
[Beberapa hari kemudian...]
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Tinggal menghitung hari dimana Olimpiade mereka akan dilaksanakan. Ditambah sebentar lagi Chloe akan lulus.
Hari ini mereka belajar seperti biasa walau diselingi keributan antara Devian dan Raizel, Setidaknya suasana disekitar mereka tidaklah tegang dan suram. Sesekali Chloe akan tertawa kecil karna keributan yang dibuat Devian dan Raizel, Dan Justin atau Felix yang kadang akan menjadi penengah dadakan kalau keduanya kembali ribut. Lalu Ian yang seperti biasa selalu cuek dengan sekitarnya.
Hanya saja sampai sekarang huhungannya dengan Devian dan Justin masihlah sebagai musuh, Mengingat Ketika setiap Chloe menatap Devian atau pun Justin, Keduanya selalu memberikan tatapan sinis dan benci. Yah, Wajar saja karna mereka masih belum akur satu sama lain.
Sejenak Chloe menatap buku Sastranya, Mencoba mendalami persajakan itu. Namun keributan yang dibuat Devian dan Raizel, Membuat fokusnya teralihkan.
"Yang ini harusnya kau kali kan dulu! Baru di bagi," Kata Raizel dingin.
"Mana ada! Yang bener tuh, Bagi dulu baru kali!" Balas Devian ikut ngotot.
"Jelas-jelas di contohnya kali duluan!"
"Gak bisa! Coba lihat contoh yang ini, Ini tuh di bagi dulu. Apa kau gak bisa liat!?" Devian nunjuk-nunjuk bukunya dengan kesal.
"Kau aja yang salah! Udah bener kali duluan. Aku udah pernah belajar materi ini, Jadi aku udah pengalaman menghitungnya," Jelas Raizel ikut nunjuk buku Devian, Ngegas dia nya.
"Halah, Belum tentu hitunganmu bener! Jangan-jangan kau belajar asal-asal,"
"Heh! Jaga mulutmu ya! Aku dosenmu tau!"
"Ya kan cuma dosen sementara," Devian menatap acuh. Raizel ingin membalas lagi namun seseorang tiba-tiba memukulkan sebuah penggaris besar terbuat dari kayu ke meja dengan kencang.
BBRRAAKK!
"BISA GAK, KALIAN BELAJAR DENGAN TENANG! INI LABORATORIUM BUKAN KEBUN BINATANG! KALAU MAU BERTENGKAR DI LUAR AJA SANA!" Kata Justin marah, Yang langsung membuat seisi laboratorium terdiam.
Seketika Devian sama Raizel langsung kicep, Memalingkan wajah ke arah lain. Justin menghela napas kasar, Lalu duduk kembali di bangkunya. Memijit keningnya sesaat.
"Ini hari belajar terakhir kita di Laboratorium, Besok kita harus sudah mengikuti Olimpiadenya di kota sebelah. Aku berharap kalian belajar dengan sungguh-sungguh, Dan memanfaatkan hari terakhir ini sebaik-baiknya," Justin kemudian menatap satu persatu dengan netra orangenya.
"Sejujurnya kalian juga ingin menang di Olimpiade tahun ini kan?" Tanya Justin sambil menatap Devian, Ian, Dan Chloe.
"Aku tidak peduli dengan Olimpiade," Jawab Devian cuek, Menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sambil bersidekap.
Pantes selama seminggu di Lab, Chloe lihat Devian selalu santai dan tidak mengerjakan tugasnya dengan benar. Ternyata pemuda bersurai hitam kecoklatan itu memang tidak niat ikut Olimpiade. Tapi anehnya dia tetap jadi perwakilan.
"Tidak tahu," Balas Ian dingin, Tidak memperdulikan tatapan Justin padanya.
Oke, Karna dia ingin menang Olimpiade dan ingin mendapat beasiswa untuk kuliah, Chloe pun angkat tangan.
"Aku ingin menang demi beasiswa untuk kuliah," Jawab Chloe yang mendapat tatapan beragam dari ke-5 cowok-cowok itu.
"Beasiswa? Bukannya kakak sudah bilang, Kakak yang akan menanggung semua pendidikanmu?" Felix mengerutkan alisnya, Merasa tak setuju dengan keinginan Chloe.
"Aku gak mau merepotkan kak Felix terlalu lama, Lagian aku juga kerja untuk tunjangan hidupku sendiri kok," Balas Chloe tenang.
Felix terdiam sejenak, Apa Chloe merasa sungkan karna selama ini Felix yang menanggung semua biaya pendidikan sang gadis?
Sesaat Justin tampak berpikir, Bersidekap sambil menyandarkan tubuhnya. Hanya Chloe yang berharap menang dalam Olimpiade ini, dibanding Devian dan Ian yang acuh soal Olimpiade.
"Hm...Begini saja, Jika kalian bertiga menang dalam Olimpiade tahun ini maka hadiahnya adalah pergi ke pantai. Lalu aku, Raizel, dan Felix. Kami bertiga akan mendapat nilai tertinggi dari dosen kami karna Siswa-Siswa pilihan yang kami ajari menang dalam Olimpiade. Dengan begitu kita impas, Bagaimana?" Tawar Justin kembali menatap satu-persatu.
"Hah pantai!? Membosankan sekali, Lebih baik pergi ke gunung saja. Disana bisa olahraga sekalian menginap, Aku lebih suka yang anti Mainstream," usul Devian menambahkan.
"Piknik saja, Aku gak mau harus berlama-lama pergi," Usul Ian datar.
"Bagaimana denganmu Chloe?" Justin menatap tajam Chloe yang sejak tadi menyimak. Sang gadis sedikit tersentak karna Justin menanyainya.
"Aku!?" Sesaat Chloe menunjuk dirinya sendiri, Lalu mengusap tengkuknya canggung. "Umm...Lebih baik kalian saja yang pergi, Gak apa-apa hanya dapat Beasiswa. Yang penting menang dalam Olimpiade ini,"
"Lho kok gitu Sweety!? Gak seru kalau Sweety gak ikut," Protes Raizel.
Rasanya Chloe pengen jitak si Raizel, Ni anak bodoh atau apa!? Yakali dia mau pergi dengan mereka, Manalagi dia cewek sendirian. Mana mau Chloe ikut kalau dia cuma sendiri.
"Bukannya lebih bagus kalau Chloe ikut aja, Sekalian liburan setelah ikut Olimpiade," Bujuk Felix memandangi adiknya.
"Gak bisa! Sunshi gak bisa ikut," Tolak Ian, Menyadari bahwa Chloe merasa tak nyaman kalau di paksa ikut liburan sama mereka. Dia paham Chloe cewek satu-satu nya di tim ini. Maka dari itu Ian menolak kalau Chloe ikut, Bisa dapat masalah kalau Chloe ikut sama mereka apalagi Devian sempat ngusulin nginap di gunung.
__ADS_1
"Kenapa lagi?" Raizel mengerutkan alisnya merasa tak setuju dengan Ian.
"Dia cewek sendiri,"
Meski perkataan Ian sangat singkat, Tapi mereka semua langsung paham. Dan Chloe hanya bisa tersenyum canggung.
"Gitu ya, Hm...Memang lebih baik gak usah ikut sih," Raizel mengangguk kecil.
Felix menoleh menatap adiknya, Tersenyum hambar. "Maaf ya Chloe, Mungkin kau bisa ikut lain kali,"
"Gak apa-apa kak, Lagipula dapat beasiswa dari Olimpiade aja udah membuatku senang. Atau aku bisa liburan sama teman-temanku lain kali,"
Felix hanya mengangguk, Kembali menatap Justin yang menyimak obrolan itu. Mengangguk kecil.
"Oke, Sudah diputuskan kita akan pergi ke pantai saja. Kalau kalian menang," Justin berdiri lalu meranjak pergi dari ruangan Lab.
Devian cemberut karna usulan liburannya gak diterima Justin, Dan Ian yang hanya memasang tampang datar. Mereka pun satu persatu keluar dari Lab diiringi dengan bunyi bel yang menandakan waktu istirahat sudah datang.
***************
Chloe menoleh kanan kiri, Mencari keberadaan Alice dan Evelyn tapi tampaknya sejak tadi pagi dia tak menemukan keberadaan Alice dan Evelyn dimana pun.
Dia pikir mereka berada di kantin namun tampaknya juga tidak ada. Sesaat Chloe berhenti berjalan.
TING!
"Huh!"
Chloe mengambil HP nya, Menatap nama seseorang yang tertera di layar HP.
From: Alice
To: Chloe
Chloe, Jika kau mencariku dan Evelyn. Kami sedang izin hari ini, Soalnya sedang ada acara keluarga. Entah kenapa tiba-tiba keluargaku dan keluarga Evelyn meminta kami untuk izin hari ini. Baik-baik ya di sekolah selama kami tidak ada.
From: Chloe
Oke, Semoga keluarga kalian berdua cepat akur.
Usai membalas pesan Alice, Chloe menyimpan HP nya lalu menghela napas.
"Yah, Jadi gak punya teman deh hari ini,"
"Eeiiyy, Aku masih ada kali," Holy cemberut.
"Seenggak aku ingin bicara dengan seseorang yang terlihat, Dari pada dianggap aneh karna terlihat ngomong sendiri,"
"Ish...Chloe jahat ah," Holy mengembungkan kedua pipinya hingga terlihat lucu. Membuat gadis bersurai biru itu terkekeh pelan.
Dia kembali melanjutkan jalannya menuju taman, Berniat ingin sendirian disana. Sejenak langkahnya terhenti di area taman menyadari ada seseorang yang tengah duduk membelakanginya disana.
Sosok itu cukup Familiar bagi Chloe, Dengan postur tinggi tegap dan surai berwarna hitam kelam. Dia melangkah mendekat perlahan. Chloe ingin memanggil sosok yang mungkin dia kenal itu namun secara tiba-tiba Sosok sang pria langsung berdiri, Dengan secepat kilat melempar sebuah pisau lipat kecil ke arah Chloe.
Untunglah Insting Chloe sangat tajam, Dia segera menghindar sebelum pisau lipat itu mengenainya. Hingga akhirnya pisau itu menancap di batang pohon tepat di belakang Chloe.
"Gerakanmu Refleks juga," Sang pria tanpa menunggu lama langsung berlari, Dan menendang Chloe dengan kuat saat sang gadis masih lengah.
Sesaat Chloe terjatuh memegangi lengannya yang terkena sasaran tendangan itu, Dengan cepat sang gadis segera mundur dan berdiri kembali saat sang pria ingin kembali menendangnya.
Pria itu tersenyum sinis, Mengeluarkan pisau lipat lainnya dari balik jas hitam yang dikenakannya.
"Bagaimana rasanya di pukul balik? Sakit bukan?" Kata sang pria sambil berjalan mendekat. Memainkan pisau lipat di tangannya.
"Cih, Kau curang Kak Justin! Kau pakai senjata," Tuding Chloe menatap tajam Justin yang masih berjalan mendekat. Memasang sikap kuda-kuda.
"Tentu saja, Ini kan pertarungan senjata. Kalau kau melawanku memakai tangan kosong, Kau akan kalah dan mati di tanganku," Jelas Justin tenang, Kembali menyerang Chloe dari arah samping.
Refleks Chloe langsung menggunakan lengannya sebagai temeng saat Justin hampir menusuk kepalanya. Kini lengan Chloe tergores dan sedikit mengeluarkan darah segar.
"Ukh...tenaganya kuat sekali," Pikir Chloe agak meringis menahan perih di lengannya, Apalagi kini Chloe berusaha menahan tangan Justin yang menargetkan kepalanya.
__ADS_1
Semakin lama saling menjatuhkan, Akhirnya Chloe tak kuat menahan dorongan Justin. Dia terjatuh ke tanah yang keras dengan Justin yang ikut terjatuh dan kini berada di atasnya. Justin tetap bersikukuh ingin menusukkan pisau lipat itu ke kepala Chloe. Sang gadis masih bertahan, Kini tangannya menahan tangan Justin. Tinggal beberapa cm lagi ujung pisau itu akan menembus kepalanya.
"Mati saja kau!" Justin tertawa senang, Netra orange berubah menjadi merah darah. Dan terlihat sangat jelas dimata Chloe.
"Psikopat ini benar-benar menyusahkan," Pikir Chloe jengkel, Dengan tenaga yang tersisa. Dia segera mengubah posisinya menjadi menyamping masih berbaring di tanah. Sehingga Justin yang ada diatasnya langsung terjatuh ikut terbaring di tanah. Pisau di tangan Justin sempat terlepas.
Tanpa membuang kesempatan, Chloe segera mundur dengan cepat menjauhi Justin. Berdiri cepat dan kembali memasang kuda-kuda.
"Chloe, Ambil ini!"
Sontak Chloe menoleh mendengar suara Holy, Holy melempar pisau lipat milik Justin yang menancap di pohon. Dengan gesit sang gadis menangkap pisau itu, Lalu mengancungkannya ke Justin yang sedang berdiri dengan pisau di tangannya.
"Sekarang kita sama-sama memiliki senjata, Aku tidak akan kalah darimu!" Kata Chloe menatap tajam dengan sikap waspada.
"Wah, Apa kau bisa menggunakan senjata?" Justin tersenyum remeh. Lalu berlari mendekat dengan menghunuskan pisaunya ke arah Chloe.
WUUSSHH!
Sesaat Chloe bisa merasakan hembusan angin yang disebabkan hunusan pisau Justin di samping wajahnya. Untung kepalanya sempat menghindar.
Dengan cepat Chloe menahan tangan Justin yang terhunus di sampingnya, Lalu menyerang Justin balik.
CCRRAASS!
Sontak Justin langsung mundur dengan cepat, Menjaga jarak. Sejenak dia menyentuh pipinya yang terkena goresan dari pisau Chloe. Rasa perih menjalar di pipinya.
"Darah!?" Netra orange nya menatap Chloe dengan tajam. Darah segar sedikit demi sedikit mengalir dari goresan cukup besar di pipinya.
"Kau pikir hanya kau yang bisa menggunakan pisau!" Chloe tersenyum miring, Menunjukkan lengannya yang terdapat bekas goresan masih baru sama seperti Justin.
Justin menggertakkan giginya, Kembali menyerang Chloe dalam jarak yang dekat.
TTRRAANNGG!
Pisau beradu dengan pisau, Membuat suara yang memekakkan telinga. Kedua nya saling dorong dengan pisau masing-masing. Tak lama Chloe melakukan gerakan tangan memutar, Hingga pisau di tangan Justin terlempar ke udara bahkan pisau Chloe sampai melukai jari Justin.
SSRRIINNGG!
DDUUAAKK!
Dengan segera Chloe menendang sang pemuda hingga jatuh tersungkur ke tanah, Usai melempar pisau Justin jauh-jauh. Tak lama Chloe langsung menodongkan pisaunya dengan jarak yang dekat ke wajah Justin, Tinggal 10 cm lagi mungkin ujung pisau yang dipegang Chloe akan menghunus kening sang pemuda.
"Kau kalah Kak Justin!" Kata Chloe menatap datar Justin yang terduduk di bawahnya, Masih menodongkan pisau itu.
Justin terdiam, Mendongakkan kepalanya tak percaya menatap Chloe yang kini berdiri dihadapannya. Sejenak hanya terdengar suara angin sepoi-sepoi disekitar mereka, Menerbangkan helai-helai rambut keduanya.
Lalu Justin tersenyum sinis, Dia menunjuk Kepalanya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Baiklah kau menang, Sekarang ayo bunuh aku. Ini kan yang kau inginkan? Sebelum aku membunuhmu, Kau harus membunuhku terlebih dahulu. Agar kau tidak diincar lagi. Ayo kita akhiri semua ini disini," Justin masih tersenyum namun senyum nya terlihat lemah saat ini.
Jari telunjuknya masih menunjuk kepalanya sendiri bermaksud kalau Chloe ingin membunuhnya, Chloe harus langsung menusukkan pisau itu di kepalanya.
Chloe masih diam tak bersuara, Pisau di tangannya masih tertodong di hadapan Justin, Netra birunya tak terbaca. Masih berdiri diam disana. Sedangkan Holy menatap Chloe cemas dari Jauh.
"Apa Chloe ingin membunuh Justin? Mana mungkin kan Chloe punya dendam padanya?" Pikir Holy cemas.
"Kau ingin aku jadi pembunuh mengikuti jejakmu?" Tanya Chloe dingin, Masih menatap Justin.
"Dari sorot matamu seperti kau dendam padaku karna selama ini aku mengirim mata-mata, bertujuan untuk membunuhmu. Maka jawabanku adalah iya, Bukankah salah satu dari kita harus mati? Jadi lakukanlah disini atau disini,"
Justin masih menunjuk kepalanya sesaat beralih menunjuk lehernya, Memberi pilihan pada Chloe. "Pilih sesukamu, Dengan begitu hidupmu akan tenang tanpa melihatku lagi kan,"
Sejujurnya Chloe heran, Justin adalah seorang psikopat dan dia sangat menakutkan. Namun saat sudah kalah telak begini, Kenapa pemuda bernetra orange itu malah pasrah saat Chloe menodongkan pisaunya?
"Jika inilah akhir hidupmu yang kau pilih Kak Justin, Maka aku akan menyanggupinya. Setelah ini aku akan hidup tenang tanpa melihatmu lagi,"
Chloe mengangkat pisau di tangannya, Berniat untuk menusuk tepat di kepala Justin. Sedangkan Justin hanya tersenyum lemah, Sudah saatnya dia mengakhiri permainan ini.
Justin memejamkan matanya, Membiarkan dia mati dengan tenang nantinya. Yah sudah saatnya dia terlepas dari lingkaran hitam yang mengelilinginya, Pada akhirnya Chloe lah yang menang.
TBC
__ADS_1