
Sore menjelang malam Alister masih setia menemani Elin dengan berbincang dan bercanda gurau.
"Elin aku akan pulang untuk membersihkan diri dulu aku akan kembali nanti malam apa kau keberatan? " Tanya Alister.
Elin dengan tersenyum menjawab pertanyaan Alister " Tidak sama sekali"
"Apa kau tidak merindukan ku jika aku tidak di sini" Ucapan Alister itu membuat Elin bingung bukannya dia yang ingin pamit pulang namun kenapa sekarang dia yang malah merasa sedih sendiri.
"Ha, bukankah kau akan kembali nanti malam" Jawab Elin.
"Benar, tapi apa kau tidak merasa kalau sedetik terasa satu tahun jika tidak berasa di dekatmu"
Elin tertawa dan menggelengkan kepalanya dia heran kemana hilangnya sifat dewasa yang di miliki Alister kenapa dia tiba-tiba berubah seperti anak kecil yang enggan di tinggal ibunya "Sejak kapan tuan Alister yang begitu bijak sana bisa bersikap begitu kekanak-kanakan" Elin memeluk Alister dan berbisik "Pergilah aku akan setia menunggu tuan Alister sayang di sini" Ucapan Elin itu membuat Alister tersipu malu dan juga sangat senang.
"baiklah kalau begitu aku pergi sebentar ok" Ucap Alister yang mengecup pucuk kepala Elin .
Alister kemudian keluar dari ruangan Elin, di depan Erlan dengan setia menunggu adiknya " Erlan aku titip Elin, aku harus pergi sebentar" Ucapan Alister itu membuat Erlan kesal.
"Ha! bisa-bisa nya om tua kau mengatakan itu dia adik ku tentu aku akan menjaganya dengan baik kau tidak perlu menitipkan nya, sialan! "
"Hahaha bagus kalau begitu" Alister malah tertawa Alister seperti nya mulai terbiasa dengan Erlan dan lebih bisa rileks bersikap dengannya. Alister menepuk pundak Erlan dan kemudian pergi.
"Apa dia gila" Ucap Erlan menggelengkan kepalanya sembari melihat punggung Alister yang mulai menjauh.
Alister sudah mengemudikan mobilnya dia tidak kembali ke apartemen nya melainkan dia pergi ke hotel.
Alister memarkirkan mobilnya dan masuk ke restoran hotel di sana sudah ada satu orang yang menunggu Alister.
"Apa kau menunggu lama? " Tanya Alister
"Tidak aku baru datang" Ucap laki-laki yang berada di depan Alister itu. "Jadi apa kau membawa apa yang ku minta? "
"Hmm aku sudah membawa salinannya, Andreas apakah dia akan sembuh tanpa operasi? " Tanya Alister yang sebenarnya cemas jika janjinya pada Elin tidak bisa dia tepati.
__ADS_1
"Aku akan melihat rekam medis nya, meneliti semuanya dalam setiap aspek dan juga seberapa parah lukanya itu" jawab Andreas laki-laki yang sedang berbicara dengan Alister.
"Aku hanya bisa bergantung kepadamu dan nenek lakukan apapun adalah bisa menyembuhkannya tanpa operasi " Ucap Alister.
"Gadis mu ini sangat langka biasanya semua wanita ingin melakukan operasi plastik agar mempercantik dirinya tapi kenapa dia tidak mau, apa lagi ini bukan operasi di sengaja"
"Dia seorang mahasiswa kedokteran dia mungkin memiliki pertimbangan sendiri"
Andreas mengangguk "Aku mengerti, gadis yang sederhana harus di jaga baik-baik" Jawab Andreas yang langsung mendapatkan anggukan dari Alister.
"Tentu saja" Jawab mantap Alister.
****
Mendengar kakaknya yang terlihat marah dengan Rocky, Aleena segera menggunakan langkah seribu untuk kabur namun malangnya arah kamarnya dan kamar Rocky bersebelahan dia harus melewati kakaknya dulu.
Aleena berusaha berjalan pelan dari belakang kakaknya namun Arion itu sangat peka dia langsung berbalik dan menatap adiknya "Apa yang kalian berdua lakukan " Pertanyaan Arion itu membuat Aleena ketakutan dan Dilema.
Aleena segera masuk ke dalam kamarnya dengan cepat agar tidak di interogasi dengan kakaknya, Arion yang menyadari Aleena telah kabur hanya bisa menghela nafasnya "Kalian memang couple yang menyebalkan" Keluh Arion yang hanya bisa diam untuk membalas.
"Huh, untung saja aku bisa kabur dari kakak, tapi bagaimana dengan makan malam nanti, tunggu" Aleena segera berlari ke arah cermin di kamarnya dia memeriksa lehernya apakah ada tanda di sana, Aleena mengeceknya dengan teliti. "Tidak ada " Ucapan Aleena setelah memastikannya berkali kali "Syukurlah " Ucap Aleena lagi dan langsung bersiap untuk membersihkan diri.
Rocky sudah selesai membersihkan dirinya dia kemudian keluar dia melihat Arion sudah menatapnya dari kejauhan tatapan mata Arion bak ingin menusuk Rocky sekarang juga.
"Jangan menatapku seperti itu" Ucap Rocky yang berusaha untuk tetap tenang meskipun dia sendiri sedang merasa terancam.
"Kalau begitu jelaskan padaku"
"Ayolah Arion kau pun pernah dalam posisiku sekarang bukan"
"Tidak! Rocky ingat Aleena itu masih kecil jangan sampai kau bertindak dengan naluri hewan mu"
"Sialan apa kau menyamakan aku dengan serigala"
__ADS_1
"Tidak jauh berbeda kau di mataku sekarang seperti serigala kelaparan"
"Ha! apa-apaan itu siapa yang serigala, aku tidak akan melakukan di luar batas wajar" Ucap Rocky dengan wajah nya yang di buat begitu serius.
"Bagus! jika terjadi sesuatu pada Aleena ingat tiga laki-laki hebat di belakang nya" Ucapan Arion itu seperti ancaman namun juga bisa di bilang seperti peringatan, Rocky sadar jika dong bertindak ceroboh tentu dia tidak akan selamat hidup di dunia ini.
"Ak.. aku tau" Rocky mulai memikirkan dirinya yang hampir hilang kendali kali ini dia tidak akan melakukan itu lagi.
"Bagus! dan lagi kau belum meminta restu pada papa dan nenek" Ucapan Arion itu lagi-lagi membuat Rocky sadar cinta nya dan Aleena itu tidak semulus jalan tol.
"Aku tau" Ucap Rocky yang lemas terkena tamparan kenyataan dari ucapan Arion. Wajah Rocky seketika langsung berubah jadi sedih.
Aleena baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Rocky yang terlihat lesu dan membuat Aleena khawatir. "Om kau tidak apa-apa? " Tanya Aleena.
Arion langsung menyambar ucapan Aleena "Tidak dia hanya kelaparan kau sebaiknya bersiap untuk membuatkan kami makan malam" Ucap Arion.
"Kak aku tidak bertanya padamu" Ucap. Aleena menatap Arion dengan wajah kesalnya.
"Tidak aku tidak apa-apa Aleena benar yang di katakan Arion" Rocky mulai memikirkan ucapan Arion dengan serius.
"Baiklah kalau begitu aku akan bersiap untuk membuat makan malam" Ucap Aleena yang langsung berjalan ke dapur.
Arion dan Rocky memilih duduk di sofa di depan TV "Arion apa kau pikir paman Akan marah? " Arion hanya menjawab pertanyaan Rocky itu dengan pundak yang di angkat dan juga senyuman yang penuh arti.
"Apa yang harus aku katakan pada nenek? " Tanya Rocky yang mendapatkan respon yang sama dari Arion.
"Ayolah Arion jawab pertanyaan ku"
"Menjawab apa? "
"Jawab bagaimana apakah mereka akan setuju"
"Kalau mereka tidak setuju apa kau akan menyerah? " Arion balik bertanya dengan pertanyaan yang begitu berat untuk Rocky memikirkan jawabannya.
__ADS_1