
Andreas, Nenek angel, Alister dan Elin masih menunggu pesawat yang ternyata harus tertunda penerbangan nya.
Erlan tentu dengan setia menunggu adiknya sampai lepas landas, sebelum itu Erlan berbicara empat mata dengan Alister.
"Ada apa kenapa kau mengajak ku kesini, bukan kah ini sangat menggelikan berbicara di toilet seperti wanita saja" Ucap Alister yang membuat Erlan juga sedikit merasa geli sekarang.
"Berisik aku hanya bisa mengatakan di sini"
"Baiklah apa yang ingin kau katakan, apa kau ingin memberikan aku syarat lagi agar kau merestui ku"
"Tentu saja" Ucap Erlan dengan tatapan yang begitu serius membuat Alister merasa persyaratan yang akan di lontarkan Erlan akan sedikit rumit.
"The, katakan apa syarat berikutnya"
"Syarat nya jangan menyentuh adik ku berlebihan sampai kau resmi menjadi suaminya dan satu lagi syarat nya adalah buat dia selalu bahagia jika aku sampai tau kau om mesum membuat adik ku menangis aku tidak segan membunuhmu meskipun aku akan kehilangan nyawaku" Ucap Erlan serius membuat Alister merasa puas dengan syarat yang di berikan Erlan.
"Itu adalah syarat yang paling mudah karena aku juga berencana seperti itu, bahkan sebelum kau membunuhku aku rela membunuh diriku sendiri jika aku menyakiti Elin" Ucap Alister dengan penuh percaya diri tanpa ada keraguan membuat Erlan benar-benar kagum dan merasa Alister orang yang tepat untuk adiknya.
"Ha, aku pegang ucapan mu sebagai lelaki" Ucap Erlan.
"Kata orang ucapan tidak bisa di pegang tapi kau bisa memotong lidahku jika aku berdusta" Ucap Alister.
"Baik aku akan memotong nya" Ucap Erlan.
Setelah pembicaraan itu Alister memilih kembali lebih dulu, sedangkan Erlan merasa ke ga telah menitipkan adiknya pada Alister.
"Sudahlah Erlan jangan terlalu di pikirkan dia adalah kebahagiaan adikmu" Ucap Erlan yang berusaha menepis beberapa kemungkinan buruk yang menimpa adiknya yang akan bersanding dengan orang hebat seperti Alister namun melihat Alister yang menjaga dan menyayangi Elin sepenuh hati itu membuat Erlan sedikit tenang.
Letty dan Disa sudah sampai di bandara mereka mulai mencari di sekitar tempat mereka pertama kali memarkirkan mobil namun mereka tidak menemukannya, Disa dan Letty berpencar ke arah meraka datang dan pulang dan janjian bertemu di tempat mereka menunggu keberangkatan Natan.
__ADS_1
Disa terus mencari tanpa memperhatikan jalan sehingga dia menabrak seseorang "Ma.. maaf" Ucap Disa yang segera membantu orang yang dia tabrak. "Kau" Ucap Disa terkejut saat tangannya sudah meraih tangan orang yang dia tabrak.
"Kau, aku benar-benar tidak pernah beruntung jika bertemu denganmu" Ucap Erlan ya orang yang di tabrak disa adalah Erlan.
"Ha, harusnya aku yang bilang seperti itu"
"Kau yang menabrak ku" Ucap Erlan dengan perlawanannya.
"Aku tau, aku juga sudah minta maaf" Ucap Disa.
"Ah sudah lah" Ucap Erlan yang ingin pergi namun sialnya benang di baju Disa terjerat di kancing lengan Erlan Membuat Disa ikut tertarik Erlan. "Apakah ini trik mu mendekati ku" Ucap Erlan lagi.
"Ha! siapa yang ingin mendekatimu salahkan saja kancing mu" Ucap Disa kesal.
"Bukankah benang bajumu yang terlilit di kancing ku"
"Apakah aku bisa mengatur itu hah" Ucap Disa kesal dan berusaha untuk meraih kancing lengan Erlan bersamaan dengan tangan Erlan tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan membuat mereka terdiam satu sama lain.
"Terserah " Ucap Erlan, Disa mencoba melepaskan benang yang melilit di kancing Erlan namun itu ternyata sangat susah alhasil disa memutuskan nya dengan giginya, tak di sangka Erlan tidak melepaskan pandangannya dari Disa hal itu baru dia sadari saat Disa tanpa sengaja membuat kepala mereka berbenturan karena Erlan yang tidak sadar terus menunduk memperhatikan Disa.
"Au kau ini ada dendam apa dengan ku bukankah aku ini yang menyelamatkan mu,kenapa kau membuatku sial terus." Ucapan Erlan memang tidak salah tapi Disa juga tidak sengaja melakukannya.
"Aku tidak sengaja, aku tau kau yang menyelamatkan ku aku sangat berterimakasih padamu, tapi tidakkah kau keterlaluan" Ucap Disa yang langsung pergi entah mengapa perkataan sial yang Erlan lontarkan begitu menyakiti hatinya.
*****
Makan siang telah siap di atas meja "Ah akhirnya sudah siap, mama kau masih saja suka masak sendiri padahal banyak asisten rumah tangga di sini" Ucap Aleena.
" Mama juga tidak selalu masak sendiri Aleena ini mumpung kalian di sini makannya mama masak lagian kalian juga membantu mama kan" Ucap Tiara.
__ADS_1
"Mama memang koki terhebat" Ucap Aleena yang di ikuti anggukan dan senyum dari Olivia.
" Nah Aleena panggil papa mu untuk turun dan juga Olivia Panggil Amara jangan biarkan dia terus bersama komputer nya" Ucap Tiara yang selalu khawatir pada cucu perempuan nya yang dari kecil sudah gila kerja seperti papanya.
"Iya ma" Ucap Olivia yang paham betul dengan kekhawatiran tiara dia juga merasa khawatir pada Amara berbeda dengan adiknya yang lebih cenderung suka dengan dunia luar dari kecil Amara sudah terlihat sangat menyukai bidang bisnis seperti nya semua sifat di ambil dari papanya tidak ada yang menurun ketertarikannya seperti Olivia di bidang kedokteran namun Amara juga belajar tentang hal itu dari nenek Angel karena bagaimana pun nantinya Amara akan menjadi penerus keluarga mars.
Olivia sudah sampai di depan kamar Amara, Olivia mengetuk pintu kamar Amara "Amara kau di dalam? " Tanya Olivia.
"Iya ma"
"Mama masuk ya"
"Iya ma" jawab Amara dan di ikuti Olivia membuka pintu.
Terlihat tubuh gadis kecil yang berumur belasan tahun sibuk di depan komputer.
"Sayang berhenti dulu, ayo kita makan siang bersama kau juga harus menyapa paman Rocky dan tante Aleena bukan" Ucap Olivia lembut.
"Ah aku mengerti" Amara menghentikan tangannya yang memainkan keyboard komputer nya.
"Aku akan menemui mereka" Terlihat gadis kecil berwajah cantik secantik ibunya Itu tersenyum manis, meskipun memiliki jiwa pekerja seperti ayahnya tapi dia tidak membuang wajah ibunya dan juga sifat ibunya.
Aleena mengetuk pintu ruang kerja papanya, "Pa ini Ale, Aleena masuk ya" Ucap Aleena yang kemudian membuka pintu ruang kerja papanya yang memang tidak di kunci.
Papanya terlihat sedang memberikan beberapa dokumen "Papa sedang sibuk? " Tanya Aleena
"Tidak"
"Kalau begitu papa ayo kita makan mama sudah menunggu di bawah "
__ADS_1
"Baiklah, tapi sebelumnya tunggu Ale ada yang ingin papa tanyakan padamu" Ucap Rayyan.
"Apa itu pa? " Tanya Aleena yang tiba-tiba merasa gugup karena melihat wajah serius papanya.