
"Bodoh! aku ini kakakmu biar aku saja yang memikirkan semuanya, aku berjanji tidak akan membiarkan pak tua itu menikahkan mu sebelum kau menjadi dokter hebat" Erlan memeluk adiknya penuh kasih sayang, elin hanya bisa membalas pelukan kakaknya.
Mendengar kata-kata sang kakak, Elin tidak bisa membendung Air matanya, pakaian Erlan basah karena air mata Elin. "Jangan menangis lagi, untuk apa kau menangis Elin, air matamu tidak pantas jatuh karena pak tua itu".
Elin menggelengkan kepalanya berkali-kali " Aku.. aku tidak ingin menyusahkan kakak " Ada ke khawatiran di hati Elin, meski dia tidak tau dengan detail kenapa kakaknya itu sangat membenci papa dan mamanya tapi Elin sangat menyayangi Erlan.
"Menyusahkan apa? ini yang lebih menyusahkan" Erlan mendorong pelan tubuh Elin dan memperlihatkan air mata dan sedikit ingus yang bertengger di pakaian Erlan.
Elin menggembungkan pipinya "Kalau begitu lepas biar aku mencucinya" Ucap Elin masih sembari cemberut karena di ledek oleh kakaknya itu
"Tidak perlu, aku akan mengganti bajuku di mobil, aku juga harus pulang kau istirahat saja, tidur dengan nyenyak jangan terlalu banyak berfikir, serahkan semuanya padaku, tugasmu hanya menjadi dokter handal ok" Erlangga mengusap pucuk kepala adik nya itu.
Elin mengangguk dan tersenyum, Elin harus menguatkan dirinya tidak boleh membuat kakaknya khawatir "Siap bos" Elin menggenggam tangan kakaknya yang ada di pucuk kepalanya.
"Cepatlah istirahat, aku harus segera mengganti bajuku atau akan ada pulau di pakaian ku" Ledek Erlan lagi, membuat Elin sengaja mengambil pakaian Erlan dan membuang ingus nya yang tersisa di sana.
"Hei kau! bagaimana ada calon dokter sejorok kau ini, huh" ucap Erlan.
"Biarkan saja wle, sana pergi sana sana" Elin segera mendorong kakaknya keluar dari pintu saat dia mendengar langkah kaki, dia tau itu mungkin papa atau Mama nya orang yang membuat Erlan tidak nyaman, elin sudah cukup melihat Erlan terdesak untuk hari ini.
"Baiklah-baiklah sudah cukup mendorongnya, aku sudah ada di luar sekarang, kau segala masuk, malam sudah semakin larut " Sekarang gantian Erlan yang mendorong Elin masuk dan menutup pintunya
__ADS_1
Erlan berjalan ke mobilnya dan melepaskan kemejanya dan mengganti pakaian nya dan mengambil pakaian yang ada di mobilnya. "Dasar adik nakal" Ucap Erlan setelah mengganti pakaian nya.
"Dia masih sangat kecil tidak akan ku biarkan pak tua itu menghancurkan masa depannya" Erlan terdiam sejenak dengan tangan memegang setir matanya menatap ke depan, dia tengah berfikir cara apa yang bisa dia lakukan untuk membebaskan adiknya dari paksaan sebuah pernikahan dan juga cara agar dia tidak masuk ke perusahaan papanya itu.
Namun pikiran Erlan saat ini bercampur aduk, ada juga pikiran untuk menyelamatkan perusahaan yang di rintis oleh mama kandung nya itu, tapi dia tidak sudi menyelamatkan papa yang selalu dia anggap sebagai pembunuh Mama nya. "Aaaaaakkkhhhhhhh, Tuhan kau benar-benar menguji ku" Erlan mengacak rambutnya kasar.
Erlan mengatur nafasnya, dan memilih untuk menghidupkan mobilnya dan segera pergi dari rumah mewah itu. Erlan saat ini benar-benar ingin segera membaringkan badannya di kasur empuknya.
Aleena terus memikirkan hal hal yang baru saja terjadi, bagaimana Rocky memperlakukan nya dengan lembut namun tiba-tiba perlakuan yang berubah saat menyangkut nama Silvia "Apakah bukan aku yang bisa menyembuhkan belenggu masa lalu mu Om?."
Aleena terus berjalan tanpa memikirkan arah "Silvia? Silvia? apakah dia ada sangkutannya dengan masa lalu om Rocky? tidak-tidak bukankah kak Arion bercerita orang yang mengikat Om Rocky sudah meninggal? " Aleena terus berdialog dengan dirinya sendiri.
Sampai langkahnya terhenti "Tunggu dulu, akhirnya aku mengingat sesuatu, Silvia bukankah wanita yang ada di masa lalu om Rocky juga memiliki nama yang sama, ah pantas saja om Rocky seperti terikat dengan Silvia".
Aleena melihat sekeliling dia benar-benar tidak tau dia berjalan ke arah mana?, " Ini di mana? apakah jalan di dekat rumah sakit? " Aleena melihat kebelakang seperti nya dia sudah berada jauh dari rumah sakit.
"Tunggu dulu aku di mana sekarang " Aleena melihat sekeliling dan tidak tau dia berada di mana, dia di bawa ke daerah itu oleh Rocky dia tentu beluk terlalu hafal setiap sudut jalan bagaimana pun dia hanya pendatang baru beberapa bulan saja.
Aleena terlihat panik dia melihat handphone nya dan melihat dia sedang di mana sekarang, namun seketika handphone nya mati "Gawat gawat jangan-jangan mati dulu oh tidak? " Ucap Aleena panik saat layar handphone nya tak lagi menyala karena handphone nya kehabisan batrai.
"Jangan panik Aleena jangan panik tenanglah tenang, lebih baik aku kembali ke rumah sakit, bukannya aku hanya berjalan lurus" Ucap Aleena pada dirinya sendiri, dia akhirnya memutuskan untuk putar balik dan berjalan kembali.
__ADS_1
Aleena terus berjalan, kali ini dia melihat jalan dengan seksama agar dia tidak melewatkan rumah sakit tempat Natan di rawat. "Aku yakin sebentar lagi juga sampai, aku tidak mungkin berjalan jauh bukan, pasti sebentar lagi rumah sakit nya pasti terlihat" Aleena menyemangati dirinya sendiri, dia terus berjalan tapi dia merasa tidak sampai sampai.
"Tidak mungkin aku berjalan jauhkan? " Aleena bertanya pada dirinya sendiri dia terus berjalan bahkan kendaraan tak banyak yang lewat.
Aleena masih terus berjalan dan mengamati jalan yang dia lewati sampai akhirnya ada sebuah mobil yang melewati nya tapi tiba-tiba berhenti.
Aleena terus berjalan sampai tangannya di tarik "Apa yang kau lakukan di sini? nona pencuri? " Suara dan panggilan itu sangat familiar untuk Aleena dia tau siapa yang sedang memegang tangannya itu.
"Kau tuan penadah, lepaskan aku apa yang kau lakukan di sini? " Aleena malah ikut bertanya.
"Kau ini kenapa pertanyaan ku kau jawab dengan pertanyaan!, aku di sini tentu saja karena aku melihat m-" Ucapan Erlan terhenti.
"Melihat apa? apa kau berhenti karena melihat ku? " Pernyataan Aleena benar-benar telat sasaran tapi bukan laki-laki namanya kalau langsung mengatakan Iya.
"Aku berhenti karena melihat kucing kecil yang malang" Ucapan Erlan.
"Di mana? kucing kecil itu? " Tanya Aleena sembari melihat kiri kanan mencapai kucing kecil yang Erlan katakan.
Erlan tersenyum melihat tingkah Aleena yang kebingungan sekaligus penasaran mencari kucing kecil yang Erlan maksud "Kau bertanya di mana kucingnya? "
Aleena mengangguk "Iya di mana? " Tanya Aleena dengan tatapan penasaran.
__ADS_1
"Di sini, ini adalah kucing kecil pencuri yang malang" Erlan menunjuk tepat di kening Aleena.
"Sialan, aku bukan kucing kecil huh menyebalkan! " Aleena menarik tangan Erlan yang menunjuknya, karena kesal dia ingin menggigit jari telunjuk Erlan namun tiba-tiba tubuhnya langsung di tarik mundur dengan Aleena yang masih menggenggam jari telunjuk Erlan.