
Erlan memilih pergi untuk mencari minum, dia kini berdiri depan mesin minuman dingin dia membeli cola untuk menenangkan dirinya.
Dia duduk dan meminum colanya " Mencari pasangan kah, apa aku bisa mendapatkan yang seperti mu" Tiba-tiba Erlan teringat Aleena namun tak lama Disa melintas dalam pikiran nya "Tunggu dulu apa yang aku pikirkan"
Erlan segera mengusap wajahnya kasar dan menenggak habis minuman di kaleng nya, Erlan mencoba berfikir jernih dan segera kembali ke pada rombongan adiknya yang seperti nya pesawat nya akan segera berangkat.
Erlan beranjak dari duduknya dan merasa menginjak dan menghancurkan sesuatu di kakinya, Erlan melihat sebuah kalung yang liontin nya sudah patah karena terinjak kakinya bahkan patahan nya mengenai kaki sebelahnya. "Apa ini? " Erlan mengambil kalung itu "Hmm" Erlan menemukan sebelah liontin yang patah dan menyatukannya. "D, Disa hah apa yang aku katakan siapa Disa hah apakah aku sudah tidak waras" Ucap Erlan setelah melihat liontin kalung berbentuk huruf D itu.
Erlan segera menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya, dia segera bergegas kembali pada rombongan adiknya tanpa membuang kalung itu, dia langsung memasukannya ke dalam kantungnya.
Erlan akhirnya bertemu dengan Elin dan Alister yang sedang menunggu mereka sebelum bersiap untuk masuk sedangkan dokter Andreas dan nenek Angel sudah berada dalam pesawat.
"Kak, aku mengkhawatirkan mu aku pikir kau akan marah dan tidak kembali untuk menemui ku sebelum aku masuk" Ucap Elin yang segera memeluk kakaknya saat dia sudah berada di dekatnya.
"Bodoh kakak mana mungkin bisa marah dengan mu " Ucap Erlan mengacak rambut adiknya itu. "Hei kau om tua mesum jaga adik ku jangan sampai kau menyentuhnya sebelum aku menyaksikan kau menghalalkannya! "
"Aku tidak bisa aku perlu sentuhannya tapi aku akan menjamin satu hal aku akan memberikan kau keponakan setelah sah" Jawab Alister tanpa tahu malu.
"Kau ini benar-benar mesum, mendengar mu berbicara membuatku menyesal membiarkan mu bersama adik ku"
"Jangan begitu kakak ipar, jangan menelan ludah sendiri itu menjijikan" Ucap Alister menyindir Erlan.
"Aku benar-benar kesal mendengar kau berbicara, nah Elin jaga kesehatan mu aku jangan lupa memberikan kabar setelah kau sampai, kau mengerti"
"Tentu saja kak, itu pasti" Ucap Elin mengangguk dan tersenyum.
Akhirnya Erlan di tinggal lepas landas oleh pesawat yang di naiki adiknya, Erlan tidak melepaskan pandangan matanya dan berdoa untuk keberhasilan pengobatan adiknya dan juga hubungan adiknya "Semoga kau baik-baik saja Elin" Ucap Erlan.
*****
"Ak.. aku tau paman aku sangat bersyukur tentang memiliki keluarga seperti kalian tapi aku sebenarnya hanya orang luar tapi kali ini berbeda paman, izinkan aku menikahi putri mu dan membuat tante menganggap ku sebagai menantu apa itu tidak boleh" Jawabnya Rocky itu membuat Rayyan sedikit menyeringai membuat Rocky benar-benar tidak bisa mengartikan tentang itu apakah Rayyan setuju atau tidak dengan perkataannya.
"Kau sangat berani mengatakan itu, apa kau yakin kami akan menerima mu sebagai menantu? " Rayyan memberikan tatapan tajam pada Rocky.
__ADS_1
"Paman aku memang tidak layak untuk Aleena tapi aku berusaha menjadi pantas untuk nya, dan tentu saja aku berharap paman dan tante akan menerimaku sebagai anak laki-laki ketiga kalian" Ucap Rocky yang berusaha membuat dirinya tenang.
"Heh kau pandai sekali berbicara setelah sekian lama tidak bertemu" Ucap Rayyan.
"Aku tidak hanya berbicara omong kosong saja paman aku akan membuktikan nya" Ucap Rocky.
"Dengan cara apa kau membuktikan nya" Menatap Rocky dengan tatapan menunggu jawaban yang memuaskan dari rocky.
Rocky terdiam sejenak dia sendiri belum memutuskan bagaimana caranya dia agar layak untuk Aleena.
"Kau seperti nya tidak tau ingin melakukan apa? apa kau berencana kembali menjadi orang kedua di bawah Arion"
"Tentu saja tidak paman"
"Lalu apa yang ingin kau lakukan menjadi bartender saja apakah bisa menghidupi anak ku" Ucap Rayyan sedikit keras.
"Tentu saja aku bisa menghidupi nya meski hanya menjadi seorang bartender"
"Tentu saja" Ucap Rocky yakin.
"Baiklah kalau begitu, ambil ini" Rayyan memberikan dokumen kepada Rocky.
"Apa ini paman? " Tanya Rocky yang menerima dokumen itu dan mulai membukanya
"Kau bisa membacanya sendiri" Ucap Rayyan kembali menenggak minuman di gelasnya.
Rocky membulatkan matanya saat membaca beberapa lembar dokumen itu "Paman apa maksudnya ini"
"Kau tidak perlu pura-pura bodoh Rocky, ini adalah syarat untuk mu bisa mendapatkan putriku, aku tentu tidak mau putriku bersama orang biasa" Ucap Rayyan yang menyeringai ternyata ucapan bertele-tele itu hanya sebuah pancingan untuk Rayyan mendapatkan keuntungan, benar-benar jiwa bisnis yang melekat sekaligus papa yang peduli masa depan putrinya.
"Paman serius, jika aku tidak bisa melakukannya? "
"Kau akan tau akibatnya, aku bisa menjodohkan Aleena dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Braakkkkk tiba-tiba saja pintu di buka, " Tidak mau, papa aku tidak akan menikah jika bukan dengan om Rocky " Ucap Aleena yang tiba-tiba menerobos masuk tanpa permisi.
Rayyan melirik putri nya itu "He, itu tentu saja tergantung dengan hasil yang di dapat Rocky, jika dia tidak berhasil tentu saja restu ini hanya ilusi untuk nya"
"Papa kau tidak boleh seperti ini, kami saling mencintai papa apa kau tidak terlalu keras pada om Rocky"
"Tidak! identitas biasa tidak bisa membawa putriku pergi dari papanya"
"Tapi pa, om Rocky juga tuan muda kedua keluarga Mars dia sangat pantas untuk ku"
"Heh, di mana tuan muda itu sekarang bukankah sudah menghilang belasan tahun lalu "
"Papa jangan begitu, pokoknya Aleena cuma mau sama om Rocky"
"Bagus papa juga mau Rocky jadi mantu papa tapi dengan syarat yang papa ajukan, sekarang kalian boleh pergi"
"Tidak papa kenapa harus menggunakan syarat, tidak perlu ada syarat bukan pa" Rocky menyentuh bahu Aleena.
"Tidak masalah ale, aku akan melakukannya untuk mu" Rocky menatap Aleena.
"Om" Ucap Aleena meluluh melihat pandangan mata Rocky.
"Kalau begitu kami permisi dulu om" Ucap Rocky.
"Oh iya Rocky jangan lupa batas waktu yang aku tentukan, kau boleh pergi" Ucap Rayyan.
"Baik paman, aku mengerti" Rocky langsung saja pergi dan menggandeng kekasihnya itu.
Rayyan menghela nafasnya "Aku yakin kau pasti bisa" Ucap Rayyan setelah melihat Rocky dan Aleena keluar dari ruangannya.
Aleena dan Rocky kini sudah berada di taman belakang rumah Aleena, Aleena menatap Rocky yang tak kunjung bicara dengan berkas di tangannya.
"Jadi syarat apa yang papa ajukan? " Tanya Aleena yang ingin mengambil berkas di tangan Rocky.
__ADS_1