
"Kau harusnya melakukan itu dari tadi" Ucap teman Vano yang coba membersihkan luka Vano.
"Berisik! kau tau siapa laki-laki tadi? " Tanya Vano pada temannya.
"Tidak, tapi aku bisa mencari tahu, haruskah aku mencarinya?" Ucap teman Vano
"Hmmm cari tau jangan sampai ada yang terlewat"
"Kau sangat ingin tau tentangnya apa kau khawatir adikmu di tipu atau kau sangat perduli pada adik mu"
"Berisik lakukan saja apa yang aku minta" Ucap Vano yang terlihat masih kesal.
"Kau ini jika perduli padanya kenapa tidak melakukannya dari tadi sekarang peran pahlawan sudah di dapatkan laki-laki tadi kau ini benar-benar payah"
"Diam apa kau ingin mati! hah" Ucap Vano bertambah kesal karena ucapan temannya itu.
Di sisi lain "Tunggu, ak.. aku akan pamit terlebih dahulu kepada orang tuaku sebelum pergi" Ucap Disa.
"Aku temani" Ucap laki-laki itu membuat Disa terkejut
"Ha un.. untuk apa tidak perlu biar aku sendiri saja" Ucap Disa mencoba melepaskan gandengan tangan mereka.
Laki-laki itu tidak perduli pada perkataan Disa dan langsung menarik Disa ke tempat kedua orang tuannya berada.
"Hei hei lepaskan aku bisa berjalan sendiri! kau sangat aneh" Ucap Disa yang ingat terakhir kali mereka berdebat.
Laki-laki itu masih tidak menggubris Disa hingga membuat mereka berdua kini berada di depan kedua orang tua Disa.
"Disa, ini" Ucap mamanya.
__ADS_1
"Tuan Erlan kau datang, aku merasa terhormat karena Tuan erlan bisa memenuhi undangan ku" Ucap papa Disa membuat Disa terkejut karena papanya mengenal Erlan.
"Tentu saja tuan, saya tentu tidak akan melewatkan nya" Ucap Erlan sopan.
"Papa mengenalnya? " Bisik lirih mama Elin.
"Hahaha dia pemuda yang papa ceritakan ma dia baru saja membangun kembali perusahaan orang tuanya yang terancam bangkrut dia sangat hebat mengembangkan perusahaan yang hampir kolep hanya dalam dua hari dia benar-benar pemuda yang sangat hebat dan berbakat " Sanjung papa Disa yang membuat kedua wanita yang mendengar nya sama takjub nya dengan laki-laki muda nan tampan di hadapan mereka itu.
"Ah kau pemuda yang sangat hebat, Disa kau menemukan pacar yang tepat" Ucap mama Disa yang melihat mereka tak melepas tangan yang bergandengan dari tadi hingga berfikir mereka memiliki hubungan.
"Pa.. pacar" Disa menyadari mamanya salah paham karena tangan mereka yang masih saja bergandengan, Disa dengan cepat melepas tangan Erlan "Ma.. ma salah paham kami tidak memiliki hubungan seperti itu" Ucap Disa dengan panik dia tidak mau tuan pemarah yang ada di sampingnya itu berfikir yang tidak-tidak terhadapnya.
"Oh benarkah? sayang sekali" Ucap mama Elin yang seperti terlihat kecewa membuat Erlan merasa bangga dan tersenyum seperti mengejek ke arah Disa.
"Sayang sekali, aku pikir tuan Erlan yang hebat ini bisa menjadi menantuku" Imbuh papa Disa yang membuat Disa malu sendiri mendengar nya.
"Papa hentikan, aku disini hanya ingin pamit untuk pergi lebih dulu karena ada urusan yang harus aku urus"
"Maaf ya ma" Ucap Disa merasa tidak enak karena membohongi mamanya.
"Sudahlah kau bisa kerjakan urusan mu tapi jangan lupa malam ini kembali dan tidur di rumah apa kau mengerti" Ucap papa Disa.
"Tapi pa" Disa merasa tidak ingin bertemu kakaknya
"Tidak ada tapi-tapian kau pergi dengan tuan Erlan kan kalau begitu saya titip Disa tolong antar dengan selamat nantinya" Ucap papa Disa menunduk hormat pada Erlan.
"Baik Tuan Alberto, anda tidak perlu sungkan" Ucap Erlan yang tersenyum yang malah membuat Disa bergidik ngeri orang yang selalu berselisih dengannya tiba-tiba tersenyum membuatnya takut sendiri.
" Terimakasih, Disa ingat untuk pulang malam ini" Ucap papa Disa memperingati Disa lagi.
__ADS_1
"Baik pa" Disa hanya bisa pasrah.
Mereka akhirnya pergi dan Letty segera mendekat ke arah orang tua Disa tentu saja ikut pamit dan terus mengawasi ke duanya.
Di depan rumah Disa "Te.. terimakasih telah membantu ku" Ucap Disa sopan.
"Hanya seperti ini" Ucap Erlan menatap Disa.
"Ha lalu aku harus bagaimana, bukankah terimakasih sudah cukup" Ucap Disa yang masih kesal dengan ucapan Erlan terakhir kali saat di bandara.
"Tidakkah kau merasa bersalah karena membuatku tidak bisa makan malam" Ucap Erlan.
"Lalu apakah kau akan mengatai ku lagi bahwa aku pembawa sial karena membuatmu tidak bisa makan malam, kalau begitu ambil ini dan makan malam-lah" Ucap Disa yang tadinya masih terpukau dengan tindakan Erlan tapi seketika sirna saat Disa mengingat perkataan terkahir Erlan saat Di bandara. Disa memberikan uang tunai pada Erlan dan langsung pergi.
"Hei tunggu ma.. maksud ku bukan seperti ini" Ucap Erlan yang ingin mengejar Disa namun tiba-tiba Letty muncul.
"Tunggu jangan mengejarnya jika uangnya kurang aku bisa memberikannya padamu, aku berterimakasih untuk malam ini sudah melindungi nya tapi jangan dekati dia jika hanya kalimat menyakitkan yang bisa kau berikan padanya, ambil ini makan malam-lah dengan enak tuan Erlan" Ucap Letty yang ikut kesal jika teringat Disa waktu di bandara sampai menangis di buat Erlan.
"Tunggu kalian ini salah paham padaku" Ucap Erlan tentu saja tidak di dengar karena Disa dan Letty sudah meninggalkan Erlan sendirian.
Erlan mengusap kasar wajahnya dan menatap uang yang di berikan ke tangannya Erlan meremas nya "Sial, aku bahkan sudah melupakan hal itu, kenapa mereka harus mengingatnya bukankah hanya sebuah ucapan saja " Ucap Erlan yang merasa tidak ada yang perlu di masalahkan namun hatinya entah mengapa merasa sakit saat Disa tiba-tiba meninggalkan nya begitu saja "Apa aku benar-benar keterlaluan waktu itu" Ucap Erlan lagi yang tiba-tiba merasa bersalah.
****
Natan sudah selesai mandi dan mengganti bajunya, Natan baru keluar dari kamar dan terdengar suara ramai dari ruang makan membuat Natan merasa malu untuk melangkah ke sana "Apakah ada tamu, apa tidak apa jika aku ke sana? tidak-tidak bukankah lebih baik aku tidak ke sana haruskah aku kembali ke kamar" Ucap Natan yang ingin kembali berjalan ke arah kamarnya namun suara Robby menghentikan nya.
"Natan kau mau kemana? apa tidak mau sarapan? " Tanya Robby.
"Pa.. paman kau mengagetkan ku saja, aku pikir tuan dan ibu sedang memiliki tamu bukankah tidak sopan bila kita ikut makan bersama dengan mereka" Ucap Natan mengatakan apa yang dia khawatirkan.
__ADS_1
"Haha kau ini benar-benar anak yang baik, itu tidak masalah, nyonya Tina menyuruhku memanggilmu ada yang akan dia perkenalkan pada mu" Ucap Robby membuat Natan terdiam dan bertanya-tanya.