System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Holiday With Family


__ADS_3

[Akhir Pekan]


Akhir pekan yang ditunggu pun tiba, Di sebuah danau terdapat beberapa pengunjung tengah bersantai. Ada yang berlibur bersama keluarga ataupun orang terdekat. Disisi danau itu terdapat beberapa pohon sakura yang bermekaran, Kelopak bunga musim semi itu berguguran memenuhi tanah hingga menimbulkan warna pink cerah.



Disisi lain para anggota asrama kini sedang menelusuri sisi danau untuk mencari tempat yang menurut mereka cocok untuk piknik, Sesekali Chloe menadahkan tangan untuk meraih salah satu kelopak sakura yang jatuh sembari tersenyum senang.


Sesaat semilir angin kecil bertiup pelan menerbangkan helai-helai rambut mereka. Rion menyelipkan helai rambutnya yang agak panjang ke belakang telinga agar tak menghalangi pandangannya.


Setelah perjalanan yang cukup panjang mereka menemukan tempat yang cocok. Ian bersama Raizel mulai menggelar kain yang cukup lebar di antara rerumputan, Sedangkan Aiden bersama Felix dan Chloe mulai menata makanan mereka.


Satu persatu para anggota duduk santai, Devian menyandarkan tubuhnya di salah satu batang pohon sambil mencicipi salah satu bekal mereka. Felix memilih memfoto kebersamaan mereka bersama Chloe, Rion ikut mencicipi bekal seperti Devian.



Ezra dan Justin memilih memberi makan angsa-angsa yang kebetulan sedang berenang di danau, Sedangkan Ian menikmati minumannya sembari membaca novel miliknya. Aiden memberi makan seekor burung yang kebetulan hinggap di pundaknya, Dan Raizel yang sibuk menggambar suasana sekitar mereka.


Selama beberapa menit mereka berkumpul dengan canda tawa menghiasi sekitar mereka seakan tanpa beban sama sekali, Sesekali mereka akan mengabadikan beberapa momen indah dari beberapa anggota.


Sejenak netra Felix tak sengaja menangkap momen salah satu pohon sakura yang menarik perhatiannya, Dirinya lantas menepuk pundak sang adik hingga menoleh lalu menunjuk salah satu pohon tersebut.


"Chloe,"


"Kenapa Kak?" Chloe yang tengah mencicipi bekal buatannya langsung noleh saat Felix memanggilnya.


"Coba berdiri disana terus gaya yang bagus, Nanti kakak Foto," Saran Felix sembari nunjuk pohon yang dimaksud.


Netra birunya ikut menatap arah yang ditunjuk lalu tanpa berkata apa-apa, Chloe meranjak dari tempatnya dan menuju pohon tersebut sambil bergaya.


"Begini?"


"Benar, Tunggu sebentar,"


Felix mengambil beberapa foto Chloe sedangkan anggota lainnya hanya memperhatikan saja, beberapa dari mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing.



Felix tersenyum puas usai mengambil beberapa foto Chloe, Lalu ia menunjukkan foto tersebut pada sang adik. Namun tanpa disadari keduanya maupun anggota lain ternyata diam-diam Raizel ikut mengambil foto Chloe dengan buku sketsanya. Ia menggambar wajah sang gadis sesuai aslinya hanya dengan lukisan tangan.


Senyum mengembang dari bibir sang pemuda saat hasil karyanya terlukis indah dalam sketsa gambar walaupun tanpa warna.


"Mungkin aku harus memajang sketsa ini dikamarku," Pikir Raizel masih asyik memandangi sketsa wajah Chloe dengan perasaan gembira.


Sedangkan disisi Chloe, Sang gadis menatap kagum dengan hasil foto dari Felix. Beberapa kali mulutnya melontarkan pujian untuk hasil jepret sang kakak.


"Wah, Foto yang ini bagus. Nanti kirim ke aku ya kak," Pinta Chloe masih asyik memandangi foto dirinya sendiri dalam HP Felix.


"Tentu,"


Setelah menikmati piknik mereka Justin meranjak dari tempatnya sembari mendekati sisi danau yang dibatasi pagar, Tangannya terulur memegang pembatas besi itu. Lalu menoleh pada para anggotanya.


"Hei! Kalian jangan asyik foto sendiri-sendiri. Ayo foto bersama, Buat kenang-kenangan," Ajak Justin pada para anggotanya itu.


Serentak perhatian semua anggota teralihkan dari aktivitas masing-masing setelah mendengar ajakan Justin, Devian yang pertama kali berdiri dari tempatnya.


"Ya, Ayo buat kenang-kenangan. Momen seperti ini akan sangat jarang terjadi," Sahut Devian ikut mengajak sembari mendekati Justin.


Satu persatu dari mereka mulai merapat dengan gaya masing-masing, Felix membenarkan posisi kameranya sebelum ikut berfoto.


"Siap? Satu, dua, tiga...,"


CKREK!



Chloe mendekati kamera lalu memberi aba-aba pada anggota lain sambil memastikan posisi kamera.


"Kalian berfoto tanpaku, Siap? satu,dua, tiga...,"


CKREK!

__ADS_1



Sang gadis tersenyum puas setelah memastikan hasil foto mereka sesuai keinginannya. Aiden mendekati Chloe dan ikut memperhatikan foto-foto mereka.


"Sudah selesai kan?" Tanya Ezra dari jauh.


Chloe mengacungkan jompolnya menandakan sesi foto mereka sudah berakhir, Ezra menjauhkan dirinya dari kumpulan mereka sedangkan yang lain ikut bubar.


"Aku mau ke toilet dulu," Kata Ezra sembari berjalan pergi tanpa menunggu jawaban yang lain.


"Jangan lama-lama, Bentar lagi pulang," Sahut Justin sambil membantu Ian dan Raizel membereskan sisa-sisa piknik mereka.


Ezra hanya melambai pelan sebagai jawaban, hingga akhirnya ia pergi benar-benar pergi meninggalkan anggota lain.


Chloe dan Felix bersama Rion ikut membereskan sisa bekal mereka, Sedangkan Devian asyik bermain dengan burung-burung kecil yang hinggap di beberapa pohon. Aiden kembali memastikan foto-foto mereka sebelumnya.


Beberapa menit mereka menunggu kedatangan Ezra usai membereskan sisa-sisa piknik kecil tersebut, Namun orang yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Justin masih mencoba menunggu dengan sabar bersama yang lain, Sesekali netranya melirik jam arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.


Satu menit...


dua menit...


tiga menit...


Kesabaran Felix mulai habis, Ia bersidekap kesal akibat terlalu lama menunggu kedatangan Ezra. "Dia kemana sih?! Jangan-jangan habis dari toilet dia malah keluyuran, Kita udah lama nungguin dia,"


"Positif thingking aja, Mungkin Ezra lagi sakit perut. Jadi lama nunggunya," Jelas Aiden datar sembari fokus dengan burung-burung di sekitarnya.


"Udah, Lebih baik kita mencar aja cari dia. Mungkin Ezra pergi ke suatu tempat sebentar habis dari toilet," Usul Justin pada para anggotanya yang mulai rusuh karna Ezra tak kunjung datang.


"Aku cari ke sana dulu, Mungkin Pak Ezra pergi gak terlalu jauh," Kata Chloe sambil menunjuk sisi danau lainnya.


"Jangan jauh-jauh, Kalau ketemu sama Ezra langsung balik lagi ya," Teriak Raizel sebelum Chloe pergi jauh dari posisi mereka. Sedangkan sang gadis hanya mengangguk kecil.


Mereka akhirnya berpencar mencari keberadaan Ezra yang tiba-tiba saja menghilang.


**************


TAK!


BYUR!


Sesosok pemuda dengan netra hijau emerland tengah melempar kerikil kecil ke danau, Ia melempar satu persatu dengan pandangan kosong. Raut wajahnya yang tampak gelisah dan gusar terlihat jelas dari sana. Sejenak tatapannya tertuju pada beberapa kawanan angsa yang tengah berenang di danau.


Tatapan itu tampak redup dan kosong seakan memiliki banyak beban pikiran, Tak lama terdengar helaan napas dari sang pemuda.


"Hah, Pikiranku gak bisa tenang kalau perasaan ini tidak kunjung berhenti," Gumam Ezra lesu sembari mencengkeram kerah pakaiannya.


Netranya menatap pantulan dirinya sendiri dari atas danau. Sampai suara langkah kaki tiba-tiba menyapu pendengarannya.


Tap! Tap! Tap!


"Ternyata bapak disini, Kami sudah menunggu dari tadi lho,"


Ezra menoleh pelan dan menemukan Chloe yang baru saja datang mendekatinya, Sesaat ia kembali menghela napas saat suara sang gadis kembali terdengar.


"Pak Justin khawatir, Kami pikir bapak menghilang tadi,"


"Aku hanya sedang ingin sendiri,"


Chloe diam sesaat menyadari kalau keberadaannya mungkin saja membuat Ezra terganggu, Perlahan ia meringsut mundur berniat menjauhi Ezra.


"Oh kalau begitu mungkin aku kembali saja, Kalau sudah selesai cepatlah balik. Kami akan menunggu beberapa menit lagi,"


Tubuhnya berbalik berniat melangkah pergi dari sana, Namun suara Ezra yang kembali menyapu pendengarannya membuat Chloe mengurungkan niat.


"Aku...Kadang tidak mengerti dengan diriku sendiri, Perasaan ini muncul secara tiba-tiba ketika berada di dekatnya, Perasaan yang muncul seiring waktu berjalan," Ezra mencengkeram pagar pembatas masih menatap pantulannya sendiri dari atas danau.


"Kupikir ini hal yang wajar dan normal, Tapi setelah seiring waktu berjalan aku sadar. Perasaan yang kumiliki ini tidaklah normal dan aneh, Bahkan benar-benar tidak normal seperti orang-orang pada umumnya,"


Chloe menoleh dan memilih diam mendengarkan curhatan Ezra, Sekilas netranya menangkap senyum kecut tercetak jelas dari bibir sang pemuda.

__ADS_1


"Pak Ezra sedang membahas Pak Justin ya, Sepertinya masalah Pak Ezra agak rumit," Pikir Chloe menatap iba pemuda bersurai hitam yang berstatus sebagai partner nya itu.


"Sekeras apapun aku berusaha melupakan perasaan ini, Tetap saja tidak ada perubahan jika aku berdekatan dengannya. Malah semakin membuatku jatuh lebih dalam," Keluh Ezra dengan netra hijaunya yang semakin redup, Napasnya seakan sesak. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum hambar.


"Ternyata begini rasanya, Cinta sepihak tanpa bisa menyatakan kejujuran...Rasanya sesak sekali disini," Kata Ezra lirih, Kepalanya menyandar pada pagar pembatas. Ia menunduk hingga helai-helai rambutnya menutupi wajah. Disaat bersamaan ia menepuk-nepuk pelan letak jantungnya berada.


"Jika Pak Ezra suka dengan Pak Justin, Kenapa tidak katakan saja?"


"Aku sudah mengatakannya, Itupun juga karna saat itu aku terbawa emosi,"


"Lalu, Apa katanya?" Chloe mendekat berdiri disamping Ezra, Ia melipat kedua tangannya di atas pagar pembatas. Menyenderkan kepalanya pada lipatan tangan.


"Dia menolakku, Aku tahu hal itu akan terjadi. Tapi tetap saja menerima kenyataan seperti itu rasanya sakit. Dan sekarang dia memintaku mengambil alih jabatannya, Aku takut membuatnya kecewa nanti,"


Sejenak Chloe memilih diam membiarkan Ezra mengeluarkan semua keluh kesahnya, Beberapa detik matanya terpejam sembari menikmati semilir angin yang menerbangkan helai-helai rambut mereka. Kemudian kelopak mata itu terbuka menampilkan netra sebiru laut.


"Aku tidak tahu harus memberi saran seperti apa, Tapi kusarankan jika Pak Ezra ingin perasaan itu hilang. Jauhi Pak Justin atau carilah seseorang yang bisa membuat bapak nyaman dan melupakan rasa itu," Saran Chloe sembari menatap pantulan dirinya dari atas danau.


Seketika Ezra diam merenungkan saran Chloe, Netranya ikut menatap danau namun kini tatapannya tertuju pada angsa-angsa yang masih berenang mengitari danau.


"Jauhi Justin? Aku sudah berusaha melakukannya sejak dulu tapi tetap tidak berhasil. Tapi saran yang kedua bisa kupertimbangkan," Pikir Ezra sambil melirik Chloe disampingnya.


Sesaat hanya suasana hening melingkupi keduanya, Chloe masih asyik memperhatikan angsa-angsa di tengah danau. Ia menoleh pelan pada Ezra sembari tersenyum.


"Oh ya, Kalau bapak butuh teman curhat datang saja padaku. Tenang saja, Semua rahasia bapak aman kok termasuk kisah cinta bapak. Aku bakal tutup mulut,"


Tangan Chloe memperagakan seolah-olah sedang mengunci mulutnya sendiri sambil tersenyum, Hal itu membuat Ezra terdiam beberapa detik. Namun detik selanjutnya tangan Ezra terulur meraih sebuah kelopak bunga yang tersangkut di helai-helai rambut milik Chloe.


Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis, Dan tak lama Ezra meletakkan dua ujung jarinya di kening sang gadis. Tindakkan Ezra yang tak disangka membuat Chloe terperangah dan detik selanjutnya ia merasakan keningnya berdenyut sakit.


CTAK!


"Aaaww!"


Refleks sang gadis mengaduh kesakitan sembari mengusap keningnya yang baru saja mendapat sentilan pelan dari Ezra, Sedangkan Ezra terkekeh pelan merasa terhibur karna berhasil mengerjai gadis dihadapannya.


"Dasar, Apa kau tidak ingat kalau aku pernah bilang kalau aku masih BENCI padamu?" Ezra tersenyum miring sekaligus menekan kata benci untuk memperingatkan Chloe.


Kedua pipi sang gadis langsung mengembung cemberut, Masih mengusap keningnya. "Kukira Pak Ezra udah gak benci aku lagi,"


"Berharaplah sesukamu, Karna itu tidak akan pernah terjadi. Jangan nempel-nempel padaku!" Ezra bergeser beberapa meter dari Chloe, Berusaha menjaga jarak diantara mereka.


"Jahat sekali!" Raut wajah Chloe masih cemberut karna sekarang Ezra kembali menjaga jarak dengannya.


Diam-diam Ezra kembali tersenyum tipis saat ekspresi cemberut Chloe tertangkap matanya, Dalam hati ia membenarkan saran sang gadis. Mungkin dirinya hanya perlu waktu untuk mencari seseorang yang bisa membuatnya nyaman dan mengubah perasaannya.


"Dia benar, Mungkin aku bisa mencoba percaya pada bocah ini," Pikir Ezra sembari melirik kecil pada Chloe.


Suasana damai dan tenang kembali menyelimuti keduanya, Hanya terdengar suara semilir angin yang melewati mereka. Tak lama Chloe merasakan jam arlojinya bergetar dan berkedip-kedip beberapa kali.


Refleks sang gadis menerima panggilan seseorang yang terhubung lewat jam arloji miliknya.


KLIK!


"Ya?"


"Chloe, Sudah bertemu Ezra?"


"Oh sudah, Nih disamping saya Pak," Balas Chloe sambil melirik Ezra, Menunjukkan pada sang penelpon bahwa orang yang dicari sudah ketemu.


"Bagus, Sekarang cepat kembali berkumpul di mobil. Kami tunggu,"


"Siap,"


Ezra hanya menyimak sejak tadi, Ia memperhatikan gerak gerik Chloe yang memutuskan panggilan secara sepihak.


"Apa aku pergi terlalu lama?"


"Entah, Mungkin saja. Ayo kembali Pak, Yang lain sudah menunggu," Sahut Chloe sembari berjalan lebih dulu diangguki Ezra.


Keduanya pun pergi menuju tempat perkumpulan awal mereka tanpa bicara apa-apa lagi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2