
Disa saat ini tengah berada di cafe hari ini Disa berpakaian sangat rapi seperti wanita karir pada umumnya.
Tak lama seorang pria datang menghampiri nya di ikuti asisten nya "Nona Disa, maaf saya terlambat" Ucap pria yang menghampiri Disa.
"Tidak masalah Tuan sepertinya saya yang datang terlalu cepat" Ucap Disa basa-basi.
"Hahaha Nona Disa benar-benar membuat saya merasa tidak enak" Ucap pria di depan Disa yang bernama Agus itu.
"Tidak masalah tuan asal kita tidak memperlambat pembahasan kita tentang proyek kerja sama kita" Ucap Disa.
"Hahaha saya suka semangat nona Disa, jadi silahkan di mulai" Ucap sopan tuan agus.
"Baiklah, sebelum itu biar saya memesan sesuatu untuk tuan agus" Ucap Disa
"Tidak perlu, kamu pesankan minuman untuk ku ingat no sugar " Ucap nya pada asisten nya.
"Baik tuan" Ucap Asistennya.
"Kalau begitu saya akan mulai menjelaskan kemarin yang belum jelas tuan"
"Silahkan nona Disa" Ucap tuan agus.
Disa mulai mempresentasikan dokumen yang dia bawa dengan jelas, menjawab setiap pertanyaan calon investor nya itu sampai akhirnya asisten tuan agus datang dan tak sengaja menjatuhkan minuman yang di pesannya.
"Apa yang kau lakukan" Teriak seseorang sebelum tuan agus berteriak pada asistennya.
"Ma.. maaf nona" Ucap asisten itu gugup.
"Tidak.. tidak masalah"
"Apanya yang tidak masalah" Ucap pria yang berteriak itu dengan menggandeng tangan Disa untuk membawanya pergi.
"Lepaskan aku bisa sendiri" Ucap Disa.
"Bisa sendiri apanya, ayo pulang" Ucap Pria itu.
__ADS_1
"Lepaskan sudah ku bilang aku bisa sendiri" Ucap Disa.
"Tuan jangan memaksa nona Disa, asisten baru ku memang agak ceroboh jadi aku minta maaf untuk nya jadi biar dia saja yang bertanggung jawab mereka sama-sama perempuan mungkin akan lebih nyaman" Ucap tuan agus.
"Tidak perlu! " Ucap pria itu meninggi dan masih kekeh untuk membawa Disa pergi.
"Cukup, Vano aku sudah bilang untuk enyah dari hidupku seperti aku yang menuruti ucapan mu, jangan ganggu hidupku"
"Disa hentikan omong kosong ini, bagaimana seorang ka..kakak bisa enyah dari hidupmu"
"Baik, kalau begitu bertindaklah layaknya kakak tiri jangan usik kehidupan ku, aku mohon " Disa menakupkan kedua tangannya memohon.
Tuan agus Diam tidak tau harus bagaimana hingga seseorang "Kau sudah dengar apa yang dia ucapkan bukan tuan Vano, anda harus menghormati permintaan adik anda" Ucap laki-laki yang baru saja tiba yang melepaskan tangan Vano.
Vano menatap tak suka laki-laki di depannya itu "Ini bukan urusan orang luar"
"Aku bukan orang luar benarkan sayang" Ucapnya yang mampu membuat bola mata Disa melotot hampir keluar "Tuan agus maaf membuat Anda melihat pemandangan ini dengan hormat bisakah kalian menunda pekerjaan nya, saya harus membawanya pergi " Ucap sopan laki-laki itu kepada tuan agus.
"Si.. silahkan tuan erlan, saya minta maaf atas kecerobohan asisten saya untuk menunjukkan permintaan maaf saya yang tulus saya setuju untuk berinvestasi nona Disa"
"Baik saya tunggu nona Disa, dan sekali lagi saya minta maaf saya akan pamit terlebih dulu, permisi" Ucap tuan agus yang tidak enak berada di situasi anak muda yang menegangkan.
Setelah tuan agus pergi Vano kembali menarik Disa "Kita pulang"
"Pulang, aku bisa pulang sendiri " Ucap Disa
"Disa jangan membantah" Ucap Vano.
"Vano apa aku kurang jelas mengatakan nya, berhenti untuk peduli padaku sekarang semuanya sudah terlambat" Disa menepis tangan Vano.
"Disa untuk masalalu ak.. aku minta maaf aku menyesal bisakah kita kembali ke masa it"
"Tidak bisa, dia sudah menjadi wanitaku tuan Vano bertindaklah semestinya dan jangan mengganggu adikmu lagi" Ucap Erlan yang menarik Disa ke pelukannya.
Vano menggenggam tangannya melihat tindakan Erlan untung saja cafe itu cafe privasi tidak banyak orang yang datang.
__ADS_1
"Disa pikirkan baik-baik bagaimana nasibmu jika kau menikah dengan seorang penadah seperti dia, dunianya sangat gelap dan kotor di luar dia terlihat sukses tapi kau tau berapa cara kotor yang dia gunakan" Ucap Vano.
"Tidak perduli karena aku akan mencintai kelebihan dan kekurangan nya aku mencintai semua yang ada padanya, jadi berhenti menggangguku dan ingin hidup di masa lalu, mengerti" Ucap Disa yang akhirnya menggandeng Erlan untuk keluar dari cafe itu.
Melihat Disa pergi Vano hanya bisa menatap punggungnya dan benar-benar menyerah kali ini setelah mendengar ucapan Disa yang sangat jelas tentang perasaannya.
Sesampainya di luar di dekat mobil Disa, Disa segera melepaskan tangan Erlan "Terimakasih atas bantuannya" Ucap Disa yang tiba-tiba sikapnya berubah dingin
"Bisakah kau berterimakasih dengan tulus" Ucap Erlan.
Disa kemudian mengeluarkan kartu miliknya "Ambil ini di dalamnya ada beberapa uang lumayan banyak ambil sebagai tanda terimakasih ku tuan Erlan" Ucap Disa.
"Di.. disa bukan ini yang aku maksud tentang di bandara ak.. aku benar-benar minta maaf seperti nya aku sudah keterlaluan" Ucap Erlan.
"Sepertinya? ternyata kesadaran diri tuan Erlan tidak jauh berbeda dengannya" Ucap Disa yang mengarah ke Vano.
"Aku tidak sama dengan nya, aku benar-benar minta maaf atas ucapan ku bisakah kau memaafkan ku kali ini aku mohon" Erlan tiba-tiba menurunkan tubuhnya seakan ingin berlutut namun Disa menyadarinya dan mencegah itu terjadi.
"Hentikan jangan berlutut, baiklah aku memaafkan mu jadi bisakah kau melepaskan ku sekarang" Mohon Disa.
"Baiklah" Ucap Erlan.
Mendengar ucapan Erlan Disa segera membuka mobil dan akan masuk namun tiba-tiba Erlan menarik disa "Biar aku yang menyetir" Erlan mengambil kunci mobil Disa.
"Hah, tunggu apa maksud nya" Ucap Disa bingung melihat Erlan masuk ke dalam mobilnya di belakang pengemudi.
"Seperti yang kau lihat, ayo masuk atau kau akan terus berdiri dengan baju kotor seperti itu" Ledek Erlan membuat Disa tak berdaya dan masuk ke dalam mobil begitu saja.
*****
"Hah, apa maksud mu jangan katakan kau mau" Alister sudah menyeringai dia sengaja membuat Elin terhimpit dia dan pintu kemudian Alister menaruh satu tangannya di pintu untuk mengunci Elin satu tangan merengkuh dagu elin dan Alister hendak mencium Elin perlahan-lahan wajah mereka sudah mendekat namun tiba-tiba Elin menghindar dan bruu UKK, Alister terjatuh karena seseorang membuka pintu untuk saja Elin merasa pintu yang ada di belakang nya akan di buka. "Siapa yang berani membuka pin.. " Ucapan Alister terhenti saat melihat banyak pasang kaki di depannya dia perlahan melihat ke atas tepat ke satu orang yang baru saja membuka pintu.
"Pa.. pi? apa yang kau lakukan di sini, tunggu apa aku berhalusinasi setelah jatuh" Ucap Alister yang segera bangun dan menepuk pipinya.
"Kau tidak mimpi anak nakal, jelaskan padaku apa maksud nya ini! " Ucap Kenzo dengan wajah yang sangat serius membuat Alister bahkan kesulitan menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1