
[Disisi lain]
Perlahan kelopak matanya terbuka menampakkan netra beriris biru samudra, Sesaat mata nya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya sekitar.
Suara gemerisik samar-samar terdengar di sekitarnya, Chloe mendongak mencoba mengetahui kondisi dirinya. Kedua tangannya diikat kebelakang dengan sebuah tali dan tampak nya tali itu diikat sangat kencang hingga Chloe kesulitan menggerakkan kedua tangannya.
Cahaya yang minim diruangan itu membuat Chloe harus ekstra waspada kalau-kalau anggota Red Devil disekitarnya.
"Tempat apa ini? Suhunya agak lembab dan pencahayaannya minim sekali. Ruang bawah tanah kah?" Pikir Chloe memandang sekelilingnya yang terdapat beberapa senjata tajam dan senjata api. Beberapa kardus entah berisi apa juga ada disana.
"Ugh..."
Mendengar suara lenguhan disampingnya membuat Chloe reflek menoleh dan menemukan Ezra yang baru saja sadar dari pingsannya. Pemuda itu terlihat linglung berusaha menyesuaikan penglihatan dengan kondisi sekitar.
"Pak Ezra," Bisik Chloe pelan agar hanya Ezra yang mendengar suaranya.
"Huh! Apa itu kau Tengil?"
"Ya,"
"Kenapa disini pencahayaannya sangat minim?" Ezra berusaha menggerakkan kedua tangannya tak lama ia sadar kalau kedua tangannya diikat. "Sial! Mereka pikir kita tahanan?!"
"Kita memang tahanan pak, Kaki kita juga di rantai," Chloe melirik kedua kakinya yang dirantai sangat kuat hingga meninggalkan bekas memar di pergelangan kakinya.
"Diam kau! Aku tidak bicara padamu!" Sahut Ezra kesal, Masih berusaha melepaskan ikatan tangannya. Tidak peduli pergelangan tangannya mulai memar akibat goresan dari tali.
Chloe hanya menghembuskan napas lelah, Netra birunya melirik berbagai senjata yang ada disana sayangnya senjata-senjata itu diletakkan sangat jauh dari posisi mereka sehingga Chloe tak bisa mengambil senjatanya. Tidak ada jendela satu pun juga selain ruangan tertutup dan kedap suara.
"Tempat ini sangat buruk dan tidak layak disebut tahanan, Mana ada aroma amis lagi disini," Chloe menoleh, Ia tidak merasakan jam arlojinya berada di pergelangan tangannya. "Mereka mengambil jam ku? Handphone ku juga tidak ada. Padahal itu komunikasi satu-satunya dengan Aiden dan anggota lainnya,"
"Hei, Tengil. Cepat ambil senjata yang disana!" Bisik Ezra.
"Pak, Senjatanya jauh. Aku tidak bisa kesana,"
KKRREEIITT!
Keduanya tersentak mendengar suara langkah kaki mendekati mereka. Sosok pria muncul dengan topeng yang menutupi setengah wajahnya. Sampai dihadapan Ezra dan Chloe, Dia sedikit membungkuk.
"Kalian berdua ikut aku!" Katanya dengan nada dingin, berniat melepaskan rantai yang mengikat kaki Ezra dan Chloe.
"Kau benar-benar sialan!" Ezra menerjang tubuh sosok itu dengan tubuhnya, Namun sosok itu menghindar dengan cepat menjauh beberapa meter dari tempatnya.
"Kau mengambil handphone dan jam miliku, Kembalikan!" Bentak Ezra marah.
"Apakah benda itu penting sekarang? Tuanku ingin bertemu dengan kalian, Seharusnya kalian diam saja dan ikuti aku," Sosok itu masih bersikap tenang.
Chloe berdiri dan menoleh pada Ezra. Ia mencoba menenangkan Ezra yang masih marah. "Pak, Ikuti saja dia dulu,"
"Huh! Tidak akan!"
"Akan susah membujuk orang keras kepala macam Pak Ezra," Pikir Chloe kembali menghembuskan napasnya.
Tap! Tap! Tap!
Cklek!
Suara langkah kaki kembali terdengar disertai terbukanya pintu dihadapan mereka. Menampakkan sosok pria lainnya yang berjalan mendekati mereka.
"Kenapa lama sekali? Dia sudah menunggu," Mendengar suara pria itu, Sang sosok bertopeng menoleh lalu menatap Ezra dan Chloe.
"Mereka tidak ingin pergi dari sini,"
"Oh, Benarkah? Apa kalian ingin mati membusuk disini?" Sosok itu menoleh hingga Ezra dan Chloe bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Sejenak Ezra diam membatu tak percaya bahwa sosok didepannya adalah sahabatnya sendiri. Apakah dia baru saja dihianati oleh Justin? Bahkan Ezra tidak ingin mempercayai hal itu.
"Pak Justin?" Chloe ikut kaget sekarang dirinya benar-benar tidak mengerti lagi dengan situasi disekitarnya.
"Justin...Kenapa kau lakukan hal ini?" Ezra menatap sedih, Sebagian dalam dirinya merasa kecewa dan sebagian lagi merasa marah karna dihianati.
Victor menggeleng pelan, Berpura-pura iba pada Ezra. Dia menjajarkan dirinya dengan tinggi pemuda bernetra hijau itu lalu menempelkan telapak tangannya pada pipi Ezra.
"Oh, Ezra yang malang. Kau sedih ya saat tahu Justin menghianatimu?" Sedetik kemudian dia tersenyum miring dengan netra merahnya yang sedikit bercahaya diantara kegelapan. "Tapi aku bukan dia!"
__ADS_1
Ezra tersentak segera menjauhkan tubuhnya dari Victor, Tatapannya berubah marah. "Lagi-lagi kau mengambil alih raganya! Kembalikan Justin!"
"Tidak mau~, Raga ini milikku. Aku tidak ingin berbagi dengan siapapun lagi," Victor terkekeh pelan.
Sedangkan Chloe yang tidak tahu apapun tentang masalah ini hanya diam melongo, Dirinya menyimak pembicaraan itu namun juga merasa aneh dengan sikap Justin yang terlihat berbeda dari biasanya.
Pandangannya beralih saat tak sengaja netra birunya menangkap pergerakan dari sosok bertopeng.
"Apa yang ingin dia lakukan?" Chloe menatap sosok bertopeng dengan waspada.
Sosok itu melepas topengnya memperlihatkan wajah yang begitu familiar bagi Chloe dan Ezra. Bahkan Ezra sampai menahan amarah untuk kedua kalinya.
"Devian! Jadi selama ini kau pelakunya!" Kata Ezra penuh penekanan, Dia ingin mengamuk sekarang namun ikatan di tangannya menahan niatnya.
Sosok yang mirip Devian itu hanya diam tanpa ekspresi, Hanya netranya yang melirik sudut ruangan tanpa berkata-kata. Victor lah yang menyahut perkataan Ezra sembari terkekeh.
"Apa maksudmu dengan 'Devian'? Dia bukan Devian, Devian ada disana bersama keluarganya. Dia terlihat bahagia bersama mereka sungguh mengharukan bukan?"
Victor menunjuk sudut ruangan dengan jari telunjuknya, Tersenyum penuh aura psikopat. Ezra dan Chloe ikut menatap arah telunjuk Victor, Dan samar-samar mereka melihat beberapa pajangan berbentuk kepala manusia.
Dan salah satu diantara kepala itu terdapat kepala Devian yang terpajang disana masih dipenuhi bercak-bercak darah. Bahkan beberapa tetes darah masih menetes dari sana. Seketika Ezra dan Chloe menatap horror, Rasanya Chloe ingin mual sekarang juga bahkan wajah Ezra sampai pucat sepucat kertas putih.
"Dia sudah mati," Victor menekan semua kata-katanya, Seringai mengerikan tak luntur dari bibirnya.
"Devian mati?! Disini? Di tempat ini? Pantas saja disini aku mencium aroma amis," Chloe terpaku sejenak masih menatap pajangan kepala itu, Tubuhnya sedikit gemetar.
"Lalu jika Devian mati..." Chloe mengalihkan pandangannya pada sosok yang mirip Devian dihadapan mereka. "Dia siapa?"
Sosok itu masih diam tidak bergeming tak lama wajah tiruan nya menghilang menjadi butiran-butiran pasir kecil tergantikan dengan wajah asli dari sosok tersebut.
"Aku sengaja menggunakan wajah tiruan dari teman kalian untuk menyusup ke Asrama kalian, Tingkat kewaspadaan kalian benar-benar kurang. Mudah sekali tertipu," Sosok itu menatap ke arah lain sambil bersidekap.
Ezra berdecih sinis. "Jadi itu semua rencanamu?! Kau benar-benar tidak bisa kumaafkan!"
"Manusia sepertimu tahu apa?" Dia memandang remeh Ezra, Tatapan merendahkan ditujukan pada pemuda bernetra hijau itu. "Kau tidak akan tahu apapun tentangku, Dengan menggunakan ingatan dari manusia asli. Sangat memudahkan tugasku untuk mengetahui siapa saja target yang harus kubunuh,"
"Dengan menggunakan ingatan manusia asli? Jangan-jangan dia setengah mutan seperti Aiden. Dari yang kutangkap dari perkataannya. Dia menggunakan ingatan dari Devian asli, Dengan begitu nama-nama para anggota akan terekam karna dia menggunakan ingatan Devian,"
Chloe memandang sosok itu lebih lama mencoba menganalisa kekuatan dari sosok tersebut, Sayangnya sosok itu menatapnya balik sadar kalau Chloe memperhatikannya dari tadi.
Sosok tersebut berjalan mendekati Chloe, Menyadari hal itu Ezra langsung berdiri dihadapan sang gadis menghalangi agar sosok tersebut tidak melangkah lebih jauh. Sedangkan Victor memilih menonton pertunjukkan gratis itu tanpa ikut campur sambil bersidekap.
"Mau apa kau?!" Desis Ezra tajam, Tatapannya begitu menusuk.
Dia tidak menjawab tangannya terulur menunjukkan setangkai lily putih yang terbentuk dari telapak tangannya.
Setelahnya dia melempar bunga itu ke arah pajangan dimana potongan kepala Devian dan keluarga Devian berada. Melihat ketidaksopanan sosok tersebut membuat Chloe kesal.
"Hei! Kau tidak sopan! Mereka sudah mati, Masih saja kau bertindak seenaknya!" Protes Chloe tak terima.
Sosok itu mengacuhkan protesan Chloe, Ia hanya menatap pajangan kepala tersebut.
"Aku sering melihat para manusia melakukan hal ini ketika ada orang yang mati, Mereka bilang bunga adalah simbol penghormatan terakhir bagi sudah mati. Jadi aku merhormati mereka dengan memberikan bunga seperti tadi," Sosok tersebut menatap Ezra dan Chloe tanpa ekspresi. "Jadi apa tindakkanku tadi salah?"
Seketika keduanya langsung speecheles mendengar kepolosan dari sosok dihadapan mereka.
"Tidak salah juga sih, Tapi cara ngasihnya gak sopan," Pikir Chloe.
"Yang bunuh dia, Yang ngasih bunga juga dia. Aku heran bagaimana bisa dia satu spesies dengan Aiden. Sinting!" Pikir Ezra hampir kesal dibuatnya.
"Liam! Cepat bawa mereka! Jangan buang-buang waktu!" Seru Victor yang sedari tadi jenuh menunggu tontonan itu selesai.
Sosok bernama 'Liam' itu hanya mengangguk, Beberapa rantai bermunculan dari balik punggungnya. Ezra dan Chloe yang tidak siap tertangkap oleh rantai-rantai itu.
"Aaarrrggg! Seharusnya aku tidak bicara dengan kalian!" Seru Ezra memberontak dari rantai yang mengikatnya.
"Heh! Kalian lambat untuk berpikir kabur dari sini. Liam hanya mengulur waktu sebentar dengan mengajak kalian bicara," Sahut Victor santai.
Ia dan Liam berjalan keluar ruangan melewati lorong gelap yang hanya diterangi oleh beberapa obor, Membawa Ezra dan Chloe yang terikat dalam rantai milik Liam.
*************
__ADS_1
BRUK!
Mereka berdua dijatuhkan di sebuah ruangan super luas, Beberapa anggota Red Devil berdiri di sekeliling mereka dengan aura suram dan mencekam. Chloe bisa merasakan hal itu, Ia mendongak memandang salah satu Red Devil yang duduk di sebuah singgasana dengan dua anggota red devil berdiri di sisi kanan kirinya. Ia memperkirakan kalau Red Devil yang duduk di singgasana itu adalah ketua dari kelompok Red Devil ini.
Tapi bukan itu yang menarik perhatian Chloe melainkan sosok Ian sahabat masa kecil nya yang tidak sadarkan diri disamping singgasana ketua Red Devil, Tubuh pria itu terlihat miris dengan banyaknya luka gores di seluruh tubuhnya dan juga tangan serta kaki yang dirantai.
Chloe menatap pilu dengan kondisi Ian yang menurutnya begitu memprihatinkan. Menyadari Chloe terus menatap sosok disampingnya, Ketua Red Devil ikut memandang arah tatapan Chloe.
"Kau ingin aku melepaskannya?" Tanya ketua Red Devil to the point.
"Jika bisa lepaskan kami semua," Kata Chloe berusaha menenangkan dirinya yang sempat gemetar.
"Ho'oh, Permintaan yang klise sekali. Oke, Akan kupenuhi," Ketua Red Devil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Semudah itu kah? Tidak mungkin dia akan melepaskan kami semua semudah itu. Pasti ada tujuan lainnya," Pikir Ezra menatap tajam ketua Red Devil.
"Tapi sebelum itu, Aku ingin bernostalgia denganmu dulu Chloe,"
Alis sang gadis mengerut heran. "Bagaimana bisa kau tahu namaku?"
Ketua Red Devil tidak menjawab ia hanya berdiri dari singgasananya lalu melangkah mendekati Chloe, Jubah merahnya melambai pelan mengikuti pergerakannya. Sesampainya dihadapan sang gadis ia lantas membungkukkan badannya sedikit.
"Kau tidak mengingatku? Ah, Sedih rasanya teman SMA ku ternyata tidak mengingatku sama sekali,"
"Teman SMA? Seingatku temanku hanya Alice dan Evelyn saat SMA," Chloe memandang surai silver ketua Red Devil dihadapannya, Hanya surai itu yang menarik perhatiannya karna tampak berkilau terkena cahaya lampu.
"Jadi kau benar-benar tidak mengingatku ya," Nada suara ketua Red Devil berubah dingin setelah tak mendapat jawaban dari Chloe.
Tangannya bergerak meraih topeng yang dipakainya, Memperlihatkan paras cantik bak dewi yunani. Surai silver yang berkilau diterpa cahaya lampu sangat serasi dengan netra yang berwarna ruby.
Chloe diam mematung memandang netra milik ketua Red Devil dihadapannya, Tanpa sadar ia mengucapkan nama dari gadis dihadapannya. "Vivian?! Ketua OSIS Guard High School?!"
Vivian memejamkan matanya sesaat berdecih sinis. "Cih! Jangan panggil aku ketua OSIS lagi!"
PLAK!
Sebuah tamparan melayang mengenai pipi Chloe, Chloe hanya diam merasakan pipinya berdenyut sakit. Ezra yang melihat hal itu terbelalak kaget, Ia memandang geram Vivian.
"Apa yang kau lakukan?! Dasar sialan! Inikah sikap yang harus kau tunjukkan didepan teman SMA mu?!"
BUAK!
Vivian tidak menjawab tanpa segan dia memukul pipi Ezra dengan kencang hingga memar dan membuat Ezra terjatuh dengan sudut bibirnya yang berdarah.
"Diam kau! Urusanku hanya dengan anak ini! Kau yang hanya orang luar jangan ikut campur!" Bentak Vivian marah, Ia kembali menatap Chloe dan mengcengkeram dagu gadis bersurai biru itu, memaksa untuk menatap matanya.
"Apa kau ingat yang dilakukan Kakakmu itu, Felix Edricson! Gara-gara kau dan dia. Aku dikeluarkan dari sekolah, Jabatan ibuku dilepas dan perusahaan ayahku gulung tikar. Kami jatuh dalam kemiskinan, Dan sekarang ibuku jadi depresi lalu ayahku menjadi pemabuk!" Vivian mengepalkan satu tangannya.
"Kami jatuh dalam kesengsaraan, Dan itu semua karna ulah mu dan kakakmu!" Gadis itu melepas dagu Chloe dengan kasar.
"Setelah yang terjadi karna ulahmu sendiri, Kau menyalahkan orang lain. Bukannya menjadi Ketua OSIS harus mencontohkan hal yang baik pada teman-temannya? Tapi kau malah menindas mereka," Jelas Chloe masih tenang.
"Aku bahkan tidak peduli pada mereka, Aku hanya peduli dengan kesenanganku sendiri," Vivian menatap sinis, Lalu menjauhkan dirinya.
"Jaa, Urusan kita sudah selesai,"
"Lalu apa yang ingin kau lakukan pada mereka?" Victor menatap Vivian yang menuju singgasanannya kembali.
"Terserah kalian, Hm...Mungkin kalian bisa menghajar pria disampingnya sepuas kalian dan lakukan sesuka kalian pada cewek itu," Vivian menyerigai senang sembari menunjuk Ezra dan Chloe.
"Ah, Kalau urusan ini kuserahkan pada anggota kita saja," Victor melangkah pergi dari sana, Mendudukkan dirinya disebuah kotak kayu diikuti Liam.
Sebagian anggota Red Devil terkekeh, Mereka mendekati Chloe dan Ezra. Salah satu dari mereka menarik kerah pakaian sang gadis sambil menyerigai dari balik topengnya.
"Tubuhnya sangat bersih, Kita bisa menjadikannya mainan," Kata salah satu anggota Red Devil. Mendengar hal itu Chloe memberontak.
"Tidak! Lepaskan!"
Ezra menatap tajam sebenci-bencinya dia pada Chloe bukan berarti dia bisa membiarkan gadis itu disentuh orang lain, Apalagi sampai dipermainkan oleh mereka. Sebagai partner ia juga punya tanggung jawab untuk membantu partnernya itu.
"Hentikan!"
BUGH!
__ADS_1
TBC