
pagi ini Disa tengah berjaga semalam dia memaksa Letty untuk pergi dan dia berganti berjaga dengan Letty.
Natan berpesan agar tidak memberitahukan kepada keluarga tentang keadaannya alhasil tinggallah Letty dan Disa yang tersiksa.
Disa mengerjapkan mata dan mengusap matanya, perlahan matanya terbuka sempurna, dia melihat Natan yang berusaha untuk berdiri membawa infusnya.
Dengan panik Disa berlari mendekat kepada Rocky "Ap.. apa yang sedang kau lakukan? " Tanya Disa khawatir.
"Aku ingin ke kamar mandi" Ucap Natan.
"Ha, tunggu sebentar biar aku membantumu, kau ini apa tidak merasakan sakit! " Keluh Disa.
"Aku sudah baik-baik saja" Ucap Natan yang membuat Disa menghela nafas.
"Kau ini masih begitu lemah begini bilang sudah baikan" Ucap Disa segera membantu Natan berjalan dengan cara menopang nya.
Disa menunggu di pintu dengan infus di tangannya "Jangan mengintip" Ucap Natan yang membuat wajah Disa memerah mendengarnya.
"Ck! kau pikir aku ini tukang ngintip, sialan " Ucap Disa kesal.
"Hahaha, aku hanya bercanda" Ucap Natan tawanya terdengar renyah.
Setelah ke toilet, Disa membantu Natan kembali ke ranjangnya, Natan terlihat memandang jendela "Nah Disa kapan aku bisa kembali bekerja" Ucap Natan yang membuat Disa tertawa.
"Kau ingin kembali bekerja dengan keadaan seperti ini, yang ada semua gelasnya akan tumpah, kau saja belum tentu di ijinkan untuk keluar dari rumah sakit " Ejek Disa.
"Aku lelah Disini aku ingin pulang dan bekerja, jika bukan aku siapa yang akan menghidupi adik dan ibuku" Ucap Natan.
"Em jangan khawatir tentang ibu dan adikmu, Letty terlah menjamin kehidupan nya".
Natan terlihat tidak senang mendengar nya membuat Disa merasa bingung " Kau tidak senang hidup keluarga mu di tanggung oleh Letty"
Natan menghela nafas "Bagaimana aku akan membayar hutang ku pada bos? apakah aku harus bekerja selamanya untuk nya"
"Ayolah Natan, kau dan aku tau bagaimana sifat Letty dia tidak akan meminta apapun yang sudah dia berikan, dia memberikan semuanya itu untuk mu dan keluarga mu"
__ADS_1
"Tapi apakah aku pantas menerimanya " Natan terdiam dia seperti di tampar kenyataan tentang keberadaan dirinya dan Letty yang sangat jauh berbeda.
"Kenapa tidak pantas, di hadapan Letty kita itu sama, sama-sama manusia" candaan disana itu semakin membuat mata Natan terbuka, bahwa selain manusia persamaan dia dan Letty tidak ada.
"Aku tau" Natan tersenyum penuh arti kemudian kembali merebahkan dirinya memunggungi Disa.
****
Aleena membuka pintu dan terlihat Elin "Elin? kenapa sepagi ini kau datang? " Tanya Aleena yang tidak sadar ada seseorang yang berada di belakang Elin.
"Ak.. aku kemari untuk mengantarkan dia" Ucap Elin yang melihat kebelakang nya membuat Aleena baru menyadari.
"Kak Alister? " Teriak Aleena yang langsung memeluk Alister orang yang dulu pernah di jodoh-jodohkan dengan nya.
"Alister" Ucap Erlan dan Rocky bersamaan setelah mendengar suara Aleena.
"Tunggu Elin" Erlan menerobos keluar dan segera menarik Elin ke sisi-Nya, dia menatap Elin dari ujung kaki dan kepala, Erlan seharusnya sudah menebak siapa Alister, nama orang yang berada di belakang AW grup yang identitas nya Erlan sendiri sulit untuk mengetahui nya "Menjauh dari adik ku" Ucap Erlan yang seakan melindungi adiknya.
"Kak" Ucap Lembut Elin, dia suka sikap protektif kakaknya yang jarang Erlan tunjukan.
"Tenanglah tuan penadah dia adalah kenalan ku, dia tidak akan berani macam-macam dengan Elin" Ucapan Aleena berusaha meyakinkan Erlan.
Erlan mengangguk dia percaya dengan ucapan Aleena, Alister sedikit mengerutkan kening saat mendengar panggilan Aleena yang sedikit berbeda pada laki-laki yang berada di depannya itu, karena Alister tau tidak semua orang bisa mendapatkan nama julukan dari Aleena kecuali mereka berdua dekat. Meski kenyataan nya Aleena memiliki nama panggilan karena tidak sengaja.
"Sudahlah kak Alister ayo masuk" Aleena menarik masuk Alister, Alister melihat tampang teman lamanya yang sudah tidak dia temui.
"Rocky apa kabar? " Alister segera memeluk kawan lamanya itu "Dion merindukan mu" Ucap Alister, meski Alister tak berada satu negara dengan Dion namun Dion beberapa kali mewakili Rayyan untuk membicarakan bisnis dengannya, dan topik ketika mereka mabuk bersama adalah Rocky.
"Kau lihat sendiri" Ucap Rocky berusaha menyembunyikan perasaan bahwa dia juga merindukan sahabat nya itu.
"Kau masih belum berubah" Ucap Alister melihat sikap Rocky sebelum pergi masih sama dengan sekarang.
"Dia tak akan berubah kak, kak kau datang dengan tangan kosong? " Tanya Aleena.
"Tidak, ayo bantu aku membawa barang-barang yang mereka semua titipkan kepadaku untuk mu" Alister menarik Aleena pergi dari apartemen.
__ADS_1
"Aku ikut" Ucap Rocky yang tidak mau Alister dan Aleena berduaan saja.
"Aku juga ikut! " Ucap Erlan tak mau kalah.
"Tidak boleh, kalian berdua di sini, Elin ayo ikut" Aleena malah menarik Elin untuk ikut bersamanya.
Elin tersenyum dan mengangguk, dia mengikuti langkah Aleena dan Alister.
Di dalam lift "Oh ya kak"
"hmm" Alister menatap Aleena.
"Bagaimana kau bisa mengenal Elin? " Tanya Aleena penasaran, begitupula dengan Elin dia penasaran bagaimana Alister akan menjawab pertanyaan Aleena
"Hanya sebuah kebetulan saja, papanya adalah calon rekan bisnisku" Ucap Alister memainkan alisnya dan sedikit melirik ke arah Elin, Elin yang sedari tadi tidak sadar dia memperhatikan Alister langsung membuang wajahnya saat mata mereka saling bertemu.
"Oh begitu" Aleena mengangguk-angguk dia mengerti.
Mereka mengambil semua barang di bagasi mobil Alister, Alister sengaja tidak membawa semua hadiahnya karena di takut salah orang.
Mereka akhirnya membawa semua hadiah itu masuk ke dalam apartemen Rocky, saat mereka masuk suasana terlihat sangat canggung membuat Alister tersenyum penuh arti, mungkin Alister sedikit banyak menyadari situasi nya.
"Wah mereka menitipkan mu banyak barang, adakah titipan dari kak Olivia? " Aleena memang sangat dekat dengan kakak ipar bya yang satu itu jadi dia selalu eksaited kalau menyangkut tentang Olivia.
"Tentu, tidak hanya kakak ipar mu Olivia, satu kakak ipar mu lagi juga mengirim mu banyak hadiah" Ucap Alister yang mengingatkan Aleena tentang kakak perempuan nya yang juga kakak ipar Aleena.
"Haha maafkan aku, apa kau marah aku sedikit melupakan kakak perempuan tersayang mu kak, tenang saja aku akan membuka semua hadiah yang di berikan oleh dua kakak ipar ku" Aleena terlihat sangat gembira, membuat Rocky dan Erlangga tersenyum sendiri melihat Aleena begitu bahagia.
"Elin bantu aku membuka hadiahnya" Ucap Aleena yang sudah tidak sabar melihat semua bingkisan yang Alister bawa.
"Ah ak.. aku? bolehkah? " Elin bertanya untuk memastikan nya di takut jika dia membantu Aleena akan berfikir dia tidak sopan
"Benar, selain Elin tidak boleh ada yang menyentuh hadiahkan" Ucap Aleena macam anak kecil membuat dua orang laki-laki bergumam hal yang sama.
"Dia sangat imut" Gumam Rocky dan Erlan.
__ADS_1
Elin akhirnya dengan tidak enak hati membantu membuka sebuah paperbag kecil, Elin menemukan sebuah kotak dan surat di dalamnya, mata Elin membulat saat tanpa sengaja membaca kartu ucapan itu, Elin tanpa sadar melepaskan kotak kecil itu dan terjatuh di lantai dan sesuatu menggelinding dari tempatnya.