
"Kak Alister Elin sadar" Ucapan Aleena itu membuat kedua orang yang sedang serius berbicara itu segera masuk untuk melihat keadaan Elin.
Erlan segera menggenggam tangan adiknya, sedangkan Alister yang sedari tadi di halangi Erlan untuk melihat Elin terkejut saat wajah Elin di perban. "Kau sudah bangun? " Ucap Erlan.
"Iya" Ucap pelan Elin membuat air mata Erlan dan Aleena tidak bisa di bendung mereka sangat senang karena elin sudah sadar.
"Elin maafkan aku, ini semua terjadi karena aku maafkan aku Elin maaf" Aleena menggenggam satu tangan Elin yang lain dan memeluknya.
Elin tersenyum "Apa yang kau katakan itu bukan salahmu, wanita itu yang benar-benar memiliki penyakit mental benar-benar mengerikan bagaimana kau bisa mengenalnya? " Tanya Elin yang benar-benar penasaran.
"Kau ini baru saja siuman sudah sangat antusias seperti ini, apa kau memikirkan nya sepanjang kau pingsan" Ucap Erlan meledek adiknya.
"Huh aku hanya penasaran saja" Ucap Elin yang pura-pura ngambek.
"Sebenarnya dia sahabat pertama yang aku punya, dia dulunya tidak seperti itu dia sangat baik dan lembut tapi entah kenapa sikapnya perlahan berubah dia menyingkirkan semua orang yang dekat denganku membuatku kesulitan mendapatkan teman"
"Apa itu alasan mu datang ke negara ini? "
"Salah satunya, tapi sekarang semua sudah baik-baik saja, Elin tidak akan ada yang berani menyentuhmu lagi"
Mereka semua berbincang, Alister hanya bisa diam menatap Elin tidak berani berbicara apa pun.
"Elin aku akan melihat keadaan Kak Letty dan Kak Disa, aku akan kembali nanti ok" Ucap Aleena.
"Em aku akan menunggu mu" Ucap elin.
Aleena dan Rocky keluar dari ruangan Elin, Aleena yang tadi bersikap ceria di hadapan elin kini meringkuk duduk di depan kamar Elin dan menangis. Rocky mengusap bahu Aleena "Bagaimana ini om, luka elin itu semua salahku" Ucap Aleena menangis sesegukan.
Rocky memeluk Aleena "Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja" Rocky mencoba menenangkan Aleena.
"Om kau tidak mengerti luka di wajah bagi seorang wanita itu sangat fatal" Ucap Aleena menangis.
__ADS_1
"Bodoh! kau lupa kau dari keluarga siapa?" Ucapan Rocky itu membuat Aleena tersadar.
"Benar, dia pasti bisa menolong Elin"
"Bagus kau akhirnya mengerti" Ucap Rocky menepuk kepala Aleena lembut.
Aleena akhirnya berhasil di tenangkan mereka kini berjalan menuju ruangan Letty dan Disa.
Sedangkan di ruangan Elin, "Kak bisakah kau meninggalkan kami berdua, sebentar saja" Ucapan Elin membuat Erlan tidak senang dia menatap tajam ke arah Alister tatapan seorang kakak yang tidak Terima adiknya di rebut laki-laki lain.
"Baiklah aku mengerti" Ucap Erlan yang dengan terpaksa meninggalkan Alister dan Elin berdua.
***
Di ruangan Letty.
"Tidak kau tidak boleh pergi, Natan aku tidak bisa melihat mu dalam bahaya kau sudah lihat dunia mereka sangat mengerikan" Ucapan Letty begitu kerasa sampai di dengar oleh Aleena yang baru saja membuka pintu.
"Letty kita sudah membahasnya, aku ingin membuat diriku pantas dan layak untuk mu "
"Letty tenanglah" Natan memeluk Letty dan mencoba membuat nya tenang, Natan menatap kedua mata Letty pandangan mereka saling bertemu "Kau apakah tidak percaya padaku? " Tanya lembut Natan.
"aaku percaya ta-" Ucapan Letty di potong oleh Natan.
"Kau benar-benar tidak percaya padaku Letty? jika kau percaya kau tidak perlu tapi untuk sebuah kepercayaan, Letty aku berjanji padamu aku akan hidup dan dilamar smpai aku layak bersamamu aku tidak akan mati dengan mudah dan meninggalkan mu sendiri, ini adalah janji ku meski aku sekarang lemah tapi aku akan berusaha untuk menjadi kuat, aku hanya perlu dukungan mu" Natan memeluk Letty, Letty menangis sejadi-jadinya karena ucapan Natan.
"Maafkan aku, aku percaya padamu aku akan menggenggam erat janjimu kau akan baik-baik saja dan kembali dengan selamat" Ucap Letty.
"Aku berjanji" Ucap Natan mantap. mereka berdua sudah saling pandang dan bibir mereka akan menyentuh satu sama lain namun.
Rocky dengan sengaja mendorong Aleena membuatnya terdorong masuk, yang tadinya mendengar Letty berteriak Aleena berhenti di depan pintu kini sudah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu dan menganggu sesi romantis Natan dan Letty.
__ADS_1
"Ka.. kalian di sini sejak kapan? " Tanya Natan yang langsung panik bercampur malu.
"Sejak Letty berteriak " Jawab Rocky dengan terus terang.
"Om kau! ka.. kalian lanjutkan ka.. kami ke ruangan Kak Disa saja" Ucap Aleena yang tidak enak hati sebenarnya tadi dia ingin pelan-pelan menutup pintu agar tidak menganggu Natan dan Letty tidak di sangka malah Rocky dengan sengaja menganggu momen romantis mereka.
"Aleena kau tidak perlu melakukannya" Aleena sudah mendorong Rocky keluar dan menutup pintunya membuat Natan dan Letty merasa canggung dan bingung, apakah akan melanjutkan sesuatu yang tertunda atau tidak.
Aleena dan Rocky memilih pindah ke ruangan sebelah tempat Disa di rawat, "Kak kau baik-baik saja? " Tanya Aleena saat Aleena dan Rocky sudah masuk ke ruangan Disa.
"Ya aku baik-baik saja, hanya perlu masa pemulihan" Jawab Disa.
"Maafkan aku Kak, ini semua salahku" Ucap Aleena meminta maaf pada Disa.
"Ini semua bukan salahmu, ini hanya sebuah kecelakaan saja, Aleena jangan terlalu di pikirkan" Ucap Disa menanggapi ini dengan bijak "Tapi melihat kejadian ini membuatku sedikit ingin mempelajari kekuatan fisik" Jawab Disa mencoba menghibur Aleena.
"Benarkah aku akan membantu Kak Disa kalau begitu"
"Baiklah kita akan melakukan latihan setelah aku keluar dari rumah sakit" Ucap Disa bersemangat.
Rocky senang senyum Aleena kembali lagi ke wajahnya, Rocky tidak suka ekspresi murung Aleena, namun juga tidak suka Aleena terlalu bahagia dengan orang lain meskipun wanita benar-benar hati bartender dingin tidak bisa di tebak.
Di sisi Elin setelah kepergian erlan kini tinggal Alister dan Elin saja yang tersisa di ruangan itu.
"Tuan Alister terimakasih untuk pertolongan nya" Ucap Elin.
"Kau tidak perlu berterimakasih Elin" Ucap Alister yang kemudian duduk di samping Elin menggenggam erat tangan Elin. "Elin maafkan aku sebelumnya jika perkataan ku menyakiti mu, Elin seperti nya aku menyuka-" Ucapan Alister di potong oleh elin.
"Tidak masalah, kau adalah penolong ku, kau juga teman Aleena, teman Aleena adalah temanku juga"
"Tidak! aku bukan temanmu aku tidak mau menjadi temanmu, Elin aku menyukaimu"
__ADS_1
Ucapan Alister itu membuat Elin melepaskan tangan Alister, Elin membuang wajahnya menatap jendela "Aku ingin istirahat kau keluarlah"
"Kau belum menjawab ku Elin! " Alister menunggu jawaban elin