
Elin sudah berada di dalam mobil Erlan "Kakak" Panggil Elin pada kakak nya yang sedang mengemudi di sampingnya Itu.
"Hmm, apa? " Erlan menjawab tanpa melihat ke arah Elin.
"Aku tadi mendengar suara Aleena terdengar sedih, apakah kita bisa ke sana saja, aku khawatir padanya" Apa nyang di ucapkan elin tidak bohong, namun di balik ucapannya itu dia sebenarnya hanya tidak mau ke kampus tanpa Aleena.
"He, apakah ada calon dokter yang berbohong untuk tidak masuk kuliah?" Erlan tidak percaya dengan apa yang Elin ucapkan.
"Apa kakak tidak percaya? aku memiliki buktinya" Elin sempat mereka ucapan Aleena saat menelepon tadi, entah ada pikiran apa kenapa Elin merekam pembicaraan nya di telepon dengan Aleena. Elin memutarkan rekaman itu.
"Dia menangis? " Ucapan Erlan tanpa sadar wajah nya terlihat khawatir, Elin tersenyum penuh kemenangan diam-diam.
'Masih tidak mengaku kalau hatinya sudah di curi, benar-benar kakak bodoh' Ucap Elin dalam diamnya. "Bukankah kita harus segera ke sana kak? aku takut dia di marahi oleh sepupu yang dia panggil om itu, ini semua salahku aku harus meminta maaf dan menjelaskan dengan benar agar tidak ada salah paham di antara meraka" Ucap Elin dengan ekspresi yang terlihat bijak, padahal hanya ingin menghindari kampus yang akan terasa kosong tanpa Aleena.
Perkataan Elin itu membuat Erlan terlihat berfikir dengan serius "Ucapan mu masuk akal, hm aku akan mengantarkan mu minta maaf kau harus minta maaf dengan jelas apa kau mengerti" Erlan yang tadi bersikukuh ingin adiknya berangkat kuliah tiba-tiba berubah pikiran hanya karena Erlan sebenarnya ingin memastikan ke adaan Aleena dan ingin bertemu dengan nya.
"Hmm, tapi kita cari sesuatu untuk tanda permintaan maaf ku yang telah membuat Aleena mabuk" Elin kali ini memiliki niatan tulus, dia benar-benar merasa tidak enak pada Aleena.
"Baiklah apa yang ingin kau beli? " Pertanyaan Erlan itu hanya mendapatkan anggukan dari Elin dengan ekspresi yang seperti nya memliki rencana tak terduga.
"Jangan merencanakan yang tidak tidak Elin" Ucap Erlan memperingati Elin sebelum bertindak.
"Jangan khawatir" Elin masih saja menunjukan ekspresi yang sama, sangat mencurigakan.
Di sisi lain
Natan menyiapkan sandwich telur untuk Letty, meski terlihat sederhana namun terasa enak "Ternyata kau bisa masak juga" Ucap Letty yang sudah hampir menghabiskan tiga sandwich sekaligus
"Tentu saja, tapi aku tidak menyangka bos, di balik badanmu yang kecil tersimpan kerakusan yang besar" Ucap Natan meledek Letty.
"Apa kau bilang? kau, kau yang rakus seluruh keluarga mu yang rakus! " Ucap Letty seperti itu namun dia tidak menghentikan makannya membuat Natan menggelengkan Kepala nya.
__ADS_1
Saat Letty sudah menghabiskan sandwich ketiganya handphonenya berbunyi "Disa"
[Hua kau di mana, Letty rumahmu kosong dan terkunci aku di depan rumahmu] Ucap Disa dari seberang telepon.
[Aku berada di apartemen Natan] Ucap Letty
"What? ka..kau di apartemen natan, apa dia menculik mu? katakan padaku apa dia memaksamu untuk menaikkan gajinya" Sepertinya Disa sangat mencurigai Natan sebagai orang jahat.
[Dia yang menolong ku, aku akan menceritakan semuanya setelah kau datang ke apartemen nya, ok] Ucap Letty yang langsung mematikan teleponnya.
"Natan menolong Letty? , apa aku tidak salah dengar? " Ucap Disa setelah telepon Letty di matikan
Disa segera kembali ke rumah nya untuk mengambil mobilnya dan segera ke apartemen Natan.
Letty akhirnya sudah sampai di apartemen kecil milik Natan, Letty menggedor apartemen Natan "Natan kembalikan lett-" Belum selesai mengetuk dan memanggil, orang yang dia cari membukakan pintu untuk nya.
"Berisik ayo masuk" Ucap Letty mengajak Disa.
"Natan kau menculik Letty kau ingin aku mencekik mu hah" Disa segala menghampiri Natan dan benar-benar ingin mencekiknya
"Disa kau tau aku ini seorang penyelamat bos tau" Ucap Natan dengan sangat bangga.
"Duduk aku akan menjelaskan semua yang terjadi" Ucap Letty yang menjelaskan semuanya dan membuat Disa mengerti.
"Letty apa lebih baik kau kembali kepada orang tuamu, dan mengatakan semuanya jika orang yang di tunangkan dengan mu adalah penjahat"
"Tidak semudah itu Disa, kita tidak memiliki bukti kalau dia yang melakukan nya" Ucap Letty yang mendapat anggukan dari Natan.
"Jadi apa kau akan selamanya tinggal dengan Natan dan memakai bajunya? " Ucap Disa
"Apa yang kau katakan, tidak akan aku tinggal selamanya dengan dia, aku akan mencari apartemen yang bisa aku tinggali" Ucap Letty.
__ADS_1
"Kebetulan sekali di sampingku ada apartemen yang di jual bos kau bisa membelinya.
" Benar dan juga di sini ada Natan dia bisa mengawasi jika terjadi sesuatu padamu, meski aku tidak yakin kau bisa tinggali apartemen yang begitu kecil" Disa dan Letty terbiasa hidup dengan mewah.
"Aku bisa Disa tenang saja"
Di sisi lain
Rocky dan Aleena tengah memasak bersama, Aleena terlihat sedang membantu memotong wortel dan lobak.
Sedangkan rocky sedang mencuci ayam, mereka seperti nya ingin membuat sup ayam.
"Om? " Panggil Aleena.
"Hmm" Rocky kembali dingin.
"Om saat aku sedih semalam aku tiba-tiba merindukan mama, aku ingin mendengar suaranya apakah om masih punya nomor nya? " Tanya Aleena.
"Apa kau tidak bisa menghafal nomor orang tua mu sendiri?
" Tidak, aku sendiri tidak menghafal nomor telepon ku untuk apa aku menghafal nomor lain" Ucap Aleena dengan entengnya.
Rocky sudah memasukan ayam dalam rebusan air kemudian mencuci tangannya dan menatap Aleena membuat Aleena juga berhenti memotong dan melihat ke arah Rocky.
Rocky tiba-tiba mengambil tangan Aleena membuat Aleena merasa gugup wajahnya sedikit mulai bersemu merah "Ingat ini" Rocky menuliskan nomor nya dan menyebutkannya "Kau harus mengingat nomor ku" Rocky melepaskan tangan Aleena "Apa kau sudah mengingat nya? " Tanya Rocky
Aleena dengan cepat mengangguk dan menyebutkan dengan benar nomor Rocky "Kau harus ingat! jika kehilangan handphone atau terjadi masalah ingat untuk menghubungi ku" Ucapan Rocky itu terdengar seperti syair indah di telinga Aleena.
"Baik aku akan selalu mengingat nya" Aleena tersenyum, Aleena tentu akan mengingat semua tentang Rocky.
Masakan mereka sudah matang, Aleena sudah selesai menatanya di meja makan, Rocky juga sudah duduk di kursinya bersiap untuk makan, namun tiba-tiba terdengar bel apartemen berbunyi "Biar aku yang buka om" Ucap Aleena
__ADS_1
Setelah Aleena membuka pintu, pemandangan yang terakhir di lihat adalah, hawa marah dari Rocky terlihat jelas suasana menegangkan terjadi di meja makan.
Dua laki-laki saling pandang dengan pandangan yang seakan ada aliran listrik yang saling menyerang 'Untuk apa dia kesini' Ucap Rocky dalam hati.