
"Natan taukah kau aku sangat takut, aku benar-benar takut saat melihat mu bertahan dengan serangan itu, Natan apa kau bodoh bagaimana bisa kau melakukan itu hanya untuk menolong ku" Letty menatap Natan dengan wajah yang penuh dengan air mata.
"Aku melakukan itu karena ak-"
"Karena apa? "
"Karena aku tidak punya pilihan lain, jika aku diam saja dan membiarkan sesuatu terjadi kepada bos ku, bukankah nanti aku juga yang rugi" Jawaban Natan itu tidak membuat Letty tertawa. Natan sendiri sedikit mulai menyadari perasaan nya pada Letty, namun Natan sadar diri dirinya itu siapa dan wanita di depannya itu siapa, dia tidak akan mampu untuk dapat menggapainya.
Natan terdiam sejenak, dia menggelengkan kecil Kepala nya menghapus perasaan tentang menyukai wanita di depannya 'Kau harus sadar Natan, kau hanyalah orang biasa di depanmu adalah putri pengusaha kaya raya, kau hanya karpet dan dia tuan putri kau tidak pantas berfikir seperti itu"
Mendengar jawaban Natan, tersirat raut kecewa di wajah Letty, namun Letty masih belum menyadari hatinya telah bergeser dari titik yang dulu. "Kau akan sangat rugi! " Ucapan Letty yang menanggapi candaan Natan. "Sudahlah sudah malam istirahat lah, aku juga akan berbaring di sofa itu, jika kau merasa tidak enak bangunkan aku" Ucap Letty yang langsung pergi ke sofa.
Letty membaringkan tubuhnya meringkuk menghadap sofa membelakangi Natan, Letty menekan dadanya yang sedikit merasa tidak enak 'Aku pikir jawaban mu' Letty segera menggelengkan kepalanya pelan menyadarkan dirinya tentang pikiran nya yang salah itu.
Natan sejenak menatap punggung Letty lekat, dan segara mengatur nafasnya 'Sadarlah Natan" Natan kemudian berbalik dan mencoba untuk tidur dengan posisi mereka saling membelakangi satu sama lain.
Letty melihat sebentar ke arah Natan dan melihat Natan yang tidur membelakangi nya, Letty menatap punggung Natan sebentar, kemudian kembali ke posisi awal 'Apa yang sebenarnya aku harapkan? ' Letty bertanya pada dirinya yang merasa dirinya jadi aneh.
****
Erlan tidak menyerah dia terus mencari tahu siapa laki-laki yang akan di jodohkan dengan adiknya itu, Erlan sampai tidak menyadari dia belum tidur dari semalam, sampai matahari pagi menerobos ke dalam kamarnya.
Erlan melihat handphone nya yang dia letakan di atas meja, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, matanya mulai terasa berat, tanpa sadar tubuhnya berjalan ke atas ranjang, sepertinya semalam dia benar-benar menggunakan mata dan tangannya dengan baik "Aku pasti akan menemukan siapa laki-laki itu Elin tenanglah serahkan semuanya kepada kakakmu in" Sepertinya mata Erlan sudah sangat lelah, dan dengan sendirinya mata itu terpejam membuat sosok kakak baik itu tidur dan terlelap.
****
__ADS_1
Elin baru saja turun dari kamarnya dia bersiap untuk sarapan dia duduk di kursi ruang makan ini, bersama ayahnya yang sudah duduk terlebih dahulu dengan sang mama.
Elin baru saja mengambil sandwich dan akan memakannya namun suara ayahnya menghentikan nya "Elin hari ini kau tidak udah kuliah" Ucapan sang ayah membuat Elin menatap tajam kepada ayahnya itu.
"Apa maksud papa? " tanya Elin dengan wajah yang masih terkejut.
"Hari ini kau temani papa ke kantor, papa akan menemui rekan kerja papa dari luar negeri" Jawab sang Papa dengan santainya.
"Ha! untuk apa aku menemani papa ke kantor? Elin harus kuliah pa, ada jam pagi" Jawab Elin berusaha menolak keinginan papanya itu.
"Papa sudah katakan dengan jelas kau ikut ke kantor untuk menemani papa" Jawab papanya tegas. "Untuk kuliahmu itu tidak berangkat juga tidak masalah! " Jawaban yang begitu enteng di lontarkan oleh papanya membuat Elin merasa sangat kesal.
"Aku tidak mau!, akan jadi masalah jika aku tidak menghadiri kelas pagi ku! " Elin bersikukuh untuk berangkat kuliah, Elin bahkan tidak sanggup lagi untuk memakan sandwich nya dia menaruhnya sandwich nya di piringnya tanpa memakannya.
Elin tau ancaman papanya bukan sekedar ancaman, papanya terlihat serius jika sampai dia di kurang dia tidak akan bisa keluar lagi, ini membuat Elin tidak memiliki pilihan lain selain patuh.
"Elin sayang apa susahnya kau hanya menemani papa saja hari ini, kau bisa kuliah besok ok, jadilah anak yang baik" Ucap lembut mamanya yang mendorong nya untuk mengikuti perintah papanya.
Elin menghela nafasnya seperti nya dia hanya bisa menurut saja "Baiklah! tapi biarkan aku memberitahu temanku untuk mengabsen kan aku hari ini" Ucap Elin yang akhirnya berdiri dari kursinya dan pergi tanpa sarapan sedikitpun.
"Baiklah, kalau begitu papa akan menunggu mu di mobil" Ucap sang papa yang sudah selesai sarapan, bahkan papanya tidak perduli tentang Elin yang pergi tanpa sarapan sama sekali.
Elin kembali ke kamarnya sebentar, dia menatap layar handphone nya yang sedang berusaha menelepon sang kakak, dia ingin memberitahukan kepada kakaknya jika papanya menyuruhnya ke kantor, Elin merasa papanya akan segera mempertemukan nya dengan laki-laki yang seperti nya akan di jodohkan dengannya.
Papa nya mengambil tindakan begitu cepat setelah penolakan Erlan untuk membantu perusahaan nya.
__ADS_1
Pintu kamar Elin di ketuk, dan terlihat sang ibu yang sudah melangkah masuk ke dalam kamar Elin "Elin, papamu berpesan untuk kau mengganti pakaian mu, dan mama sudah menyiapkan nya untuk mu" Ucap Mama Elin.
Elin melihat kearah mamanya yang membawa Pakaian baru untuk nya "Apakah tidak cukup memakai baju ini saja! " Ucap Elin yang merasa bajunya sudah cukup rapi.
"Tidak baik wanita selalu memakai celana, gantilah dengan ini sayang, kau akan terlihat sangat cantik" Ucap mamanya yang memberikan pakaian itu padanya.
Elin tidak bisa menolak permintaan ibunya itu, Elin memang anak yang penurut, dia tidak pernah meminta aneh-aneh kepada orang tuanya, permintaan dalam hidupnya hanya satu kuliah dan mengambil jurusan kedokteran. "Baiklah, bisakah ibu pergi sekarang" Ucapnya pasrah
"Baiklah cepat ganti pakaian mu ya sayang" Ucap mamanya.
Elin terus menelepon kakaknya tapi tidak di angkat, akhirnya Elin membuat pesan suara untuk kakaknya. Setelah itu Elin melihat pakaian yang mamanya siapkan "Dress? haruskan aku memakai ini ke kantor? " Ucap Elin ragu, namun ini memperkuat dugaan nya tentang papanya yang akan segera membawa dia bertemu dengan laki-laki yang akan di jodohkan dengannya.
Elin sudah berjalan ke mobil sang papa, papanya sudah lama menunggu setelah Elin masuk supir segera melajukan mobilnya.
Suasana mobil itu terasa canggung, Elin hanya diam saja tidak banyak berbicara begitupun dengan papanya uang terus menatap handphone nya.
Mobil yang Elin tumpangi sudah berhenti Elin dan papanya sudah sampai di kantor, Elin merasa tidak nyaman dengan dress yang dia pakai, dia baru masuk saja sudah menjadi pusat perhatian. "Pa aku mau ke toilet" Ucap Elin yang mendapat anggukan dari papanya.
Elin segera ke toilet, dia membasuh sedikit wajah nya dengan air "Aku ingin pergi dari sini" Ucap Elin kepada dirinya di depan cermin.
Belum lama Elin ke toilet handphone nya sudah berbunyi papanya sudah meneleponnya "Huh benar-benar" Ucap Elin.
Elin segera mengatur nafasnya dan keluar dari toilet dia berjalan dengan membawa ponselnya dia sudah tidak tahan mendengar ponselnya terus berbunyi, Elin ingin mengangkat teleponnya karena fokus dengan handphone nya tanpa sadar di menabrak seseorang.
"Hati-hati" Suara laki-laki yang menariknya agar tidak jatuh dan membuat posisi mereka seperti berpelukan, Elin mendongak ke atas melihat siapa yang menolongnya.
__ADS_1