
Elin merasa canggung saat mereka berjalan menuju parkiran mobil "Anu tuan.. itu aku tidak ada mobil, bisakah menggunakan mobilmu" Ucap Elin yang tidak tau harus bagaimana papanya tidak memberikan kunci mobil padanya.
Alister sedikit tersenyum melihat wajah panik takut dan lugu bercampur jadi satu, Alister seakan melihat sosok Olivia yang lain "Apakah Nona tidak tau jika mobilku harusnya sudah pergi bersama asisten ku satu menit yang lalu" Jawaban Alister itu semakin membuat Elin canggung.
"Kalau begitu bagaimana jika tuan kembali ke dalam dan mengatakan jika tuan tidak ingin pergi" Ucap Elin tanpa pikir panjang.
"Kau menyuruh ku? " Menatap Elin.
Elin memiliki dilema nya sendiri, dia ingin pergi dengan laki-laki tampan di depannya namun dia juga tidak ingin terkesan murahan dan gampang akrab dengan laki-laki "Baiklah aku yang akan pergi" Ucap Elin
"Terserah saja"
"Tapi jika aku pergi menemui papa dia akan marah, huh" Elin tidak bisa melakukan hal itu, jadi akhirnya Elin memanggil taksi dan membawa Alister pergi berkeliling dengan taksi.
Mereka sudah di dalam taksi, Elin sendiri sebenarnya curi-curi pandang melihat Alister yang sedang terlihat serius menatap handphone nya "Apakah kau tau Universitas kedokteran terbaik di kota ini" Tanya Alister setelah menutup handphone nya.
"Universitas terbaik, tentu saja tempat ku berkuliah adalah universitas terbaik" Ucap Elin yang bangga dengan Universitas nya.
Asisten melihat ke arah Elin, yang memiliki tinggi tak seberapa wajah begitu kecil dan terlihat lugu "Yang aku katakan Universitas kedokteran" Ucap Alister mengulang ucapan nya.
__ADS_1
"Apa kau memiliki pendengaran yang buruk, aku menjawab Universitas tempat ku sekarang adalah universitas terbaik" Ucap Elin lagi.
"Apakah kau mahasiswa kedokteran? " Alister terlihat tidak percaya
"Kau meragukan ku? yang benar saja tuan apa kau memiliki penglihatan yang buruk" Ucap Elin sedikit kesal dan tanpa sadar dia menggembungkan pipinya, hal yang sering dia lakukan saat kesal. kepada kakaknya.
Alister terlihat menarik ujung bibir nya melihat tingkah Elin yang tingkahnya berbanding terbalik dengan papa dan mamanya, Alister telah menyelidiki latar belakang dan semua tentang tuan Arkan. "Kalau begitu apa kau mengenal seseorang" Tanya Alister.
"Siapa? " Elin yang tadinya membuang muka dan melihat ke sisi lain kini kembali melihat kepada Alister.
"Seorang gadis yang aku kenal berada di Universitas itu"
"Benarkah, tapi dia gadis yang mudah di kenali"
"Apakah dia artis kenapa semua orang mudah mengenalinya" Sindir Elin.
"Dia memiliki bakat dalam ilmu kedokteran, dia juga sangat cantik dan perduli pada orang lain, bahkan papi dan mamiku secara khusus menyuruhku untuk bertemu dengannya" Ucapan Alister tanpa sadar mengatakan semua hal pada Elin.
"Oh seperti nya dia gadis yang sempurna" Elin tiba-tiba merasa malas dengan pembicaraan nya dengan Alister "Kalau begitu tuan duduklah dan aku akan mengantar anda ke Universitas saya, meski itu bukan properti yang berada di naungan AN.
__ADS_1
" Tidak masalah " Ucap Alister yang memang dia ingin bertemu dengan Aleena sesuai dengan permintaan kakak, papi dan mami, beserta paman dan bibinya yaitu orang tua Aleena.
Semenjak beberapa bulan ini, Aleena mengganti nomor nya dengan nomor lain, nomor yang lama sudah mati bersama handphone yang lama hanya dia simpan saja, Alasannya tentu saja Aleena terlalu senang memiliki HP couple dengan Rocky dan memutuskan menyimpan handphone lamanya meski itu sudah di perbaiki.
Dan sialnya Mereka semua lupa memberikan nomor baru itu pada Alister, padahal mereka semua mengirim banyak oleh-oleh setelah kepergian Alister ke negara itu ketahuan, jadi Alister harus menemukan Aleena dengan petunjuk yang sedikit, bahkan karena mereka terlalu senang menitipkan banyak hadiah pada Aleena mereka hanya mengatakan Aleena belajar di Universitas terbaik tanpa memberitahu nama Universitas nya, dan sialnya lagi saat Alister akan mengkonfirmasi di mana Aleena kuliah tiba-tiba semua nomor sulit untuk di hubungi alhasil dia harus memanfaatkan Arkan yang dari awal bisnis selalu membahas putrinya alhasil Alister menangkap. sesuatu bahwa arkan seperti nya ingin menjodohkan nya dengan anaknya, Alister memanfaatkan hal itu tentu saja Alister sudah tau betul kalau putri arkan adalah mahasiswa kedokteran, Sepertinya dari awal Alister hanya memanfaatkan Arkan dan Elin saja untuk menemukan Aleena.
Di sisi lain.
Aleena sudah duduk di samping Erlan, Erlan melihat Aleena yang terus menghela nafas dan terlihat merasa tidak nyaman, melihat itu Erlan merasa bersimpati kepada gadis yang mampu membuatnya tertarik itu, meski sedikit sakit untuk dia utarakan namun Erlan tidak senang melihat ekspresi Aleena sekarang "Jika kau ingin kembali menemuinya aku tidak masalah" Ucapan Erlan yang merasa sangat berat mengucapkan itu, namun dia sadar mendekati Aleena tidak bisa dengan cara instan dan memaksakan nya Erlan ingin mendapatkan Aleena dengan cara yang benar tidak memaksa namun perlahan mendapatkan hatinya.
"Tidak perlu! " Ucap Aleena tegas sembari dia menggenggam tangannya seakan mengatur nafasnya untuk stabil.
"Apa kau yakin? " Tanya Erlan memastikan.
"Tentu saja yakin!, cepat antar aku ke kampus aku memiliki kelas pagi" Ucap Aleena yang berusaha melupakan ekspresi Rocky yang dia lihat tadi ekspresi kecewa atau marah, Aleena tidak mau lagi terus terus berharap pada orang yang bahkan tak sanggup melangkah dari masa lalunya, Aleena seperti nya sudah sangat kecewa apalagi Rocky bahkan menolak permintaan yang Aleena pinta, apalagi Rocky punya janji untuk mengabulkan permintaan nya dan pada akhirnya Rocky tidak merealisasikan nya itu membuat Aleena benar-benar kecewa membuatnya seakan akan menyerah dengan perasaan nya 'Aku tidak akan seperti mu om, aku akan melangkah dari masa lalu, kau adalah masa lalu untuk ku sekarang om' Aleena menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya perlahan air mata mengalir di wajah cantiknya yang tertutup rambut.
Sedangkan Rocky berlari keluar mencari keberadaan Aleena namun Aleena benar-benar sudah pergi, Rocky berteriak membuat semua orang yang lewat memperhatikan nya, hatinya merasa sesak benar-benar sesak, dia mengeratkan giginya mengepalkan tangannya "Berengs*k! " Teriaknya sembari menendang angin.
Rocky akhirnya berjalan pergi sembari merenungkan ucapan Aleena, dia tidak tau lagi semua perasaan berkecamuk dia kesal marah melihat Aleena pergi dengan Erlan meninggalkan nya, namun dia juga merasa sedih ragu-ragu saat Aleena mengatakn permintaan nya yang harus melepaskan masa lalu yang sebenarnya adalah alasan dia hidup 'Aku harus bagaimana Tuhan! jawab aku' Adu Rocky pada Tuhannya di dalam hati, dilema yang dia rasakan kali ini benar-benar besar.
__ADS_1