
Alister dan Elin sudah duduk di dalam taksi, Alister sedari tadi menunggu momen untuk bertanya "Kau berbicara tentang Rocky, siapa itu Rocky? " Tanya Alister yang ingin tau apakah Rocky yang di bahas mereka tadi adalah Rocky yang dia kenal atau bukan.
"Ah dia adalah bartender dingin yang sangat terkenal di kota ini "
"Oh seorang bartender! " Alister sedikit tidak yakin Rocky tangan kanan orang kedua terhebat di perusahaan dan juga dunia bawah akan menjadi seorang bartender jadi Alister menyimpulkan kalau itu bukan Rocky yang dia kenal.
"Apakah tuan mengenalnya" Ucap Elin.
"Tidak" Jawab Alister begitu yakin.
"Ah aku pikir tuan mengenalnya, kalau di lihat usia kalian tidak jauh berbeda" Ucapan Elin itu membuat Alister sedikit ragu lagi.
"Kau mengatakan umur kami tidak jauh berbeda dari mana kau bisa menebak umur seseorang! "
"Aku lihat wajah kalian sebelas dua belas" Ucap Elin keceplosan, Elin melirik ke arah Alister dan benar saja Alister tengah menatapnya tajam "Ma.. maksud ku kalian berdua terlihat sangat muda, namun anehnya sahabat ku itu memanggil dia om, padahal dia bilang om Rocky itu sepupunya" Elin terus berbica untuk mengalihkan fokus Alister pada ucapan yang dia lontarkan tadi.
Alister semakin menatap Elin "Tunggu dulu siapa nama temanmu? " Ucap Alister.
"Aleena" Ucap Elin yang langsung saja menjawab pertanyaan Alister.
"Aleena? Rocky? antar aku bertemu dengan mereka" Ucap Alister yang terlihat bahagia akhirnya menemukan dua orang yang dia cari, dia merasa dia tidak akan salah orang karena panggilan yang di sebutkan Elin tadi.
"Tuan mengenal mereka? "
"Dia wanita yang aku cari" Ucapan Alister membuat Elin membulatkan matanya ternyata wanita yang dari tadi di sanjung Alister adalah Aleena, Tiba-tiba Elin merasa tidak ada peluang.
__ADS_1
****
Setelah berbincang sebentar Erlan segera pergi begitupun dengan Aleena yang mulai masuk ke dalam lift, menuju apartemen Rocky, Aleena menghela nafasnya saat dirinya sudah berada di depan pintu apartemen itu, saat melihat pintu masuk itu Aleena menjadi ragu haruskah dia masuk atau tidak.
setelah cukup lama berfikir Aleena akhir nya melangkahkan kakinya untuk masuk, baru saja masuk bau alkohol menyeruak terlihat Rocky tengah menikmati alkohol miliknya, tak tanggung tanggung seperti nya alkohol dengan kadar yang cukup tinggi.
Aleena terus berjalan dia berusaha untuk melawan hatinya yang ingin segera menghampiri Rocky 'Jangan perduli kan dia Aleena' Ucap Aleena meyakinkan dirinya dan terus melangkah mantap ke kamarnya.
"Kau sudah pulang? " Tanya Rocky yang masih belum mabuk sepenuhnya.
Aleena tidak menjawab sama sekali, dia hanya berhenti sejenak karena terkejut Rocky masih sadar, setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Rocky Aleena pergi tanpa bicara apapun.
"Kau masih marah? " Rocky bangkit dari tempat nya duduk dan berjalan ke arah Aleena.
"Aleena, apa kau benar-benar marah" Pertanyaan Rocky itu benar-benar membuat Aleena kesal bukan main, hal yang dia sudah tau jawabannya kenapa harus di tanyakan itu yang sedang ada di pikiran Aleena sekarang "Maafkan aku" Rocky akhirnya menggapai tangan Aleena
Aleena berhenti dan melihat ke arah Rocky "Tidak kak, untuk hal apa aku marah?, jangan minta maaf" Rocky merasa ada sesuatu yang salah.
Aleena yang tadinya tidak ingin bicara kini akhirnya bersuara karena tidak tahan lagi.
Rocky menarik Aleena dalam pelukan nya "Beri aku waktu ku mohon" Bisik Rocky yang menyenderkan Kepala nya di bahu Aleena.
Aleena hanya diam, saat ini hati dan pikiran nya seakan sedang beradu argumen, hatinya ingin mengatakan iya dan menunggu Rocky, namun pikirannya mengatakan untuk tidak menjadi bodoh karena cinta, laki-laki tak hanya Rocky saja.
Namun Rocky adalah cinta pertama Aleena, bagaimana Aleena bisa melepaskan nya begitu saja.
__ADS_1
Aleena menghela nafasnya perlahan mencoba melepaskan tangan Rocky yang melingkar di pinggang nya. Rocky terkejut dan melihat Aleena perlahan melepaskan pelukannya. "Maafkan aku kak, aku tidak bisa menunggu, aku saja yang terlalu naif" Ucapan Aleena semakin tidak enak di dengar oleh Rocky.
"Naif? aku hanya butuh waktu Aleena aku mohon, biarkan aku menghapus dulu jeratan masa lalu ini".
Aleena menatap Rocky dengan tatapan mata yang sudah berkaca-kaca " Sampai kapan aku harus menunggu! aku sudah lelah melihat kau yang terjebak dalam masa lalu yang tak ada habisnya, dia sudah mati!. apa kau tidak tau bagaimana aku berusaha untuk tidak menyukaimu! aku melawan norma di dalam hatiku kau kakak sepupu ku! bagaimana aku bisa mencintai mu? aku berhenti bagiku om Rocky ku sudah tidak ada dan kau kembalilah menjadi kak Rocky sepupuku!" mata Aleena sudah berlinang dengan air mata yang berhasil jatuh di pipinya.
"Aleena maafkan aku, ak.. " Ucapan Rocky tidak selesai. Rocky akhirnya menyadari sesuatu yang janggal di telinganya, Aleena memanggilnya kak bukan om, hatinya merasa sakit.
"Cukup! aku tidak butuh kata maaf, saat ini tidak perlu memikirkan hubungan yang lain, ingatlah aku ini sepupumu kak! " Aleena menghapus air matanya dan berlari pergi ke kamarnya menutup dan mengunci pintunya.
Aleena terduduk lemas, perasaan sesak sakit menjalar keseluruhan tubuh nya 'Aleena kecil maafkan aku, aku tidak bisa menggapai cintamu' Aleena mengusap air mata yang entah mengapa tak mau berhenti.
"Aleena buka pintunya, Aleena!" Rocky mengetuk pintu kamar Aleena berusaha membukanya, setelah mendengar statment Aleena hati Rocky begitu hancur, dia tidak mau Aleena memanggilnya kak dia ingin Aleena memanggilnya Om seperti biasanya, dia tidak ingin tembok sepupu di bangun, namun seberapa Rocky menggedor pintu dan berteriak Aleena masih bertahan tidak membukanya.
Rocky masih terus berusaha sampai dirinya perlahan terduduk di lantai, dia tidak menyangka ini akan terjadi. Hati Rocky saat ini terasa hancur saat Aleena mengatakan semua itu "Aleena beri aku kesempatan" Rocky merasa kesakitan di hatinya kali ini lebih sakit saat mengetahui Silvia meninggal atau mengetahui Aleena kabur dari rumah.
Jika saat Aleena kabur Rocky masih bisa menemukan dan memeluknya, namun saat ini Aleena berada di dekatnya namun dengan tembok yang Aleena bangun, Rocky tidak akan bisa memiliki dan memeluknya.
Rocky masih berusaha menggedor pintu dengan sisa tenaganya, seperti nya alkoholnya mulai berefek.
Aleena yang sama halnya dengan Rocky masih duduk di balik pintu hanya bisa terus menghapus air mata yang terus berlinang.
"Aleena beri aku kesempatan, aku mohon" Rocky perlahan mulai kehilangan kesadaran nya, bagaimanapun dia minum sangat banyak dan dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.
"Selamat tinggal om Rocky" Aleena berusaha untuk menghentikan air matanya, dia sudah bertekad.
__ADS_1