Terjerat Cinta Bartender Dingin

Terjerat Cinta Bartender Dingin
Episode 71


__ADS_3

"Hati-hati" Suara laki-laki yang menariknya agar tidak jatuh dan membuat posisi mereka seperti berpelukan, Elin mendongak ke atas melihat siapa yang menolongnya.


Elin terpana akan ke tampan-nan laki-laki yang sedang memeluknya itu, dia adalah tipe Elin terlihat dewasa namun wajahnya terlihat sangat muda.


"Kau tidak apa-apa? " Tanya laki-laki itu yang hendak membantu Elin berdiri dengan benar-benar.


Seketika lamunan Elin terhenti dia segera berlagak tidak tertarik dengan laki-laki yang ada di hadapan nya "Terimakasih, aku harap lain kali kalau berjalan lihat-lihat" Ucap Elin yang segera pergi.


Laki-laki itu mengerutkan keningnya menatap Elin yang sudah meninggalkan nya begitu saja "Gadis aneh!" Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Dia berlalu untuk pergi membersihkan tangannya.


Elin segera kembali ke ruangan papanya di sana papanya sudah menunggu Elin, baru saja Elin masuk suara tinggi papanya sudah mengagetkan nya" Kenapa kau sangat lama! " Tanya papanya pada Elin.


"Maaf pa" Elin tidak ingin berkata terlalu banyak.


"Jadilah penurut sebentar lagi ada tamu penting yang datang" Mendengar ucapan sang papa Elin merasa tebakannya benar, dia akan segera di jodohkan.


Elin menggelengkan kepalanya, saat terbayang tekan bisnis papanya akan setua papanya, atau tidak kalah tua, bayangan di benak Elin sangat ekstrim dia bahkan bergidik ngeri saat membayangkan laki-laki seperti apa yang akan di jodohkan dengannya.


Tak lama setelah papanya bicara pintu ruangan sang papa di ketuk oleh sekertaris nya, "Masuk" Ucap sang papa dengan wajah yang penuh dengan harap.


Elin menatap pintu dengan lekat, nafasnya tak teratur dia sangat takut saat melihat sosok sekertaris papanya sudah masuk dan di ikuti kemeja hitam yang terlihat berjalan di belakang sekertaris sang papa, Elin tidak berani melihat sosok di belakang sekertaris itu.


Elin bahkan tak berani melihat, dia membuat matanya menjadi sipit dia ingin menutup matanya sepenuhnya tapi dia juga penasaran, sekertaris itu sudah berjalan duluan dan perlahan sosok laki-laki di belakang sekertaris itu terlihat 'Apa? tidak mau, apa papa sudah gila aku di jodohkan dengan orang yang seharusnya pantas sebagai adik papa' Elin segera menarik nafasnya dan bergeleng ke arah sang papa mengisyaratkan Elin tidak mau di jodohkan, namun papanya tidak menghiraukan Elin, dia langsung berjalan menjabat tangan laki-laki yang berada di belakang sekertaris nya itu.


"Kakak tolong aku' Gumam Elin yang langsung terpikir tentang kakaknya.


****


Pagi ini Aleena bangun dan langsung membersihkan diri, dia menatap kaca untuk mengeringkan rambutnya " Jika aku memang tidak cukup untuk mu, lebih baik aku menghindari mu om, sebelum aku tenggelam semakin jauh" Ucap Aleena yang menatap dirinya di kaca yang tangannya tidak berhenti menggerakkan hairdryer.

__ADS_1


Aleena pagi sekali sudah siap untuk pergi ke kampus, Aleena tidak menyiapkan sarapan atau berniat sarapan di rumah, dia keluar kamar dan melihat pintu kamar Rocky masih tertutup, dia segera pergi dari apartemen.


Baru saja menutup pintu apartemen, Rocky keluar dari kamar, dia melihat lamar Aleena yang masih tertutup dia pikir Aleena masih marah dengannya dan belum bangun.


Rocky segera bergegas ke dapur, dia akan memasak makanan yang enak dan di sukai oleh Aleena dan berharap Aleena melupakan masalah semalam, soal permintaan dan janji yang Aleena katakan.


Rocky bergegas mengolah semua makanan di kulkas nya, beberapa daging dia sulap menjadi makanan yang terlihat sangat lezat.


Rocky sesekali melihat pintu kamar Aleena dia takut dia belum selesai memasak tapi Aleena sudah bangun.


Rocky terlihat sangat bersemangat saat makanan nya satu persatu sudah jadi dan siap dia sajikan di atas meja. "Aku harap kau menyukainya".


Sentuhan terakhir Rocky keluar untuk mencari dessert, karena jika membuatnya Rocky khawatir Aleena sudah bangun, jadi dia memutuskan untuk pergi ke toko roti terdekat untuk mendapatkan cake manis kesukaan Aleena.


Aleena berjalan -jalan awalnya dia ingin pergi ke minimarket untuk membeli roti untuk pengganjal perut namun tiba-tiba ada mobil berhenti di samping nya, suara klakson terdengar, Aleena memutar matanya jengah, dia tau persis mobil siapa itu.


Perlahan jendela terbuka " Apakah nona pencuri sedang mencari mangsa, kenapa pagi-pagi sekali sudah berjalan di pinggir jalan, apakah nona pencuri berharap menemukan uang" Ledek Erlan, ya mobil yang membunyikan klakson berkali-kali adalah mobil Erlan.


"Pagi-pagi kenapa sudah marah-marah, ayo masuk aku ajak kau makan sesuatu yang manis" Ucap Erlan.


Aleena berhenti dan menatap Erlan "Apakah kau punya rencana jahat di balik kebaikan mu? " Menatap curiga Erlan.


"Tebakan tepat! aku ingin minta bantuan mu" Ucap Erlan to the poin.


"Aku tidak mau membantu orang yang memanggil ku pencuri! " Ucap Aleena langsung membuang muka. Aleena kembali berjalan.


"Kali ini kau tidak membantu ku, ini tentang adik ku"


"Adikmu? Elin? kau tidak membohongi ku bukan? " Tanya Aleena yang masih menatap Erlan curiga.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku bisa main-main tentang adik ku! " Wajah Erlan terlihat sangat serius menjawab ucapan Aleena.


Aleena tidak melihat kebohongan di mata Erlan, Aleena juga tau betul seberapa sayang Erlan terhadap adiknya itu, meski terkadang Erlan menjahili Elin tapi dia tau Elin adalah hal yang berharga di hidup Erlan.


"Kau ingin aku membantu apa? " Tanya Aleena yang penasaran, apa yang terjadi pada Elin sehingga Erlan ingin dia membantunya.


"Bisakah kau masuk dulu, aku tidak mau orang melihat kita sebagai pasangan yang sedang bertengkar" Goda Erlan yang sebenarnya senang jika orang salah paham tentang mereka.


"Hah! hanya orang buta yang melihat kita sebagai pasangan" Jawab Aleena sembari masuk ke dalam mobil Erlan.


"Benarkah, bukankah pencuri sangat cocok dengan penadah" Jawab Erlan asal.


"Heh! jangan katakan kau jatuh hati padaku" Ucap Aleena bercanda dengan memainkan alisnya.


"Kalau iya" Jawaban Erlan itu membuat Aleena terdiam mematung membuat suasana menjadi canggung.


"Hahaha liat ekspresi mu itu! aku tidak mungkin menyukai wanita se bar-bar dirimu" Kisah Erlan yang segera menghidupkan mesin mobilnya dan menatap ke depan.


"Sialan beraninya kau mengerjai ku! " Ucap Aleena sembari memberikan satu pukulan di lengan Erlan.


"Pukulan seorang pencuri benar-benar mengerikan! " ledek Erlan.


"Sialan siapa yang pencuri! " Aleena menggembungkan pipinya merasa kesal terus di panggil pencuri oleh Erlan.


'Kau pencuri hatiku, tapi nampaknya aku harus berusaha keras untuk mencuri hatimu' Ucap Erlan dalam hati yang teringat ekspresi Aleena setelah dia menggodanya tadi, Aleena seperti enggan jika dirinya jatuh cinta padanya.


Mereka sudah sampai di toko roti terdekat, tempat mereka bisa sarapan roti dan cake di tempat itu.


Aleena segera menuju deretan roti yang baru saja selesai di tata, Aleena tidak menyia-nyiakan traktiran Erlan dan mengambil banyak roti dan cake yang menarik perhatian nya.

__ADS_1


Sampai akhirnya Aleena mulai duduk dan mencicipi puluhan roti dan cake yang sudah berada di atas mejanya. Aleena cukup lahap memakannya sampai tidak terasa ada krim yang menempel di pipinya, Erlan menggelengkan kepalanya dan segera mengambil tisu yang ada dan mengusap pipi Aleena.


Pemandangan itu di lihat seseorang yang langsung mengepalkan tangan menatap tajam mereka berdua.


__ADS_2