System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Kepergian


__ADS_3

Tap! Tap! Tap!


Felix berlari kencang melewati halaman depan Asrama, Ekspresinya benar-benar panik dan gelisah. Sesaat kakinya agak gemetar menahan berat tubuhnya.


"Dimana? Dimana Chloe?" Gumam Felix noleh kanan kiri disekitarnya, Namun hanya kesunyian yang dia dapatkan.


Felix kembali bergegas lari menuju halaman belakang Asrama, Napasnya mulai tak beraturan akibat panas yang di deritanya. Hingga akhirnya tak lama samar-samar Felix mendengar suara isak tangis dari arah gubuk.


Dia segera menuju gubuk itu lalu mendengarkannya dengan seksama, Benar saja suara isak tangis itu berada di dalam sana. Refleks Felix mencoba mendobrak pintu gubuk.


CKLEK!


BRAK!


"Chloe! Bertahanlah, Kakak datang!" Kata Felix masih berusaha mendobrak pintu itu meski tubuhnya mulai letih dan lemas.


"Kakak...Hiks...!"


BRAK!


"Sial, Pintu ini digembok," Pikir Felix sambil menendang pintu itu kencang, Tapi sayangnya pintu itu tak kunjung terbuka.


BRAK!


BRAK!


BRAK!


Dengan berkali-kali tendangan kencang akhirnya gembok pintu itu terlepas meski pintunya hampir hancur karna tendangan Felix. Pemuda bersurai coklat itu membuka pintu dengan lebar, Mencari keberadaan sang adik dalam kegelapan gubuk.


"Chloe, Kau dimana?"


GREP!


"Kak, Hiks...Hiks...,"


Felix agak tersentak saat Chloe tiba-tiba menerjang dan memeluk perutnya. Badan gadis itu gemetar hebat, Isak tangis terus terdengar dari bibir mungil sang gadis. Felix dengan tubuhnya yang mulai lemas memeluk Chloe balik, Mencoba menenangkan sang adik.


Dia terduduk di tanah bertumpu pada lututnya, ekspresi wajahnya semakin sayu dan kepalanya mulai berdenyut sakit. Walau kondisi Felix mulai melemah, Dia tetap menenangkan adiknya.


"Tenang, Sekarang kau aman Chloe. Aku akan menjagamu," Kata Felix lirih masih memeluk Chloe balik. Dia merasakan kemejanya agak basah karna terkena air mata Chloe, Tapi Felix tidak memperdulikannya.


Setelah Chloe perlahan mulai tenang sang gadis melepaskan pelukannya dari Felix, Mata sang gadis tampak sembab karna terlalu banyak menangis. Dia mendongak menatap wajah sayu Felix serta surai coklat sang pemuda yang terlihat acak-acakan.


"Kakak...,"


TAP! TAP! TAP!


"Ada apa ini?!" Ian baru saja datang bersama Raizel, Rion, Dan Aiden. Sejenak pemuda bernetra merah itu mengernyit saat melihat posisi Felix dan Chloe.


"Kami mendengar suara dobrakan pintu tadi, Suara nya sampai ruang tamu dan dapur," Netra Raizel beralih memandang mata Chloe yang sembab, Dia terkejut sesaat lalu menggeram marah. "Chloe ada apa dengan matamu? Siapa yang membuatmu menangis?!"


Sedangkan Chloe hanya diam tak menyahut, Dia masih mencoba menenangkan diri dari sesegukannya. Rion bersimpuh di samping Chloe, Mengusap punggung sang gadis ikut menenangkan dengan ekspresi iba.


Aiden sesaat menatap pintu gubuk yang terbuka lebar, Dia juga melihat gembok yang sudah lepas dari engselnya tergeletak di tanah.


"Sepertinya terjadi sesuatu disini," Kata Aiden sambil mendekati Felix ikut bersimpuh seperti Rion lalu memegang pundak Felix. "Tuan Felix, Anda sedang sakit?"


Felix hanya menggeleng pelan tak berniat menyahut, Kepalanya masih berdenyut sakit. Raizel ikut bersimpuh disamping Felix dan menempelkan punggung tangannya pada kening Felix.


"Iya kayaknya Felix demam,"


Ian berniat membuka suaranya, Namun suara langkah kaki serta suara seseorang di belakang mereka menyahut.


TAP! TAP! TAP!


"Cih! Cengeng sekali, Baru juga beberapa menit dalam gubuk itu sudah nangis," Sindir seseorang dibelakang mereka, Membuat semua anggota yang berada di sana menoleh.


"Ezra, Apa ini ulahmu? Kau yang mengurung Chloe disana?!" Tanya Ian dingin menatap Ezra yang kini berdiri di depan mereka semua.


"Aku hanya menguji keberanian anak itu, Kurasa tidak ada yang salah dengan itu," Sahut Ezra cuek, Memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. "Lagipula kalian itu terlalu memanjakannya, Cewek kayak gitu gak pantas tinggal disini. Lemah!"


Raizel dan Ian melotot menatap Ezra, Mereka mengepalkan kedua tangan mereka merasa geram dengan perkataan Ezra sendiri. Rion juga menatap tajam Ezra.


Chloe yang mendengar dirinya dikatain lemah oleh Ezra hanya diam menunduk, Menatap tanah di bawahnya. Tangannya tanpa sadar mencengkeram kain celananya. Setetes air mata kembali jatuh mengenai tanah di bawahnya. Napasnya benar-benar sesak.


"Apa kau bilang?! Chloe itu gak lemah! Dia–"

__ADS_1


WWUUSSHH!


BUAK!


Tiba-tiba Raizel merasakan hembusan angin menerpa tubuhnya dari samping sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Bahkan anggota lain mungkin juga merasakan hembusan angin itu. Dan selanjutnya yang mereka lihat adalah Chloe yang menghajar pipi kanan Ezra sekencang mungkin membuat Ezra refleks mundur agak menjauhi sang gadis.


Ezra melotot menatap tak percaya bahwa Chloe menghajarnya, Dia memegang pipi kanannya yang berdenyut nyeri akibat pukulan kencang gadis bersurai biru itu.


Chloe menunduk setelah kepalan tangannya mengenai Ezra, Sesaat tangannya gemetar. Ian ingin mendekati Chloe berniat membawa pergi sang gadis, Takut Ezra balik menghajar Chloe. Namun dirinya di tahan Raizel, Pemuda bersurai hitam campur coklat itu menggeleng pelan.


"Kenapa kau menahanku?!" Desis Ian dingin, Menatap balik Raizel.


Raizel yang menahan pundak Ian hanya menatap serius Ezra dan Chloe di hadapan mereka. "Biarkan saja dulu, Aku ingin tahu sejujurnya apa yang terjadi di antara mereka berdua,"


Ian memilih bungkam, Kembali mengalihkan perhatiannya pada Ezra dan Chloe.


Ezra menatap nyalang gadis di depannya, Mendesis tajam. "Berani sekali Kau–"


"Kenapa...Kenapa Pak Ezra sangat membenci saya?! Saya punya salah apa sama bapak?!" Chloe mendongak menatap netra hijau emerland milik Ezra, Netra birunya berkaca-kaca karna habis menangis, Mata Chloe juga masih sembab.


"Kau duluan yang mengusikku, Dan aku juga sudah memperingatkanmu tapi kau tak mendengarkanku! Kau itu pengganggu tau gak!" Bentak Ezra marah tak mau kalah sambil nunjuk-nunjuk Chloe.


"Saya cuma mau bantu Pak Ezra, Tapi bapak selalu bersikap kasar ke saya. Selama ini saya menahan semua sikap kasar bapak, bapak marahin saya ya saya diam aja. Bapak bentak saya, Saya juga diam. Selama ini saya menahan semua sikap Pak Ezra. Sekarang apa lagi?! Mau bunuh saya?" Bulir-bulir air mata kembali menuruni kedua pipi Chloe, Sang gadis menepuk pelan dada kirinya dimana letak jantungnya berada. Sungguh Chloe hampir tak bisa bernapas dengan benar.


"Apakah salah kalau saya mencoba membantu menyelesaikan permasalahan Pak Ezra? Saya hanya ingin bisa bekerja sama dengan Pak Ezra seperti partner pada umumnya. Pak Ezra pasti senang saat melihat saya terluka kan? Iya kan?"


Chloe mengusap lengan kirinya yang masih agak nyeri bekas dorongan Ezra, Gadis itu menunduk hingga air matanya menetes mengenai tanah. Sesaat Chloe tersenyum sedih.


"Apa karena dimata Pak Ezra semua tindakanku selalu salah dan hanya membuat repot Pak Ezra? Apa karna aku hanya membuat masalah dan beban di Asrama ini?"


Seketika Ezra bungkam menatap Chloe yang menunduk, Semua pertanyaan itu ditujukan untuknya namun tak ada satu pun pertanyaan dari Chloe yang bisa dia jawab. Berbeda dengan Aiden, Felix, Rion, Raizel, Dan Ian yang mendengarkan pembicaraan Chloe dan Ezra sejak tadi.


"Kenapa Chloe bicara begitu?! Kenapa dia menyebut dirinya sendiri sebagai beban?!" Pikir Raizel menatap Chloe terkejut, Tidak menyangka Chloe akan berpikir begitu.


"Nona Chloe...Dia terlihat sangat sedih sekarang. Ezra keterlaluan sekali membuat Nona menangis," Pikir Rion geram.


"Seandainya kalau aku sejak awal tidak di Asrama ini, Pasti Pak Ezra gak akan terusik dengan kehadiranku bukan?" Chloe tersenyum lemah, Senyum yang membuat Ian merasa seolah dia ikut merasakan penderitaan Chloe.


Ezra membuka mulutnya, Berniat menjawab pertanyaan Chloe namun Chloe memotongnya. "Aku disini juga karna kesepakatan itu, Aku cuma ingin mencari keluarga asliku. Tapi karna Pak Ezra sangat membenciku, Aku akan pergi dari kehidupan Pak Ezra,"


Gadis bersurai biru itu berbalik dengan tubuh yang masih agak gemetar, Berlari pergi menuju kamarnya sambil menahan tangis yang ingin kembali tumpah.


"BIARKAN AKU SENDIRI," Teriak Chloe dari jauh, Memperingatkan anggota lainnya agar tak menyusulnya.


Sampai akhirnya mereka hanya bisa diam di tempat menatap kepergian sang gadis yang mulai menghilang seiring memasuki dalam Asrama.


Ezra diam menunduk menatap tanah yang dipijaknya, Kata-kata Chloe terngiang-ngiang di pikirannya. Sesaat Ezra kembali mengusap pipi kanannya yang memerah bekas pukulan Chloe, Namun tiba-tiba sebuah pukulan kembali dilayangkan di pipi kirinya.


BUAK!


Tak lain pelakunya adalah Ian sendiri, Ian tidak terima sahabat sekaligus orang yang dia sayangi disakiti begitu saja. Dengan marah dan geram, Ian menarik kerah pakaian milik Ezra yang menatapnya datar.


"Jadi selama ini kau menyakiti Chloe di kantor?! Aku kecewa padamu Ezra, Kupikir selama dikantor dia mendapat perlindungan darimu dan Justin. Tapi kau malah membuatnya tersakiti dan menangis?!" Kata Ian marah, Tak bisa menahan emosinya lagi.


"Ck! Kalian melindungi dan suka dengan cewek lemah seperti itu?! Selera kalian buruk sekali, Seharusnya kalian sadar dengan status kalian disini," Decih Ezra sinis, Netra hijaunya tak kalah tajam menatap Ian.


BUAK!


BRUK!


Kembali sebuah pukulan dilayangkan dari samping tepat mengenai perut Ezra, Membuat Ian melepaskan kerah Ezra kasar hingga Ezra jatuh terduduk di tanah. Pelaku nya tak lain adalah Raizel. Kini Raizel menatap nyalang sekaligus menarik surai hitam Ezra hingga Ezra mendongak padanya.


"Sekali lagi kau mengatakan Chloe itu lemah, Aku tak segan akan memotong lidahmu itu bahkan pita suaramu hingga kau tak bisa bicara lagi," Ancam Raizel tajam, Ezra hanya menanggapi dengan senyum sinis.


"Ancaman seorang maniak Obsesi ternyata menakutkan. Tapi tidak untukku. Sayangnya kalian main keroyokan, Menyedihkan," Sindir Ezra pedas. Tentu saja Raizel sangat kesal.


Ian menahan pundak Raizel, Menjauhkannya dari Ezra. "Tidak usah diperdulikan Raizel, Aku yakin suatu saat Ezra akan mendapatkan karmanya,"


"Aku menantikan hal itu," Tantang Ezra sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya yang terkena debu lalu dengan santai pergi meninggalkan anggota lainnya disana.


"Dia sudah gak waras kayaknya," Kata Felix sambil menatap kepergian Ezra.


"Dari dulu Tuan Ezra emang gak waras, Dia terlalu lama bersama Tuan Justin. Membuatnya bersikap seperti itu," Jelas Aiden sambil membantu Felix berdiri.


Rion yang sejak tadi nyimak cuma manggut-manggut, Baru tahu kalau sikap Ezra kayak gitu juga karna terlalu lama berteman dengan Justin.


Mereka akhirnya pergi memasuki dalam Asrama karna sudah terlalu lama diluar.

__ADS_1


*************


[Kamar Chloe]


"Hiks...Hiks...Mama aku ingin pulang," Lirih Chloe sedih, Menangis di kasur sambil memeluk lututnya. Dia benar-benar merindukan keluarganya di dunia asli.


Chloe teringat dengan sikap Ezra yang begitu membencinya hingga mengurungnya di gubuk itu, Netra birunya sesaat meredup kehilangan cahayanya. Teringat kejadian pertikaiannya dengan Ezra.


"Sepertinya aku memang gak pantas tinggal di Asrama ini. Aku hanya bisa menyusahkan dan hanya jadi beban untuk mereka jika aku terus tinggal disini," Pikir Chloe sedih, Dia menoleh mengambil selembar kertas dan pulpen lalu menulis sesuatu disana.


Setelahnya dia meletakkan kertas itu dinakas lalu mulai mengambil ranselnya, Dia mengepak semua barang-barang miliknya termasuk pakaian, ID Card, Seragam OG, mawar milik Aiden yang Aiden minta untuk menjaganya dan memasukkan semua barang-barangnya dalam ransel.


Chloe langsung pakai jaketnya lalu ranselnya, Tak lupa dia menutup kepalanya dengan penutup kepala jaket. Sesaat Netranya melihat sebuah kartu undangan merah yang dia dapatkan dulu. Chloe diam sesaat, Gadis itu memutuskan meninggalkan undangan itu di nakas bersama selembar kertas dan jam arloji pemberian Justin lalu dia melangkah pergi keluar kamar secara mengendap-endap.


"Maafkan aku semuanya, Aku akan pergi dari sini dan tak akan mengganggu kalian lagi," Pikir Chloe sejenak menatap dalam kamarnya untuk terakhir kali sebelum menutup pintu dan akhirnya melangkah pergi dari sana.


***************


[Halaman depan Asrama]


Kondisi Asrama yang sunyi dan sepi membuat Chloe bisa pergi leluasa dari sana, Dengan perasaan sedih dan sakit hati. Dia pergi menuju pintu rahasia. Meski jam sudah menunjukkan pukul tengah malam, Chloe tidak merasa takut pergi meninggalkan Asrama melewati hutan.


Perasaannya sudah kacau balau, Dia tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya selain hanya ingin pulang ke rumah lamanya. Tangannya terulur berniat menekan tombol untuk membuka pintu rahasia namun sebuah suara asing serta langkah kaki menghentikannya.


TAP! TAP! TAP!


"No-na mau...Kemana?"


Suara asing itu terdengar terbata-bata di telinga Chloe seperti suara seseorang yang baru belajar bicara menurut Chloe. Gadis bersurai biru itu menoleh, Terkejut karna asal suara itu ternyata dari Rion.


Pemuda bersurai silver yang Chloe ketahui selama ini selalu bisu dan menutup mulutnya rapat-rapat, Tapi kini untuk pertama kalinya Chloe mendengar suara asli Rion.


"Rion, Kau akhirnya bisa bicara?!" Tanya Chloe terkejut, Menatap Rion yang kini mendekat hingga tiba di hadapannya. Pemuda itu mengangguk pelan.


"Ak-Aku masih...Menyesuaikan s-suaraku,"


"Senang mendengar suaramu telah kembali Rion," Kata Chloe tersenyum tipis namun masih belum menutupi rasa sedihnya.


Rion diam sesaat menatap lekat netra biru milik Chloe, Memperhatikan penampilan sang gadis yang membawa ransel.


"No-na mau kemana?"


Perlahan senyum tipis Chloe luntur, Ekspresi sang gadis kembali sedih. "Aku ingin pergi dari sini, Pergi sejauh mungkin ke rumah lamaku,"


"Kenapa?! Kenapa Nona ingin pergi?!" Rion tersentak merasa sedih mengetahui Chloe akan pergi dari Asrama.


"Apa yang dikatakan Pak Ezra benar, Aku hanya bisa menyusahkan dan menjadi beban kalian disini. Jadi lebih baik aku pergi agar kalian tidak perlu repot lagi mengurusku," Chloe tersenyum kecut.


"Hanya karna perkataan dia, Nona ingin pergi seperti ini? Dia tidak penting disini Nona,"


"Maaf Rion, Tapi Pak Ezra sangat jelas membenciku. Dia lebih senang saat aku tidak berada di Asrama ini lagi. Aku sudah berusaha sabar menghadapinya di kantor maupun Asrama, Tapi dia...," Chloe menunduk kecil, Dadanya kembali merasa sesak teringat perlakuan Ezra padanya selama ini. "Maafkan aku, Aku harus pergi,"


Chloe berbalik ingin menekan tombol rahasia itu namun tiba-tiba Rion memeluknya dari belakang, Membuat tubuh Chloe tenggelam dalam dekapan sang pemuda.


GREP!


"Jangan pergi, Kumohon jangan pergi," Lirih Rion pelan, menyandarkan kepalanya pada pundak Chloe dari belakang. "Jika Nona pergi, Tolong bawa aku bersama Nona. Aku sudah berjanji menjaga Nona Chloe,"


DEG!


Jantung Chloe berdegup kencang saat napas pelan dari Rion menggelitik lehernya. Pikirannya seketika berkecamuk karna permintaan Rion.


"Jika nona membawaku, Aku janji akan mematuhi semua perintah nona dan jadi anak yang baik,"


"Rion, Aku sudah bilang aku tidak punya niat menjadikanmu budak. Kau sudah bebas, Kau harus menjalani hidupmu sendiri. Aku tidak bisa membawamu, Mereka akan berpikir kita berdua kabur. Jadi lebih baik aku saja yang pergi," Chloe perlahan melepaskan dirinya dari dekapan Rion, Sesaat menjauh dari sang pemuda beberapa meter.


Rion merasa sedih dengan perkataan Chloe. "Tapi Nona–"


"Tetaplah tinggal disini, Turuti perintah Pak Justin. Maaf, Aku tidak bisa membawamu. Selamat tinggal Rion,"


Chloe berbalik menekan tombol itu lalu tak lama pintu rahasia tersebut terbuka, Sang gadis melangkah pergi tanpa menoleh kebelakang lagi. Meninggalkan Rion yang hanya berdiri mematung menatap kepergian Chloe dengan sedih dan muram.


Disisi lain, Sejak tadi Aiden menatap gerak-gerik Rion dan Chloe dari balik jendela Asrama. Dia hanya menatap datar kepergian Chloe dari Asrama. Lalu menatap mawar biru di tangannya.


Sejujurnya Aiden sudah tahu dari awal Chloe akan pergi meninggalkan Asrama, Jadi dia hanya membiarkan gadis itu pergi tanpa mengaktifkan tanda di leher sang gadis. Yang terpenting Chloe tetap menjaga mawar pemberiannya.


"Nona Chloe sepertinya perlu memikirkan semua yang terjadi di Asrama ini, Pertikaiannya dengan Tuan Ezra membuat nona merasa sedih dan depresi. Untuk kali ini aku biarkan dia pergi dari Asrama," Pikir Aiden menatap Rion yang masih berdiri diam di halaman depan Asrama.

__ADS_1


"Kuharap Tuan Ezra menyadari kesalahan yang dia perbuat pada nona Chloe, Menyadari betapa pentingnya Nona Chloe di Asrama ini," Gumam Aiden pelan, Memutar tangkai mawar di tangannya. Lalu segera menutup gorden jendela dan melangkah pergi dari dapur.


TBC


__ADS_2