Terjerat Cinta Bartender Dingin

Terjerat Cinta Bartender Dingin
Episode 131


__ADS_3

"Kau akan senang melihat nya" Jawaban Rocky itu begitu ambigu di telinga Aleena, membuat Aleena terlihat berfikir keras kemana Rocky akan membawanya.


Rocky melirik sekilas ke arah Aleena, Aleena yang sedang berkonsentrasi itu juga sangat imut di mana Rocky.


"Tunggu arah ini, apakah kita akan kembali ke rumah" Ucap aleena yang ingat jalan tangan mereka lewati adalah jalan menuju Bandara.


"Siapa yang tau" Jawaban Rocky itu membuat Aleena menggembungkan pipinya.


"Om, jangan bercanda kau masih terluka duduk terlalu lama di pesawat tidak akan baik untuk lukamu, kita lebih baik kembali ke apartemen kita tunda penerbangan kita ok, aku juga tidak mau membuat mama khawatir karena " Aleena menatap luka di punggung tangannya yang sangat jelas terlihat kalau dia sedang terluka.


Rocky terlihat mendengarkan ucapan Aleena namun tidak mengikuti apa yang Aleena katakan "Om ayo putar balik om, ayolah om jangan main-main lagi" Ucap Aleena semakin kesal dengan om kesayangan nya itu.


"Tidak mau" Ucap Rocky sembari memainkan matanya sengaja menggoda Aleena.


"Om, ayolah kau ini menyebalkan" Aleena kesal bercampur gemas dengan tingkah Rocky.


***


Elin menangis sejadi-jadinya "Wajahku telah hancur kak" air mata mulai membasahi baju milik Erlan, Erlan tak kuasa perlahan air mata mengalir di pipinya.


"Jangan menangis Elin, aku akan membuat wajah mu kembali seperti semula dengan segala cara kau jangan menangis lagi ya, kakak di sini" Erlan menaruh dagunya di atas kepala adiknya itu, perlahan Elin merasakan ada air jatuh di atas kepalanya, Elin semakin tak bisa menahan air matanya tangisnya semakin pecah karena dia merasa sudah membuat kakaknya sedih.


Erlan hanya bisa menahan sakit batin seorang kakak yang melibatkan adiknya yang terlihat begitu menderita.


Erlan mengatur nafas dan suaranya "Jangan menangis percayalah pada kakak mu ini" Erlan mengecup pucuk kepala adik kesayangan nya itu.

__ADS_1


Elin tidak bisa berkata-kata lagi hanya bisa mengangguk pelan agar kakaknya merasa tenang.


"Yosh yosh, jangan menangis lagi" Erlan mengatur nafasnya dan mengusap air matanya dengan cepat kemudian menatap adiknya dengan senyuman di wajah nya meski mata merahnya tidak bisa di sembunyikan "Elin apakah kau ingin makan sesuatu? " Tanya Erlan.


"Aku sudah makan dan meminum obatnya kak, jangan khawatir" Elin mencoba membuat kakaknya tenang.


"Bagus anak pintar" Ucap Erlan.


Erlan keluar untuk bertemu dengan dokter untuk membahas luka yang ada di wajah Elin, namun Erlan tidak membiarkan dia sendiri dia menaruh dua penjaga di depan pintu Elin.


"Elin, kakak akan bertemu dengan dokter sebentar kau istirahat lah" Ucap Erlan.


"Baik kak" Elin tersenyum saat Erlan keluar Elin tidak tidur namun dia menatap kembali ke arah jendela.


Seseorang masuk tanpa mengetuk pintu "Kak apa ada yang tertingga-" Elin terkejut saat membalikan tubuhnya yang dia lihat seseorang yang menutupi wajahnya dengan buket bunga mawar merah yang begitu besar membuat Elin tidak bisa melihat seseorang di balik bunga mawar itu.


"Selamat pagi, sayang sekali kau tidak menebak nya dengan benar" Suara yang tidak asing di telinga Elin itu, membuat Elin sedikit tidak percaya.


"Kau? untuk apa tuan Alister kemari? " Tanya Elin yang heran bukankah kemarin Alister pergi begitu saja meninggalkan nya saat Elin mengusirnya, Elin tidak percaya Alister masih mau kembali lagi bahkan sekarang dengan buket mawar yang begitu besar di tangan nya.


"Tentu saja untuk menjenguk mu" Ucap alister yang menaruh buket besar itu di sofa dan mengambil satu tangkai untuk Elin.


Alister menyodorkan satu tangkai mawar itu kepada elin, Elin berusaha mengatur jantungnya yang mulai berdetak kencang untuk Alister, namun Elin sebisa mungkin menekan perasaan nya dia sudah bertekat untuk tidak membuka hatinya untuk Alister karena dia merasa doa tidak pantas untuk nya "Tuan Alister apa kau lupa apa yang aku katakan! jangan temui aku lagi" Ucap Elin dengan suara yang di buat seolah tegas dan kuat.


Alister semakin mendekat ke arah Elin dia menatap Elin "Aku tidak mau, aku akan terus menemui mu sampai jawaban yang aku Terima berubah" Ucap Alister yang semakin lama mendekat ke arah Elin wajah mereka semakin mendekat satu sama lain, Alister mengecup lembut bibir Elin membuat Elin terkejut

__ADS_1


"Ap.. apa yang kau lakukan! " Ucap Elin.


Alister tersenyum "Mencoba merebut hatimu" Elin merasa ada sesuatu di atas telinganya "Apa ini" Elin meraba dia ingin melepaskan bunga yang sudah di sematkan Alister saat berciuman tadi.


"Apa yang kau lakukan" Alister menahan tangan Elin yang ingin melepaskan bunga yang ada di atas telinga Elin.


"Jangan di lepas itu sangat cocok berada di sana, lagi pula sudah tidak ada Duri" Ucap Alister yang membuang tangkai yang tak berbunga itu ke arah kotak sampah dan langsung masuk.


Jantung Elin tidak bisa di peringati oleh otaknya jantung Elin benar-benar tidak bisa berbohong, deg deg deg jantungnya berdetak lebih cepat, perasaan memang tidak bisa di bohongi.


"Elin, apa kau mengatakan tidak mencintaiku hanya karena luka kecil di wajahmu itu? " Tanya Alister tiba-tiba tatapannya menjadi serius.


"Luka kecil kau bilang? ini akan menjadi bekas luka yang tak bisa hilang kau bilang luka kecil? " Elin terlihat sangat marah dengan ucapan Alister.


"Lalu kenapa jika lukanya tidak hilang! apa kau akan berubah jadi orang lain, aku mencintai Elin tanpa alasan jadi luka kecil ini tidak akan jadi alasan untuk ku berhenti mencintaimu" Ucap Alister menatap Serius Elin.


"Mudah untuk mu mengatakan nya, apa kau tau apa yang orang lain pikirkan jika mereka melihat kita bersama" Elin tidak bisa membendung air matanya.


"Aku tidak perduli dengan ucapan orang lain, yang aku perduli-kan hanya satu, aku ingin hidup dengan mu" Ucap Alister berusaha meyakinkan Elin.


"Kau tidak mengerti" Elin menangis menundukkan kepalanya.


"Kau yang tidak mengerti, kenapa kita harus memikirkan pandangan orang lain! ini hidup kita kita yang menjalani, elin dengar aku tidak akan menyerah sampai cincin berukir-kan namaku melingkar di jari manis mu, kau mengerti"


Elin menggelengkan kepalanya dia tidak mengerti apa yang di pikirkan Alister bagaimana dia bisa mengatakan itu begitu mudah "Aku tidak pantas untuk mu! kau benar-benar tidak mengerti" Elin bersikeras untuk tidak mengikuti kata hatinya.

__ADS_1


"Kau yang tidak mengerti" Ucap Alister dengan lembut dia mencium bibir Elin, kemudian melepasnya "Apa sekarang kau sudah mengerti? " Alister memeluk Elin dengan pelukan yang sangat hangat "Jika kau tidak mau menerima ku karena luka di wajah mu, maka aku akan menghilangkan luka itu tanpa sisa, karena tidak ada hal apapun yang bisa membuatmu jauh dari ku, Elin kau adalah milik ku ingat itu" Alister mengecup kening Elin membuat Elin tidak bisa berkata-kata lagi.


__ADS_2