
Rere memasuki ruangan kerja Pak Edo dan di persilahkan duduk dalam hati Rere sudah dapat menebak pasti atasannya akan menanyakan perihal kasus yang berkaitan dengan Aditya juga Geri yang menjadi berita viral selama satu minggu yang membawa nama tempatnya bekerja.
"Selamat Pagi Pak Edo"
"Pagi juga Bu Rere, Silahkan duduk"
Rere duduk sesuai dengan yang ditunjuk Pak Edo dan keduanya kini berhadapan. Rere menunduk dan berusaha untuk tenang.
"Bu Rere, Bagaimana dengan kasus yang sedang viral sekarang ini tentang Bu Rere juga CEO Erlangga" tanpa basa-basi atasannya ini menanyakan hal yang sudah diduga oleh Rere.
"Sebenarnya saya tidak ingin intervensi kasus pribadi Bu Rere hanya saja ini menyangkut Perusahan kita bekerja. Saya harap Bu Rere mengerti" tambah Pak Edo.
"Masalah yang saya hadapi tidak ada kaitannya dengan Kantor Pak Edo" Sahut Rere dengan memberanikan diri menatap bos nya itu.
"Tapi Status Pekerjaan yang Bu Rere jalani menjadi sorotan dan juga Perusahaan Erlangga adalah Nasabah Baru kita. Saya... "
"Jangan Khuatir Perusahaan Erlangga akan tetap saving dana ditempat ini Pak" Rere memotong ucapan Pak Edo.
"Bukan hanya itu Permasalahannya Citra yang ada diberita itu membuat Bank kita menjadi terbawa dan Pimpinan Pusat ingin kamu menjelaskan jadi saya harus tahu terlebih dahulu"
"Tentang apa"
"Berita yang sedang Viral tentang... " Pak Edo terhenti karena tidak enak mengatakannya dan juga karena ini sangat sensitif.
"Saya tidak pernah menerima seseorang masuk kedalam apartemen milik saya selain Aditya dan juga Geri dan yang perlu Pak Edo tahu mereka datang sendiri bukan saya yang mengundang mereka" Tatapan Tajam Rere menusuk Pak Edo.
"Bukan itu Maksud saya Bu Rere"
"Saya akan buktikan semua yang di beritakan itu Fitnah ada orang yang menyebarkan berita bohong tentang saya, untuk apa yang terjadi benar Pak Aditya menyerang sahabat saya Geri tapi mengenai berita tentang saya sering membawa Pria ke apartemen itu fitnah besar dan saya akan membuktikan itu semua"
Rere bangkit dari duduknya dan hendak melangkahkan kakinya ke luar ruangan, Pak Edo memanggil Rere Kembali.
"Sebentar Bu Rere ada sesuatu yang ingin saya berikan untuk Bu Rere tapi saya sebelumnya meminta maaf untuk ini"
Pak Edo menyerahkan Surat yang di lipat kedalam amplop berwarna Putih. Rere menerimanya dan membuka lalu membaca Surat yang dia Terima.
"Surat Peringatan" Rere menatap Pak Edo penuh tanya
"Apa Kesalahan Saya Pak Edo" tambah Rere.
"Saya hanya menjalankan apa yang sesuai dengan aturan Perusahaan"
Rere hanya tersenyum dan mengambil Pena yang ada dimeja Pak Edo lalu menandatangani surat Peringatan Pertama yang diberikan oleh Pak Edo.
"Saya akan Buktikan itu Fitnah dan Pak Edo akan sangat berdosa telah ikut mendzolimi saya karena menghalangi rezeki untuk saya"
Dengan Mendapatkan surat Peringatan akan mengurangi Penilaian Tahunan yang akan berdampak pada Gaji juga Bonus Tahunan dan kenaikan Jabatan nantinya.
Walaupun Rere sangat sedih dan terluka atas apa yang dilakukan Pak Edo tapi dia tetap mengikuti apa yang sudah diputuskan walaupun berat, dengan langkah kaki lemas Rere keluar dari ruangan Atasannya itu dan memasuki ruangan kerjanya. Rere menatap layar komputer dengan hati yang sangat sedih lalu menangis.
Sedangkan Pak Edo hanya menatap surat Peringatan Pertama yang sudah di bubuhi tanda tangan Rere itu dan melipatnya lalu memasukan kedalam amplop berwarna putih kembali dan menyimpannya kedalam Laci yang ada di meja kerjanya lalu menatap Pintu yang ada di ruangan kerjanya.
Hatinya merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan kepada Rere, Karyawan yang menurutnya rajin dan memiliki semangat dan loyalitas tinggi mendapatkan SP1 hanya karena urusan pribadi yang belum tahun kebenaran nya.
Sebenarnya bukan hanya kasus itu saja menurut Pak Edo. Rere yang mengambil cuti panjang di saat sedang menangani Perusahaan Besar yang menjadi Nasabah di Bank tempatnya bekerja, dimana Pak Edo menginginkan Rere Fokus dengan pekerjaannya terlebih dahulu seperti sebelumnya bukan mengambil cuti yang cukup lama dan Pemberitaan Rere dengan Pemilik Perusahaan Besar yang menjadi bahan Viral membuat Citra Kantornya tercemar.
"Maafkan Saya Bu Rere" Pak Edo mengusap wajahnya sendiri dan kembali menatap komputer,
...****************...
Aditya sampai ke Mansiom Mewah milik Aries dan saat ingin memasuki Lift dirinya bertemu dengan Ayu dan Adiknya itu meminta waktu untuk bicara. Karena sudah dua hari tidak bertemu dengan kakaknya membuat Ayu kesulitan untuk mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.
"Kak Adit Ingin ke kantor karena ingin mengadakan pertemuan besar dengan Para Step holder, Ayu apa yang ingin kamu bicarakan"
__ADS_1
"Mungkin kita bisa bicara lain waktu" Ayu hanya menatap dingin lalu melangkah menjauhi Aditya.
"Ayu Tunggu"
Aditya merasa ada sesuatu besar yang ingin Ayu katakan melihat ekspresi Ayu yang terlihat dingin kepadanya. Ayu menoleh ke arah Aditya.
"Kita bicara diruang kerja lantai dua"
Ayu kembali ke dalam Lift untuk ke ruang kerja yang sering digunakan Papinya setelah Pensiun. Aries memantau kinerja Aditya dari ruangan itu dan sekarang Aries nampak duduk di kursi kerjanya.
"Ada apa kalian berdua ke ruangan Papi, Nak" Aries menatap kedua putra dan putrinya bergantian.
"Papi Ayu ingin bicara dua mata dengan kak Adit"
"Ada apa ini" Tanya Aries kepada keduanya
"Tidak Tahu Pi" sahut Aditya.
Aries mengikuti keinginan Putrinya untuk memberikan waktu bicara berdua antara kakak dan adik diruangan kerjanya
"Apa yang ingin kamu katakan Ayu"
Setelah Papinya keluar Aditya mulai bertanya dan Ayu hanya diam mencoba mengumpulkan keberanian untuk menentang hubungan Aditya dengan Rere yang dia anggap sebagai hubungan Palsu dan Jebakan untuk Rere.
"Kak... Ayu"
Aditya menunggu apa yang ingin di katakan Adik Perempuan satu-satunya itu dan Aries mendengarkan dari balik pintu.
"Ayu menentang hubungan kakak dengan Renia" Ayu menatap tajam Aditya.
"Apa... Apa yang kamu katakan"
Aditya tajam menatap Adiknya yang berdiri tidak jauh dari Rak-Rak Buku koleksi papinya itu.
"Apa Maksud kamu Ayu"
"Kak Aditya memiliki Putra bersama Psikiater Pribadi kak Aditya dan sekarang ingin menikahi Renia. Kejam sekali kakak. Ayu tidak menyangka sama sekali. Ayu pikir Kak Adit berbeda dengan Papi nyatanya kak Adit memang benar-benar keturunan Aries Erlangga" Ayu mengatur nafas untuk melanjutkan apa yang ingin dia bicarakan.
"Ayu akan katakan yang sebenarnya kepada Renia. Dia berhak tahu bahwa kak Adit mengkhianati Cinta Tulus Renia yang mana wanita malang itu menunggu kekasihnya datang selama Delapan Belas tahun lamanya dan yang ditunggu ternyata memiliki anak dari Wanita lain"
Aditya melangkah dengan cepat ke arah Ayu dan mencengkram lengan Adiknya dan menatap tajam dengan Raut wajah yang sangat mengerikan.
"Jangan pikir kamu bisa melakukan itu Ayu" Aditya merasa marah dan Ayu merasakan sakit dilengannya.
Karena itu dia memukul dada bidang Aditya dan meminta untuk di lepaskan. Aditya tidak merespon adiknya.
"Renia berhak tahu jangan tipu dia kak"
Aditya bertambah marah Aditya mendorong Ayu ke belakang membuat Adiknya tersungkur di rak buku milik Aries dan beberapa buku milik Aries berjatuhan mengenai kepala keduanya.
Aditya menekan kedua pipi Ayu dengan keras dengan tatapan tajam, bola matanya memerah dan wajahnya tampak sangat mengerikan.
Bayangan kehilangan Rere dan kematian Sherly silih berganti di dalam pikiran Aditya. Ayu berteriak dengan suara tidak jelas karena tangan Aditya menekan keras pipi nya. Papi mereka membuka paksa ruangan kerja nya dan berteriak agar Aditya melepaskan Ayu.
"Lepaskan Ayu Nak. Apa yang kamu lakukan kepada Adikmu sendiri"
"Haaaa... Adik. Apa dia benar seorang Adik buat Saya Pi"
"Apa yang kamu katakan, Lepaskan Nak. Kasihan Ayu" Teriak Aries.
"Apakah dia benar Adik Perempuan Adit Pi. Ayu ingin memisahkan Adit dengan Renia" Aditya menunjuk Ayu lalu memukul keras meja yang ada disampingnya dengan keras.
"Jaga sikap kakak" Ayu menatap tajam Aditya.
__ADS_1
"Papi bisa sakit kembali" Ayu memegang Pipinya yang merasa sakit setelah dilepaskan oleh Adit.
"Ayu ada masalah apa Nak" Aries bertanya.
"Ayu tidak ingin Renia terluka seperti Mami Lisna, dengan Kak Aditya menikahi Renia dan dibelakang Renia kakak menjalin hubungan gelap dengan Sisilia. Ayu akan menentang ini Papi" Kedua Pria itu saling pandang dan menatap Ayu
"Apa yang kamu katakan Sayang. Papi tidak mengerti"
"Papi jangan selalu melindungi dan juga membenarkan apa yang kakak lakukan, Papi harus ingat Papi juga memiliki seorang anak Perempuan bagaimana Jika Suami Ayu melakukan hal yang sama seperti kak Adit dan juga Papi" Ayu berkata dengan sedikit berteriak.
"Ayu... Kamu tahu dari mana, Nak" Tanya Aries pelan.
"Papi mendukung kebohongan Kakak karena dia Putra kesayangan Papi tapi apa Papi dan kak Adit tahu Ibu Inah juga sangat menyayangi Putrinya"
Kedua Pria itu hanya diam. Aditya merasa sangat terpukul atas apa yang dikatakan oleh Adiknya itu. Aditya luruh ke lantai dengan menyentuh dadanya yang merasa sakit.
"Menikahlah dengan Sisilia sebagai pertanggungjawaban atas apa yang kakak perbuat dahulu dan biarkan Renia bahagia bersama Geri atau Pria lain. Lepaskan dia kak"
Setelah mengatakan itu Ayu melangkah keluar dan melewati Aries begitu saja tanpa menatap Papinya. Aries menatap wajah Putrinya saat melewati dirinya terlihat jelas tatapan kecewa dari Putrinya itu.
"Jangan Ikut Campur Ayu atau Kamu akan berhadapan dengan Kakak"
Aditya memperingatkan Ayu sebelum kaki Adiknya keluar dari ruang kerja milik Aries itu.
"Nak... "
Aries memandangi Aditya yang beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar dengan melewatinya begitu saja dan menepis tangan Aries yang ingin menyentuh dirinya.
Ayu sudah tidak ada di lorong lantai Dua dan Aditya tidak perduli dirinya masuk kedalam kamar Pribadinya yang ada di Mansion Mewah itu. Aditya duduk termenung mengingat ucapan Ayu dan mengusap wajahnya lalu dirinya beranjak dari duduknya dan menuju ke arah kamar mandi.
Setelah Tiga Puluh Menit Aditya keluar dan mengenakan Pakaian untuk pergi kantor untuk bekerja tidak lama Aditya mendapatkan Telepon dari Assiten Riki dan memberitahukan bahwa Baby Sister yang akan menjaga Zayn sudah datang dan meminta ijin untuk Pulang karena dirinya harus bersiap ke Kantor.
Aditya setuju karena hari ini juga ada Meeting Penting dengan Kolega Bisnis dari Eropa dan Hari Selasa Riki harus berangkat ke Bali untuk mewakili dirinya bertemu dengan Koleganya yang berkaitan dengan Hotel yang ada disana. Asistennya itu memang sibuk jadi tidak boleh dibebani oleh urusan pribadinya juga.
Setelah berpakaian rapi Aditya keluar dari kamarnya dan menatap tajam ke arah Kamar Ayu yang ada disana lalu melanjutkan langkahnya untuk memasuki Lift yang membawanya ke lantai dasar dimana Aries sedang duduk bersama Lisna juga Jimmy tapi tidak ada Ayu.
Aditya tidak ingin berlama-lama berada diruangan yang sama dengan Lisna karena itu dia memutuskan pamit pergi ke kantor dan mengatakan ada Meeting penting yang harus dia kerjakan hari ini.
Aries mengangguk tanda setuju dan Aditya menuju ke Mobil untuk dirinya mengendarai sendiri Mobil Sportnya. Aditya menghubungi Rere tapi tiga kali tidak ada juga respon dari kekasihnya itu dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan Aditya mengingat apa yang dikatakan oleh Ayu.
"Tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan Saya dengan Renia" gumamnya pelan didalam mobil.
...****************...
Sebelum istirahat Aditya menelpon untuk mengajak Rere makan akan tetapi mengingat surat Peringatan Pertama yang didapatkan oleh Rere membuat wanita itu malas keluar dari kantornya dan memutuskan untuk melewati makan siangnya dan memilih tidur dengan menutup matanya diatas meja kerjanya sambil menangis sendu. Dina mengajak makan bersama Rere menolaknya.
Setelah Istirahat Renia bertemu dengan Manager Keuangan Perusahaan Erlangga sesuai yang diucapkan oleh Aries saat Rere menjenguk orang tua kandung Aditya yang mana akan ada dana besar yang akan masuk ke Bank tempat Renia bekerja.
Pertemuan berakhir dan Pak Edo merasa bahagia karena Perusahan Erlangga melakukan saving dana sangat besar dan merasa tidak enak karena Rere mendiamkannya.
Tapi ini juga sebagai peringatan untuk yang lainnya bahwa nama baik perusahaan itu nomor satu maka dari itu tindakan dan perilaku harus bisa di jaga.
Karena jika ada perilaku buruk karyawan akan membawa citra buruk untuk perusahaan apa lagi jika sudah viral.
Seperti itu yang dipikirkan oleh Pak Edo. Meski dia merasa bersalah dengan Rere tapi dia menganggap apa yang dilakukannya sudah tepat.
Berita tentang Rere diberikan SP1 sudah tersebar dan Rere tidak peduli setelah selesai jam kerja dia pergi begitu saja dari kantor seakan semangatnya hilang baru pertama kerja sudah diberikan hadiah surat Peringatan yang Rere anggap bukan kesalahannya akan tetapi fitnah.
Rere melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, untuk menemui Geri dan sesampainya diparkir rumah sakit Rere bertemu dengan Bu Sri.
"Sedang apa kamu disini" Bu Sri didampingi oleh Cantika.
"Saya ingin menjenguk Geri Bu"
__ADS_1
"Sebaiknya kamu Pulang dan jangan buat anak saya menderita kembali"