Terjerat Cinta Bartender Dingin

Terjerat Cinta Bartender Dingin
Episode 168


__ADS_3

"Au kau ini ada dendam apa dengan ku bukankah aku ini yang menyelamatkan mu,kenapa kau membuatku sial terus." Ucapan Erlan memang tidak salah tapi Disa juga tidak sengaja melakukannya.


"Aku tidak sengaja, aku tau kau yang menyelamatkan ku aku sangat berterimakasih padamu, tapi tidakkah kau keterlaluan" Ucap Disa yang langsung pergi entah mengapa perkataan sial yang Erlan lontarkan begitu menyakiti hatinya.


Perasaan Erlan tiba-tiba merasa tidak tenang sebenarnya dia tidak serius mengatakan sial pada Elin namun tak menyangka perkataan itu bisa menyakiti wanita di depannya tadi "Apakah dia menangis? " Ucap Erlan yang sedikit melihat air di pipi Disa.


Erlan tanpa sadar meraba dadanya menekan perasaan yang sebentar timbul namun kemudian menghilang 'Mengerikan apa aku memiliki penyakit dalam perasaan apa tadi' Ucap Erlan dalam hati.


Disa menggelengkan kepalanya dan menunduk "Tidak boleh jangan menangis tidak boleh, kau tidak selemah itu Disa hanya kata-kata itu hanya kata-kata ingat Disa" Disa mencoba menguatkan dirinya sendiri namun apa daya air mata itu perlahan mengalir menerobos pelupuk matanya dan membasahi pipi nya.


Disa tidak tahan lagi dia mencari tempat untuk duduk dan membersihkan air matanya karena akan aneh di lihat orang jika dia berjalan sambil menangis.


Letty mencari keberadaan Disa setelah dia tidak menemukan kalung Disa di manapun, Letty mengirimkan pesan pada Disa menanyakan tempat dia berada tak butuh waktu lama Disa langsung membalasnya, Letty bergegas menuju ke tempat Disa.


"Dia di sana" Ucap Letty yang melihat Disa sedang duduk menunduk, Letty langsung mendekat ke arah Disa. "Disa apa kau menemukannya? " Tanya Letty dengan menepuk pundak Disa pelan.


Entah mengapa mendengar suara Letty Disa semakin menangis dan takut memperlihatkan wajah nya yang penuh air mata "Disa kau tidak apa-apa, apa terjadi sesuatu? " Tanya Letty dengan nada terdengar khawatir. Disa menggelengkan kepalanya pelan.


Disa mencoba mengatur nafasnya dan mengusap air matanya "Tidak tidak terjadi apapun" Ucap Disa yang mencoba tersenyum namun air mata masih mengalir tanpa Disa sadari.


"Disa sebenarnya apa yang terjadi kau tidak baik-baik saja bukan" Ucap Letty yang langsung memeluk Disa.


"Letty kenapa begitu sakit jika dia yang mengatakan nya, apa aku benar-benar membawa sial? " Pertanyaan Disa itu membuat Letty terkejut sekaligus dengan cepat menggelengkan kepalanya tanda dia tidak setuju dengan pernyataan Disa itu.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? di dunia ini tidak ada kesialan yang di timbulkan orang lain, tidak beruntung itu karena prilaku kita sendiri" Ucap Letty.


"Benarkah jadi aku bukan pembawa kesialan bukan"


"Disa katakan padaku siapa yang bicara begitu kasar padamu, aku akan memberikan perhitungan padanya"


"Tidak ada"


"Jangan melindungi nya, tunggu apa aku mengenalnya" Letty terdiam sejenak dan berfikir akan setiap kata-kata Disa "Tunggu jangan-jangan yang mengatakan itu apakah tuan Erlan" Tanya Letty serius.


Disa segera mengubah ekspresi nya menghapus air matanya "Hmm tidak ada yang mengatakan itu, Letty apakah kau menemukan kalung ku" Disa berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Tidak, aku tidak menemukannya, Ah sudahlah kalau begitu, mungkin kalungnya bukan jodohku" Ucap Disa


" Tidak aku lelah, kita pulang saja ok" Ucap Disa yang memang benar-benar sudah tidak bertenaga lagi, memang hal toxic yang di ucapkan orang yang menurut kita spesial itu memang terasa lebih sakit dari pada ucapan dari pada orang yang tidak kita kenal.


****


"Baiklah, tapi sebelumnya tunggu Ale ada yang ingin papa tanyakan padamu" Ucap Rayyan.


"Apa itu pa? " Tanya Aleena yang tiba-tiba merasa gugup karena melihat wajah serius papanya.


"Apakah kau benar-benar bersama dengan Rocky" Pertanyaan yang langsung ke intinya itu mampu membuat Aleena merasakan kesulitan dan bernafas.

__ADS_1


Namun Aleena tentu saja tidak ragu untuk menjawab pertanyaan papanya itu "Ya pa, apakah papa tidak setuju" Pertanyaan Rayyan yang di jawab dengan pertanyaan kembali oleh putrinya itu membuat dia mengernyitkan dahi.


Aleena yang melihat itu benar-benar merasa gugup wajah papanya yang begitu serius benar-benar belum pernah dia lihat.


"Papa ingin bertanya tidak ingin menjawab" Ucap Rayyan yang langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan Aleena.


Rayyan meninggalkan Aleena di ruangannya dengan perasaan campur aduk 'Ya Tuhan apa papa tidak akan setuju, tidak tidak aku yakin papa pasti setuju, tenangkan dirimu Aleena tenang" Ucap Aleena pada dirinya sendiri dan berjalan mengikuti papanya menuju ruang makan.


Di sana semua orang telah hadir kecuali Aleena dan Rayyan, Rayyan mulai duduk di kursi Aleena pun menduduki kursi kosong di samping Rocky, Tiara mulai menyiapkan makanan untuk suaminya itu begitupun dengan Olivia.


Aleena perlahan ingin mengangkat piring Rocky namun tatapan Rayyan membuat Aleena berhenti untuk mengangkat piring Rocky.


Mereka semua merasakan suasana canggung di ruang makan, kegelisahan tertera jelas di wajah Rocky dan Aleena membuat mereka berdua merasa gugup.


"Nak Rocky biar tante yang ambilkan" Ucap Tiara


"Tid.. tidak usah tante biar Rocky ambil sendiri saja tidak perlu repot"


"Benar dia bisa sendiri kau cukup melayani ku" Ucap Rayyan pada istrinya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya kecil.


Rocky merasa kesulitan menelan makanan yang bahkan sekarang terasa hambar di mulutnya, pikiran nya kini di penuhi dengan tatapan Rayyan yang tidak bisa dia artikan, begitupula dengan Aleena dia merasakan hal yang sama setelah papanya menanyakan hal tadi di ruang kerjanya.


'Papa apa dia tidak akan merestui kami' Ucap Aleena dalam hati bersamaan dengan Rocky yang sedang berfikir dalam diamnya.

__ADS_1


'Apakah paman tidak akan memberikan kami restu?' sekarang pikiran Rocky terisi penuh dengan pertanyaan itu


__ADS_2