
Saat acara saling ledek itu Aleena hanya bisa diam tersipu karena dirinya juga menjadi tokoh utama di setiap ledekannya.
"Om apa kau benar-benar lupa jalan di sini, ini bukan jalan ke arah apartemen kita" Ucap Aleena.
"Hmm benarkah" Ucap Rocky yang pura-pura tidak tau.
"Om jangan bercanda apa kau benar-benar sudah tua sampai melupakan jalan" Ucap Aleena asal. Mendengar ucapan Aleena itu Dion dan Rafael tertawa.
"Hahaha benar Aleena dia itu sudah tua" Ucap Dion ikut berkomentar.
"Ck! diam kau, kau dan aku lahir di tahun yang sama apa kau juga bilang kau tua " Mendengar jawaban Rocky Dion hanya bisa terdiam dia benar-benar lupa akan hal itu.
Aleena dan Rafael tersenyum mendengar perdebatan keduanya.
Rocky terus melajukan mobilnya Aleena hanya terus mengamati mungkin saja Rocky ingin makan terlebih dahulu, namun tak berapa lama setelah Aleena memiliki pikiran itu mobil tiba-tiba saja berhenti ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun juga tidak kecil.
"Om ini rumah siapa? " Tanya Aleena.
"Rumah kita, kita akan tinggal di sini mulai sekarang" Ucap Rocky yang membuat Aleena terkejut.
"Wow apa kau serius om" Ucap Aleena.
"Hmm aku serius, rumah ini dekat dengan halte bus juga dekat dengan kampusmu "
"Benarkah" Mendengar itu Aleena merasa senang.
"Ya tempat ini juga tidak jauh dari bar milik paman Rayyan, jadi jika aku sedang di bar dan kau tiba-tiba rindu kau bisa langsung menemui ku" Ucap Rocky yang membuat Dion ingin muntah.
"Bisakah kita segera masuk aku sedikit mual mendengar bualan kata manis om tua" Ucap Dion yang mendapat tawa kecil dari Aleena.
"Berisik sana cepat masuk! " Ucap Rocky yang melemparkan kunci pada Dion.
Dion menangkapnya dan berjalan menuju pintu dan di ikuti oleh Rafael.
Saat ini mereka semua sudah ada di rumah baru dan menentukan kamar masing-masing kebetulan kamarnya ada 4 jadi mereka bisa tidur sendiri sendiri.
Rocky dengan mengatas namakan pemilik rumah dia mengatur kamarnya agar bisa bersebelahan dengan kamar Aleena.
Setelah mendapatkan kamar mereka menata barang mereka dan segera membersihkan diri.
Tak terasa malam mulai menyapa Aleena juga sudah siap dengan makanan seadanya di meja makan mereka semua keluar bersamaan saat mencium bau mie yang baru saja selesai di masak.
"Kak Dion kak Rafael ayo makan bersama" Ucap Aleena saat melihat Rafael dan Dion berjalan ke arah meja makan di ikuti Rocky yang datang lebih terlambat.
Mereka berempat makan bersama-sama meskipun hanya makan mie. Setelah selesai makan Rocky menyuruh Aleena untuk istirahat "Ale kau istirahatlah kami akan keluar sebentar untuk melihat kondisi di sekitar bar pada malam hari bagaimana" Ucap Rocky.
"Aku ikut om" Ucap Aleena.
__ADS_1
"kenapa apa kau tidak lelah" Ucap Rocky
Aleena segera menggelengkan kepalanya "Tidak, aku akan ikut" Ucap Aleena mantap.
"Nona Aleena apakah jangan-jangan kau takut di rumah sendiri" Ucap Dion
"Hah jangan bercanda dengan ku kak, apa yang perlu aku takutkan" Ucap Aleena yang sedikit merasa gugup.
"Hahaha aku pikir Nona muda juga takut hantu" Ucap Dion.
"Juga? maksud mu apakah ada yang takut"
"Hahaha lupakan" Ucap Dion melirik ke arah Rocky.
"Sudahlah, ayo kita berangkat sekarang kalau begitu" Ucap Rocky
"Baik" Ucap mereka bertiga bersamaan.
Mereka akhirnya berada dalam perjalanan menuju bar milik Rayyan, sesampainya di bar itu mereka benar-benar terperangah.
"Apakah ini benar-benar masih bisa disebut bar, bukankah ini lebih mirip sebuah kasino terbengkalai" Ucap Rocky yang mendapat anggukan dari Aleena, Dion, dan Rafael.
"Sekarang aku tau dari mana sifat gila bisnis tuan Arion berasal" Ucapan Dion kini mendapat anggukan juga dari mereka semua.
"Apakah papa menipumu dia bukan ingin kau menjalankan sebuah bar tapi dia ingin membangun kasino baru untuk nya" Ucap Aleena menutup wajahnya tak habis pikir dengan papanya, sedangkan di seberang negara sana tuan Rayyan sedang bersin tidak berhenti.
****
"Apa kau terkena flu sayang" Ucap Tiara pada suaminya itu.
"Tidak, sepertinya ada yang sedang merindukan ku" Ucap Rayyan dengan penuh percaya diri.
*****
"Apakah kita salah tempat haruskah aku menelepon papa untuk memastikan nya" Ucap Aleena
"Tidak perlu seperti nya ini memang tempatnya lebih baik kita masuk saja" Ucap Rocky yang melihat alamat yang di berikan Rayyan, mereka semua setuju dan akhirnya mereka masuk.
Kunci yang di berikan benar-benar berfungsi mereka masuk dan melihat tempat itu cukup terawat seperti nya Rayyan menyewa orang untuk membersihkannya.
Namun baru saja mereka masuk tiba-tiba terdengar langkah kaki, membuat Aleena segera merangkul Rocky "Om ap.. apa kau mendengarnya" Ucap Aleena.
Rocky dengan susah payah menelan ludahnya "Hmm ak.. aku juga mendengarnya" Ucap Rocky yang berusaha bersikap biasa saja.
"Hmm kita harus memeriksa tempat ini" Ucap Rafael.
"Ya haruskah kita berpencar" Ucap Dion dengan sengaja.
__ADS_1
"Ha, untuk apa berpencar lebih baik mencari bersama" Ucap Rocky.
"Kenapa apa tuan bartender ini takut "
"Berisik apa yang kau katakan aku bahkan bisa membunuh puluhan orang dalam sekejap untuk apa takut" Ucap Rocky.
"Oh benarkah, kalau begitu ayo berpencar" Ucap Dion.
"Kak Dion suaranya semakin mendekat" Ucap Aleena takut.
"Aku akan mencari saklar lampunya ini agak gelap" Ucap Rafael.
"Ini bukan agak kak, kita hanya memiliki sinar dari pintu yang terbuka" Ucap Aleena yang berusaha mencari handphone di tasnya.
"Hah kalian berdua memang jodoh" Ucap Dion di akhiri dengan tawa dan mengambil handphone di sakunya.
Dion dan Rafael mencoba menghidupkan lampu sedangkan Ale masih memeluk lengan Rocky "Ja.. jangan takut Ale mereka akan segera menemukan lampu.. " Belum selesai Rocky bicara Aleena tidak sengaja menjatuhkan handphone nya karena panik.
Tiba-tiba saat Aleena ingin mengambil handphone nya "Waaaa Aaaaa Aaaaa Aaaaa" Teriak Aleena terkejut dan langsung memeluk Rocky.
"Ada ap" Ucap Rocky yang menengok ke arah Aleena dan melihat seseorang yang mengarahkan HP Aleena yang senternya hidup membuat Rocky ikut berteriak.
Sampai akhirnya lampu menyala "Selamat malam tuan" Ucap orang itu saat memberikan handphone Aleena, sedangkan Aleena dan Rocky mereka agak sedikit pucat.
"Malam, kau ini siapa? "
"Ah saya orang yang di minta tinggal di sini dan membersihkan tempat ini" Ucapnya
"Kau membuat ku terkejut saja kenapa berjalan di tengah gelap begitu" Ucap Rocky yang wajahnya kini terlihat kesal.
"Maaf tuan aku sudah terbiasa di tempat ini, saya berniat menghidupkan lampu yang saklar nya ada di sebelah sana, namun saya melihat nona ini menjatuhkan handphone nya" Ucapnya.
"Kau memiliki penglihatan yang tajam, apakah kau orang tuan Rayyan" Tanya Dion.
"Benar tuan, saya anggota Kraken saya di tugaskan di sini setelah tuan Rayyan membeli kasino ini "
Mereka akhirnya duduk bersama di bar untuk minum sebelum melihat seluruh kasino itu, Dion duduk di samping Rocky dan berbisik "Apa kau tadi takut " Tanya Dion.
"Ha apa kau pikir aku ini Arion, aku tentu saja tidak" Ucap Rocky
"Oh benarkah"
"Diam! apa kau ingin aku merubah mu jadi hantu ha" Ucap Rocky
"Kalau begitu haruskah aku menghantui mu"
"Ck kau benar-benar ingin mati" Ucap Rocky yang meninju tangan Dion yang ada di atas meja.
__ADS_1