
"Hei kau kenapa melihat jendela terus? apa kau ingin jalan-jalan? " Tanya Disa yang tidak tega dengan Natal yang biasanya banyak tingkah menjadi diam seperti orang tak berdaya.
"Apakah bisa? " Natan melihat ke arah Disa, sebenarnya Natan sangat sangat bosan dan ingin menghirup udara segar.
"Soal itu aku tidak tau, aku akan mencoba bertanya pada dokter, apakah kau di izinkan keluar atau tidak" Ucap Disa tersenyum dan segera berdiri dari tempat dia duduk.
Disa keluar untuk bertanya pada dokter apakah Natan di perbolehkan keluar dari ruang rawat nya.
Tak berapa lama Disa kembali dengan kursi roda di tangannya, Natan melihat ke arah suara kursi roda di dorong. "Apakah kau senang dokter hanya mengizinkan ku membawa mu di sekitar rumah sakit dan taman, kau jangan memintaku membawa ke Bar" Ucap Disa berusaha bercanda dengan Natan.
"Tidak ke Bar, apa aku bisa minun satu gelas Alkohol buatan Rocky" Natan menimpali candaan Disa.
"Kau mau kena pukul! " Ucap Disa
"Tidak terimakasih" Jawab Natan.
Disa membantu Natan untuk bangun dan berpindah ke kursi roda "Apakah sudah nyaman?" Tanya Disa saat Natan sudah duduk di kursi roda.
"Lumayan" Ucap Natan
"Baiklah kalau begitu kita berangkat" Disa segera mendorong Natan menuju taman dengan hati-hati.
Disa duduk di bangku taman bersama dengan Natan yang duduk di kursi rodanya "Aku terlihat benar-benar seperti orang sakit" Ucap Natan yang membuat Disa tertawa.
"Kau sedang bercanda, kau memang sakit bodoh, tapi Natan aku salut padamu kau sangat berdedikasi menolong bos mu sampai seperti ini" Ucapan Disa itu tak lantas di jawab oleh Natan, Natan terdiam sejenak.
__ADS_1
"Bos? hmmm iya mau bagaimana lagi salahkan aku yang hanya pegawai tidak bisa tidak menolong" Ucap Natan, Natan tertawa namun ada sedikit sesak di dalam hati.
Begitupun dengan sosok yang baru saja berlari karena tidak menemukan Natan di kamarnya, mendengarkan ucapan Natan itu membuat nya merasa sakit di hatinya "Apakah kau menolong ku hanya karena aku bos Natan, tidak Adakah karena yang lain" Suara lirih itu seakan mampu mencekik lehernya terasa sesak dan sakit.
*****
Elin akhirnya dengan tidak enak hati membantu membuka sebuah paperbag kecil, Elin menemukan sebuah kotak dan surat di dalamnya, mata Elin membulat saat tanpa sengaja membaca kartu ucapan itu, Elin tanpa sadar melepaskan kotak kecil itu dan terjatuh di lantai dan sesuatu menggelinding dari tempatnya.
Semua orang melihat kearah sesuatu yang menggelinding itu "Cincin" gumam Erlan begitupun dengan Rocky dan Alister mereka penasaran dengan cincin yang menggelinding itu.
"Elin ada apa? " Aleena dengan segera memungut cincin yang kebetulan menggelinding kearah nya itu.
"I.. ini ha.. harusnya kau yang membacanya, maafkan aku lancang" Ucap Elin yang segera memberikan kartu ucapan yang berada di paperbag yang sama di kotak itu. Elin segera berjongkok membantu Aleena dia mengambil kembali kotak itu, dan terlihat masih ada satu cincin yang tertinggal di kotak itu.
Tidak ada mata yang luput dari kotak itu, semua orang penasaran dengan apa. yang di baca Elin sehingga membuat Elin begitu terkejut.
"Ale ada apa? kenapa membawa-bawa kak Arion, apa cincin ini dari kak Arion" Tanya Alister.
Rocky merasa curiga jika itu dari Arion pasti tidak sesederhana itu, pasti ada rencana yang sedang Arion siapkan, Rocky tengah terus berfikir apa arti dari kotak dan dua cincin couple itu, Tiba-tiba Rocky memiliki pikiran yang menyenangkan 'Tunggu apa Arion ingin menyuruhku bertunangan dengan Aleena, tidak tidak mungkin ta.. tapi itu bisa saja terjadi 'Rocky tanpa sadar tersenyum senyum sendiri karena angan-angan nya itu.
Sedangkan Alister yang juga berusaha menebak hanya bisa memiliki pikiran yang sama dengan Rocky.
Sedangkan Erlan berusaha berjalan ke arah adiknya dan bertanya siapa itu Arion, namun Elin yang memang tidak tau siapa Arion hanya bisa menggelengkan kepalanya.
'Siapa Arion kekasihnya? tidak tidak mungkin, tapi kenapa dia memberikan cincin pada Aleena, apakah dia sedang melamar nona pencuri tidak tidak apa yang sedang kupikirkan' Ucap Erlan yang berusaha membuyarkan pikiran nya itu, dia ingin terus optimis dan tidak mau memikirkan hal negatif.
__ADS_1
Rocky ingin menyusul Aleena ke kamar namun di tahan oleh Erlan "Kau mau kemana tuan Rocky? " Ucap Natan pada Rocky.
"Bukan urusan mu!" Ucap Rocky dan membuat Erlan menyingkir dari jalannya.
Sedangkan di kamar, Aleena sangat sulit menghubungi Arion, dia penasaran apa maksud Arion tentang note yang dia tulis itu.
"Kenapa sulit sekali menghubungi mu kak, menyebalkan kau ini benar-benar membuat orang bingung! bisa-bisanya mengirim sesuatu yang membuat orang salah paham" Ucap Aleena yang terus mencoba menghubungi kakaknya
Sedangkan Erlan diam-diam bertanya pada adiknya lagi "Apa yang kau baca, sampai membuatmu terkejut? " Tanya Erlan penasaran namun dia bertanya menunggu Rocky pergi agar Rocky tidak mendengar jawaban dari adiknya itu.
"I.. itu ak.. aku" Elin tidak tau harus berkata apa dia terlihat bingung sendiri.
"Aku apa? kau membacanya bukan? katakan isi note itu" Ucap Erlan yang mendapatkan gelengan kepala dari Elin yang membuat Erlan penasaran begitupun dengan Alister.
'Apa yang harus aku katakan aku sendiri tidak tau, harus berkata apa' Elin bergumam dalam hati dengan tangan menekan dadanya sedikit agak keras.
Alister memilih tidak banyak berfikir toh itu cincin dari kakak kandung Aleena itu tidak akan bahaya, jadi Alister berusaha bersikap tenang.
Aleena masih terus mencoba menelepon Arion sampai nomor nya tersambung kata memanggil kini berubah menjadi kata dering.
Disisi Arion, Arion tersenyum melihat adiknya menelepon nya, dia sudah menebak semuanya dan inilah saat dia mengangkat telepon nya, baru saja mengangkat telepon, suara Aleena segera berdengung di telinganya. "Kakak apa yang kau lakukan, ini apa maksud nya! " Siaran Aleena terdengar sangat keras di telinga Arion membuat gendang telinga nya hampir pecah
"Kau suka hadiah yang ku berikan? " Jawab Arion santai yang membuat Aleena menghela nafas.
"Tidak, apa maksud nya ini kak! apa kau gila " Ucap Aleena yang membuat Arion tertawa renyah, semenjak dia menjadi Ayah Arion memang lebih hangat di banding saat dia bujangan.
__ADS_1
"Kau akan berterimakasih padaku nanti, sekarang nikmati saja permainan nya" Ucap. Arion
"Permainan? kau pikir hati adalah permainan kak kau benar-benar" Tut.. tut.. suara panggilan terputus membuat Aleena semakin kesal "Kak Arion! apa yang harus aku lakukan" Aleena malah merasa kebingungan sendiri dengan note dari kakak nya itu..