
Elin dan Alister sudah sampai di Universitas tempat Elin belajar, Elin segera turun di ikuti dengan Alister yang turun setelah Elin.
"Akhirnya sampai, kalau begitu sampai jumpa tuan" Ucap Elin yang seakan melupakan alasan mereka kesini, Elin langsung ingin masuk untuk menimba ilmu setelah sampai di Universitas nya itu.
"Tunggu dulu apa maksud mu sampai jumpa! ya gadis kecil kau harus mengajak ku berkeliling" Ucap Alister.
Elin melihat jam tangan yang dia pakai, dia melihat sebentar lagi jam masuk untuk kelasnya, Elin sangat suka mata pelajaran itu tapi bagaimanapun di sampingnya sekarang ada laki-laki tampan yang harus dia jaga "Hmm baiklah" Entah dengan terpaksa atau sukarela Elin mengajak Alister berkeliling.
Semua tempat sudah mereka jangkau Alister juga tidak menemukan Aleena di manapun, Setahu Alister Aleena sejak kecil ingin menjadi seperti neneknya dokter hebat jadi jika dia berkuliah di sini dia tidak mungkin tidak masuk.
"Apa kau menemukan nya? " Tanya Elin
Alister menghela nafasnya "Mungkin bukan mahasiswa di sini" Ucap Alister
"Oh mungkin saja" Ucap Elin
"Kalau begitu antar aku ke Universitas lain" Ucap Alister.
"Aku? tidak mau, aku sudah sampai sini kenapa harus pergi lagi" Ucap Elin menolak.
"Kalau tidak mau aku akan menelpon papamu" Ancam Alister
Elin menggembungkan pipinya "Kau mengancam ku! dasar om om tua bangka menyebalkan" Gerutu Elin pelan.
"Apa kau bilang" Ucap Alister yang pura-pura tidak mendengar ucapan wanita nan imut di depannya, Selain Aleena dan Olivia hanya Elin wanita yang memperlakukan nya seperti biasanya. kebanyakan wanita yang Alister temui akan sungkan dan hormat padanya.
"Tidak ada, baiklah Tuan pengadu ayo pergi mencari taksi" Ucap Elin yang sedikit kesal, dia sebenarnya senang mengantarkan Alister berjalan-jalan tapi dia juga merasa menyayangkan dirinya harus bolos kelas hari ini.
Baru saja Elin dan Alister ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba suara familiar terdengar di telinga Elin "Elin" Teriak suara wanita itu.
Alister berhenti melangkahkan kakinya namun tangannya tiba-tiba di tarik oleh Elin untuk terus berjalan, Elin tidak mau berhenti. "Elin Hei" Wanita itu berlari sampai akhirnya menangkap tangan Elin yang terpaksa membuat Elin berhenti. "Kau sengaja ya! " Ucap Mia yang marah-marah kepada Elin.
__ADS_1
"Tidak" Jawab Elin malas, Alister melihat wajah Elin yang terlihat tidak suka pada wanita yang memanggilnya itu.
Mia melihat wajah Alister yang tampan melihat kearahnya dengan cepat dia membenarkan rambut dan bajunya "Ah dia siapa Elin? kenapa tidak mengenalkan nya padaku" Ucap Mia yang merasa Alister sebelas dua belas dengan Rocky.
"Tidak perlu, kami akan segera pergi" Ucap Elin yang masih belum sadar kalau dia masih menggenggam erat tangan Alister.
"Ah ayolah aku tidak akan berebut pacar denganmu, lagi pula aku sudah menyukai seseorang yang lebih tampan dari dia" Ucap Mia keceplosan.
"He! apa maksud mu om Rocky, ck! bukankah kak Silvia yang menyukainya" Alister menatap Elin dan terdiam mendengar nama yang dia kenal di sebutkan dan nama wanita yang sama di masa lalu temannya itu.
'Rocky, apakah dia Rocky yang sama dengan yang aku kenal'
"Jangan bicara sembarangan ak.. aku tidak mungkin menyukai orang yang di sukai sahabat ku sendiri" Ucap Mia sedikit gugup.
oh baguslah kalau begitu kau sebagai teman harus sadar diri dan mendukung sahabat nya bukan menikung sahabat nya, kalau tidak ada perlu lagi aku akan pergi" Elin segera pergi menarik Alister untuk ikut dengannya.
"Tunggu dulu Elin, aku belum selesai bicara! " Ucap Mia yang kesal di tinggalkan Elin begitu saja.
****
Degup jantung Erlan tak tertahankan lagi, sedangkan Aleena wajahnya mulai memerah karena situasi yang aneh ini.
Erlan segera mundur memberikan ruang untuk Aleena, Aleena memutar tubuhnya dan kali ini mereka saling berhadapan.
Aleena bergeser ke kiri untuk melangkah pergi namun tanpa di duga Erlan bergerak ke sebelah kanannya mereka jadi saling berhadapan lagi, dan saat Aleena geser ke kanan Erlan juga reflek geser ke kanan.
Aleena dan Erlan menangkap situasi Canggung itu, Erlan akhirnya mencoba untuk diam saja dan Aleena berhasil lewat di ikuti Erlan yang berjalan di belakang nya.
Aleena mulai duduk dan membaca buku pinguin itu, Erlan menatap dengan seksama Aleena yang sedang berkonsentrasi membaca itu, "Apa kau sekarang tertarik dengan pinguin? "
Aleena benar-benar sedang fokus dan tidak mendengar ucapan Erlan, Erlan tidak marah Aleena tidak menanggapinya dia malah semakin senang menatap Aleena yang terlihat sangat serius. "Ya, apakah Serla adalah termasuk jenis pinguin ini? " Tanya Aleena yang melihat ke arah Erlan.
__ADS_1
Erlan tetangga basah menatapnya, Erlan segera membenarkan posisi duduknya saat mata mereka saling bertemu "Kau kenapa menatapku seperti itu" Aleena merasa malu wajahnya kini sudah mulai memerah.
"Siapa yang menatapmu aku sedang menatap pinguin di sampul buku yang kau baca" Ucap Erlan yang mengelak.
"A.. aku tau itu" Ucap Aleena yang berusaha untuk tenang, dia mulai merasa salah tingkah dengan tatapan Erlan 'Tenanglah Aleena ada apa denganmu' Ucap Aleena dalam hati.
'Saat dia panik, dia terlihat sangat lucu' Erlan tanpa sadar tengah senyum-senyum sendiri.
"Ka.. kau belum menjawab pertanyaan ku apa serla termasuk jenis pinguin ini" Aleena segera kembali ke topik pembicaraan sebenarnya.
"Hmm benar sekali, kau seperti nya benar-benar mengamati Serla"
"Tentu saja dia pinguin pertama yang bisa aku sentuh sepuasnya"
"Baiklah kalau begitu kedepannya aku akan mengajakmu sering bertemu dengannya" Ucap Erlan.
"Benarkah, janji ya" Ucap Aleena tersnyum
"Janji" Erlan tentu saja mau berjanji ini juga akan menjadi alasan untuk nya sering-sering bertemu dengan Aleena.
Tak terasa hari semakin sore, Erlan akhirnya mengajak Aleena untuk pulang.
Mereka sudah dalam perjalanan ke apartemen Aleena "Apa kau yakin akan pulang ke apartemen? " Tanya Erlan yang ingat kejadian tadi pagi.
"Hmm, aku yakin"
"Lebih baik kau tinggal di apartemen ku saja, bukankah kau dan.. " Ucapan Erlan di potong oleh Aleena.
"Tidak papa, santai saja antar aku pulang" Ucap Aleena yang tidak mau membahas Rocky untuk saat ini.
Erlan menghentikan mobilnya tepat di kawasan apartemen "Terimakasih untuk hari ini" Aleena mengucapkan Terimakasih pada Erlan setelah turun dari mobil, Aleena tersenyum begitu manis membuat Erlan hampir tidak bisa menahan ekspresi nya yang sangat senang dan terpesona oleh senyum Aleena.
__ADS_1
"Tidak perlu terimakasih" Ucap Erlan.
Setelah berbincang sebentar Erlan segera pergi begitupun dengan Aleena yang mulai masuk ke dalam lift, menuju apartemen Rocky, Aleena menghela nafasnya saat dirinya sudah berada di depan pintu apartemen itu, saat melihat pintu masuk itu Aleena menjadi ragu haruskah dia masuk atau tidak.