Terjerat Cinta Bartender Dingin

Terjerat Cinta Bartender Dingin
Episode 165


__ADS_3

Letty kini sudah merasa tenang dan akhirnya memilih menghabiskan makanan yang telah mereka pesan.


mereka berdua terus berbincang sampai Letty menyadari sesuatu tidak ada di tempat nya "Disa bukankah kau tadi memakai kalung? " pertanyaan Letty itu membuat Disa meraba lehernya.


"Benar, gawat itu adalah kalung pemberian dari almarhum nenek ku" Ucap Disa yang langsung berdiri mencari di sekeliling "Tidak ada, tidak ada, tidak ada apakah terjatuh di mobil " Ucap Disa lagi.


"Coba kau cari terlebih dulu aku akan membayar makanan kita dulu" Ucap Letty yang di ikuti anggukan oleh Disa.


Disa terus mencoba menelusuri jalan sampai parkiran namun dia benar-benar tidak menemukan kalungnya.


Letty juga mengikuti jejak Disa mencari sampai ke lahan parkir tempat mobilnya berada namun tidak ketemu.


Disa juga mencoba mencari di belakang kemudi tempat dia duduk namun juga tidak ada.


"Apakah ada di bandara? " Tanya Letty yang mendapatkan gerakan bahu ke atas tanda Disa juga tidak tau "Apa kita kembali ke bandara" Ucap Letty.


"Itu tidak perlu tentu sulit untuk menemukannya lagi pula aku tidak yakin bisa menemukannya kembali" Ucap Disa pesimis.


"Jangan berkata seperti itu Disa kita coba dulu, bukankah kalung itu begitu berharga, kita jangan menyerah sebelum mencoba ok" Ucap Letty memberikan Disa semangat


"Baiklah aku mengerti, kita pergi ke bandara sekarang" Ucap Disa yang sebenarnya sudah menebak akan hasilnya namun masih berharap bisa menemukan kalungnya.


****


Alister dan Elin kini berada di dalam mobil menuju kembali ke apartemen Erlan.


Elin dia tertidur di pangkuan Alister dengan wajah yang di penuhi air matanya, tidurnya terlihat gelisah.


Alister tidak pernah menyangka bahwa ada orang tua kandung yang begitu kejam pada anaknya, karena semenjak kecil pemandangan yang ada di sekelilingnya adalah pemandangan keluarga yang harmonis jadi dia juga merasa simpati dengan apa yang di rasakan kekasihnya itu.


"Tenanglah Elin aku ada di sini, kita akan menghapus semua kenangan buruk dari keluargamu dan kita akan membangun keluarga kecil kita sendiri " Ucap Alister bergumam lirih dan mengeluarkan lembut rambut Elin.

__ADS_1


Entah karena ucapan Alister atau bukan yang jelas tidur Elin sekarang terlihat jauh lebih nyenyak, perlahan Alister menyeka air mata yang berada di pipi elin.


Saat ini mereka sudah berada di parkiran apartemen milik Erlan, Erlan mengetuk pintu kaca Alister karena penasaran kenapa mereka tidak kunjung keluar.


Alister membuka pintu kaca mobilnya dan Erlan melihat adiknya tengah tertidur dalam kesedihan di pangkuan Alister itu membuat Erlan menghentikan kata yang bahkan belum dia ucapkan "Sudahlah" Ucap Erlan yang tadinya ingin memarahi Alister yang tidak kunjung turun bersama adiknya, ya lebih tepatnya Erlan memiliki prasangka buruk pada Alister.


Erlan berjalan terlebih dulu ke apartemen nya, di ikuti anak buah Alister yang tau diri turun dari kursi pengemudi.


Gerakan Alister yang membuka jendela tadi membuat Elin mulai sadarkan diri dia terbangun "Ah apa kita sudah sampai " Tanya Elin yang di ikuti anggukan dari Alister. "Kenapa tidak membangunkan ku" Ucap Elin yang tersentak langsung duduk.


"Kita baru sampai sayang tenang saja" Ucap Alister menatap lembut ke kasihnya itu.


"Be.. benarkah? " Tanya Elin yang mendapatkan senyuman manis dari Alister.


"Tentu saja benar, aku tentu tidak akan berbohong padamu jadi tenanglah dan kumpulkan dulu saja nyawamu" Canda Alister tersenyum melihat Elin yang hampir saja terjatuh ke belakang namun berhasil di tangkap oleh Alister membuat Elin terjatuh di pelukan Alister.


Elin mendongak melihat mata jernih Alister yang membuat dirinya merasa aman dan damai entah siapa yang mulai namun ciuman itu tiba-tiba terjadi, ciuman lembut nan intens sampai mereka sadar jendela mobil merek terbuka, Elin segera menyudahi ciuman itu dan bergegas keluar lebih dulu.


Namun Alister tidak bergeming dari tempat duduknya 'Sial kedua kakiku kesemutan, aku tidak mungkin mengatakan itu bukan Hei Alister seberapa tuanya kau hah membuat malu saja' Gerutunya dalam hati.


Elin merasa aneh karena Alister tidak mengikutinya "Apakah kau marah padaku? " Tanya Elin yang langsung di jawab cepat oleh Alister.


"Hah untuk apa aku marah sayang" Ucap Alister.


"Lalu kenapa kau tidak segera turun? " Tanya Elin yang membuat Alister bingung bagaimana menjawabnya.


"So.. soal itu jangan khawatir ak.. aku tidak apa-apa ak.. aku hanya ingin duduk sebentar lagi di sini" Ucap alister berusaha menggerakkan kakinya.


Tidak butuh waktu lama Elin langsung menebak, Elin kembali masuk "Sayang apakah kaki mu kesemutan karena aku tidur sepanjang jalan? " Tanya Elin.


"Hahaha tidak tidak mungkin, mana mungkin aku bisa kesemut- au" Alister terkejut saat Elin masuk dan memukul pelan kaki Alister tiba-tiba dan membuatnya bersuara.

__ADS_1


"Kau ini " Ucap Elin perlahan mencium bibir Alister singkat "Terimakasih untuk semuanya kau laki-laki yang sempurna aku beruntung bisa mendapatkan mu, terimakasih telah memilihku" Ucapan Elin yang pelan-pelan mengusap kedua kaki Alister pelan membantu Alister menggerakannya.


"Harusnya aku yang berterimakasih Elin, terimakasih Elin kau telah menyempurnakan hidupku" Ucapan Alister yang menghentikan tangan Elin dan membawa Elin ke dalam pelukannya sampai akhirnya Erlan kembali dan melihat pemandangan yang begitu menyilaukan mata bagi dirinya yang masih jomblo itu.


"Hei kalian berdua sampai kapan akan bermesraan di dalam mobil cepat keluar waktu Elin tidak lama untuk bersiap " Ucap Erlan yang mendapatkan anggukan dari keduanya.


Mereka berdua turun bergantian dan kaki Alister juga sudah lumayan tidak terasa kesemutan lagi.


Mereka kembali ke apartemen Erlan dan melihat Andreas dan nenek Angel sudah selesai berkemas.


"Kalian terlambat apa ada masalah? " Tanya nenek Angel lembut.


"Tidak ada nek hanya ada om tua tidak tau diri yang menahan adik ku begitu lama" Ucap Erlan memutar kedua matanya jengah selalu melihat kemesraan mereka berdua.


"Siapa yang kau sebut om tua, aku masih muda begini" Ucap Alister tanpa sadar.


"Ha, mengaku pun tidak tau diri" Ucap Erlan yang membuat Elin, Andreas dan Nenek angel tertawa mendengar ucapan Erlan.


"Sial aku di jebak" Ucap Alister.


Mereka sudah selesai bersiap "Kau yakin tidak ikut bersama adikmu? " Tanya Andreas pada Erlan, Erlan dengan mantap menggelengkan kepalanya.


"Aku akan tinggal sebentar untuk mengurus urusan ku jika sudah selesai aku akan menyusulnya" Ucap Erlan yang mendapatkan anggukan dari Andreas.


Sekarang mereka semua berangkat ke bandara dengan beberapa mobil beriringan kali ini Erlan satu mobil dengan Elin dan nenek angel sedangkan Alister di tahan Andreas dengan satu mobil dengan nya.


"Kenapa kau menyuruhku duduk denganmu, benar-benar mengesalkan" Ucap Alister.


"Kau ini beri mereka kakak beradik lebih banyak waktu sebelum Elin seutuhnya bersama mu, kau ini juga seorang adik bukan! "


"Hah sudah lah" Ucap Alister terdiam mendengar ucapan Andreas.

__ADS_1


__ADS_2