Terjerat Cinta Bartender Dingin

Terjerat Cinta Bartender Dingin
Episode 66


__ADS_3

Mereka berpelukan cukup lama, Rocky melepaskan pelukan nya dan menatap Aleena, Rocky seperti nya mulai menyadari perasan takut kehilangan Aleena "Aleena apakah kau ma-" Ucapan Rocky tidak selesai saat seseorang meneriakkan nama Aleena.


"Aleena, benar-benar kau, aku pikir aku salah lihat" Ucapan wanita yang sudah berada di depan Aleena dan Rocky sekarang.


Aleena menghela nafasnya saat tau orang yang memanggilnya adalah Mia.


"Tuan Rocky kau juga di sini?, apakah kau sakit? " Tanya Mia yang membuat Aleena melihat ke arah Mia.


"Tidak" Aleena sedikit tersenyum bahwasanya Rocky tetaplah Rocky yang dingin dan cuek jika berhadapan dengan wanita lain.


Suasana terasa canggung sejenak karena jawaban singkat dari Rocky "Aleena apa kau yang sakit? " Karena Rocky sangat cuek dengannya Mia mengalihkan pembicaraan nya pada Aleena


Aleena menggelengkan kepalanya "Tidak juga" Ucap Aleena.


"Syukurlah aku pikir kau seperti Silvia yang mengalami alergi, dia berada di ruang sebelah " Penjelasan Mia itu membuat Rocky menatap Mia dengan tatapan penasaran, Aleena menyadari tatapan Rocky itu.


Aleena masih menatap Rocky ada taruhan yang berada di hati Aleena, Aleena ingin Rocky tidak menanggapi ucapan Mia, entah mengapa Aleena merasa saat menyangkut nama Silvia Rocky terlihat berbeda.


"Alergi kacang" Suara Rocky lirih namun masih terdengar.


Mia dan Aleena menatap Rocky, Mia bahkan terkejut " Benar, bagaimana tuan Rocky tau? "


Rocky menghela nafasnya, Rocky tidak hanya nama yang sama bahkan alergi pun sama, Rocky tanpa sadar melangkahkan kakinya ke arah ruangan yang Mia tunjuk.


Mia sebentar memperlihatkan ekspresi tidak suka namun seketika merubah ekspresi nya dengan wajah tersenyum, entah apa yang ada di pikiran Mia sekarang.


"Om kau mau kemana? " Tanya Aleena yang tidak di dengar oleh Rocky yang masih melangkah semakin menjauh dari Aleena.


Aleena merasa sesak di dadanya dia juga tidak mau membiarkan Rocky pergi dari sisi nya Aleena akhirnya mengikuti langkah Rocky.


"Aleena apa kau juga ingin menjenguk Silvia? " Pertanyaan Mia itu tidak di dengar oleh Aleena, Aleena masih fokus pada punggung Rocky, Aleena merasa sangat kesal baru sebentar tadi dia sangat lah dekat dengan Rocky namun tiba-tiba Rocky seakan terasa jauh.

__ADS_1


Rocky membuka pintu terlihat Silvia masih membaringkan tubuhnya di ranjang rumah sakit itu, wajahnya terlihat pucat dan lemah benar-benar mengingatkannya pada Silvia di masa lalunya.


Rocky tanpa sadar duduk dan menatap Silvia, bayangan masa lalu yang hampir dia lepaskan tadi, kembali mengikatnya teringat tentang masa lalu bagaimana cinta pertamanya berakhir.


Aleena masih berada di balik pintu perlahan membuka pintunya, di tatapnya Rocky yang terlihat meneteskan air matanya, tatapan Rocky dan air mata Rocky itu membuat hati Aleena sesak di buatnya dia tidak tau hatinya merasa sangat sakit "Om" Panggil Aleena yang lagi-lagi tidak di dengar oleh Rocky, Rocky terlihat fokus pada Silvia.


"Om! aku pergi" Aleena sedikit melantangkan suaranya dan pergi dari ruangan itu.


Rocky akhirnya tersadar dan langsung menengok ke arah Aleena yang baru saja berlari dan menutup pintu, Rocky ingin berdiri namun tiba-tiba tangannya di pegang oleh Silvia. "Jangan pergi aku mohon jangan, jangan" Mata Silvia masih tertutup Rocky menatap ke arah tangannya yang di genggam Silvia.


Aleena akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah sakit itu, dia berjalan kaki dan menatap langit malam yang bahkan tak di hiasi bintang, langit begitu suram dan sepi seperti hatinya saat ini.


Aleena terus memikirkan hal hal yang baru saja terjadi, bagaimana Rocky memperlakukan nya dengan lembut namun tiba-tiba perlakuan yang berubah saat menyangkut nama Silvia "Apakah bukan aku yang bisa menyembuhkan belenggu masa lalu mu Om?.


Erlan sudah duduk di meja makan, menunggu kehadiran sang pemegang tahta tertinggi di rumah itu.


" Kak, tunggu sebentar papa dan mama sedang bersiap" Ucap Elin yang mencoba menghibur Erlan. Elin tau betapa tidak sukanya kakaknya itu berada di rumah itu.


"Kau akhirnya datang juga! " Suara khas orang tua paruh baya terdengar di telinga Erlan. Erlan sangat tau suara siapa itu.


"Cepat katakan pak tua kenapa memanggilku! " Suara Erlan tidak bisa lembut saat berhadapan dengan Papanya.


"Erlan tenanglah dulu, kita bisa makan malam dulu ok" Suara mama tirinya atau lebih tepatnya bibinya ikut bersuara.


Erlan berdiri dia benar-benar tidak sudi berlama-lama berada di rumah itu, namun kemarahan nya sedikit reda saat adik kesayangan nya menyentuh tangannya "Kakak kita makan dulu ya" Ucap Elin lembut.


Erlan benar-benar tidak bisa menolak permintaan adik kesayangan nya itu, papa Erlan sedikit menarik ujung bibirnya seperti nya dia memiliki rencana.


Mereka semua makan bersama, Erlan bahkan tidak bisa mengunyah makanan di mulutnya dia benar-benar tidak merasa nyaman.


Setelah semua selesai makan, Elin dan ibunya membersihkan ruang makan, dan Erlan di bawa ke ruang kerja sang papa.

__ADS_1


Suasana canggung, tegang dan panas berada di ruangan itu, " Cepat katakan apa yang kau inginkan pak tua! " Menatap papanya yang terlihat menuangkan anggur ke gelasnya dan gelas Erlan.


"Erlan jangan terburu-buru, kita bisa minum dulu" Ucap papa Elin.


"Tidak perlu, cepat katakan! atau aku pergi sekarang" Ucap Erlan, sebenarnya Erlan sedikit banyak sudah tau apa yang papanya ingin bicarakan namun Erlan hanya ingin tau tebakannya benar atau salah.


Erlan berdiri dan ingin pergi "Tu.. tunggu Erlan aku akan mengatakan nya, aku tau kau masih dendam terhadapku tapi percayalah asumsi mu itu salah aku dan bibi mu tidak merencanakan kecelakaan ibumu itu" Ucapan Papanya itu membuat Erlan naik darah.


"Diam kau pak tua! jangan berani kau menyebut kata ibuku! aku bukan anak kecil 5 tahun yang bisa kau tipu! aku bahkan belum membalas dendam ku itu?! "


"Erlan dengarkan papa, papa berani bersumpah papa tidak mungkin mencelakai ibumu"


"Berisik! hentikan sandiwara mu apa yang sebenarnya ingin kau katakan! apa tentang perusahaan mu yang akan bangkrut! " Papa Erlan terkejut saat Erlan menebak dengan benar isi kepalanya.


"Ya papa dan mamamu yang membangun perusahaan ini dari nol, apa kau tega membiarkan perusahaan peninggalan mampu itu bangkrut, Erlan kau adalah anak yang sangat cerdas papa perlu bantuanmu, kau memiliki bakat luar biasa seperti ibumu, aku mohon bantu perusahaan untuk mendapatkan tender dan suntikan dana" Ucap papa Erlan memohon


"Tidak, aku tidak akan membantu aku malah ingin melihat kau bangkrut" Erlan tersenyum licik bahkan dia mengangkat gelas anggurnya


"Aku tidak akan membiarkan perusahaan yang aku dan ibumu bangun hancur begitu saja, aku masih memiliki cara aku akan menikahkan Elin dengan pengusaha luar negeri yang kaya dia sudah setuju"


Erlan menggebrak meja dengan dua tangannya membuat gelas yang baru dia letakan terjatuh pecah berserakan "Kau gila! kau ingin menjual putrimu! " Erlan benar-benar marah dia ingin sekali menghajar papanya itu.


"Itu jalan satu-satunya jika kau tidak mau membantuku, pikirkan baik-baik"


"Kau pak tua licik! kau benar-benar berengsk " Erlan keluar dari ruangan kerja papanya dia melihat Elin berada di dekat sana.


"Eh kakak kau sudah ke.. keluar" Elin berusaha tersenyum tapi dia tau kalau adiknya itu berpura-pura.


Erlan memeluk adiknya "Kau mendengar semuanya? " Tanya Erlan yang membuat elin diam dan hanya air mata yang menjelaskan nya. "Jangan khawatir aku tidak akan membiarkan kau menikah dengan orang yang tidak kau cintai" Ucapan Erlan.


Elin segera mendorong Erlan "Tidak jika itu artinya kakak kembali ke perusahaan papa dan membuat kak Erlan menderita aku tidak apa bila menikah dengan orang yang tak aku cinta"

__ADS_1


"Bodoh! aku ini kakakmu biar aku saja yang memikirkan semuanya, aku berjanji tidak akan membiarkan pak tua itu menikahkan mu sebelum kau menjadi dokter hebat" Erlan memeluk adiknya penuh kasih sayang, elin hanya bisa membalas pelukan kakaknya.


__ADS_2