
Erlan berjalan mendekat ke arah Elin , Erlan duduk di kursi dan menatap Elin "Elin apakah kau mau menjalani operasi plastik? " Tanya Erlan dengan wajah serius.
Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Elin bingung begitu juga Alister yang terkejut dengan tergesa-gesa nya Erlan, sepertinya Erlan tidak berpikir panjang mengatakan itu.
Elin tertunduk lesu dia kemudian tersenyum senyuman yang sangat menyayat hati bukan senyuman kebahagiaan melainkan senyuman kesedihan yang membuat Erlan tersadar sepertinya pertanyaan nya telah menyakiti adik tersayangnya "Kak kau menanyakan itu apakah wajahku benar-benar seburuk itu hingga kau tergesa-gesa ingin aku melakukan operasi apakah kau sangat jijik dengan luka ini" Ucapan Elin itu di iringi oleh air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
Deg.. perasaan sakit seorang kakak kini di rasakan oleh Erlan "Ja.. jangan menangis kakak tidak bermaksud seperti itu Elin maafkan kakak" Ucap Erlan lemah dia mencoba mengusap air mata Elin, namun Elin memalingkan wajahnya dari sang kakak membuat Erlan merasa bersalah. "Kakak tidak bermaksud seperti itu Elin hanya saja kakak khawatir kau akan terpuruk" Ucap Erlan membuat Elin mengerti kekhawatiran kakaknya tapi kekhawatiran itu menyakiti hatinya.
"Kak, apakah aku harus benar-benar melakukan operasi dan merubah wajahku? " Pertanyaan itu membuat Erlan terdiam dia tau adiknya itu bahkan tidak pernah memakai make-up tebal dan Erlan tanpa berfikir panjang malah bertanya hal se sensitif itu.
"Aku-" Ucapan Erlan di potong Alister yang sudah tidak tahan melihat kekasih pujaan hatinya menangis seperti itu.
"Elin kau tidak perlu melakukan operasi" Ucapan Alister itu membuat Erlan dan Elin terkejut bersamaan.
Erlan menatap tajam Alister dia sudah susah payah bertanya dan ingin meyakinkan adiknya untuk melakukan operasi tapi malah Alister mengatakan hal yang bertolak belakang dengan ucapan Erlan.
"Apakah kau serius? tapi jika aku tidak melakukan operasi luka ini di masa depan pasti akan membuatmu malu, membuatmu tidak ingin membawaku dan memperkenalkan ku kepada orang-orang dan itu bisa membuat mu mencari wanita lain kalau seperti itu lebih baik kita tidak bersama sejak awa-" Alister berjalan cepat setelah Elin berbicara yang membuatnya tidak suka dan tanpa memikirkan ada calon kakak iparnya Alister membungkam mulut Elin dengan bibirnya membuat Erlan membulatkan matanya.
"Om tua sialan! " Ucap kesal Erlan dan segera memisahkan keduanya " Kau mencari kesempatan dalam kesempitan beraninya kau pak tua" Ucap Erlan yang rasanya ingin memukul bibir Alister itu. Sedangkan Elin hanya tertunduk dengan wajah yang memerah karena malu namun dia juga tidak tau kenapa merasa senang.
"He! apa aku melakukan hal yang salah aku hanya membungkam adikmu yang suka bicara sembarangan itu, apa dia pikir aku ini laki-laki murahan aku ini laki-laki setia" Ucap Alister yang bahkan tidak merasa salah sudah mencium Elin di depan kakaknya sendiri.
"Tapi apa yang aku ucapkan itu berdasarkan"
"Berdasarkan apa? berdasarkan intuisi yang tidak bertepi, jangan bicara sembarangan lagi, kau tidak perlu melakukan operasi jika kau tidak mau, aku sudah memesan dokter hebat beserta gurunya yang akan mengobati luka mu jangan khawatir, percayalah padaku" Ucap. Alister yang tanpa sungkan memeluk Elin di depan Erlan.
"Kau ini " Erlan ingin marah karena sikap Alister yang tidak memandangnya ada tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa karena merasa bahagia dengan ucapan Alister "Sudahlah aku merasa seperti nyamuk berada di sini, aku akan pergi tapi ingat Om tua jangan macam-macam " Erlan menatap tajam memperingati Alister.
__ADS_1
"Tidak akan paling hanya tiga macam"
"Om tua kau! " Erlan semakin meradang di buat Alister.
"Tidak akan aku hanya bercanda aku akan menjaganya dengan baik" Ucap Alister dengan tatapan mata yang serius membuat Erlan tidak bisa berkata-kata lagi dan langsung saja pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Erlan keluar Elin menatap Alister "Apa yang kau ucapkan itu apakah benar" Elin memastikan lagi apa yang dia dengar.
"Tentu saja, jangan khawatir tapi dokter dan gurunya ini bayaran nya sangat mahal " Ucap Alister.
"Benarkah ka.. kalau begitu biar aku saja yang membayarnya" Ucap Elin yang berfikir mungkin Tabungannya tidak akan cukup.
"Uang suamimu ini tidak akan berkurang untuk membayar mereka tapi apa aku akan mendapatkan hadiah jika aku membayar nya" Ucap Alister itu terlalu berbelit padahal dia hanya ingin mendapatkan sesuatu dari Elin.
"Hadiah? hadiah apa yang kau mau? " Tanya Elin.
Alister mendekatkan wajahnya ke telinga Elin dan berbisik "Aku mau kau membungkus dirimu untuk menjadi hadiah ku" Ucapan itu membuat wajah elin memerah bak tomat matang.
"Ha beraninya kau mengatakan itu, aku harus menghukum mu" Alister kembali mencium Elin kali ini ciumannya sangat lembut dan intens.
****
Setelah Rocky,Arion, Aleena Andreas dan nenek angel makan bersama mereka mengobrol sejenak sampai Arion menyuruh Nenek angel dan Andreas beristirahat dulu karena bagaimanapun mereka pasti lelah.
"Kalau begitu kami pergi dulu nek, besok kita bertemu lagi" Ucap Arion.
"Kau juga segera istirahat setelah sampai di apartemen Rocky, Rocky jaga Arion, Arion kau juga harus menjaga Rocky" Pesan nenek Angel
__ADS_1
"Nenek apakah aku tidak perlu di jaga " Ucap Aleena yang merasa cemburu dengan perhatian angel pada Arion dan Rocky.
"Haha tanpa di minta Rocky dan Arion pasti akan menjagamu anak manja" Nenek Angel memeluk Aleena dan mencium kening Aleena.
Setelah mereka selesai berbicara Rocky sudah duduk di belakang kursi pengemudi dengan Arion berada di sampingnya "Nah Arion apa kau tidak berniat membuka kamar hotel saja bersama Andreas dan nenek? " Tanya Rocky yang sebenarnya dalam hati ingin mengusir perlahan Arion agar tidak menginap di apartemen nya.
"Tidak! " Ucap Arion dingin dengan wajah datarnya.
"Hah! sudahlah" Rocky menghela nafasnya dia tau kalau itu akan gagal Alhasil Rocky hanya diam sepanjang jalan sampai mobilnya sudah memasuki area parkir apartemen nya.
Rocky, Arion dan Aleena kini sudah berada dia apartemen Rocky, Arion menganggukkan kepalanya "Bukankah apartemen mu ini terlalu kecil" Ucap Arion meremehkan
"Berisik kau bisa tinggal di luar jika tidak mau tinggal di apartemen kecil ku" Ucap Rocky yang kesal dengan lidah pait Arion itu.
"Di mana kamarku? " Tanya Arion.
"Kau bisa tidur di kamarku" Ucap Rocky
"Baiklah, di mana kamarmu? " Rocky menunjuk ke arah kamarnya.
Arion seger pergi dan bersiap untuk membersihkan dirinya, saat Arion sudah masuk kamar Rocky.
Rocky segera menyenderkan kepalanya di bahu Aleena "Kau terlihat sangat lelah om? " Tanya Aleena.
"Hem aku sangat lelah aku butuh vitamin" Ucap Rocky yang masih meletakkan kepalanya di bahu Aleena.
"vitamin apa? " Tanya Aleena, mendengar pertanyaan Aleena Rocky langsung mengangkat kepalanya tangannya meraih wajah Aleena untuk menatapnya perlahan lahan wajah mereka saling mendekat namun tiba-tiba Arion kembali membuka pintu membuat Rocky dan Aleena saling memalingkan wajah Rocky melepaskan tangannya dari wajah Aleena.
__ADS_1
"Di mana sikat gigi baru untuk ku! " Ucap Arion tanpa rasa bersalah menganggu adegan romantis antara Rocky dan Aleena.
Rocky menghela nafasnya 'Aku punya firasat buruk tentang ini' Menatap Arion yang berada di depan pintu kamarnya.