
Alister, Elin, Andreas dan nenek Angel sudah sampai di rumah sakit milik keluarga Mars "Elin setelah melakukan perjalanan yang melelahkan kita akan memeriksa keadaan mu dulu lalu kembali ke kediaman keluarga Mars, tidak masalahkan" Tanya nenek Angel dengan lembut.
Elin menggelengkan kepalanya "Tidak masalah nek terimakasih sudah mau merawat ku" Ucap Elin dengan senyuman di wajahnya.
"Tidak usah sungkan kau juga adalah cucuku juga benarkan Alister" Ucap nenek Angel seperti nya sedang melakukan siasat cucu dan nenek karena tau Alister berencana mencari rumah sendiri.
"Ahaha benar nek" Alister hanya bisa menjawab itu.
"Kalau begitu ayo kita masuk, Alister kau tunggu saja di sini"
"Nek biar aku ikut"
"Tidak perlu cukup aku saja, Andres tunggu bersama Alister saja"
"Baik nek"
Andreas mengajak Alister ke ruangannya untuk berbicara berdua "Kau apakah benar-benar akan mencari rumah di sini?" Tanya Andreas.
"Kau sudah tau bukan dokter Andreas"
"Hmm maksud ku bukankah kesempatan ini tidak datang dua kali" Ucap Andreas mencoba menyerang psikologi Alister.
"Apa maksud mu"
"Ya bukankah keberuntungan kau bisa tinggal dengan Elin, menjaganya, melihat nya setiap pagi bukankah itu yang selalu kau mau jika kau melewati kesempatan untuk tinggal di keluarga Mars kau akan menyia-nyiakan kesempatan, dan lagi di keluarga Mars sangat banyak bodyguard yang masih single dan juga tampan mereka lebih berotot darimu" Andreas benar-benar mencoba menghasut Alister bahkan membuat Alister terlihat memikirkan dengan keras ucapan Andreas.
"Ka.. kau bercanda tidak mungkin Elin akan tergoda" Alister mencoba menunjukkan jika dia tidak terpengaruh dengan ucapan Andreas.
"Apa kau yakin, cinta datang karena sering bertemu, menyapa dan bersama"
"Diam! apa kau benar-benar seorang dokter hah kau merusak mental ku" Ucap. Alister kesal.
"Ha dari mana aku merusak mental mu, aku hanya memberitahu mu agar tidak menyesal dengan keputusan mu" Ucap Andreas dengan senyuman licik di wajahnya.
"Cukup jangan bahas lagi, kau benar-benar menyebalkan" Ucap Alister yang sekarang terlihat gelisah setelah mendengar ucapan Andreas dan mulai berfikir apa yang harus dia lakukan.
Sedangkan Andreas memilih berkutat dengan handphone nya tentu saja memberikan kabar pada istrinya kalau dia sudah di rumah sakit dan akan segera pulang.
__ADS_1
Tak lama kemudian nenek Angel dan elin menghampiri Andreas dan Alister di ruangan Andreas, nenek angel tau di mana mereka karena mendapat pesan dari Andreas.
"Nenek apakah pemeriksaan nya baik" Tanya Alister yang melihat ke arah Elin.
"Hmm sangat baik, Elin bisa menjalani pengobatan mulai besok " Ucap nenek Angel.
"Syukurlah" Ucap lega Alister mendengar ucapan nenek Angel.
"Kalau begitu ayo pulang" Ucap nenek angel.
"Nenek kalian pulanglah istriku mengatakan akan menjemput ku di rumah sakit aku akan menunggu nya, kita bertemu besok saat memulai pemulihan lukanya" Ucap Andreas pada mereka semua.
"Begitukah, baiklah titip salam nenek pada istrimu ya" Ucap nenek angel lembut.
"Baik nek"
"Sangat patuh dengan istri, apa kau suami takut istri" Ledek Alister.
"Tentu saja takut, aku takut menyakitinya jika tidak menurutinya kau belum menikah jadi belum paham" Sindir balik Andreas yang tepat sasaran.
"Sialan! " Ucap Alister yang membuat Elin tiba-tiba tersenyum sekilas membuat Alister segera merengkuh Elin membuat Elin bingung tiba-tiba Alister menutupi wajahnya dengan cara mengalihkan pandangannya.
"Simpan senyum manis mu hanya untuk ku" Ucap Alister berbisik lembut pada Elin membuat Elin tersipu malu.
*****
Letty melihat perlakuan dua wanita itu dari jauh yang mengejek dan men dorong-dorongan disa, Letty berjalan cepat untuk menolong Disa namun tak di sangka ada sosok yang berjalan mendahuluinya "Dia tidak perlu jatuh ke pelukan kakaknya kalau sudah ada aku" Seseorang memeluk Disa dari belakang.
Membuat Disa mendongak mencoba melihat siapa yang memeluknya, dan saat Disa mengetahui siapa yang memeluknya dia hanya bisa terdiam tak percaya.
"Kau siapa? " Tanya wanita berbaju merah sedangkan wanita berbaju biru terpesona dengan ketampanan seseorang yang memeluk Disa itu.
Banyak orang yang menatap ke arah laki-laki yang mengalahkan ketampanan sang pemilik hajat malam ini, dia menjadi pusat perhatian
Sedangkan Letty tidak bisa diam melihat momen langka itu dia mengambil foto indah Disa saat berada di pelukan laki-laki tampan itu.
"Maaf aku terlambat " Ucap laki-laki itu tanpa menggubris ucapan wanita berbaju merah.
__ADS_1
Disa tak bisa menjawab apapun dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, sedangkan laki-laki itu melepaskan pelukannya dan berganti merangkul pinggang ramping Disa membuat Vano tak bisa melepaskan pandangan matanya dari tangan laki-laki tersebut.
"Hmm apa kau sudah selesai dengan pesta membosankan ini, apa kau ingin pergi" Bisik laki-laki tampan itu tanpa sadar membuat Disa yang sudah muak itu mengangguk dengan cepat.
"Hmm iya" Ucapnya yang disertai anggukan.
"Baiklah kalau begitu kau berikan kadonya sekarang" Ucap laki-laki tampan itu sembari mengusap pucuk kepala Disa.
Disa mengatur nafasnya dan menyerahkan paperbag yang dia bawa kepada kakaknya "Happy birthday, untuk mu" Ucap singkat Disa dengan mencoba untuk menatap vano
"Apa kau akan pergi? " Tanya Vano pada Disa yang mendapat anggukan dari Disa.
"Ya" Ucap Disa singkat
"Apa kau sudah mengganti target mu" Ucap Vano lirih saat menerima paperbag yang di berikan Disa untuk nya
Disa tidak mengatakan apapun , dia hanya bisa menunduk benar-benar tidak mau melihat wajah Vano lagi, Vano adalah orang yang mengatakan agar Disa tidak boleh dekat-dekat dengannya.
"Tuan Vano Alberto, bisakah kau mengundang orang-orang berkelas saja kau mengotori pestamu dengan para sampah yang bahkan berani menindas adikmu sendiri dalam acara mu, benar-benar tidak pantas" Sindir laki-laki itu lalu menggandeng Disa pergi dari situ.
Semua yang melihat keributan kecil itu mulai bergunjing
"Apa katamu kau itu yang sampah, makanya kau menyukai sampah yang di buang Vano" Ucap wanita berbaju merah itu yang kesal.
"Tenanglah Vano bukankah ini hal bagus aku sudah mengusir para pengganggu di pestamu, dia tidak akan lagi menyakiti matamu" Ucap wanita berbaju biru mendukung wanita berbaju merah.
Vano menenggak minuman yang ada di gelasnya kemudian menggenggam gelasnya dengan kuat membuat gelas itu pecah dan melukai tangannya membuat semua orang panik termasuk teman minumnya yang memanggil penjaga untuk mengambilkan kotak pertolongan pertama
"Kau apa-apaan Vano" Ucap temannya.
Vano tidak memperdulikan temannya dan berbicara pada penjaga yang baru tiba "Bawa mereka berdua keluar lain kali jangan biarkan mereka masuk ke perusahaan ataupun acara ku" Ucap Vano.
"Tu.. tunggu Vano apa maksud mu, kau melakukan ini kau akan menyesal aku adalah putri keluarga Saga"
"Tidak perduli bawa mereka keluar" Ucap Vano yang membuat para penjaga itu menyertakan ke dua wanita itu.
"Kau harusnya melakukan itu dari tadi" Ucap teman Vano yang coba membersihkan luka Vano.
__ADS_1
"Berisik! kau tau siapa laki-laki tadi? " Tanya Vano pada temannya.