Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 2 Numpang Makan


__ADS_3

Geri menghampiri Rere dan menyerahkan kunci mobil nya ke teman nya itu.


"baru pulang cantik" tanya Geri, memang pria yang terlihat ganteng dengan tinggi 180 cm dan berkulit sawo matang itu selalu memanggil cantik ke rere.


"hhhmm... iya" sambil tersenyum malas ke Geri. "kenapa lu yang anter mobil gw ger" sambung Rere.


"kangen sama kamu re" jawab nya sambil mencubit pipi Rere. dan berjalan di samping Rere menuju ke apartemen nya.


"loh, lu mau kemana Geri" tanya Rere sambil menoleh ke arah Geri yang berjalan di samping nya itu.


"ya gw mau ke apartemen lu, udah 1 jam gw nungguin lu ga pulang-pulang. apa lu abis ngedate ya" goda Geri sambil senyum manis ke arah Rere. dan yang di goda terlihat menatap sinis dan memukul lengan Geri.


" gw naik kereta wajar lama, jam segini waktu nya pulang, oh ya lu udah sholat belum berdiri di situ 1 jam kaya ga ada kerjaan" sinis Rere yang ga percaya dia menunggu sampe 1 jam. karena Rere tahu sifat teman nya itu dari kecil meski sempat lost kontak tapi dia tahu kalo teman nya itu sangat benci yang nama nya menunggu, selama berteman dengan dia semisal janjian ke mall atau nonton Rere datang terlambat dia bisa ceramah seharian. dan ngomel nya ga berhenti sampai matahari terbit lagi di hari berikut nya begitulah penilaian Rere untuk teman nya.


"gw laper re maka nya gw yang datang ke sini untuk nganterin mobil lu, gw kangen di masakin sama lu, sekarang lu sibuk banget beb" begitu oceh nya. sedang Rere tidak menghiraukan dia terus berjalan ke arah apartemen dan akan menaiki lift.


"gw ga enak kalo lu mampir ke apartemen, takut ada yang lihat nanti berpikir yang aneh-aneh ger, lu tunggu di sini aja gw bentar aja ko mandi nya abis itu kita makan di luar ya" jelas Rere sambil menekan tombol lift.


"tega lu re, gw nunggu kenapa lu ninggalin gw disini, ya udah sih kalo ada yang lihat ga pa" toh kita udah dewasa malah udah tua, mereka pasti tahu lah, lagian gw ga ngapa-ngapain ko sama lu di apartement lu ren" tegas Geri yang ingin ikut masuk ke apartemen Rere. dan yang di ajak bicara hanya melirik sinis.


"maksud nya udah dewasa malah udah tua apa? emang orang dewasa boleh berdua di apartemen, dasar" omel nya sambil masuk kedalam lift dan diikuti oleh Geri yang juga masuk lift. tanpa sadar ada dua buah mata yang mengamati mereka sebelum masuk kedalam lift.


"loh, ko lu masuk Geri" ujar Rere sambil menatap sinis sahabat nya itu, Rere memang selalu marah jika Geri bertamu ke apartemen nya karena merasa tidak nyaman, Jika ada yang melihat mereka bagaimana. dan benar saja ada orang yang mengepalkan tangan nya saat melihat kedua nya masuk kedalam lift dengan raut wajah yang menahan emosi.


...****************...


Sambil berjalan ke arah mobil dengan langkah panjang seorang pria yang terlihat marah dan menahan emosi itu masuk kedalam mobil dengan


wajah yang sangat menyeramkan untuk siapapun yang berada di sebelah nya. "sial sial sial" hanya itu yang dia katakan. Dan menoleh ke arah assisten kepercayaan nya yang juga berada di mobil yang sama, dan sekarang beralih menjadi supir yang siap mengantarkan dia kemana saja. assisten yang kemana pun dia pergi selalu mengikuti tanpa mengeluh. meski terkadang dia terkena marah atau tatapan tajam dari sang bos. tapi dia tetap menjadi assisten yang dapat di andalkan. seperti sekarang tanpa di suruh pun dia menjalankan mobil bos nya ke arah apartemen pribadi sang bos besar nya itu.


"apakah dia kekasih nya, atau suami nya tapi bukan kah dia masih sendiri" gerutu nya yang dapat di dengar oleh sang assisten. tapi assisten itu tidak menjawab. "cari tahu hubungan mereka" tambah sang bos tanpa menatap ke arah sang assisten.


"baik bos" jawab singkat Riki. lalu berbelok ke arah kiri menuju apartemen sang bos nya itu.


sesampai nya di apartemen, dia masuk ke kamar lalu melepaskan kancing kemeja yang di pake nya dengan raut wajah yang masih sama. terdengar deru nafas panjang dan berat lalu dia mengarah ke tempat tidur dan merebahkan badan nya di sana. mata nya menatap kosong ke arah langit kamar yang tampak sangat mewah dengan tangan di rentangkan di tempat tidur nya itu, dia masih teringat Rere yang masuk ke lift dengan seorang lelaki. lalu dia berdiri dan berteriak dan merusak apa yang ada di kamar nya.


"apakah aku terlambat datang re, siapa dia re" sambil mengepalkan tangan yang berdarah di tembok kamar nya setelah memecahkan kaca lemari yang ada di kamar. cukup lama dia terdiam dengan deru nafas yang masih berat karena menahan emosi. beberapa saat setelah nya dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dari darah dan mengobati luka nya sendiri. begitulah jika orang patah hati menyakiti diri sendiri padahal apa yang di pikirkan belum tentu benar.


Setelah 1 jam di kamar mandi dia keluar dengan handuk yang bertengger di pinggang nya, rambut yang basah dan telapak tangan yang di perban perlahan dia berjalan ke arah lemari baju untuk memakai nya. setelah selesai dia keluar dan tanpa menunggu perintah mbok ijah sudah memiliki inisiatif untuk memasuki kamar tuan nya itu untuk membereskan kekacauan yang di lakukan majikan nya itu.


"Riki kita ke apartemen dia lagi" ujar bos sambil berjalan. ke arah pintu dari apartemen. ya sang assisten harus stand by mengikuti bos besar nya itu, apalagi tadi terlihat kacau dia harus mendampingi sang bos kemanapun dia inginkan. sang assisten hanya mandi lalu kembali ke apartemen sang bos untung nya assisten Riki itu tinggal di lantai bawah sang bos jadi tidak terlalu jauh dan apartemen elit yang berada di jakarta Selatan itu milik sang bos jadi dia di beri fasilitas 1 apartemen untuk mempermudah akses dia saat dibutuhkan mendesak oleh sang atasan nya itu.

__ADS_1


setelah 1 jam perjalanan sampai juga di depan apartemen Rere yang tergolong terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah tersebut jadi tidak perlu jauh jika ingin berangkat bekerja setiap hari tanpa harus tinggal di rumah ibu nya, Rere sudah memiliki apartemen dari gaji nya sendiri selama bekerja di bank, dia membeli dengan cara menyicil kredit setiap bulan dia tidak membeli perumahan di daerah jakarta karena pasti harga nya sangat mahal. dan juga tidak mau mengambil di luar jakarta karena faktor jauh dan macet.


Setelah sampai mobil yang di bawakan Riki berhenti tidak jauh dari depan loby apartemen. sang bos duduk tenang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sejak dia memasuki mobil nya tadi.


"bos, apa bos ga lapar. kita bisa mampir ke tempat makan dulu terus balik ke sini lagi" ucap Riki ke bos besar nya itu. dan yang di ajak bicara hanya diam menatap arah masuk apartemen itu tanpa menjawab.


"kamu pergi cari makan atau pesan lewat aplikasi di hp kamu" setelah 10 menit diam tanpa menjawab pertanyaan sang assisten nya itu.


"bos mau beli juga ga" tanya assisten Riki.


"kamu saja, saya tidak lapar" jawab nya. bos nya ini sangat kaku tidak seperti Rere yang sangat cair dengan bawahan bahkan menyebutkan bawahan nya dengan lu dan gw untuk diri nya sendiri.


"baik bos" jawab assisten Riki. assisten Riki ini berwajah tampan dan tinggi sekitar 182 cm dan hidung mancung kulit eksotis usia nya sekitar 32 tahun sama dengan Rere dan dia pun belum menikah. bagaiamana mau menikah pacar pun tidak ada, dia sibuk mengawal sang bos dari kantor, rumah dan seperti sekarang ini dia menemani sang bos yang sedang memata matai Rere, ntah apa hubungan antara kedua nya assisten Riki pun bingung, ingin rasa nya bertanya tapi dia takut sang bos tersinggung dan kemudian marah. dia masih butuh pekerjaan untuk diri nya sendiri begitulah pemikiran assisten Riki.


...****************...


Sedang yang di mata matai sedang asik makan bersama sahabat nya yang menurut dia sedikit menyebalkan tapi dia sangat nyaman berteman dengan nya seperti di lindungi oleh saudara laki-laki nya.


"Setelah lu sholat lu makan dan abisin sayur kangkung dan ayam goreng yang udah gw masakin buat lu dan cepet pulang" ketus nya.


"ya allah cantik, ga iklas gitu sih lu sampe manyun. harus nya lu Terima kasih ke gw karena gw udah bantuin lu beresin ban mobil lu yang kempes" omel geri.


"gaya lu, mana mungkin lu yang benerin mobil gw, orang lu aja kerja, dasar suka ngaku ngaku aja lu" jawab Rere ketus dengan menjulurkan lidah nya yang terlihat imut dan menggemaskan.


"lu udah sholat re" tanya Geri sambil senyum melirik ke arah Rere.


"gw lagi halangan barusan gw lihat pas mandi".


jawab rere. sambil mengambil ayam goreng yang terlihat enak di mata.


" oh" jawab singkat lalu kedua nya makan. sesekali tangan Geri usil menyubit pipi dan tangan Rere karena gemas.


"ih, apaan sih lu Geri cubit cubit, awas naksir gw loh nanti" omel Rere sambil melirik tajam Geri yang menurut nya menyebalkan.


"lah emang gw lama naksir lu dan nunggu lu buat nikahin lu kan cantik" sambil mengacak-acak hijab Rere. yang membuat Rere marah karena menurut nya itu menyebalkan dan hijab nya bisa rusak.


"ih, lu ga menghargai banget hijab gw, kan lu bukan muhrim gw Geri" omel Rere dan terlihat kesal ke Geri. lalu Geri meminta maaf dia hanya becanda jangan di masukan hati dia terbiasa mengacak-acak rambut rere sebelum Rere memutuskan memakai hijab. ya Rere memakai hijab baru 2 tahun itupun masih belajar dan terkadang masih membuka hijab nya jika hanya ke mini market sebelah rumah nya di kampung.


"lu pulang kerja jam berapa, tadi udah nongol aja di depan apartemen gw" tanya Rere dengan tatapan serius karena saat dia pulang sudah ada Geri di depan apartemen nya membawa kunci mobil, karena menurut Rere tidak mungkin Geri bisa sampe depan apartemen nya itu jika dia pulang bekerja. karena arah kantor dia bekerja dan bengkel jauh sekitar 1 jam perjalanan lalu arah bengkel dan apartemen Rere juga sekitar 1 jam. begitu pikiran nya.


"gw cuti cantik, dan saat rizal bilang mobil lu lagi di service gw ke bangkel terus gw bantuin service dan ganti ban lu yang kempes terus setelah semua ok gw bawa kesini"

__ADS_1


"oh" jawab singkat Rere.


setelah makan Rere membereskan apa yang ada di meja makan dan menyuci semua nya yang kotor dan merapihkan makanan yang masih bisa di simpan sebelumnya rere menawarkan Geri untuk membawa makanan yang sisa untuk pekerja bengkel tapi Geri menolak. kata dia ga ke bengkel lagi tapi langsung pulang, kata nya dia capek seharian di bengkel.


"ya udah lu pulang gih" ujar Rere


"perasaan dari tadi lu ngusir gw re" ujar Geri sinis ke Rere. menurut Geri Rere meski usia nya 32 tahun dan seorang manager bank tapi cara pikir nya terlihat sangat polos dan sederhana seperti usia remaja.


"ini udah malem gw ga enak ke tetangga apartemen gw" jawab Rere sedikit kesal.


"lagian siapa yang kenal lu re" ledek nya sambil senyum dan hampir menyubit pipi nya tapi di tepis Rere.


"dah sana pulang udah malem banget Geri" usir Rere


"ya elah re, ini baru jam 9 malem lagian gw masih kangen ama lu " ujar Geri kesal karena tidak mendapat kan jawaban dari Rere. "ya udah gw pulang ya makasih bye cantik, sekali lagi makasih diner nya" sambil senyum menyebalkan.


"ok bye" jawab Rere sambil menutup pintu apartemen nya.


...****************...


Dari luar apartemen sepasang mata yang penuh tanya dan amarah menatap Geri yang keluar dari pintu utama apartemen itu. denga tatapan yang sulit di artikan. sang assisten yang sudah selesai makan pun menoleh ke arah belakang di mana bos nya duduk


"bos kita ikutin atau kita pulang" tanya assisten Riki ke bos nya.


"ikuti dia" jawab singkat dan menatap Geri yang memasuki mobil online yang dia pesan sebelum pulang karena saat dia datang dia menggunakan mobil Rere.


Didalam mobil sang assisten melihat bos dari kaca depan dengan kebingungan dan sulit di jelaska. atasan nya itu hanya menatap luar kaca mobil dengan tatapan yang kosong ntah kemana pikiran nya saat ini. dia berpikir sang atasan yang misterius itu sedang melihat bangunan tinggi jakarta ataupun hilir mudik kendaraan di luar kaca mobil.


Rere siapa dia, apakah dia suami mu lalu mau kemana dia keluar dari apartemen mu atau kalian sepasang kekasih


hanya pertanyaan itu yang ada dalam benak nya. berulang kali selalu di tanyakan dan belum mendapatkan jawaban nya. sebelum dia tahu kemana arah pria tadi yang keluar dari apartemen Rere. dan kenapa lama sekali dia di apartemen Rere apa yang di lakukan mereka. begitu kira nya hati dan pikiran sang bos misterius itu


"Bos dia masuk tol arah keluar jakarta" ujar Riki


"tetap ikuti dia" jawab sang bos yang masih menatap luar kaca mobil nya.


Dan akhir nya mobil itu berhenti di depan rumah yang cukup besar untuk ukuran Rere tapi tidak untuk sang bos nya Riki tersebut.


"ini seperti nya rumah pria tadi bos" ujar Riki


"Dia belum menikah" jawab sang bos sambil tersenyum dengan raut wajah datar dan sangat sulit di pahami.

__ADS_1


"kita pulang" perintah singkat sang bos


__ADS_2