
Petugas Apartement mengetuk beberapa kali dan Zayn membuka pintu dan mempersilahkan petugas apartement yang di perintahkan Papinya untuk masuk dan memeriksa kamar Sisillia yang tidak direspon karena itu mereka mendobrak kamar Sisillia dan mendapati wanita sedang tertidur diranjang kamarnya.
Zayn berlari dan sebelumnya sudah mengucapkan Terima Kasih kepada kedua petugas yang membukakan paksa kamar Sisillia.
Petugas apartement belum beranjak dari tempatnya untuk memastikan keadaan dari wanita yang menjadi pengunjung unit apartement ini.
Zayn menggoyangkan Tubuh Sisillia dan memanggil Mami nya akan tetapi tidak direspon oleh tubuh Sisillia dan Zayn menangis mendapati Mami nya yang tidak bergerak.
"Tolong Pak... Mami Zayn tidak menjawab. Tolong Lihat Mami Zayn kenapa"
Petugas Keamanan segera menghampiri Sisilia dan melihat apa yang terjadi, Kedua petugas keamanan itu memeriksa pergelangan tangan dan hidung sisillia.
"Dia masih hidup" ucap salah satu petugas keamanan.
"Sebaiknya kita hubungi posko dan minta dibawa ke rumah sakit saja sepertinya nyonya ini Pingsan"
zayn menatap kedua Petugas keamanan yang di perintahkan oleh Papinya itu dan kemudian menangis.
"Nak, Kamu Hubungi Papa kamu ya nanti kita bawa mama kamu ke rumah sakit" Zayn mengangguk sambil menangis.
Salah satu petugas menelpon posko dimana dirinya bekerja untuk melaporkan temuan nya dan meminta untuk di hubungkan dengan ambulans karena butuh membawa Penghuni Apartemen itu dan Zayn menghubungi Papinya yang tidak aktif karena Ponsel Aditya dimatikan, tampak dari wajah Zayn yang sangat marah dan kecewa dengan Papinya lalu Putranya mengirimkan Voice Note Setelah itu Zayn menyentuh dadanya yang terasa sakit tidak lama dari itu Zayn juga ikut tidak sadarkan diri disamping tubuh Sisillia
Petugas Keamanan yang satu melihat itu menjadi Panik dan berteriak lalu petugas yang sedang menelpon Posko berlari dan mendapati Zayn yang berbaring di samping tempat tidur Mami.
Kedua Petugas saling Pandang dan merasa takut dan saat mengecek Zayn masih bernafas dan selang Dua Puluh Lima Menit Ambulans membawa kedua Ibu dan Anak yang tidak sadarkan diri ke Rumah Sakit yang sama dengan Rumah Sakit tempat Ria di rawat saat ini.
...****************...
Aditya nampak cemas dan Panik saat membawa pulang Rere ke apartemen sederhana milik Rere yang di beli dari hasil bekerja juga bisnis penjualan Butiknya selama ini.
"Mas... Mas Kenapa sepertinya ada sesuatu"
"Tidak ada sayang"
"Rahasia lagi ya"
"Jangan mulai lagi sayang mas tidak ingin kita berdebat sekarang"
"Baiklah"
Rere juga malas berdebat karena memikirkan Geri yang terlihat sangat kecewa saat meninggalkan dirinya tadi saat di Cafe.
Aditya hanya menoleh sekilas ke arah Rere kemudian fokus kembali ke arah jalanan yang ada didepan nya.
Pikirannya sekarang dipenuhi oleh ke kwatiran tentang Sisilia dan juga Putranya yang terdengar Panik dengan keadaan Mamanya itu.
Tanpa sadar Mobil yang di kendarai oleh Aditya sudah memasuki Lobby Apartemen milik Rere tanpa ada pembicaraan saat mereka berada di Mobil.
"Sayang Mas Langsung pulang ya, Sampaikan salam untuk Ibu Inah juga Teh Tya dan Dion"
"Mas tidak mampir sebentar saja untuk minum atau sekedar bertemu dengan Ibu"
"Maafkan Mas, Sayang. Mas Ada Pekerjaan yang mendesak. Mas mencintai Renia" Aditya meraih Jari Jemari Rere dan menciumnya lembut.
Rere hanya mengangguk dan membuka pintu Mobilnya sendiri dan keluar dari Mobil kekasih nya dan melambaikan tangan sambil tersenyum dan begitu juga dengan Aditya.
Kemudian Pria yang sangat dicintai nya itu Melajukan Mobil dengan kencang dan membuat Rere mengerutkan dahinya
"Kenapa Mas Aditya terlihat buru-buru dan tadi terlihat Panik, Ada Apa sebenarnya. Apa terjadi sesuatu dengan Papi Aries atau ada apa ya"
Rere nampak masih mematung dan berbicara pelan seorang diri dan menjadi perhatian orang-orang yang berada disana.
Rere berjalan memasuki Lobby dan menuju Ke Lift dan tidak lama Lift terbuka dengan langkah yang lemas Rere berjalan dengan beban pikiran yang amat banyak di kepalanya.
Rere mengetuk Pintu apartemen miliknya dan Tya nampak dari dalam tersenyum kepada Rere setelah Pintu yang di ketuk oleh Rere dia buka.
Rere berjalan masih dengan tubuh yang lemas ke arah Ibu nya lalu mencium punggung tangan Ibu Inah dan duduk begitu saja di sofa ruang tamu yang juga terdapat TV yang di jadikan Dion sebagai sarana untuk bermain Game.
"Ada apa Nak" tanya bu Inah yang nampak cemas dengan keadaan Putri nya.
"Ibu..."
Renia berlari dan memeluk Ibu nya yang sedari dulu tempa untuk dirinya mencari ketenangan saat masalah datang menghampiri nya.
"Ada apa dan Ceritakan kepada Ibu"
"Rere sudah memberikan jawaban untuk Geri dan sekarang Geri Marah dengan Rere lalu dia pergi membawa kecewa yang bisa Rere rasakan. Bu. Rere Salah. seharusnya Rere tidak memilih salah satunya. Rere tidak ingin menyakiti kedua Pria yang baik sedari kecil kepada Rere"
Rere mengatakan dengan menangis dalam pelukan hangat Ibunya.
__ADS_1
Tya dan Dion hanya menatap sampai permainan yang sedang Dion mainkan harus game over.
"Yah... Game Over. Husssfftt"
Teriak Dion yang mengagetkan semuanya dan Tya memukul kepala Putra nya itu secara pelan.
"Nak, Geri memang harus mengetahui apa yang menjadi pilihan kamu jika memang Nak Aditya yang ingin Rere pilih, itu bukan kesalahan karena tidak mungkin anak ibu ini memilih keduanya atau memilih untuk tidak menikah. Jangan Seperti itu Nak, Rere sudah sholat istikharah benarkan. Semoga ini Pilihan yang tepat untuk semuanya"
"Bu Rere merasa bersalah kepada Geri"
"Rere tidak ada yang salah dengan Pilihan karena kita manusia memang harus memilih dan jika sudah memilih tidak boleh menyesal atas pilihan itu dan orang lain harus menghargai pilihan kita"
"Ibu... Geri Pasti sangat bersedih sekarang dan apa yang sedang Geri lakukan, Rere takut Geri akan menyakiti dirinya sendiri seperti Mama Sherly atau Bu Ria"
"Siapa Bu Ria, Nak"
"Eeehhh... Beliau Nasabah Rere yang hari ini Rere kunjungi dirumah sakit, bu"
"Memangnya dia kenapa Rere"
"Beliau... Eehhh... Sudahlah Bu. Rere tidak ingin membahas masalah Bu Ria. Maafkan Rere yang salah dalam berucap"
"Baiklah Nak"
"Rere ijin masuk kamar dulu ya, Bu. Teh Tya"
"Ya, Sudah kamu boleh ke kamar terlebih dahulu"
Rere menganggukan kepala lalu melangkah untuk ke arah kamar Pribadinya. Ibu Inah menatap Putrinya dengan meneteskan air mata, dia tahu pasti putrinya ini merasa sangat sedih dengan keadaan sahabat nya karena mereka selalu bersama.
Ibu Inah juga merasakan apa yang di rasakan oleh Geri sekarang mengingat sahabat Putrinya itu terlihat sangat mencintai Putrinya saat malam mereka berbicara dan Geri melamar Rere saat itu.
"Kasihan Geri ya bu pasti dia sedang patah hati, Keliatan Geri sangat mencintai Rere"
ibu hanya menatap dengan tatapan sendu dan tidak menjawab.
"Apaaaa" Dari dalam kamar Rere berteriak
Ibu dan Tya menoleh ke arah kamar Rere yang terdengar sedang menangis. Ibu berlari ke arah kamar Putrinya itu dan mengetuk pintu kamarnya beberapa kali tapi Rere hanya terdengar menangis.
"Nak, Ada apa bicara dengan ibu mu ini Nak"
"Bibi Rere kenapa, Ayo buka jangan menangis sendiri di kamar" Dion ikut mengetuk pintu kamar Rere
Rere membuka Pintu dan memeluk ibunya lalu kedunya menangis. Tya dan Dion hanya saling pandang tidak tahu apa yang terjadi pada Rere.
"Ada apa bilang sama ibu mu ini, Nak"
"Geri... Bu"
Rere kembali menangis membuat Ibu Inah dan Tya bingung.
"Geri kenapa Renia" Tya bertanya dan memeluk Adiknya.
"Geri... Teh"
"iya kenapa Rere jangan bikin bingung dan khuatir"
Tya dan Rere berpelukan. Tya merasa sangat khuatir karena melihat Rere yang nampak sangat menyedihkan.
"Geri di temukan tidak sadarkan diri di Cafe dekat Pantai dengan keadaan Mabuk Teh. Rere tahu dia pasti sangat terluka Teh"
"Rere... Kamu harus tenang, Apa teh Tya antar ke Rumah sakit"
"Bibi Dion bawakan air minum untuk Bibi"
"Minum dulu Rere supaya kamu lebih tenang"
Ibu Inah dan Tya bergantian mengusap dan membelai Hijab yang Rere gunakan dan juga Punggung Rere.
"Bu. Geri selalu mendapatkan masalah karena Rere"
"Jangan Bicara seperti itu Rere, Istighfar"
Bu Inah membingkai wajah Rere dan mengusap air mata lalu memeluk Putrinya.
"Tenangkan diri terlebih dahulu, nanti Teteh antar ke Rumah Sakit untuk menjenguk Geri"
Rere menggeleng dirinya ingin ke rumah sakit seorang diri.
__ADS_1
"ya sudah tenangkan diri terlebih dahulu nanti ibu ijinkan Rere pergi tapi pesan mobil online saja tidak boleh bawa mobil sendiri ya" Rere hanya diam dan tetap menangis.
...****************...
(Papi, Cepat datang Mami tidak bisa dibangunkan, Zayn Takut)
Voice Note masuk setelah Ponsel milik Aditya di aktifkan Panggilan Masuk memenuhi Ponsel milik Aditya.
Aditya yang masih berada di jalan arah ke apartemen milik Sisillia Panik dan menambahkan laju Mobilnya dengan kecepatan Tinggi.
Aditya mendengar suara putra nya yang panik dan gemetar saat mengirimkan Voice Note untuknya. Aditya melakukan Panggilan Telepon kepada Sisillia melalu aplikasi bergambar telpon berwarna hijau tapi tidak ada jawaban, Aditya bermonolog didalam hati
Sisil kenapa kamu melakukan ini
Aditya yang belum mengetahui keadaan Sisillia kesal dan marah sampai memukul setir nya kasar. Bayangan atas kematian Mama nya. Rasa sedih, kehilangan, Takut dan Kecewa kepada mamanya saat itu membayangi kembali ingatan Aditya.
Aditya menangis menahan rasa Trauma nya bersamaan dengan itu dirinya juga mengingat putranya yang mungkin akan mengalami nasib seperti nya. Aditya berteriak merasa hidupnya terasa rumit saat ini.
Dddrrrttt.... Dddrrrttt...Ddddrrrrttt...
"Hallo Nak, Jangan Takut Papi sudah Pulang ini ada dijalan sebentar lagi sampai" Aditya mengangkat Telepon dari nomor Sisillia.
"Maaf Pak Aditya, Saya Deden petugas keamanan Apartemen ingin memberitahukan bahwa Bu Sisillia saat ini berada dirumah sakit bersama dengan Putranya"
Petugas harus berhati-hati mengatakan itu karena dirinya tahu Aditya belum menikah tapi apa yang dikatakan oleh Aditya membuat dirinya sedikit Kaget begitu juga dengan Aditya yang dengan ceroboh mengatakan fakta tentang dirinya kepada orang asing.
Padahal Aditya mengatakan kepada Riki untuk tidak ada yang tahu tentang Putranya selain Lima orang yang mana dirinya, Aries, Riki, Sisillia dan Dokter Willy saja tapi apa yang barusan dirinya katakan membuatnya merasa bod*h dan ceroboh.
"oh... baik Rumah Sakit mana dan ada diruangan mana" Aditya mengusap wajahnya sendiri.
"Pak Adit..."
"ya kenapa pak Deden"
"Putra Bu Sisillia masuk ICU juga"
"Apaaa..."
Aditya menepikan Mobilnya dan sangat terkejut
"Zayn Masuk ruang ICU..."
"Benar Pak, tadi melihat Mamanya tidak sadarkan diri membuat Putranya sedih dan jatuh pingsan"
"ok... Baik. Tolong jaga dia saya segera sampai"
Deden mengerutkan dahinya dengan beberapa pertanyaan di kepalanya.
"Baik, Pak Aditya saya akan menjaga Putra Bu Sisil"
"Terima Kasih Pak Deden atas Bantuannya"
"Jangan sungkan Pak Adit"
Deden merasa bingung dengan ucapan Aditya saat mengatakan Putranya. Apakan anak yang dia Tolong itu Putra dari CEO hebat yang juga pemilik apartemen tempat dirinya bekerja.
Adit melajukan kembali mobilnya dengan kencang dan beberapa kali membunyikan klakson untuk meminta mobil lain untuk memberikanya jalan. Tidak sedikit yang mengupat dengan apa yang dilakukan oleh Aditya.
Tiga Puluh Menit Aditya baru sampai dirumah sakit yang sama dengan tempat Ria dirawat saat ini dikarenakan dirinya harus putar balik untuk dapat sampai dirumah sakit karena Mobil Aditya sebenarnya sudah hampir sampai di apartemen Sisillia.
Setelah mendapatkan Panggilan telepon dari Deden mengharuskan Aditya memutar kembali laju Mobilnya.
Aditya Merasa Bersalah dengan Sisillia juga Zayn, seharusnya dia bisa bersama mereka hari ini dan tidak seharusnya mengikuti Rere tapi hatinya merasa tidak tenang jika membiarkan Rere pergi sendiri terlebih ada Geri di Cafe tempat pertemuan Cantika dan Rere.
Aditya mengingat Rere yang terlihat bersedih saat Geri meninggalkan Cafe terlebih mengetahui Rere lebih memilih menjodohkan Geri dengan Cantika yang artinya Rere akan kembali bersama dirinya sepenuhnya dan Aditya menyayangkan sikap Sisillia yang dianggapnya melakukan hal yang sama dengan Mamanya.
Aditya berteriak keras hatinya merasa sangat bersalah dengan kedua wanita yang mencintainya dan sekarang dirinya menjadi ragu atas apa yang sudah dirinya putuskan.
Rere memilih dirinya dari pada Geri karena belum memiliki seorang anak sedangkan dirinya kini menjadi serba salah harus mengorbankan Rere atau Zayn. Aditya meneteskan air matanya.
"Renia... Sayang Maafkan Mas. Zayn maafkan Papi yang membuatmu terlahir kedunia dengan rasa sakit seperti ini. Sisillia Maafkan Saya yang tidak dapat membalas Cinta kamu yang besar Untuk Saya. Maafkan... Haaaaa" Aditya Berteriak
Dan beberapa kali menjambak rambutnya sendiri saat mengingat kesedihan Renia. Tapi tidak ingin mengorbankan Putranya. Aditya bermonolog di dalam hatinya.
Ya Allah mengapa jadi seperti ini. Apakah Saya tidak dapat bersama Renia. Saya memang bersalah dan bersikap egois itu karena saya sangat mencintai Renia.
"Sisillia kenapa kamu lakukan ini kepada saya"
Aditya mengingat pertama kali dirinya bertemu dengan Sisillia dan juga kebersamaan mereka berdua selama Delapan Belas Tahun.
__ADS_1