System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Battle


__ADS_3

Chloe menghindari senjata Aiden yang tertuju ke arahnya, Sang gadis menyilangkan kedua lengannya sebagai pelindung. Menghalau sulur-sulur tanaman yang mencoba mengikat tubuhnya meski lengan Chloe harus tergores duri.


WWUUSSHH!


Aiden terus saja menyerangnya dengan tanpa henti, Yang bisa Chloe lakukan hanya bertahan dan menghindar. Chloe tidak bisa menyerang Aiden begitu saja karna sang pemuda hampir tidak memiliki celah untuk Chloe serang balik, Ditambah dirinya yang tak memiliki senjata membuat kondisinya semakin terdesak.


"Jangan diam saja! Serang saya kalau bisa!" Kata Aiden dingin. Dia tak menghentikan serangannya, Cakarnya terus berayun menggores lengan dan pakaian sang gadis.a


Pertahanan Chloe hampir runtuh kini kedua lengannya yang dipakai sebagai pertahanan mulai bergetar hebat, Darah segar perlahan-lahan mengalir dari goresan besar di lengannya. Pakaiannya juga mulai terkoyak dan sebagian agak robek karna serangan Aiden.


"Aiden tolong berhenti! Aku ini manusia! Kekuatan itu kudapat dari Sistem. Aku memang bukan Chloe Amberly yang asli karna jiwaku hanya menempati raganya!" Seru Chloe masih berusaha bertahan, Dia mundur sesaat.


Tatapan Aiden menajam tanpa menghentikan serangannya. "Pembohong! Anda sudah menipu semuanya!"


SRET!


Dengan cepat sulur-sulur tanaman Aiden melayang ke arah Chloe, Lalu mulai mengikat tubuh sang gadis dari leher, lengan, tubuh, dan kaki.


"Ai-Aiden, To-Tolong percayalah...," Lirih Chloe dengan napas yang terputus-putus, Sulur itu mencekik lehernya. Chloe tidak bisa bergerak karna duri-duri dari sulur-sulur yang mengikatnya membuat kulitnya sakit dan berdarah.


"Anda pikir saya akan percaya begitu saja?!"


WWUUSSHH!


BBRRAAKK!


Tubuh Chloe terlempar sangat jauh hingga masuk hutan dan punggungnya menghantam salah satu batang pohon besar sebelum tubuhnya jatuh menghantam tanah.


"Uhuk...Uhuk...!" Sesaat Chloe terbatuk-batuk, Dia menghirup udara rakus setelah terlepas dari jeratan sulur Aiden. Sudut bibirnya berdarah.


Tubuhnya seakan mati rasa akibat luka-luka yang berada di tubuhnya. Perlahan sang gadis berdiri dengan tertatih, Sesaat Netranya melihat sebuah pohon yang tiba-tiba saja tumbang.


BBRRAAKK!


Pohon itu tumbang karna serangan Aiden yang sedang mencari Chloe. Sang gadis buru-buru sembunyi di salah satu batu besar yang tak jauh berada di belakangnya.


"Ya tuhan, Tidak bisakah nyawaku tidak terancam sekali saja? Aku hanya ingin hidup tenang di dunia ini," Ringis Chloe dalam hati, Jantungnya berdegup kencang takut Aiden menemukannya.


TAP! TAP! TAP!


Chloe mendengar suara langkah kaki mendekat, Jantungnya semakin berdegup tak terkendali. Secara was-was dia mengintip dari balik batu besar, Melihat Aiden yang berjalan di sekitar hutan tengah mencarinya.


"Nona Chloe, Anda dimana? Apa sekarang anda ingin main Hide and Seek? Baiklah, Siap-siap saya akan menemukan anda Nona Chloe,"


Chloe gemetar dia kembali menyembunyikan dirinya di balik batu besar, Nada suara Aiden sangat seram menurutnya. Kembali sang gadis mendengar suara beberapa pohon tumbang. Dia memejamkan matanya erat berharap Aiden tak menemukannya.


"Ugh...Sejak kapan Aiden jadi menakutkan begini?" Pikir Chloe bergidik ngeri, Dia kembali mengintip memastikan apakah Aiden sudah pergi atau belum.


Namun sayang Netra nya langsung bertatapan dengan netra ungu tua milik Aiden, Entah sejak kapan pria itu sudah berada dekat dengan batu besar tempat Chloe sembunyi.


"Ketemu!" Aiden menatap dingin sambil mengayunkan senjatanya.


"Ggyyaa!"


KKRRAAKK!


BUM!


Dengan sekali serangan batu besar itu hancur terkeping-keping, Membuat Chloe ikut terlempar karna serangan itu. Sang gadis kembali terbatuk-batuk sambil meringsut mundur menyadari Aiden mendekatinya.


"Ternyata anda sangat lemah Nona Chloe, Sungguh mengecewakan. Saya pikir anda bisa menandingi kekuatan saya," Aiden masih melangkah mendekat.


"Aku sudah bilang kalau aku manusia biasa, Aku gak punya kekuatan apapun tau!" Bentak sang gadis sambil menatap Aiden.


"Saya mungkin benci dengan manusia yang tidak disiplin tapi saya lebih benci dengan manusia yang suka berbohong apalagi jika ternyata manusia itu hanya tiruan," Kata Aiden mengancungkan senjatanya ke hadapan wajah sang gadis.


"Aku...Aku tidak berbohong! Kenapa kau sama sekali tidak percaya padaku! Kau sama sekali tidak memberiku waktu untuk menjelaskan!" Chloe menggigit bibir bawahnya cemas, Merasa semua usahanya sia-sia untuk membuat Aiden percaya padanya.


Aiden hanya diam sesaat, Sebelum senjatanya kembali berayun ingin membunuh sang gadis. "Tidurlah untuk selamanya Nona Chloe,"

__ADS_1


WWUUSSHH!


Chloe terdiam menunduk saat senjata Aiden mulai berayun hampir mengenainya. Sang gadis memejamkan mata tak lama tiba-tiba tubuhnya dengan cepat berpindah tempat beberapa meter hingga membuat serangan Aiden meleset.


BUM!


Serangan Aiden mengenai tanah tempat Chloe berpijak tadi, Membuat tanah itu hancur seketika. Sedangkan Chloe yang tak merasakan apa-apa kembali membuka matanya dan menemukan tubuhnya masih utuh dari serangan Aiden.


Tak lama tiba-tiba sebuah suara terdengar di benaknya.


"Chloe, Ambillah bunga mawar biru yang berada di atas bebatuan itu. Bunga itu bisa jadi senjatamu menghadapi Aiden," Kata suara itu di benak Chloe.


"Holy? Ini kau?! Kau yang tadi menggerakkan tubuhku untuk menghindari serangan Aiden?!" Balas Chloe agak terkejut, Tidak menyangka dia akan mendengar suara Holy lagi meski saat ini dia tidak melihat wujud Holy.


"Yup benar, Sekarang cepat ambil bunga itu dulu sebelum Aiden mengejarmu,"


Chloe mengangguk kecil, Dia segera mencari bebatuan yang dimaksud Holy di sekitarnya. Hingga akhirnya Netra miliknya menemukan bebatuan itu tak jauh dari posisinya. Di Atas bebatuan terdapat sebuah mawar biru bercahaya yang tumbuh di atasnya.



Chloe bergegas mendekati bebatuan itu, Sedangkan Aiden mengejarnya dari belakang. Chloe segera menaiki bebatuan dan mengambil mawar biru tersebut.


Perlahan mawar itu berubah menjadi pedang saat Chloe menggenggamnya, Sulur di mawar itu berubah menjadi hitam dan melekat di tangan kanannya, Sesaat dia terkagum namun segera mengambil posisi siaga saat menyadari Aiden mulai mendekat.


"Sekarang ayo kita bertarung, Aku juga punya senjata sepertimu," Kata Chloe masih dalam posisi siaga dan serius.



Langkah Aiden terhenti saat Chloe mengambil posisi siaga. Hanya tatapan datar yang Aiden berikan ke Chloe. Jarak keduanya hanya beberapa meter dari posisi berdiri.


"Nona Chloe ternyata di bantu oleh seseorang, Tapi siapa?" Pikir Aiden masih memandangi Chloe sebelum akhirnya dia menggerakkan sulur-sulur tanamannya menuju sang gadis.


WWUUSSHH!


SRET!


PRAK!


Aiden berlari maju dan mengayunkan kedua cakarnya pada sang gadis, Refleks Chloe menahan serangan Aiden dengan pedangnya.


TRING! TRING! TRING!


Logam beradu dengan logam membuat suara yang memekakkan telinga, Chloe mendorong Aiden sekuat tenaga. Dan usahanya membuahkan hasil namun tak berpengaruh banyak.


Yang Chloe lihat sulur-sulur tanaman Aiden tampak melemah, Dia menyadari tenaga Aiden mulai terkuras. Sang pemuda juga terlihat lengah. Di kedua mata Aiden juga terlihat mengeluarkan darah, Karna dia terlalu banyak mengeluarkan kekuatannya.


"Kesempatanku," Pikir Chloe dengan cepat menghunuskan pedangnya pada Aiden.


Aiden menyadari hal itu segera menghindar, Hanya lengannya sedikit terkena goresan pedang Chloe.


CRAS!


"Ugh...!" Sang gadis segera mundur saat pundaknya terkena cakar dari Aiden, Kini pundaknya banyak mengeluarkan darah. Sontak sang gadis memegangi pundaknya sambil menahan sakit.


"Lumayan, Setelah punya senjata nona Chloe bisa melawanku," Aiden menghilangkan sulur-sulur tanamannya dan hanya menyisakan cakar di tangannya. Menurut Aiden dia tidak perlu pakai sulur lagi untuk membantunya.


Sejenak pemuda bersurai ungu itu menghembuskan napasnya, Tenaganya benar-benar hampir habis karna melawan Chloe. Saat dia menatap gadis itu lagi, Chloe sudah menghilang dari hadapannya.


"Tips pertama, Jangan lengah kalau masih berhadapan dengan lawan,"


Suara yang begitu familiar di belakangnya membuat Aiden menoleh, Namun belum sempat menoleh dia merasakan tebasan pedang mengenai punggungnya dan menusuk dadanya tepat di bagian jantung dari belakang.


CRAS!


SREK!


BBRRUUKK!


Chloe menatap kosong tubuh Aiden yang ambruk menghantam tanah, Darah dari sang pemuda mengenai pakaiannya bahkan wajahnya juga terkena bercak darah Aiden.

__ADS_1


Napas sang gadis tampak memburu, Tangannya yang memegang pedang tampak bergetar hebat. Netra merahnya tertuju pada awan hitam yang mendung. Sebelum akhirnya hujan deras berjatuhan menghantam bumi.


ZZRRAAASS!


TRING!


Pedang di tangan Chloe terlepas jatuh ke tanah, Netranya kembali menatap tubuh Aiden yang tak bergerak sama sekali. Sampai akhirnya bulir-bulir air mata berjatuhan dari netra merahnya bercampur dengan air hujan. Gadis itu jatuh terduduk di tanah yang basah dan lembab.


"Apa yang kulakukan?! Aku membunuh Aiden...hiks...hiks...Aiden maafkan aku...Maafkan aku," Racau Chloe di tengah-tengah guyuran hujan, Dia menangis menyesali perbuatannya.


Chloe menatap tubuh Aiden di dekatnya yang masih tak bergerak, Gadis itu semakin menangis terisak.


"Semuanya sudah berakhir Chloe, Aiden tidak akan mengganggumu lagi," Kata suara Holy di benak Chloe.


"Tapi aku tidak menginginkan ini! Aku tidak ingin Aiden mati, Niatku tadi cuma untuk menghentikannya. Bukan untuk membunuhnya!" Bentak Chloe pada Holy, Dirinya masih terisak tak terima dengan kematian Aiden. Teman se Asrama nya.


"Sejujurnya pedang yang kuberikan tadi adalah pedang kematian. Pedang itu akan langsung mengambil jiwa orang yang ditusuk tepat di jantung," Jelas Holy tanpa wujud.


"Kenapa kau memberikan ku pedang seperti itu Holy! Kupikir pedang itu pedang biasa," Chloe masih menangis, Menatap pedang yang jatuh di sampingnya.


Holy tak menjawab, Sang sistem hanya diam. "Kau sekarang bisa pulang dari sini Chloe, Biarkan semuanya terjadi. Aku akan melanjutkan Revolusiku,"


Setelahnya suara Holy tak terdengar lagi, Chloe masih menunduk merasa sedih dan bersalah. Seharusnya jika dia tahu kalau pedang itu adalah pedang kematian, Dia tidak ingin memakainya. Dan Aiden tidak akan mati karna pedang itu.


Aroma amis darah bercampur dengan aroma tanah, sebagian rumput yang tadinya hijau kini dipenuhi darah dari Aiden dan Chloe. Sejenak sang gadis menatap tubuh Aiden yang masih tak bergerak untuk terakhir kalinya sebelum dia berdiri dari duduknya.


"Aiden maafkan aku," Kata Chloe lirih.


Dia berbalik dan ingin melangkah pergi dari sana. Namun tiba-tiba saja sesuatu menerjang tubuhnya dari belakang. Membuat Chloe kembali jatuh, Tentu saja sang gadis panik, Dia segera membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang barusan menerjangnya.


"Aiden?!" Chloe sangat terkejut menatap Aiden yang berada di atasnya, Kemudian ekspresinya berubah senang mengetahui kalau Aiden tidak mati. "Syukurlah kau baik-baik saja, Aku benar-benar minta maaf karna hampir membunuhmu,"


Tapi pemuda bersurai ungu itu hanya diam tak menjawab, Tatapannya terus tertuju pada leher sang gadis. Netra nya yang tadinya ungu tua berubah menjadi merah darah.


"Aiden? Kau mendengarkanku?" Chloe menatap heran, Merasa Aiden tidak akan menjawab pertanyaannya sang gadis berusaha bangun. "Ya sudah kalau gak ingin jawab, Lebih baik kita pulang sekarang. Aiden kau menyingkir dulu,"


Aiden mencengkeram kedua tangan Chloe, Menahan sang gadis agar tetap berada di bawahnya.


"Nona pikir saya akan mati semudah itu? Ingatlah kalau saya bukan manusia seperti anda," Aiden menatap datar.


"Umm...Aku lupa soal itu," Chloe tersenyum kikuk, Melirik ke arah lain menghindari tatapan Aiden. "Sekarang bisakah kita pergi?"


"Tidak! Saya perlu mengisi energi saya kembali,"


Chloe tersentak saat Aiden mengendus lehernya sesaat, Sebelum akhirnya sang pemuda menjauh dari Chloe, Dia duduk di tanah dan menarik sang gadis ke pelukannya. Kembali mengendus leher sang gadis.


Chloe was-was sendiri kalau Aiden udah begini. "Aiden, Bukannya beberapa hari yang lalu aku udah ya?"


Tak ada tanggapan dari Aiden, Pemuda itu tampak asyik dengan dunianya sendiri.


"Dari aromanya, Nona Chloe yang ini dan di dunia itu sama persis. Sepertinya ini benar-benar nona Chloe meski hanya raganya saja yang beda," Pikir Aiden sambil menurunkan baju lengan Chloe bagian pundak hingga memperlihatkan pundak mulus sang gadis.


Wajah Chloe merona tipis, Refleks tangannya segera menahan tangan Aiden yang ingin menurunkan baju bagian pundak lainnya.


"Hei! Kalau mau ngambil darahku ambil aja, Kenapa sampai menurunkan pakaianku juga?" Protes Chloe tak terima karna sekarang pundaknya terlihat jelas oleh Aiden. Dengan segera sang gadis kembali menaikkan baju lengannya, Berniat menutupi pundaknya lagi.


Tapi tangan Aiden menahannya, Dengan ekspresi datar pemuda itu menggeleng. "Biar gak ganggu,"


"Hah?" Chloe mengerutkan alisnya heran, Merasa bingung dengan perkataan Aiden.


Aiden kembali memeluk Chloe kali ini agak erat dari sebelumnya. Dia menjilat kecil leher sang gadis sesaat, Sebelum akhirnya menancapkan taringnya disana.


Sang gadis hanya bisa meringis menahan sakit, Udara dingin serta hujan deras tak mengusik Aiden sama sekali dari kegiatannya saat ini.


Perlahan wajah Chloe menjadi pucat ketika darahnya sedikit demi sedikit tersedot keluar, Kepalanya kembali mendadak pusing.


"Ai-Aiden...Cukup!" Lirih Chloe dengan ekspresi wajahnya yang berubah sayu. Namun tampaknya Aiden tak mendengarkan perkataan Chloe. Dia masih asyik mengambil darah sang gadis.


Hingga akhirnya Chloe pingsan dalam pelukan sang pemuda, Karna Aiden terus mengambil darahnya tanpa henti.

__ADS_1


TBC


__ADS_2