
"Om juga harus berjanji" Ucap Aleena.
"Berjanji? untuk apa? " Tanya Rocky yang masih saling tatap dengan Aleena.
"Untuk melupakan semua tentang masa lalu mu, jika kau melakukan nya aku akan melakukan apa yang kau mau om, apakah kau bersedia om? "
"Aleena ak-" Rocky merasa ragu untuk melanjutkan kata-katanya, membuat Aleena mulai menundukkan wajahnya tidak lagi menatap ke arah Rocky.
"Cukup, aku tau jawabannya, om apa kau masih ingat aku masih memiliki satu permintaan, jika sebuah janji tidak bisa mengikat mu, aku ingin permintaan ku ini bisa. aku minta kau melangkah dari masa lalu mu! " Ucap Aleena, dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Rocky yang masih termenung.
"Aleena tidak bisakah kau meminta yang lain" Tanya Rocky yang menatap punggung Aleena.
Aleena berhenti sejenak "Apa? aku hanya berharap om Rocky ku yang dulu! " Aleena langsung pergi masuk ke dalam kamarnya dia mengunci kamarnya "Om apa aku tidak cukup untuk mu? " Aleena segera membaringkan tubuhnya di ranjang empuknya menatap langit-langit tanpa sadar air matanya mengalir "Kak Olivia aku ingin menyerah! " Aleena menutup matanya perlahan.
Rocky masih berdiri mematung dia masih menatap pintu yang tak akan mungkin dia buka paksa, namun dia ingin memeluk Aleena dan meminta maaf. "Melupakan masa lalu? Silvia? " Rocky menghela nafasnya, sepertinya permintaan Aleena itu terlalu berat untuk nya.
Erlan sudah sampai di apartemen nya, dia mengambil segelas air putih dan berjalan ke kamarnya dia bersiap di depan komputer nya, malam ini seperti nya dia akan mencari tau tentang seseorang.
Erlan segera bekerja di depan komputer nya dia sudah lama tidak menggerakkan jarinya sendiri, Erlan segera mencari tau tentang Kondisi perusahaan ayahnya.
Dia menatap cukup lama layar komputer nya "Apa dia bodoh? bagaimana dia bisa di tipu sebanyak ini? " Ucap Erlan, dia segera mencari tahu perusahaan mana yang menipu Ayahnya.
Erlan terus mengotak-atik komputer nya tak, tak! suara itu terdengar sangat nyaring, Erlan menekan dengan keras keyboard nya dia seperti nya sedang memperbesar gambar, Erlan menemukan sesuatu "Dia! beraninya menyentuh perusahaan ibuku! " Erlan mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Apakah kekuasaan dan keserakahan membuat pertemanan bisa sehancur ini! " Ucap Erlan yang tau betul siapa yang menyentuh perusahaan keluarga nya itu.
Erlan sudah cukup melihat siapa musuh perusahaan ayahnya sekarang dia ingin mencari tahu perusahaan mana yabg terakhir berhubungan dengan ayahnya, dan bisa jadi pemiliknya ini yang akan di jodohkan dengan adiknya.
Erlan mengutak-atik ada beberapa perusahaan luar negeri yang baru-baru ini ayahnya hubungi, namun satu perusahaan tidak lah hebat, erlan yakin bukan perusahaan ini yang akan jadi target ayahnya.
Erlan terus berusaha mencoba untuk mendapatkan data pemilik perusahaan yang dia rasa akan menjadi target sang ayah "Keamanan nya sangat baik aku sama sekali tidak bisa menyelidiki pemiliknya, apakah pemiliknya sudah tua! jika benar haruskah aku kembali ke perusahaan, tapi apa yang bisa aku lakukan di perusahaan! mengucurkan dana? aaakk hhh hhh hhh aku benar-benar tidak ingin berurusan dengan yang seperti ini! tapi Elin? " Erlan memang dari awal tidak tertarik dalam dunia bisnis yang terlalu mengikat, dia lebih berjiwa bebas.
"Kerugian nya cukup besar, aku bisa mengucurkan dana untuk perusahaan nya, tapi aku tidak rela membantu seorang pembunuh! sialan!! akhhhh hhh" Erlan mengacak rambutnya kasar.
Di satu sisi Erlan ingin membantu Elin agar tidak menikah karena sebuah aliansi, namun di satu sisi erlan tidak mau membantu ayah yang selalu dia anggap sebagai alasan ibunya meninggal. Erlan benar-benar di landa dilema, apalagi setelah dia tau dia tidak bisa melacak nama pemilik perusahaan itu membuatnya khawatir jangan-jangan laki-laki yang akan di jodohkan dengan Elin adalah laki-laki beristri dan Elin akan menjadi predikat selir saja alian selingkuhan tanpa status yang jelas.
Erlan menyandarkan tubuhnya di kursi dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa sekarang, satu sisi ada adik yang sangat dia sayang satu sisi ada ayah yang sangat dia benci.
Natan ingin melepaskan infus dan pergi meninggalkan rumah sakit untuk bertemu dengan ibu dan adiknya, dia juga harus menemukan kartu yang Rocky berikan.
Natan bersiap untuk menarik infus dari tangannya namun Letty tiba-tiba menahan tangan Natan "Apa yang kau lakukan Natan?" Ucap Letty menatap Natan.
"Aku harus pergi! " Ucap Natan yang akhirnya berbicara.
"Apa kau gila kau baru saja melewati masa kritis mu, tubuhmu lemah tak berdaya, kau bahkan kesulitan untuk bernafas! kau tidak boleh pergi! "
"Ya benar bos aku sudah gila! tapi berdiam diri di sini berarti keluarga ku yang akan mati! " Teriak Natan, Natan tidak bisa membayangkan jika dia terlalu lama di rumah sakit bagaimana dengan keluarga nya apa lagi adik perempuan nya.
__ADS_1
"Tenanglah Natan! katakan apa yang membuatmu sekhawatir ini! apa itu tentang keluarga mu? " Tanya Letty yang membuat Natan menatap Letty.
"Ba.. bagaimana kau tau? " Tanya Natan
"Tadi waktu aku membeli minum, aku bertemu dengan Rocky dia memberikan kartu ini padaku! dia bilang kau sangat membutuhkan nya, aku sudah meminta disa untuk mencari tau tentang keluarga mu"
"Lalu bagaimana keadaan mereka? " Tanya Natan.
"Disa sudah di sana dia juga sudah membeli rumah baru di desa sebelah, rumahnya cukup bagus, dan tentang hutang ayahmu aku sudah membantumu melunasi nya"
"Bos apa aku tidak salah dengar bos? ka.. kau sangat bermurah hati ak.. aku akan melunasi hutangku padamu bos, te.. terimakasih"
"Natan akulah yang berhutang padamu, terimakasih sudah menyelamatkan ku, kau hanya berhutang uang sedangkan aku berhutang nyawa padamu, uang tidak bisa membalas hutangku padamu" Letty tak sadar menangis menatap keadaan Natan yang begitu parah.
"Bos ja.. jangan menangis, kita impas ok. " Natan ingin mengusap kepala Letty namun Natan tidak memiliki keberanian dia menarik kembali tangan yang ingin menjulur itu.
Letty terus menangis dia menyembunyikan wajahnya di ranjang rumah sakit, dia menundukkan kepalanya.
"Bos tenanglah aku baik-baik saja, dan lagi kau sudah membantuku, kau tidak berhutang apapun bos" Natan merasa tidak enak hati.
"Natan taukah kau aku sangat takut, aku benar-benar takut saat melihat mu bertahan dengan serangan itu, Natan apa kau bodoh bagaimana bisa kau melakukan itu hanya untuk menolong ku" Letty menatap Natan dengan wajah yang penuh dengan air mata.
"Aku melakukan itu karena ak-"
__ADS_1