Terjerat Cinta Bartender Dingin

Terjerat Cinta Bartender Dingin
Episode 58


__ADS_3

Di mobil Aleena terus menatap Rocky membuat Rocky merasa tidak nyaman "Kenapa menatapku? "


"Aku akan terus menatap om Rocky jika Om Rocky tidak memberitahu ku sabtu ini kita mau kemana? " Tanya Aleena.


"Kau tidak perlu tau" Masih jawaban yang sama yang Rocky berikan pada Aleena.


"Om jangan buat aku mati penasaran berit-" Tiba-tiba Rocky menghentikan mobilnya dan menatap Aleena, perasaan di tatap begitu dekat oleh Rocky membuat jantung Aleena berdetak lebih cepat.


Rocky menatap dengan tatapan sendu "Jangan mengatakan tentang kematian begitu mudah" Ucap Rocky yang masih belum bisa melupakan kesedihan masa lalunya.


Aleena tidak tega melihat wajah sendu Rocky tanpa sadar tangan nya mengusap pipi Rocky dan tersenyum "Maafkan aku om aku tidak akan berkata seperti itu lagi, tapi aku mohon jangan tunjukkan ekspresi wajah seperti ini lagi, ku mohon" Ucap Aleena lirih membuat jantung Rocky tiba-tiba berdegub lebih cepat dari biasanya.


Rocky langsung memundurkan dirinya membuat Aleena tersadar akhir akhir ini dia dan Rocky menjadi semakin dekat, Rocky juga lebih sering pulang cepat dari kerjanya dan mengambil libur setiap minggu nya.


Setelah suasana canggung itu, Rocky kembali melajukan mobilnya mengantarkan Aleena ke kampusnya.


Mobil Rocky sudah sampai di area kampus namun seperti biasa Aleena melarang Rocky untuk keluar dari mobil "Tetap di sini aku akan turun sendiri" Ucap Aleena dengan tangan terus terarah pada Rocky.


Rocky hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ekspresi Aleena itu "Apa-apaan itu" Ucap Rocky tersenyum sendiri.


Aleena turun dari mobil segera ke kelasnya, pagi ini dia memiliki mata pelajaran penting dan dosen yang tegas dia tidak bisa terlambat di mata pelajaran dosen disiplin ini.


"Aleena" panggil Elin yang sudah berada di kelas sembari melambaikan tangannya.


Aleena segera duduk di dekat Elin "Pagi sekali kau datang? " Tanya Aleena saat sudah mendudukkan dirinya di samping Elin


"Em, benarkah seperti nya aku sering datang pagi, hanya kau yang suka terlambat " Canda Elin dengan menampakkan gigi rapinya.


"Enak saja siapa yang kau bilang sering terlambat huh" Aleena menggembungkan pipinya mengikuti alur candaan Elin, membuat mereka berdua pada akhirnya tertawa.


"Aleena besok apakah kau senggang? " Tanya Elin dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Hmm memangnya kenapa? " Aleena menatap wajah serius elin.


"Temani aku ke suatu tempat apakah boleh? " Tanya Elin yang sekarang wajahnya sedikit sendu.


"Kemana? " Tanya Aleena.


"Ke-" Belum selesai menjawab dosen pada mata pelajaran pagi ini sudah masuk semua diam tidak ada suara.


Sepanjang pelajaran Aleena di buat penasaran tentang dua hal yang sama, setelah mata pelajaran usai dan mereka memilih untuk pergi ke kantin dulu sebelum menyambung obrolan mereka.


Aleena dan Elin memilih minuman yang sama strawberry smoothies, "Elin tentang tadi, kau ingin aku menemani mu kemana? " Tanya Aleena untuk memastikan pembicaraan nya yang tertunda.


"Ke pemakaman bibiku, ibu dari kak Erlan" Ucap elin ragu mata Aleena menuju ke arah Elin


"Tunggu kalian hanya sepupu aku pikir kalian saudara kandung" Tanya Aleena begitu saja tanpa basa-basi.


"Memang, ayahku adalah orang yang sama dengan ayah kak Erlan " Ucap Elin menunduk.


"Jadi ayahmu menikahi kakak beradik? " Ucap Aleena penasaran.


Aleena mengangguk dan mengerti "Baiklah aku akan menemanimu"


"Di hari peringatan kematian ibunya kali ini aku ingin menemani kak Erlan selama ini aku tidak berani untuk pergi ke pemakaman bibi, aku selalu merasa bersalah ibuku merebut ayahku darinya" Aleena tidak ingin bertanya lagi seperti nya keadaan keluarga Elin sedikit rumit, Aleena memilih jadi pendengar yang baik


"Baiklah besok aku akan menemani, lagi pula kita hanya memiliki jadwal di pagi hari" Ucap. Aleena tersenyum memberikan transfer kekuatan positif pada Elin, membuat Elin merasa beruntung memiliki teman seperti Aleena.


"Aleena" Teriak dua orang wanita dari belakang punggung Aleena, Aleena sudah tau siapa yang memanggilnya, dia orang yang setiap hari menggangunya.


"Penggemar om Rocky mu sudah datang" Bisik elin sedikit terkekeh.


"Berisik! " Ucap Aleena kesal.

__ADS_1


"Aleena bisakah aku duduk di sini? " Tanya Mia yang sudah duduk dengan sendirinya.


"Kau sudah duduk untuk apa bertanya" Ucap Aleena dengan nada ketusnya.


"Maaf ya Aleena Mia selalu mengganggumu makan siang" Silvia menarik Mia untuk pergi.


"Tidak masalah, aku juga sudah kehilangan nafsu makan ku" Ucap Aleena yang sudah berdiri ingin meninggalkan tempat itu juga di ikuti oleh Elin yang juga ikut berdiri.


"Aleena kau ini, sombong sekali aku lihat kau diterima di sini karena beasiswa jadi tolong jangan terlalu sombong! aku ini bisa membeli kesombongan mu itu! " Ucap Mia dengan begitu kasar, karena tidak tahan dengan sikap Aleena yang begitu enggan berteman dengannya setelah Mia mencoba memberikan semua barang mewah pada Aleena, alhasil kemarahan Mia memuncak karena sikap savage Aleena yang selalu Aleena tunjukan padanya.


"Kau yakin! " Aleena menaikan ujung bibirnya


"Yakin, aku juga bisa membeli keluarga mu yang miskin itu! " Ucap Mia lagi.


"Heh! aku tunggu kau membeli keluarga ku, aku tidak yakin keluarga mu mampu! " Ucap Aleena sembari menarik Elin untuk pergi.


"Kau itu sangat sombong, kalau bukan karena om mu itu aku juga tidak akan mendekati mu" Teriak Mia, Silvia menatap Mia. Mia tersadar dirinya keceplosan dan menatap Silvia "Ah kau mengerti maksud ku kan Silvia aku melakukan nya demi kamu, kau tau bukan? " Ucap Mia yang langsung berdiri merangkul sahabat nya.


"Aku mengerti, tapi Mia berhenti bersikap menindas seperti itu pada Aleena" Ucap. Silvia memperingatkan.


"Kenapa? hanya mahasiswi dengan beasiswa saja berlagak! " Ucap Mia yang masih belum tau siapa yang baru saja dia hina.


"Jangan begitu, jangan merendahkan nya lagi" Ucap Silvia.


"Sikapnya itu sangat menyebalkan, aku sangat ingin menghancurkan nya jika buka karena ingin mendapatkan om nya" Mia kembali menutup mulutnya "Maksud ku mendapatkan omnya untuk mu, aku tidak akan bersabar lagi" Ucap Mia. Silvia hanya terdiam menatap sahabat nya itu "Kau percaya padaku kan Silvia? "


Silvia mengangguk "Tentu saja" Ucapnya tersenyum.


"Aleena kenapa kau tidak menghajar nya, orang seperti Mia itu harus di berikan pelajaran, jika kau tadi tidak membawaku pergi aku ingin menjambak rambut nya sampai botak" Kesal elin


"Orang tidak penting hanya buang waktu berurusan dengan nya"

__ADS_1


"Jadi bagaimana jika dia serius ingin menghancurkan keluarga mu? " Tanya Elin khawatir namun malah mendapatkan tawa renyah dari Aleena.


"Hahaha aku khawatir dia tidak mampu menghancurkan keluarga ku" Ucap Aleena yang tidak bisa membayangkan jika Mia melakukan hal itu apakah dia masih bisa selamat dari papa dan kakaknya yang begitu kejam dan sombong.


__ADS_2