Terjerat Cinta Bartender Dingin

Terjerat Cinta Bartender Dingin
Episode 48


__ADS_3

Aleena masih duduk di tempatnya tiba-tiba handphone nya berbunyi, Aleena melihat nama Elin di handphone nya, sebagai teman Aleena tentu sudah menyimpan nomor Elin.


Aleena mengatur nafasnya dan mengusap air matanya yang tidak tau mengapa terus mengalir, ketikan Aleena sudah siap dia mengangkat nya "Hallo, Aleena apa kau baik-baik saja, maafkan aku untuk yang semalam" Ucap Elin yang seperti nya sudah minum obat pereda mabuk, saat dia sudah mulai membaik dia langsung memikirkan keadaan Aleena.


"Hmm, te.. tenang saja aku baik" Jawab Aleena dengan nada yang serak seperti orang sehabis menangis, tapi itulah kenyataan nya.


Elin merasa suara Aleena sedikit berbeda "Kau menangis Aleena?" Tanya Elin saat Elin menyadari suara lain Aleena itu karena suaranya terdengar sedih.


"Tidak, aku baik-baik saja, Elin sudah ya" Ucap Aleena yang saat di senggol prihal menangis dia langsung saja menangis.


"Baiklah kalau begitu sampai jumpa di kampus" Ucap Elin ingin mengakhiri telepon nya namun tidak jadi karena mendengar ucapan Aleena.


"Hari ini aku tidak ke kampus, aku sedikit tidak enak badan Elin" Aleena tidak ingin keluar dari kamar untuk hari ini, jadi hanya bisa membolos satu hari.


"Kau beneran tidak apa-apa Aleena? apa mau aku antar ke dokter?, atau biarkan dokter pribadi ku menemui mu" Ucap Elin begitu saja.


"Tidak perlu aku hanya ingin tidur" jawab lemas Aleena.


"Baiklah, selamat beristirahat" Elin menutup telepon nya, ternyata sepanjang menelpon Elin di awasi oleh satu pasang mata.


"Ekhm apa dia baik-baik saja" Ucap Erlan yang tiba-tiba, membuat Elin terkejut.


"Kakak, kau mengagetkanku saja" Elin menepuk pundak kakaknya yang mulai mendekat dan duduk di sampingnya di ruang makan.


"Begitu saja terkejut" Ledek Erlan sembari mengacak-acak rambut Elin.


"Kakak! hentikan ah aku sudah mengaturnya" Ucap Elin.

__ADS_1


"Jadi gimana keadaan nya? kau belom menjawab ku" Erlan seperti nya ingin tahu keadaan Aleena.


"He, oi oi, ada apa ini kenapa kakak ku begitu ingin tau tentang seseorang bukankah biasanya tidak perduli pada wanita manapun, Ayo katakan kakak, apa kau menyukai Aleena? " Menatap kakaknya dengan tatapan penuh arti.


Membuat Erlan menghela nafasnya, "Aku hanya khawatir kakak sepupunya akan marah, Sekarang bukan waktunya kau meledek ku coba katakan bagaimana aku harus menghukum gadis nakal seperti mu hah" Ucap Erlan menatap adiknya itu


Elin menyatukan telapak tangannya dan memohon "Maafkan aku ya kak, untuk kalo ini saja, aku sangat senang memiliki teman seperti Aleena, jadi aku ingin merayakan pertemanan kami dengan minum, maafkan aku ya kak" Elin terlihat memohon pada Erlan.


"Tidak! kau harus di hukum" Ucap Erlan tegas sekali kepada adik perempuan nya itu.


"Hah, jika kakak menghukum ku lihat nanti aku tidak akan membiarkan kakak bertemu dengan Aleena lagi" Ucap Elin sengaja menggoda kakaknya itu.


Entah mendengar itu perasaan Erlan menjadi tidak senang, elin melihat itu dari raut wajah kakaknya yang tiba-tiba berubah "Ap.. apa urusan nya jika kami tidak bertemu" Ucap Erlan berusaha merubah ekspresi wajahnya.


"He benarkah kakak ku tidak ingin bertemu nona pencuri hatimu itu" Ledek Elin yang tiba-tiba ingat nama panggilan Erlan kepada Aleena, yang seakan pas sekali dengan kenyataan yang mulai Erlan sadari.


"Wow kakak tersenyum malu, wajahmu merah apa kau sudah sadar hatimu sudah di curi oleh sahabat ku" Ledek Elin yang membuat Erlan kesal dan menutup mulut Elin dengan pisang langsung memasukannya tanpa mengupas kulitnya.


"Berisik! jika hatiku di curi aku sudah mati! mana ada orang bisa hidup tanpa organ" Ucap Erlan yang terlihat sekali sedang mengalihkan topik pembicaraan dan melangkah pergi.


"ooo wowowo" Elin melepaskan pisang dari mulutnya yang mengganggu bicaranya "Dasar laki-laki tsundere, jika kau terus malu-malu kucing Aleena akan di bawa pergi orang lain kau baru rasa nanti" Ucap Elin yang membuat Erlan menghentikan langkah nya.


"Jangan bicara terus ayo pergi, apa kau tidak ingin pergi ke kampus"


"Aleena tidak berangkat biarkan aku di sini saja, aku tidak bersemangat jika tidak ada Aleena" Ucap Elin


"Apa katamu! cepat kemari ayo berangkat, jika tidak aku akan melarang mu untuk menginap lagi di apartemen ku" Ucap Erlan mengancam.

__ADS_1


"Kakak kau tidak seru kenapa harus mengancam , menyebalkan sekali huh" Dengus Elin yang mau tidak mau harus mengikuti ucapan kakaknya atau dia tidak akan boleh menginap lagi, Elin tidak mau itu terjadi Apartemen itu adalah awal mula hubungan meraka menjadi sangat baik seperti ini, dan di apartemen Erlan lah Elin bisa tidur dengan nyenyak.


******


M


Aleena mencoba untuk bangkit dan membersihkan dirinya, dia mulai tidak nyaman dengan bau alkohol yang menempel di tubuhnya, dia mulai mengerti kenapa Rocky semarah itu padanya, meski Aleena tidak suka tuduhan Rocky yang begitu menyakitkan untuk nya, namun dia juga sadar dia salah.


Rocky masih duduk di sofa, diam dan merenung, namun tiba-tiba listrik mati seperti nya ada pemadaman listrik mendadak, terdengar suara Aleena menjerit "Aaaaa aaa" Teriak Aleena membuat Rocky sangat panik teriakan nya sangat kencang.


"Aleena" Ucap Rocky langsung berdiri tanpa pikir panjang Rocky mendobrak pintu kamar Aleena, tanpa berfikir menggunakan kunci cadangan. "Aleena kau di mana? " Ucap Rocky yang terlihat khawatir.


"A.. aku di dalam" Ucap Aleena yang membuat Rocky tanpa pikir panjang membuka pintu kamar mandi yang ada di kamar Aleena.


"Kau tidak apa-apa? " Rocky terkejut ketika Aleena hanya menggunakan handuk untuk menutupi badannya, Rocky segera memalingkan wajahnya.


"Tidak apa-apa, hanya saja mataku sedikit pedih karena air tiba-tiba mati saat aku sedang mencuci rambutku" Ucap Aleena.


"Ba.. baiklah kalau begitu aku keluar" Ucap Rocky yang merasa gugup, badannya terasa panas saat melihat pemandangan yang tidak di sengaja itu.


"Tunggu dulu om, bantu aku mencuci rambutku dengan air di dalam bathub " Ucap Aleena yang tidak sadar dengan apa yang barusan dia katakan.


"Kau ini cuci saja sendiri" Ucap Rocky yang merasa ada sesuatu yang memberontak di bawah sana.


Aleena terkejut saat menyadari apa yang dia ucapkan dan juga apa yang sedang dia kenakan " Om Rocky keluar" Ucap Aleena sedikit berteriak, membuat Rocky segera keluar dengan tangan menyilang ke bawah seperti nya menutupi sesuatu yang sudah menonjol.


Rocky duduk di sofa, listrik sudah kembali menyala "Bukankah kau sedang marah pada nya, sadarlah Rocky kau tidak boleh memiliki pikiran seperti itu padanya" Rocky menutup matanya.

__ADS_1


__ADS_2