit Ezra kecil sembari mengusap hidungnya yang memerah menahan tangis.


"Hm...,"


Chloe kecil mendekati Aiden dan memeluk tangan Aiden seolah kata terima kasih saja tak cukup, Ezra kecil yang melihat hal itu akhirnya mengikuti Chloe kecil. Ia ikut memeluk Aiden meski agak ragu.


Mendapat pelukan dari kedua anak kecil dihadapannya membuat Aiden agak tersentak, Namun kemudian mulai membalas pelukan kedua anak itu.


"Paman Aiden, Aku kangen...," Kata Chloe kecil lirih, Menenggelamkan kepalanya di tubuh Aiden.


"Paman juga,"


"Sekali lagi terima kasih paman," Kata Ezra kecil ikut menyahut.


"Iya,"


Keheningan sesaat melingkupi mereka, Samar-samar Aiden mendengar suara dengkuran halus di pelukannya. Dengan perlahan netra ungu tuanya mengintip apa yang terjadi dengan Ezra dan Chloe kecil, Rupanya kedua anak kecil itu malah tertidur di pelukannya.


"Dasar, Bocah-bocah ini...," Aiden mendengus kecil.


Sesaat tatapannya jatuh pada Chloe kecil yang tertidur nyenyak.


"Maaf Chloe Watson, Tapi sepertinya aku harus menyegel portal itu biar kau tidak masuk ke dunia ini lagi. Sudah berapa kali kau terkena bahaya saat di dunia ini," Gumam Aiden pelan, Mencium kening Chloe sekilas.


Cahaya hijau muncul menyinari tangannya, Ia mengarahkan telapak tangannya pada kening Chloe dan Ezra kecil. Ia terpaksa harus menyegel ingatan tentang dirinya dan dunia ini pada Chloe serta menghapus tentang identitas aslinya, Aiden juga menyegel ingatan dirinya dan kenangan bersama Chloe kecil pada Ezra. Dengan begitu Ezra tidak akan mengingat apapun tentang Chloe atau pun Aiden sendiri.


Setelah selesai, Aiden mengantar Ezra kecil pulang. Usai mengantar Ezra, Ia mengantar Chloe kecil melewati portal dimensi. Beres dengan urusannya, Aiden menyegel portal dimensi yang menjadi penghubung antara dua dunia, Dan ia tidak akan membiarkan siapapun lagi bisa membuka portal itu. Selama dirinya masih hidup.


TBC

__ADS_1


__ADS_2