
[Perjalanan pulang]
Chloe menapakkan kakinya keluar dari bus, Melangkah pergi dari area halte. Dengan santai ia berjalan menelusuri jalan trotoar, Sesekali netranya menatap beberapa toko yang sudah tutup maupun masih buka.
Beberapa kendaraan transportasi masih hilir mudik disana membuat suara agak bising, Tak lama Chloe berbelok melewati sebuah gang kecil agar cepat sampai ke rumahnya.
Sekilas sang gadis tiba-tiba merasakan seseorang seperti tengah mengikutinya, Apalagi Chloe samar-samar mendengar suara langkah kaki pelan di belakangnya. Perasaan was-was plus waspada menyergap hati kecilnya.
Sejenak gadis bersurai biru itu menghentikan langkah kakinya, Ia menoleh pelan ke belakang tubuhnya. Namun tidak ada siapa-siapa disana, Lantas Chloe kembali melanjutkan perjalanannya dengan agak terburu-buru. Ditambah suasana gang yang sepi membuat hati kecilnya semakin tak karuan.
Tap! Tap! Tap!
Dengan sedikit berlari akhirnya Chloe keluar dari gang itu, Ia sampai pada sebuah lapangan basket umum. Tinggal beberapa meter lagi dari lapangan itu dia akan sampai di rumahnya. Chloe kembali menoleh ke belakangnya, Memastikan kalau kegundahannya tadi hanya feeling nya saja.
"Kok feelingku rasanya gak enak ya. Tadi kayak nya ada yang ngikutin," Pikir Chloe masih was-was, Ia segera menggeleng pelan untuk menghilangkan pikiran negatifnya dan menganggap itu hanya feelingnya saja.
Gadis itu berniat melanjutkan perjalanannya namun tiba-tiba saja 3 orang sosok berjubah hitam dengan topeng yang menutupi wajah mereka muncul tepat dihadapan Chloe. Menghalangi sang gadis untuk pergi dari sana.
(Anggap saja 3 orang👆)
Melihat 3 sosok asing dihadapannya sontak Chloe langsung mundur beberapa langkah menjauhi 3 sosok itu. Ia menatap waspada, Namun tetap bersikap tenang agar tak terlalu mencolok.
"Siapa kalian?" Netranya menatap penuh waspada pada orang-orang asing itu.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan sang gadis, Sosok-sosok asing itu hanya diam memandang tanpa berniat menjawab. Tak lama salah satu sosok paling depan mengambil sebilah pisau dari balik jubahnya, Tanpa aba-aba langsung berlari gesit menyerang sang gadis.
Chloe refleks menghindar saat sosok itu menyerangnya, Ia menangkis beberapa serangan yang dilancarkan sosok itu menggunakan tangan.
SSYYUUTT!
BUGH!
Tangannya berhasil memukul dagu sosok itu setelah mendapat celah, Chloe memasang sikap kuda-kuda dengan ekspresi serius.
Tak lama sosok lainnya ikut menyerang, Kali ini sosok itu memakai sebuah kapak. Chloe menunduk menghindari kapak yang hampir menebas kepalanya, Ia menggunakan salah satu lututnya untuk menyerang perut sosok tersebut.
BUGH!
Ia berhasil memukul mundur dua sosok itu, Sesaat netranya tak sengaja menangkap sebuah pipa besi tergeletak disamping tiang ring basket. Lantas Chloe segera berlari mengambil pipa tersebut.
Sosok lainnya mulai bergerak, Dia menggunakan sebuah tongkat besi kecil. Sosok itu segera menyerang Chloe setelah kedua temannya di pukul mundur.
TTRRAANNGG!
TTRRAANNGG!
TTRRAANNGG!
Besi beradu dengan besi membuat suasana malam itu semakin mencekam. Chloe menjegal kaki sosok tersebut, Membuat sosok itu agak lengah dan sang gadis segera memukul kepalanya sekuat tenaga.
BUAK!
"Tiga lawan satu, Mereka curang sekali," Pikir Chloe masih menatap waspada tiga sosok di hadapannya. Ia mengancungkan pipa besi ditangannya.
Tak lama ketiga sosok itu menyerangnya secara bersamaan, Lari mereka yang begitu cepat bagai ninja membuat sang gadis kewalahan. Sebisa mungkin Chloe menangkis serangan ketiga sosok itu namun pada akhirnya salah satu dari mereka berhasil melukai pipi kiri dan lengan kanan Chloe sampai berdarah.
Duak!
Salah satu sosok itu menendang perut sang gadis hingga gadis itu tersungkur, Pipa besi di tangannya terlempar jauh dari posisinya. Sesaat Chloe terbatuk-batuk pelan, Menahan rasa perih di lengan kanannya yang mengeluarkan darah segar, Begitu juga dengan pipi kirinya.
Lengan Jaket kanannya pun sobek karna bekas tusukan. Kepalanya mendongak ketika salah satu sosok berjubah hitam itu mendekatinya, Ditangan sosok tersebut terdapat sebilah pisau yang siap menusuk kapan saja.
"Sebenarnya apa mau kalian? Kenapa kalian menyerangku?"
(Anggap saja langitnya malam hari👆)
Sosok dihadapannya tak menyahut sama sekali, Hanya menatap dalam diam. Namun sosok lainnya yang menjawab pertanyaan Chloe.
__ADS_1
"Kami diperintah untuk membunuhmu, Karna bos kami menginginkan system yang berada dalam tubuhmu,"
Deg!
"System?! Jadi selama ini sudah ada yang tahu soal system dalam diriku. Jangan-jangan 'dia' adalah bos mafia yang dijelaskan oleh program waktu itu," Pikir Chloe panik sekaligus terkejut, Rasa sakit dan perih di lengan serta pipi nya seakan hilang begitu saja.
Chloe menyadari sosok dihadapannya mulai mengangkat pisau di tangan, Siap menghunuskan ke tubuhnya. Saat pisau itu berayun sontak Chloe menyilangkan kedua lengannya di atas kepala sembari memejamkan mata.
"JANGAN!" Teriaknya penuh ketakutan.
WWUUSSHH!
KKRRAAKK!
Sejenak suasana malam itu berubah hening, Hembusan angin kecil menerpa wajah sang gadis. Beberapa detik ia terdiam masih dalam posisinya. Sesaat Chloe tidak merasakan apapun menusuk tubuhnya, Dan samar-samar ia mendengar suara sosok jubah hitam lainnya tengah berbisik.
"Apa yang dia lakukan?!"
"Dia tiba-tiba saja berhenti, Apa yang dia pikirkan?!"
Merasa tidak ada apapun mengenai tubuhnya, Chloe perlahan membuka matanya dan menurunkan kedua lengan. Ia mendongak pelan, Menatap sosok dihadapannya kini tengah terdiam.
Netra biru itu melirik pisau yang tertancap tepat di sampingnya membuat sebuah retakan di lapangan itu. Suara pelan tiba-tiba menyapu pendengarannya.
"Pergi!"
Chloe kembali menatap sosok bertopeng didepannya yang kini masih berdiri tegak, Ia tak tahu apa yang dipikirkan sosok itu. Namun sangat jelas Chloe mendengar kata itu keluar dari balik topeng sosok tersebut.
"Apa?"
"Pergi dari sini!" Nada suara sosok itu terdengar lirih namun cukup tajam bagi Chloe.
Sesaat Chloe tercengang, Tidak percaya sosok didepannya membiarkan dirinya lepas begitu saja. Padahal jelas-jelas sosok itu ingin membunuhnya tadi.
Namun tanpa diperintah dua kali Chloe lantas berdiri cepat, Ia segera barlari pergi dari sana meninggalkan tiga sosok di belakangnya.
Dua sosok berjubah hitam yang sejak tadi hanya memandang kejadian tersebut kaget, Salah satu dari mereka menggeram marah.
"Apa yang kau lakukan?! Kau membiarkan target kita pergi!"
Sosok bertopeng tersebut hanya diam saat rekannya berteriak marah, Dia mengambil kembali pisau nya yang tertancap. Lalu menoleh pelan.
"Aku tidak bisa membunuhnya,"
"Apa-Apaan itu! Mana sikapmu yang biasanya membunuh mangsa tanpa belas kasih?! Kau ingin bos menghukum kita?!" Bentak sosok berjubah hitam lainnya tak terima.
"Aku tidak peduli soal itu,"
"Dasar penghianat!"
Kedua sosok jubah hitam itu mulai menyerang rekan mereka yang sekarang berstatus musuh, Dengan gesit sosok bertopeng langsung menghindar, Ia menangkis semua serangan kedua sosok berjubah hitam itu.
TTRRIINNGG!
TTRRIINNGG!
TTRRIINNGG!
Senjata mereka saling beradu dengan cepat, Saling menangkis dan menyerang. Sosok bertopeng dengan gesit menancapkan pisaunya di kepala salah satu musuh itu hingga tumbang.
JLEB!
CCRRAASS!
Sosok berjubah hitam lainnya semakin semakin gencar menyerang, Ia memukul perut sosok bertopeng hingga mundur beberapa langkah.
TTRRIINNGG!
DUAK!
__ADS_1
Sosok bertopeng tak mau kalah, Dia melakukan gerakan memutar dan menendang tepat di bagian kepala sosok berjubah hitam dan tak lama ia juga menebas kepala sosok berjubah hitam itu hingga terpisah dari tubuhnya.
CCRRAASS!
Cipratan darah segar mengenai topeng dan jubahnya, Sejenak sosok bertopeng itu diam sesaat menatap mayat kedua rekannya yang berlumuran darah. Ia mengatur pernapasannya sebentar.
Kini sebagian lapangan terdapat genangan darah segar, Siapapun yang tidak tahan dengan aroma amisnya pasti akan merasa mual. Tapi tidak dengan sosok bertopeng yang masih berdiri tegak disana.
Dengan santai ia melangkah pergi melewati kedua mayat rekannya sembari menyimpan kembali pisau di balik jubahnya, Tidak peduli dengan sepatunya yang menginjak genangan darah itu.
Sosok itu bersiul pelan di tengah sunyi nya malam, Keluar dari area lapangan. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sejenak Ia menatap cahaya rembulan yang bersinar terang tepat di atasnya.
"Malam ini cukup menyenangkan, Saatnya istirahat,"
***************
[Rumah Chloe]
BLAM!
CKLEK!
Punggungnya menyandar pada daun pintu, Merosot turun hingga terduduk di lantai. Chloe menatap kedua tangan yang agak gemetar, Nyawa nya hampir melayang kalau saja sosok itu tidak menyuruhnya pergi.
Chloe tidak tahu siapa yang berada di balik topeng itu namun siapapun itu ia cukup berterima kasih karna membiarkannya pergi dari sana.
Sejenak kepalanya tertunduk diam merenung, Teringat perkataan salah satu sosok berjubah hitam kalau mereka diperintah untuk mengambil system dalam dirinya dengan cara dibunuh.
"Artinya mulai sekarang aku harus waspada, Orang-orang berjubah hitam itu bisa saja berada dimana-mana," Gumam Chloe lirih, Memeluk kedua lututnya.
Hingga sampai saat ini pun ia belum mendapat kabar sama sekali dari Holy, Sang gadis hanya bisa diam termenung di tempat selama beberapa menit sampai pada akhirnya ia meninggalkan tempat itu menuju kamar nya.
*****************
[Keesokan paginya]
"Ini bukti terakhirnya Pak Justin, Apa artinya misi saya sudah selesai?" Chloe menyerahkan sebuah memory card pada Justin, Meletakkan memory itu di meja.
Justin mengambil memory tersebut sembari memperhatikan lebih dalam.
"Yah, Baiklah. Misi mu sudah selesai, Terima kasih atas kerja kerasmu selama sebulan ini," Senyum tipis mengembang di bibir sang pemuda, Tangannya meraih sesuatu dalam laci meja kerjanya.
Tak lama Justin menyodorkan sebuah amplok coklat yang terlihat mengembung entah apa isinya pada Chloe, Meletakkan amplok itu di genggaman tangan sang gadis.
"Ini Gaji mu selama sebulan penuh, Aku memberi mu lebih awal dari karyawan lainnya. Gunakan dengan baik,"
Netra birunya sejenak membola kaget, Tak lama netranya berbinar-binar senang mengetahui ia digaji lebih awal. Menggenggam amplok coklat tersebut dengan gembira.
"Wah terima kasih banyak Pak. Tapi apa aku masih bisa kerja disini?"
"Tentu, Aku tidak masalah. Jika kau tetap memutuskan kerja disini, Aku akan menggaji mu sama seperti karyawan lainnya,"
"Ah baiklah, Aku setuju dengan pilihan itu. Kalau begitu aku permisi Pak,"
Justin mengangguk pelan sebagai jawaban membiarkan Chloe pergi dari ruangannya. Setelah memastikan dia benar-benar sudah sendirian disana, Justin lantas segera mengambil memory nya dan menyambungkan data itu ke laptopnya.
Selama beberapa menit ia hanya berdiam diri disana selagi menunggu rekaman CCTV yang ia tonton berakhir, Netra orange itu tak lepas memandang layar laptop hingga akhirnya rekaman tersebut selesai.
Diam-diam seringai kecil terbit dari bibirnya sembari mengepalkan kedua tangannya di meja.
"Si penghianat sudah ketahuan, Tunggu dan lihat saja pembalasanku!"
Justin terkekeh pelan merasa senang dan geli. Sejenak ia merasakan darah dalam tubuhnya seakan mendidih, Justin tidak bisa mengendalikan perasaan senangnya yang bergejolak. Netra yang tadinya berwarna orange kini berubah menjadi merah darah. Kepribadian ganda yang sudah lama tertidur setelah sekian lama kini kembali bangkit dalam tubuh seorang Justin Garfield, Menjadikan dirinya dengan sosok yang berbeda. Penuh aura mengintimidasi, Haus darah, Dan Psikopat.
Seringainya semakin mengembang dengan tawanya yang menggema di ruangan itu.
"Hahaha! Mulai sekarang namaku adalah Victor Garfield, Dan akan kuhancurkan orang-orang yang berani mengusikku,"
Suasana sunyi dan senyap itu dipenuhi dengan tawa si kepribadian gandanya yang kini bernama Victor Garfield. Tidak ada satupun orang yang menyadari perubahan drastis pemilik J.G Entertainment itu termasuk Ezra sendiri.
__ADS_1
TBC