
"Kau yang tidak mengerti" Ucap Alister dengan lembut dia mencium bibir Elin, kemudian melepasnya "Apa sekarang kau sudah mengerti? " Alister memeluk Elin dengan pelukan yang sangat hangat "Jika kau tidak mau menerima ku karena luka di wajah mu, maka aku akan menghilangkan luka itu tanpa sisa, karena tidak ada hal apapun yang bisa membuatmu jauh dari ku, Elin kau adalah milik ku ingat itu" Alister mengecup kening Elin membuat Elin tidak bisa berkata-kata lagi.
Di balik pintu ada kakak yang lega karena melihat adiknya mendapatkan laki-laki yang tepat "Aku pikir kau sudah menyerah tapi" Erlan tersenyum puas karena pemandangan yang di lihatnya namun juga agak kesal karena Alister mencium adik tercintanya. "Tapi kau benar-benar mencari kesempatan dalam kesempitan untuk yang satu itu aku tidak akan melepaskan" Ucap Erlan yang ragu ingin membuka pintu yang sedikit dia buka, atau menutupnya kembali.
Elin menatap Alister yang juga masih menatapnya "Tuan Alister"
"Berhenti memanggilku Tuan, panggil aku sayang atau nama kesayangan lain juga boleh" Ucapan Alister itu membuat Elin tersipu malu sendiri.
"Ap.. apa yang kau katakan, aku tidak mungkin me.. memanggil mu sayang"
"Kenapa tidak mungkin? kau wanitaku sudah sepantasnya kau memanggil ku sayang"
"Kau tidak tahu malu si.. siapa yang wanita mu" Ucap Elin yang wajahnya masih memerah.
"Tentu saja kau, kalau memanggil sayang masih sulit boleh saja kau memanggilku Alister"
"Aku bukan wanita mu, dan lagi memanggilmu nama terdengar tidak sopan" Ucap Elin yang mengingat Alister mungkin saja malah lebih tua dari kakaknya.
Alister mengecup lagi bibir Elin singkat membuat Elin terkejut "Kau wanitaku, aku sudah menandainya" Alister memegang bibirnya dengan begitu menggoda.
Elin tak bisa lagi berkata, dia bingung di mana laki-laki berwibawa dan berkarisma yang dia temui pertama kali, kenapa sekarang orang itu berubah kekanak-kanakan.
"Kau!, beraninya mencari kesempatan dalam kesempitan terhadap adik ku, dasar om tua sialan! " Erlan akhirnya tidak kuat terus menonton kelicikan Alister mengambil kesempatan dari adiknya.
"Om tua? " Elin tertawa lirih mendengar kakaknya memanggil Alister dengan sebutan itu.
"Ha! om tua? siapa yang kau panggil om tua sialan" Alister tau betul siapa yang berada di belakang nya itu.
"Kau! beraninya mencari kesempatan pada adik ku! " Ucapan Erlan itu menginginkan Alister orang yang dia anggap menyebalkan itu adalah calon kakak iparnya.
"Aku tidak mencarinya! " Jawab Alister cari aman dan tiba-tiba tidak ingin mencari masalah dengan Erlan karena mempertimbangkan hubungan Erlan dengan Elin.
"Benarkah aku melihat mu mencium adik ku" Erlan melihat wajah adiknya yang sedang di tutupi karena malu.
__ADS_1
"Wah tidak sangka tuan Erlan adalah pengintip handal " Ucapan Alister itu membuat Erlan malu.
"Keluar kau jangan ganggu adik ku" Erlan mengusir paksa, mendorong Alister keluar dari ruangan Elin.
"Ak.. aku tidak mau keluar" Alister berusaha untuk melawan Erlan.
"Keluar atau aku tidak akan merestui kalian" Ucapan Erlan itu sangat ampuh untuk mengusir Alister keluar dari ruangan Elin.
Kini Erlan dan Elin tinggal berdua, Erlan mendekati adiknya yang wajahnya masih memerah namun tersirat ekspresi takut "Elin apa kau takut aku akan memarahi mu? " Ucap Erlan. "Jangan takut kakak tau kau juga sudah besar, hal seperti itu sudahlah wajar untuk pasangan tapi yang ingin kakak tanyakan apakah kau sudah menerimanya? "
Mendengar pertanyaan Erlan, Elin terdiam sejenak dan berfikir "Apakah aku pantas untuk nya? " Ucap Elin lirih hampir tak terdengar.
"kenapa bertanya seperti itu? "
"Kak jangan pura-pura bodoh kau tau lukaku ini akan meninggalkan bekas yang akan membuatnya malu"
"Elin, kau terlalu menganggap remeh orang yang mencintaimu itu, meski dia sedikit mesum tapi aku tau dia sangat tulus mencintaimu dan tidak perduli dengan bekas lukamu"
"Bodoh! bekas lukamu bukannya tidak bisa hilang, kau tenang saja kakak akan mencarikan dokter terbaik untuk mu, jadi jika kau menyukainya jangan lepaskan dia, tapi sebelum itu aku akan memberinya persyaratan untuk mendapatkan adik ku" Ucap Erlan tersenyum licik.
"Kak kau tidak berfikir aneh-aneh bukan? "
"Jangan khawatir tidak kok" Erlan masih tersenyum licik "Serahkan semua nya pada kakak mu ini, aku tentu saja hanya akan memberikan restu pada orang yang pantas untuk mu"
Elin tersenyum dia tau kakaknya bukan orang yang jahat jadi Elin hanya bisa percaya pada ucapan kakaknya itu.
*****
Aleena tidak berhasil membujuk Rocky untuk putar balik alhasil mereka sudah sampai di bandara, namun Aleena merajuk enggan turun dari mobil.
"Ayo turun" Ucap Rocky yang melepaskan sabuk pengaman nya.
"Tidak mau! om ayo kita pulang penerbangan dalam kondisi mu yang seperti ini benar-benar tidak baik" Ucap Aleena yang khawatir terhadap luka Rocky.
__ADS_1
"Tenang saja" Jawaban Rocky itu membuat Aleena malah tidak tenang
"Apa maksud mu aku bisa tenang, om batalkan penerbangan nya kita pulang bisa lain waktu saat luka mu benar-benar sembuh " Ucap Aleena.
"Ayo turun" Ucapan Aleena benar-benar tidak di dengar oleh Rocky, Rocky malah memaksa untuk membuka sabuk pengaman Aleena.
"Tidak mau, aku tidak mau turun" Ucap Aleena yang bersikukuh mempertahankan sabuk pengaman nya.
"Hmm, apa kau sedang mengujiku? " Rocky tanpa basa-basi langsung mencium bibir lembut Aleena, membuat Aleena enggan dan mendorong tubuh Rocky.
Rocky melepaskan ciumannya dan saat bersamaan Rocky berhasil melepasakan sabuk pengaman milik Aleena.
"Ayo turun" Ucap Rocky tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak mau" Ucap Aleena masih bersikukuh.
"Kau akan menyesal jika tidak turun"
"Tidak aku tidak akan menyesal" Ucap Aleena yakin kepada keputusan nya.
"Ya sudah kalau begitu aku akan turun, kau tetaplah di sini" Ucapan Rocky itu membuat Aleena dilema.
Apalagi Rocky segera keluar dari mobil membuat Aleena menatap Rocky dan berbicara pada diri nya 'Apakah om Rocky akan meninggalkan ku '
Rocky masih sengaja berdiri di samping pintu mobil dan benar saja Aleena turun karena melihat Rocky akan meninggalkan nya.
Rocky akan berjalan namun Aleena menghentikan nya dengan memegang tangannya "Om apa kau yakin? kita bisa pergi lain waktu "
"Tidak bisa" Jawab Rocky yang menggandeng balik Aleena, dan menarik tangan Aleena untuk mengikuti langkah kakinya.
Rocky membawa Aleena masuk ke dalam Bandara, Rocky seperti melihat sekeliling membuat Aleena mengernyitkan dahinya bingung.
"Di sana" Rocky menarik lagi tangan Aleena, Aleena tentu mengikuti Rocky saat Rocky berhenti wajah Aleena memperlihatkan ekspresi terkejut dan menatap Rocky.
__ADS_1