
Rocky berjalan ke arah Aleena, dia menatap Aleena yang juga menatap nya. "Apa kau menyalahkan ku telah membunuh nya? " Pertanyaan Rocky itu membuat Aleena terdiam namun air matanya tidak bisa berhenti membuat Aleena merasa aneh untuk apa dan siapa dia menangis.
Aleena perlahan menggelengkan kepalanya "Tidak aku tidak menyalahkan mu Om"
Mendengar itu Rocky segera memeluk Aleena yang masih tergeletak karena efek obat yang di suntikan Maira itu.
Rocky menggendong Aleena keluar dari ruangan itu "Kita pulang" Ucapan Rocky yang mendapat anggukan ringan dari Aleena.
Aleena memejamkan matanya dia merasa lega mereka bisa keluar dari sana, namun juga merasa sedih karena dirinya Rocky harus terluka karena dirinya.
Rocky keluar dengan selamat, Robby dan beberapa anak buah Alister ingin membantu Rocky namun terhenti saat sudah melihat Rocky keluar.
"Tuan, Nona kalian selamat"
"Hmm, di mana yang lain? " Tanya Rocky
"Mereka membawa para Nona ke rumah sakit" Ucap Robby.
"Kalau begitu kalian juga pergi bantu anggota kalian yang terluka " Ucapan Rocky itu mendapat anggukan dari Robby.
Rocky membawa Aleena masuk ke dalam mobil, dia membawa Aleena ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Rocky merasa tubuhnya sedikit lemah kepalanya agak pusing. "Om? " Tanya Aleena yang melihat Rocky seperti menahan sakit.
Rocky tau Aleena mengkhawatirkan nya "Kenapa? jangan pasang wajah seperti itu aku baik-baik saja" Ucap. Rocky yang langsung ke UGD menyerahkan Aleena.
"Dokter tolong " Ucap Rocky singkat.
"Baik" Ucap dokter yang memberikan kode pada perawat untuk membantu Rocky meletakkan Aleena.
__ADS_1
"Darah, tuan anda juga harus berbaring luka anda biar kami periksa" Dokter itu begitu jeli bisa melihat luka Rocky yang berada di perut bagian samping itu.
"Tidak perlu! " Ucapan Rocky itu membuat Aleena sedih.
"Tolong tuan jangan membuat istri anda khawatir" Ucapan dokter itu membuat Aleena malu sekaligus senang, begitupun dengan Rocky ucapan dokter itu membuatnya sangat senang.
"Em baik, aku tidak ingin membuat istri kecilku khawatir" Rocky menimpali ucapan dokter itu tanpa menyangkal sedikit pun.
Mereka berdua mendapat perawatan, Rocky mendapatkan luka jahit di bagian yang tertusuk pisau itu.
Obat yang di suntikan pada Aleena ternyata tidak berbahaya hanya obat bius saja, Aleena kini sudah bisa menggerakkan tubuhnya, Aleena dan Rocky sama-sama bersikeras tidak main di rawat di rumah sakit karena tubuh mereka sudah terbiasa terluka, luka seperti itu tidak mengancam jiwa mereka.
"Om aku ingin menemui Elin" Ucap Aleena yang merasa bersalah pada Elin, yang membuat Elin terseret ke masalah nya.
Rocky mengangguk dia sudah tau di ruangan mana Elin di rawat, dia menuntun Aleena untuk pergi ke ruangan itu.
Aleena mengangguk menuruti ucapan Rocky, Mereka sampai di depan Alister "Kak bagaimana keadaan Elin? " Tanya Aleena pada Alister
"Dia belum sadarkan diri, Erlan sedang di dalam bersamanya" Alister terlihat murung, sebenarnya Alister ingin berada di sisi Elin sekarang ini, namun Erlan dengan tegas mengusirnya, Alister sedang di curigai oleh Erlan.
"Aku mengerti " Aleena membuka pintu baru saja membuka pintu Erlan sudah bersuara.
"Aku bilang jangan masuk sampai aku mengizinka-" Erlan terkejut saat menengok orang yang masuk ternyata bukan Alister.
"Aleena? kau, aku pikir kau Alister" Ucap. Erlan yang langsung berdiri, Aleena yang baru menyebrang setengah badan menghentikan langkah nya karena suara bentakan Erlan
Rocky melirik kemudian menatap Alister dengan tatapan kasihan dan iba.
__ADS_1
"Hentikan tatapan mu itu! aku tidak perlu kau kasihan ni! sialan kau sendiri belum mendapatkan restu dari kak Arion dan yang lainnya sudah melihat ku seperti itu " Ucap Alister yang sangat tau apa maksud tatapan Rocky.
Rocky terdiam saja dia baru sadar kalau yang di katakan Alister benar, keluarga aditama sama sekali belum tau tentang hubungan mereka dan belum tentu juga merestui mereka, namun Rocky mencoba untuk tetap tenang di depan Alister "Aku pasti mendapatkan restu mereka" Ucap Rocky dengan yakin dan melangkah masuk mengikuti Aleena yang sudah masuk terlebih dahulu.
Alister ingin ikut masuk namun Erlan sudah berjalan dan segera menghadang Alister, Erlan ternyata keluar kemudian menutup pintunya, dia menatap tajam Alister. "Kau apakah benar-benar menyukai adik ku? " Pertanyaan To the poin Erlan itu membuat Alister terdiam sejenak kemudian duduk di kursi yang di sediakan di depan ruangan VVIP itu.
"Jika aku mengatakan iya apa kau akan menyetujui nya? "
"Tidak! " Ucap tegas Erlan "Kau adalah rekan bisnis papa dan sejak awal dia ingin menjodohkan mu dengan Elin, apa kau punya maksud lain?, aku tidak akan membiarkan siapapun memanfaatkan adik ku"
"Aku tidak ada hubungannya dengan rencana papamu! ya meski awalnya aku malah mencurigai Elin ingin menggoda ku demi kepentingan papanya, tapi aku salah Elin gadis yang baik dan ceria "
"Hmm tapi mungkin keceriaannya itu akan segera sirna, aku memiliki dua syarat untuk mendapatkan restu ku"
"Hmm sebenarnya tidak kau restui aku tidak masalah" Ucapan Alister itu membuat Erlan kesal.
"Apa yang kau katakan sialan! aku ini kakak tercinta Elin, coba saja tidak mendapatkan kata ya dariku. Elin sangat menghormati dan menghargai ku jika tidak mendapatkan restu ku aku rasa dia juga tidak akan mau bersama mu, dia akan memilih menahan nya demi aku"
"Berisik! aku sudah tau itu katakan apa syarat nya dan apa yang kau maksud dengan keceriaannya akan hilang? "
Pertanyaan itu membuat Erlan terdiam sejenak, dia menghela nafas "Kau tau luka di pipi Elin mungkin akan meninggalkan bekas, sebagai wanita memiliki bekas luka adalah hal yang paling mengerikan , syarat pertama buat dia ceria dan tidak frustasi akan lukanya," Ucapan Erlan itu membuat Alister terdiam, dia tidak tau bahwa lukanya akan sedalam itu.
"Kau diam? apa kau akan menyerah padanya karena dia akan menjadi wanita yang memiliki luka di wajahnya? " Erlan menatap Alister dia seperti menunggu jawaban dari mulut Alister.
"Kau pikir aku siapa? aku bukan laki-laki yang picik! hanya sebuah luka bukan berarti apapun" Jawaban Alister yang begitu tenang dan mantap membuat Erlan sedikit lega. "Katakan syarat kedua mu! " Ucap Alister dengan tatapan menunggu.
"Syarat kedua ku, Ka-" Ucapan Erlan terhenti saat Aleena membuka pintu.
__ADS_1
"Kak Alister Elin sadar" Ucapan Aleena itu membuat kedua orang yang sedang serius berbicara utu segera masuk untuk melihat keadaan Elin.