
Satu minggu berlalu Rocky akan kembali ke negara nya namun sebelum itu dia akan kembali ke kediaman mars dan juga menjemput para sahabatnya.
Rocky dan Aleena sudah berpamitan dengan Tiara dan Rayyan, Arion dan Olivia beserta dua anak kembar nya sedangkan Almira akan ikut bersama dengan Rocky karena dari awal Almira sudah tinggal bersama neneknya di kediaman keluarga Mars.
Di bandara ternyata keluarga Wiguna sudah menunggu Aleena dan Rocky.
"Paman apa yang kau lakukan di sini? " Tanya Rocky.
"Hahaha akhirnya aku sudah bisa meninggalkan pekerjaan ku dengan tenang dan menemui anak laki-laki ku yang nakal itu, kebetulan kalian akan pergi bukankah tidak masalah memberikan kami tumpangan.
" Kau punya pesawat sendiri, kenapa harus ikut bersama anak ku" Ucap kesal Rayyan.
"Ayolah Rayyan bukankah ini sama saja, hitung-hitung kau berbuat baik padaku" Ucap Kenzo.
"Ck! Siapa yang ingin berbuat baik dengan mu hah, tidak ada" Ucap Rayyan dengan nada sombong nya.
"Tiara bukankah Rayyan begitu kejam kau bilang kepada Tina tidak apa-apa bukan kalau kami menumpang" Ucap Kenzo yang tau kelemahan Rayyan jika tiara yang bilang tentu Rayyan akan luluh sepenuhnya.
"Ayolah sayang biarkan saja toh mereka berada dalam satu tujuan" Ucap lembut Tiara yang mampu meluluhkan Sang tuan muda sombong dua.
"Hmm kau terlalu baik sayang, tapi sudahlah mau bagaimana" Ucap Rayyan pasrah.
Alhasil mereka kini sudah di dalam pesawat bersiap untuk lepas landas menuju ke kediaman keluarga Mars.
*****
__ADS_1
Alister mengajak Elin keluar untuk pertama kali sebelah mereka sampai di negara itu, sebelumya Elin hanya berada di kediaman keluarga Mars atau hanya keluar dan pergi ke rumah sakit saja.
"Apakah nenek mengizinkan lukaku akan terkena sinar matahari langsung apa itu akan baik? " Ucap Elin khawatir sebenarnya bukan itu yang Elin khawatirkan dia khawatir pada pandangan orang yang melihat Alister yang begitu tampan berjalan dengan wanita yang memiliki luka di wajahnya.
"Tenang saja dia sudah memberikannya, aku bahkan menyuruhnya memberikan tanda tangannya " Ucap Alister yang dengan sigap memperlihatkan kertas yang di tanda tangani nenek Angel.
"Apa itu kau benar-benar membuat surat izin yang di tandai oleh wali mu, apa kau ini anak sekolah" Ucap Elin yang gemas dengan tingkah kekasihnya itu.
"Jika itu tidak aku lakukan kau pasti akan terus menolak ku untuk mengajak mu berjalan-jalan" Ucap Alister.
"Tapi apakah benar-benar tidak masalah" Ucap sendu Elin.
"Elin aku tau apa yang kau pikirkan, tapi hentikan pikiran itu aku mencintaimu dengan atau tidak ada luka itu jadi itu tidak masalah bagiku tapi dengan perawatan yang nenek berikan bahkan lukamu sudah tidak nampak" Ucap Alister tidak sepenuhnya bohong karena perlahan bekas luka itu terlihat memudar karena semua perawatan dan obat yang nenek angel racikan untuk Elin
Alister yang sudah sangat siap hanya bisa menunggu saat Elin kembali Elin turun dari kamarnya dengan menggunakan baju tertutup namun raut wajah Alister tiba-tiba menjadi suram.
Alister berjalan mendekati Elin, Elin melihat tatapan Alister yang seperti marah "Ada apa? apa ada yang salah dengan bajuku" Ucap Elin.
"Tidak ada yang salah dengan bajumu, tapi apa ini kau benar-benar menutup wajahmu aku sudah bilang aku tidak malu bukan" Ucap Alister lembut meski wajahnya terlihat kesal, Alister dengan lembut melepas topi dan masker yang Elin gunakan "Begini baru cantik" Ucap Alister yang sudah melepaskan atribut yang menutupi wajah Elin.
"Apa kau yakin dengan ini"
"Sangat sangat yakin sayang " Ucap Alister sembari mengecup kening elin.
Akhirnya Alister mengajak Elin berjalan-jalan mereka menghabiskan waktu ke tempat tempat yang indah dan menyenangkan untuk pasangan, tak terasa malam sudah menyapa dan mereka akhirnya memutuskan untuk makan malam di restoran mahal dengan pemandangan malam yang begitu indah.
__ADS_1
Elin tak henti menatap gemerlap lampu kota, meski awalnya Elin merasa tidak enak untuk masuk ke restoran itu karena baru sampai pintu saja semua orang menatapnya seakan menggunjingkan nya yang bersanding dengan Alister yang begitu tampan, namun Alister selalu tau suasana hati Elin dia perlahan membujuk Elin merangkul Elin membisikan kata manis yang membuat Elin percaya dengan perlindungan Alister.
"Bagaimana apa kau menyukai tempat ini? " Tanya Alister
"Ya di sini sangat indah bahkan lebih indah di negara ku"
"Tentu saja hampir separuh negeri adalah kekuasaan kak Arion dia bahkan menata letak pencahayaan di negara ini hanya untuk menyenangkan istrinya karena istrinya juga seperti mu menyukai ke indahan"
"Benarkah? tuan Arion yang di ingin itu bisa begitu romantis dengan istrinya" Ucapan Elin itu tiba-tiba membuat Alister menekuk wajahnya "Ada apa denganmu kenapa tiba-tiba kelihatan marah" Ucap Elin bingung.
Alister mengusap lembut punggung tangan Elin dengan jarinya "Bagaimana bisa aku tidak marah calon istriku memuji laki-laki lain di hadapan ku, sepertinya aku harus menghukum mu untuk itu" Ucap lirih Alister membuat Elin tersipu malu.
Mereka menyelesaikan makan malam romantis dan kembali ke mobil untuk bersiap untuk pulang, Alister sengaja mengemudi dengan kecepatan terendah agar dia bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Elin, bahkan seminggu lebih bersama tidak pernah membuat Alister bosan menghabiskan waktu dengan Elin.
Hampir tengah malam, Alister baru sampai di kediaman keluarga Mars "Apakah kita tidak akan di marah oleh nenek Angel kita pulang terlalu terlambat" Ucap Elin panik.
"Tidak, aku sudah meminta izin sampai tengah malam jangan khawatir" Ucap Alister
Akhirnya mereka berada di depan pintu "sayang tunggu" Ucap Alister menahan tangan Elin yang ingin membuka pintu.
"Ada apa? " Tanya Elin
"Bukankah aku sudah bilang aku akan menghukum mu"
"Hah, apa maksud mu jangan katakan kau mau" Alister sudah menyeringai dia sengaja membuat Elin terhimpit dia dan pintu kemudian Alister menaruh satu tangannya di pintu untuk mengunci Elin satu tangan merengkuh dagu elin dan Alister hendak mencium Elin perlahan-lahan wajah mereka sudah mendekat namun tiba-tiba Elin menghindar dan bruu UKK, Alister terjatuh karena seseorang membuka pintu untuk saja Elin merasa pintu yang ada di belakang nya akan di buka. "Siapa yang berani membuka pin.. " Ucapan Alister terhenti saat melihat banyak pasang kaki di depannya dia perlahan melihat ke atas tepat ke satu orang yang baru saja membuka pintu.
__ADS_1