System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Doi


__ADS_3

"Nah, Ini adalah ruangan peristirahatan khusus OG, Jadi kalau mau ganti seragam atau lainnya bisa disini," Jelas Cewek bersurai merah itu ceria, Menunjuk sebuah pintu bertuliskan 'Staff Only'.


"Oh iya kak, Lalu soal seragamnya?"


"Hm...Bentar, Aku carikan dulu,"


Cewek itu melangkah membuka pintu Staff diikuti Chloe, Dia mendekati sebuah loker berisi seragam OG. Tampak mencari sesuatu disana. Chloe hanya memperhatikan dari belakang.


Terdapat sebuah meja bundar dengan 4 kursi mengelilingi meja itu ditengah-tengah ruangan, Di sudut ruangan terdapat sebuah pintu yang Chloe tebak adalah toilet, lalu di sudut lainnya lagi terdapat sebuah loker khusus meletakkan sesuatu. Ruangan itu tidak terlalu luas maupun sempit, Yah lumayan buat ruangan khusus OG.


"Ketemu!"


Pekikan kegirangan dari seniornya membuat Chloe menoleh dan mendapati si cewek bersurai merah itu tengah memegang sebuah seragam berwarna hijau dengan celana hitam. Lalu sang cewek menyodorkan kedua pakaian itu padanya.


"Nih, Ganti dulu di sana," Kata cewek itu dengan senyum. Menunjuk pintu toilet dengan jari telunjuknya.


"Makasih kak Senior," Chloe menerima seragam, Balas senyum.


"Iihh lucu~, Jangan panggil kak Senior panggil aja Kak Gracia," Gracia kembali mencubit-cubit pipi Chloe gemas, Membuat sang empunya meringis kecil.


"Iya Kak Gracia, Udah dong. Nanti Pipi Chloe melar,"


"Hehehe, Habisnya pipimu tembem sih. Jadi gemas sendiri kan," Gracia terkekeh pelan, Melepaskan cubitannya. "Ya udah, Ganti seragam dulu. Kakak tungguin disini, Dihari pertama kamu harus belajar dulu,"


Chloe hanya mengangguk lalu bergegas ganti seragamnya di toilet tak lupa membawa ID Card nya.


Tak sampai 10 menit gadis bersurai biru itu keluar dari toilet, Memakai seragam barunya dengan ID card yang terkalung di lehernya. Chloe mendekati loker lalu menyimpan ransel serta jaket di dalamnya.


Gracia yang melihat Chloe sudah selesai langsung meranjak lalu mengambil kain pel dan ember yang sudah dia sediakan di sudut ruangan.


"Chloe sini!"


"Ya, Kenapa kak?" Chloe mendekati Gracia yang menunjuk pel dan ember berisi air lainnya. "Kamu bawa yang itu ya, Kita bersihin ruangan lain,"


"Siap!" Dengan semangat Chloe mengambil ember dan pel yang ditunjuk Gracia lalu mengikuti langkah sang gadis keluar dari ruang Staff.


*******************


[Aula Kantor, Lantai dasar]


Saat ini banyak para karyawan hilir mudik memenuhi area Aula, Mungkin karna sudah waktunya istirahat makanya para karyawan berhamburan tak tentu arah.


Chloe meletakkan sebuah tanda bertuliskan 'Awas lantai basah' tepat di lantai, Menunjukkan bahwa lantai itu akan di pel. Gracia mencelupkan pel nya ke ember setelahnya memeras airnya untuk mengurangi kadar air di dalam kain itu. Dia mulai ngelap lantai secara perlahan.


"Gini caranya ngepel, Chloe pel bagian sana ya," Pinta Gracia menunjuk lantai yang tak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Oke Kak,"


Chloe mencelupkan kain pel nya sesuai intruksi Gracia, Mengelap lantai secara perlahan. Tak lupa Chloe juga sudah meletakkan tanda lantai basah di sekitar lantai.


Banyaknya karyawan yang hilir mudik membuat gadis bersurai biru itu agak kesusahan, Pasalnya banyak dari mereka yang lewat, Dan bisa membuat lantai kembali kotor. Inginnya sih Chloe ngepel di lantai yang gak banyak orangnya tapi Gracia udah terlanjur mengajaknya ke lantai dasar.


Sejenak Chloe terdiam, Sepertinya dia melupakan sesuatu yang penting. Otaknya berpikir keras, Berusaha mengingat suatu hal yang dia lupakan.


"Njir, Aku lupa. Misiku tadi kan mengawasi para Staff yang terlihat mencurigakan. Kok malah jadi fokus ngepel sih!?" Pikir Chloe menepuk keningnya pelan, Hampir saja dia asyik melakukan tugasnya sebagai OG.


Akhirnya Chloe kembali ngepel, Namun kali ini sesekali Netranya melirik beberapa karyawan yang lewat. Memperhatikan gerak-gerik mereka dalam diam.


Disaat Chloe sibuk melakukan misinya tiba-tiba saja, Ezra lewat di depannya dengan membawa sebuah berkas. Dengan sengaja pemuda bersurai hitam dengan netra hijau emerland itu melangkahkan kakinya di lantai yang baru saja Chloe lap, Membuat lantai basah itu kembali kotor dengan bekas ukuran sepatu milik Ezra yang tercetak jelas.


Sesaat Ezra berhenti melangkah, Menghentakkan sepatunya pelan tepat di lantai basah itu membuat lantainya semakin kotor. Chloe melotot horror menatap lantai yang sudah capek-capek dia lap kembali kotor karna ulah Ezra.


Ezra melirik Chloe tajam sesaat. "Jadi OG tuh yang bener, Udah tau kalau disini banyak yang lewat. Masih di lap aja, Jadi nambah kerjaan kan!?"


Ezra berbalik menghadap Chloe dingin. "Bersihin yang bener nih lantai, Sekalian nih buangin sampahnya,"


Dengan acuh Ezra membuang sebungkus kertas tepat di depan Chloe lalu melangkah santai meninggalkan sang gadis. Chloe hanya diam memandang sebungkus kertas di bawah kakinya lalu memandang punggung Ezra yang semakin jauh.


Tangannya terkepal di sisi kiri geram, Sungguh kalau saja jabatan Ezra di kantor ini gak setinggi dia. Sudah Chloe lempar ember berisi air kotor itu ke tubuh sang pemuda. Netranya melirik lantai basah yang kembali kotor lalu dia mengambil sampah kertas di bawah kakinya sambil menghela napas.


"Sabar, Sabar. Suatu saat nanti pasti ada balasan untuk Pak Ezra," Gumam Chloe pelan, Kembali ngepel lantai yang kotor.

__ADS_1


**************


Tak terasa waktu cepat berlalu, Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kebetulan Chloe sudah selesai dengan pekerjaannya begitu pun dengan Gracia, Sebentar lagi mereka akan pulang.


Saat ini dia dan Gracia sedang mencuci tangan di toilet terdekat, Tak lama mereka keluar toilet.


"Akhirnya selesai juga kerjaan kita hari ini ya," Kata Gracia sambil melemaskan jari-jarinya.


"Iya, Kak. Meski tadi ada sedikit masalah,"


"Masalah? Masalah apa?" Tanya Gracia penasaran, Mereka sembil berjalan menuju ruang Staff.


"Tadi Pak Ezra mengotori lantai yang sudah ku pel, Aku tidak paham kenapa Pak Ezra melakukan itu. Dia terlihat sangat membenciku," Keluh gadis bersurai biru itu lemas, Merasa pusing dengan perilaku Ezra yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya.


Sesaat Gracia terlihat kaget dengan netra yang sedikit melebar. "Pak Ezra!? Pak Ezra yang berstatus sebagai Road Manager itu kan!?"


Chloe mengangguk pelan mengiyakan perkataan Gracia.


"Pak Ezra gak mungkin melakukan itu kalau orang yang dibencinya tidak salah padanya. Pasti kau pernah ada masalah dengan Pak Ezra hingga Pak Ezra jadi begitu,"


"Aku gak punya salah sama Pak Ezra, Sejak awal dia memang sudah begitu padaku," Bela gadis bersurai biru itu menggeleng pelan.


"Wah, Mungkin karna ada suatu hal yang membuatnya bersikap begitu padamu. Tapi kurasa hal itu wajar terjadi di kantor sih. Setahuku dia bakalan bersikap kasar dan mudah emosi jika ada yang berani mengganggu atau mendekati Pak Ceo. Tapi kalau dekat dengan Pak Ceo, Pak Ezra terlihat lebih kalem dan tenang sih," Jelas Gracia bergidik bahu.


"Bukannya sikap Pak Ezra lebih mirip seperti berkepribadian ganda?"


"Entahlah, Pengalaman para karyawan kantor yang pernah berhadapan dengan Pak Ezra begitu sih yang kudengar,"


Chloe manggut-manggut, Dia juga baru tahu kalau sikap Ezra bisa berubah begitu jika disamping Justin.


Mereka sampai di depan lift, Namun seorang karyawan laki-laki tiba-tiba mendekati Gracia dan Chloe dengan membawa sebuah nampan berisi 5 gelas minuman di atasnya.


"Hei, Kalian berdua!"


"Ada apa?" Tanya Gracia.


"Tolong antar minuman ini ke lantai 5, Disana para idol sedang latihan. Aku gak sempat mengantar karna tugasku masih banyak," Kata laki-laki itu sambil menyerahkan nampan tersebut pada Gracia.


"Baik Kak," Chloe mengambil dua gelas masing-masing di tangannya, Untungnya minuman itu dingin.


Mereka langsung menaiki lift setelahnya lalu Chloe menekan tombol lantai 5, Perlahan pintu lift itu tertutup dan membawa kedua OG itu ke lantai atas.


*****************


[Lantai 5]


TING!


Mereka bergegas keluar dari lift, Sekarang tujuan mereka mencari ruangan dimana para idol itu biasa latihan.


"Kak Gracia tahu gak di ruangan mana?" Chloe sesaat menoleh mengikuti Gracia.


"Setahuku dekat lift sih, Bentar kita cari dulu,"


Gracia memimpin jalan sambil memperhatikan tulisan-tulisan yang tertempel di depan setiap pintu. Tak lama langkahnya terhenti di sebuah pintu bertuliskan idol room. Terdengar juga suara decitan sepatu dari balik pintu tersebut.


"Nih ruangannya, Tolong bukain ya Chloe,"


Chloe mengangguk perlahan dia membuka pintu tersebut dan masuk diikuti Gracia.


"Permisi, Kami datang membawa minuman," Kata Chloe, Memperhatikan ruangan yang ditempatinya.


Beberapa idol yang berada di ruangan itu menoleh, Sejenak Chloe terdiam kaget karna ternyata para idol yang dimaksud adalah Grup HE@VEN. Para idol itu berhenti latihan dan mendekati Gracia dan Chloe.


"Wah, Akhirnya datang juga minumannya. Aku haus banget," Kata Al tanpa babibu langsung meraih gelas di nampan yang dibawa Gracia dan meminumnya dengan rakus.


Para member lain juga melakukan hal yang sama seperti Al namun gak serakus Al. Hanya ada 4 anggota HE@VEN disini yaitu Revan, Al, Ash, dan Raizel. Sedangkan Ian entah hilang kemana.


Raizel terdiam mematung di tempat, Terus menatap Chloe yang berdiri tak jauh darinya.


"Jadi ini ya misi yang diberikan Justin pada Sweety, Dia memakai seragan OG. Misinya pasti ada hubungannya dengan perusahaan," Pikir Raizel yang terus menatap Chloe serius.

__ADS_1


Segelas air tersodor di depannya, Sesaat Raizel mengerjapkan matanya. Memandangi sosok Chloe yang kini sudah berdiri berhadapan dengannya bersama senyum manis yang terpatri di bibir sang gadis.


"Nih ambil, Kau pasti haus kan?" Kata Chloe masih dengan senyum manisnya.


Seketika tanpa sadar wajah Raizel memanas, Pipinya merona merah sampai ke telinga. Jantungnya berdegup kencang saat senyum sang gadis tertuju padanya.


DEG! DEG! DEG!


"Astaga, Jantungku kenapa berdetak keras sekali!? Semoga Sweety tidak mendengarnya," Pikir Raizel malu, Tangan perlahan meraih gelas di tangan Chloe.


Entah kenapa saat ini Raizel tak bisa mengendalikan reaksi tubuhnya saat berdekatan dengan sang gadis, Tangannya sampai agak bergetar hingga gelas di tangannya ikut bergetar. Wajahnya benar-benar sangat merah sekarang.


"C-Chloe, Aku–" Bibir Raizel agak bergetar, Suara nya tercekat hampir tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Ya? Raizel apa kau baik-baik saja? Wajahmu merah, Apa kau demam?" Tanya Chloe cemas, Menyadari wajah Raizel sangat merah sekarang.


Sedangkan disisi Revan, Ash, Dan Al mereka terlihat kebingungan. Sejak tadi ketiganya memperhatikan interaksi antara Raizel dan Chloe. Berbeda dengan Gracia yang memandang heran.


"Wah, Apakah Raizel akan nembak Chloe? Mukanya sampai merah tuh," Bisik Al sambil terkekeh pelan.


"Raizel suka Chloe? Kupikir dia masih suka Lea," Balas Ash ikut berbisik, Agak terkejut karna baru tahu Raizel suka sama Chloe.


"Pantas saja akhir-akhir ini Raizel gak fokus latihan," Revan ikut nimbrung sambil melirik Raizel dan Chloe.


"Apa yang kalian bicarakan? Siapa yang suka siapa?" Tanya Gracia ikut berbisik bingung.


"Lihat aja dramanya," Sahut Al dengan senyum lebar.


Kembali ke sisi Raizel dan Chloe, Keduanya masih berdiri berhadapan dalam diam. Pikiran Raizel agak kacau antara mau nembak Chloe atau enggak.


"Raizel? Halo, Kau mendengarkanku kan?" Chloe melambaikan tangannya di depan sang pemuda, Berniat menyadarkan pemuda di depannya.


"Y-Ya, Aku mendengarnya," Sahut Raizel cepat agak tergagap, Wajahnya masih memerah.


"Etto...Tadi kau ingin bilang sesuatu? Ingin bilang apa?" Gadis bersurai biru itu kembali tersenyum manis.


"Bukan apa-apa, Gak jadi," Dengan cepat Raizel langsung minum segelas air yang berada di tangannya sampai habis tak bersisa agar menetralkan wajahnya yang merona. Lalu kembali meletakkan gelas yang sudah kosong itu di nampan.


"Oh, Kalau begitu. Semangat ya latihannya," Kata Chloe kembali tersenyum manis dengan aura filter bunga-bunga di mata Raizel.



DEG! DEG! DEG!


Netra ungu muda milik Raizel agak melebar terkejut, Jantungnya kembali berdetak kencang tak terkendali. Tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram bajunya dimana jantungnya berada dengan erat. Rasanya Raizel ingin teriak bahagia saat itu juga.



"AAAAAA, DAMAGE NYA GAK MAIN-MAIN. JANTUNGKU GAK KUAT," Pikir Raizel histeris dalam hati.


Tanpa dia sadari hidungnya perlahan mengeluarkan darah segar, Sampai akhirnya tubuh Raizel limbung dan ambruk menghantam lantai.


BBRRUUKK!


"Eh? Raizel!" Chloe langsung panik saat tahu Raizel pingsan menghantam lantai. Bergegas sang gadis mendekati tubuh sang pemuda.


Menyadari hal itu Gracia, Ash, dan Al ikutan panik. Berbeda dengan Revan yang hanya menatap datar.


"Woi! Si Raizel mimisan. Cepat bantu bawa ke ruang kesehatan!" Kata Al segera membopong tubuh Raizel dibantu Ash.


"Revan, Cepetan bantuin!" Pinta Ash panik.


"Iya, Iya," Dengan malas Revan ikut membantu membopong tubuh Raizel, Mereka segera membawa Raizel ke ruang kesehatan.


Gracia dan Chloe dengan cemas mengikuti Revan, Ash, Dan Al. Tak lupa menutup pintu ruangan idol sebelumnya.


"Kenapa Raizel pingsan sampai mimisan gitu? Perasaan tadi dia masih baik-baik aja. Aku gak melakukan kesalahan kan?" Pikir Chloe cemas.


"Beginilah kalau orang Bucin ketemu Doi, Bisa salting sampai pingsan kayak gitu," Pikir Gracia menggeleng pelan, Tak habis pikir dengan perilaku Raizel.


TBC

__ADS_1


__ADS_2