Terjerat Cinta Bartender Dingin

Terjerat Cinta Bartender Dingin
Episode 151


__ADS_3

Arion mencoba mencari jalan namun insting nya beberapa kali meleset dia menemukan jalan buntu "Ah siap harusnya jika jejek mereka hilang di sekitar sini jalannya bukannya harus di sekitar sini juga bukan ah" Arion terlihat sangat kesal.


Rocky memikirkan orang yang mungkin tau sela hutan itu "Dia pasti tau" Ucap Rocky yang merogoh ponselnya.


Arion menghentikan mobilnya membuat Alister juga menepikan mobilnya dia segera berlari ke mobil Arion dan mengetuk pintu kaca mobil Arion, Arion keluar "Ada apa apakah mobil mu rusak" Tanya Alister.


"Tidak, hanya saja kita terlalu membuang waktu" Ucap Arion.


Alister mengangguk dan melihat Rocky yang tengah menelpon


[Aku akan ke sana] Ucap laki-laki yang sedang di telepon oleh Rocky.


[Terlalu lama, beri petunjuk dan kau menyusul ah] Ucap Rocky yang sedikit memaksa.


[Tunjukan aku di mana lokasi mu sekarang] Ucap Laki-laki yang Rocky telepon.


Rocky memperlihatkan tempat nya [Aku tau putar balik ada sisi sebalah kanan dari sana berputar lah dan kau akan menemukan jalan masuk ke hutan itu, Aku akan segera menyusul]


[Terserah] Rocky matikan ponsel nya.


"Kalian sudah dengar ucapan Erlan ayo bergegas, aku tidak mau terjadi apa-apa pada Aleena" Ucap Rocky yang mendapat anggukan dari Arion dan Alister mereka segera berangkat sesuai dengan petunjuk erlan, semoga malam tidak menyesatkan dan menjadi penghalang bagi mereka untuk menemukan Aleena.


Laki-laki itu tetap memegangi Aleena dengan tatapan tanpa ekspresi "Sial! " Aleena menggunakan cara wanita biasa yaitu menginjak kaki laki-laki itu namun laki-laki itu tidak hanya berhasil menahan sakitnya namun dia tidak mengeluarkan suara sama sekali membuat Aleena merasa frustasi.


"Kau lepaskan aku, aku akan membayar mu tiga kali lipat " Laki-laki itu tidak mendengarkan ucapan Aleena dia menggenggam pergelangan Aleena semakin kuat "Kau lepaskan aku, aku akan memberikan mu 10 kali lipat dari bayaran mu"

__ADS_1


"Aku hanya ingin keluarga ku" Ucap laki-laki yang lumayan tampan itu berkata cukup singkat.


"Keluarga mu apakah di jadikan sandera oleh bos itu dan memaksa mu bekerja seperti ini, kalau begitu bantu aku kabur kakak ku pasti bisa membantu mu " Ucap Aleena mencoba meyakinkan laki-laki itu namun ekspresi laki-laki itu tidak berubah tetap datar membuat Aleena tidak tau harus bagaimana apalagi Aleena mendengar langkah kaki semakin mendekat cahaya mulai menyoroti.


Laki-laki itu segera mendorong Aleena masuk ke dalam mobil dan menutupnya saat lampu menyorot ke arah mereka. "Rei itu kau! " Ucap laki-laki yang membawa senter ke arah laki-laki yang menolong Aleena itu. "Apakah ada wanita yang lari ke sini? wanita itu kabur" Ucap laki-laki yang sudah ada di hadapan Rei itu.


Aleena menundukkan kepalanya dia berharap laki-laki itu tidak melihat Aleena yang bersembunyi di dalam mobil.


"Tidak" Jawab singkat Rei dengan wajah datarnya.


"Kau masih saja begitu dingin, Rei ingat keluarga mu masih di tangan bos jika kau bermalas-malasan bos akan membunuh adik-adik mu yang masih kecil itu" Ucap temannya mengingatkan Rei.


"Aku tau" Ucap Rei


Aleena segera keluar dari mobil ketikan melihat teman Rei sudah berjalan menjauh "Kau lari lah ke arah sana lari sejauh mungk-" Rei belum selesai berkata sesuatu sudah di lempar ke arah Rei namun Rei berhasil menangkapnya sebuah pisau berhasil di tangkap Rei dengan tangan kosong di keadaan yang cukup gelap.


"Wanita itu di sini" Teriak rekan Rei tadi, ternyata orang itu sudah mengetahui Aleena yang bersembunyi dan pura-pura pergi untuk menyerang Aleena dan Rei secara diam-diam.


Semua orang berlari, Rei melempar pisau itu dan menarik Aleena untuk berlari bersamanya. Tangan Aleena merasakan darah yang begitu lengket darah yang semakin membasahi telapak nya.


Aleena merasa kasihan dengan Rei dan menarik berhenti Rei "Kau pergilah ikat lukamu aku akan mengukur waktu " Aleena merobek bajunya dan memberikannya kepada Rei untuk mengikat lukanya.


"Ck! hanya wanita berlagak" Ucap Rei mengambil kain yang Aleena berikan dengan cepat mengikatnya namun dengan cepat pula mereka berhasil di kepung.


"Rei apa kau sudah gila! apa kau tidak ingat adik-adik mu" Ucap teman Rei yang juga mengalami nasip yang sama dengan Rei bekerja di bawah tekanan dan ancaman tentang keluarga mereka.

__ADS_1


"Dia akan menyelamatkan adik-adik ku" Jawab Rei yakin.


"Rei dia sendiri akan mati bagaimana dia akan menolong adik-adik mu" Ucap teman rei itu.


"Hah aku mati, tidak semudah itu"


"Jangan banyak omong tangkap mereka berdua" Ucap laki-laki yang melempar pisau ke arah Rei.


Dua orang melawan puluhan laki-laki bertubuh besar dengan satu orang terluka tentu mereka kesulitan untuk memang dan bergerak, alhasil Rei dan Aleena tertangkap meskipun begitu Aleena dan Rei berhasil menumbangkan lima orang dengan luka serius.


Saat mereka berhasil menangkap Aleena dan Rei terlihat sorot mobil menyoroti mereka, Laki-laki yang di sebut bos tadi keluar "Kenapa kalian semua di sini" Teriak bos itu dengan lantang dan melihat Aleena dan Rei yang berhasil mereka tangkap tangan keduanya berada dalam kuncian dua orang bertubuh besar.


"Maaf bos dia sempat kabur"


"Lalu Rei" Menatap tajam Rei


"Dia berkhianat bos" Ucap laki-laki yang melempar pisau ke arah Rei.


"Rei aku kecewa padamu! bun-"


"Wah wah ada apa ini? kenapa berkumpul di sini bukankah aku sudah memberikan kalian tempat untuk bersenang-senang " Aleena merasa familiar dengan suara wanita yang berada di balik tubuh orang yang di sebut bos itu.


Wanita itu perlahan-lahan berjalan ke arah Aleena namun Aleena belum bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu sampai wanita itu muncul di balik tubuh orang yang di sebut bos itu "Kau" Aleena membulatkan matanya dia tidak menyangka jika dia adalah dalangnya.


"Ya aku, apa kau terkejut" Ucap wanita itu dengan tatapan yang ingin sekali membunuh Aleena.

__ADS_1


__ADS_2